Jumat, 23 Oktober 2015

Menguji Kemampuan Bertanya Sembari Berpikir Tengah Bertanya

“Emosi adalah karunia luar biasa yang kita punyai untuk memberitahu apa yang sedang kita pikirkan.”~Bob Doyle

Pekerjaan gampang tetapi susah adalah ‘bertanya’, dan pekerjaan sulit tanpa pernah berpikir telah dan tengah melakukannya adalah ‘berpikir’. Keduanya memiliki tingkat kesulitan yang setara, tetapi itu hanya akan tercapai bila ketika kita tengah bertanya dan berpikir mempertanyakan tanya – saya ini sedang berpikirkah atau tengah bertanyakah?. Tidak mudah menjelaskan detil keduanya, sama tidak mudahnya untuk orang bisa memahaminya. Tidak heran jika ada yang bertanya: ‘saya ini sedang apa kah?’ dan itu tidak memerlukan jawaban – percayalah!, hanya orang yang kurang kerjaan yang sudi menjawabnya.

Ada banyak pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban benar atau jawaban salah, bahkan terkadang pertanyaan yang diajukan secara tepat ndilala itu adalah jawaban yang paling tepat. Jadi untuk apa dijawab lagi? Tak heran jika Anda mencuba bolak balik membaca dan cuba meraba kemana arah postingan ini. Sebagaian barangkali merasa geli, lucu atau mungkin malah tidak peduli.

Mari sejenak menenggelamkan pikiran ke kedalaman genangan samudera pertanyaan yang oleh para penikmat sejati dinilai berkhasiat membebaskan diri dari himpitan kepenatan beban pikiran. Sebagai berikut:

Kesatu:
“Pernahkah Anda bertanya berapa lama lagi Anda akan hidup?”
Ini pertanyaan gila, sama gilanya jika Anda mengikuti kata hati Anda untuk menuntutnya agar ia juga ikut bertanya – berapa lama lagi kah? Dan akan semakin lebih gila lagi jika Anda tidak tahu berapa lama lagi persisnya. Kapan kira-kira berakhir? Ampun, berat nian!

Kedua:
“Bilamana Anda yakin, hidup Anda tak lah begitu lama lagi, mengapa Anda masih saja melakukan hal-hal yang Anda tidak sukai?”
Wah pelanggaran! Hanya orang yang tidak waras yang mau hidupnya singkat dan lebih tidak waras lagi jika ada yang mau hidup selama-lamanya. Baiklah, oleh karena Anda tidak ingin hidup selama-lamanya maka Anda senantiasa bergegas mencapai banyak hal, bekerja keras menyelesaikan segala hal. Setidaknya berharap bisa hidup senang dikala masih hidup syukur-syukur bisa menyenangkan hidup orang-orang yang Anda senangi. Itu terdengar waras dan akan lebih waras lagi jika Anda yakin tidak akan pernah bisa menyelesaikan semua hal. Akan selalu ada hal yang belum dilakukan, dan biar lah itu begitu.

Ketiga:
“Jika Anda yakin telah melakukan banyak hal, yakinkah Anda bahwa semua itu adalah hal yang benar? pernah kah Anda berpikir bahwa yang Anda lakukan itu sesungguhnya hanyalah hal-hal yang tidak benar belaka?”
Waduh cilaka, Saya pilih REMIS!
Anda urus saja sendiri, oleh karena hanya Anda seorang yang tahu apa saja hal yang sudah Anda lakukan. Apakah itu benar atau tidak itu hanyalah persepsi semata.

Keempat:
“Andai kata Anda diberi kesempatan menasihati bayi yang baru lahir, apa gerangan nasihat yang menurut Anda tepat untuk Anda berikan?”
Gila, ini pertanyaan yang tidak waras! Sama tidak warasnya jika Anda tidak pernah berpikir bahwa sejatinya anak bayi itu - dengan caranya, tengah menasihati Anda? Wah,,, tambah engga waras lagi!
Baiklah, anggaplah Anda dengan bayi itu sama-sama waras oleh karena itu – dengan cara masing-masing, Anda dengan nya sepakat untuk tidak saling menasihati. Benar-benar kesepakatan waras yang tidak waras bukan? Dan lebih tidak waras lagi manakala kita kerap melakukan hal yang tidak kita sukai. Dimanakah letak kewarasan itu? maka biarlah itu menjadi tugas akhir dari mereka yang mengaku waras, hanya merekalah yang membutuhkannya.

Kelima:
“Pernahkah Anda berpikir bahwa tiap orang kerap merenggut kebahagiaan Anda atau telah membuat Anda menjadi tidak berbahagia?”
Cilaka! Jika Anda berpendapat sedemikian itu, segeralah berkemas menggali timbunan nurani Anda moga-moga masih ada remah yang tersisa. Hanya nurani yang berkuasa atas makna arti bahagia, yang menikmati getaran kebahagiaan, yang tidak pernah bermasalah dengan ketidakbahagiaan. Dan saya sepakat dengan nurani Anda. Masih ada kan? Tak masalah jika Anda menghalalkan segala cara untuk menyelamatkan nurani Anda, dan itu tidak melanggar hukum - apa pun.

Adalah mudah mempertanyakan tindakan orang lain dan itu bisa dilakukan oleh siapa pun tetapi, pernahkah Anda mempertanyakan tindakan diri sendiri? Jika kesempurnaan hanya dimiliki oleh mahluk sempurna, masih kah Anda sudi mengaku diri sebagai sempurna? Satu tanya yang menggelitik nurani. 
Demikian disadur dari berbagai sumber.
~Salam hangat selalu.