Jumat, 30 Maret 2018

RACUN BEBAN PIKIRAN YANG MEMATIKAN

-->
"Have you ever thought there'd be a day when people think a different way? And on that day, what would you say, if you still thought the other way?"
~Paul McMillan

Sekali waktu kita tentu pernah merenung - terlarut didalamnya, meski mungkin tak sadar tetapi kita mengalaminya apalagi ketika gelisah akan sesuatu. Terkadang kegelisahan malah mendorong kita untuk mencipta mengukir sesuatu prestasi hingga lupa hal apa yang tadinya mengganjal.

Kita telah terbiasa melakukan sesuatu seperti yang diinginkan orang walau terkadang kita tahu itu salah - apalagi semua melakukannya, kita tak mempersoalkannya takut dicap tak punya etika. Terperangkap makna etika.

Terkadang kita diminta setuju terhadap sesuatu yang sejatinya jauh dari kebenaran. Ini tentang sudut pandang. Seiring waktu perihal yang senada kian menumpuk dan semakin menyebalkan, meracuni, tetapi kita hanya bisa diam dan berjuang melupakannya sepanjang hayat.

Ini tentang pendapat orang-orang dimana kita tak kuasa melawan selain waspada  menyelamatkan nurani demi hidup kehidupan kita.

Maka itu, waspadalah!

Jangan Meracuni Pikiran:
Kelemahan terbesar kita adalah tidak bisa memilih akan berbagi pikiran dengan siapa. Jika pun bisa, hasilnya bisa jadi berbeda, jika tadinya hendak mencari dukungan malah emosi karena ditolak.

Energi terkuras terbebani emosi orang-orang bahkan bisa jadi disebabkan oleh seseorang dijalan raya. Perbincangan terkadang menjadi salah paham, marah tertekan frustasi bahkan terluka. Boros energi oleh situasi yang sejatinya bisa dihindari.

Berhematlah, jangan terbebani pemikiran orang.

Jangan Meracuni Keadaan:
Seolah superman kita kerap terpancing langsung tergerak membantu orang walau tak tahu apa pasal awal pangkal persoalannya. Berempati itu baik, tetapi jika dipaksakan, kita hanya akan merusak diri kita sendiri bahkan orang yang dibantu mungkin malah menjadi frustasi. Analisa dulu kira-kira tentang apa itu.
Terkadang, menghindar tanpa melakukan apa-apa malah membuat keadaan membaik.

Jangan Meracuni Hidup:
Tersiksa jika kita dilibatkan dalam sesuatu yang sangat kita benci, dan kita tak kuat menolak. Ini bukan tentang imbalan tetapi menyangkut sesuatu yang menyakitkan demi melihat ekses akibatnya.

Melakukan sesuatu yang positif akan menyisakan kesan bangga tetapi sesuatu yang negatif menjadi beban sesal berkepanjangan apalagi jika sedari awal kita tahu itu tak layak dilakukan.

Jangan Meracuni Diri:
Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat karenanya jangan mengkonsumsi racun - seperti narkotika. Hiduplah secara menyehatkan.
Hindarkan gaya hidup yang negatif.

Jangan Meracuni Hubungan:
Memutuskan hubungan tidak mudah apalagi jika itu hubungan yang menyesatkan. Adalah penting menjauh dari seseorang yang sewaktu-waktu bisa melakukan hal yang mengerikan terhadap dirinya, perilakunya meracuni. Dengan memutuskannya akan memberi ruang dan waktu untuk kita membuka diri terhadap hubungan yang lebih baik.

Meski secara phisik sulit tetapi perlu berani meminta untuk agar diputuskan, dan kita tak perlu lagi memikirkannya.

Jangan Meracuni Kenangan:
Peristiwa kejadian pahit kerap mendominasi, rasa sakit yang ditimbulkan sulit dilupakan apalagi untuk dihilangkan, meski kita kuat menahannya namun tersiksa dalam pusarannya. Ada saat kita terbebas tetapi sangat sulit melupakan orang-orang yang dulu bikin kita gagal jika kita tak pernah melirik dampak positif yang timbul pasca kegagalan itu. Percayalah, tiap hal ada dampak positif, pasti ada konsekuensinya dan masa lalu tidak otomatis mendikte bagaimana kita dimasa depan.

Fokuslah menambah kenangan manis untuk nanti dikenang dimasa depan daripada terjebak dalam kubangan buruk dimasa lalu.

Jangan Meracuni Keyakinan:
Adalah normal punya rasa takut walau tidak ada medali jika kita memeliharanya, selain rasa tersiksa hingga meledak tak terbendung menyakiti orang-orang yang mencintai kita. Tidak ada faedahnya jika kita mereka-reka skenario bagaimana cara menghadapi bayang-bayang ketakutan, terkadang itu malah kian menambah biaya.

Daripada fokus pada rasa takut tak berdasar akan lebih baik jika berdamai dengannya - dan bertarung melupakannya.

Caranya, buatlah daftar takut! apa saja itu? menggelikan bukan? Timbulkan minat kita mencari solusi jalan keluarnya – buat lagi daftarnya. Fokuslah pada solusi itu, karena itulah yang akan terjadi. Gelombang pemikiran akan memantulkan keadaan apa yang benar-benar kita inginkan.

Yakinlah akan hal itu!

Jangan Meracuni Kebahagian:
Kepercayaan diri yang tangguh akan tergerus jika disekeliling kita dipenuhi orang-orang yang tiap saat mengeluh kecewa akan tiap hal, kecewa akan perilaku kehidupan terhadapnya. Keinginan sulit tercapai jika kita membiarkan diri diracuni pemikiran-pemikiran negatif begitu itu.

Semangat kita memerlukan asupan gizi, dan itu hanya tersedia pada orang-orang yang antusias akan perjuangan kita. Sejatinya tak ada yang sempurna, bahkan tak seorang pun yang bisa melakukan hal benar secara benar-benar, tetapi semua baik-baik saja dan berbahagia, dan itu akan mengalirkan hal baik ke dalam hidup serta kehidupan kita.

Maka fokuslah memelihara kebahagiaan atau hanya akan sedikit yang bisa kita perbuat mengisi kehidupan kita.

~salam bahagia selalu!



Join MySFIteam


It is FREE
 

Minggu, 25 Maret 2018

Berlatih Menantang Hidup

-->
“Think continually about what you want, not about the things you fear”
~Brian Tracy

Jika sebelumnya diulas tentang mengelola waktu, tentang Empati serta keberanian meminta bantuan, dan tentang kenapa kemampuan Mendengar begitu diperlukan, berikut disajikan Tips agar sukses menantang hidup.

1. Uruslah Urusanmu Sendiri:
Ini sulit! Mungkin inilah yang tersulit untuk dikuasai apalagi kita senang dan telah terbiasa ikut campur urusan orang - walau jika itu membuat kita kehilangan waktu.

Sepertinya berat untuk tidak ikut campur urusan orang, kita seolah punya libido hasrat tinggi mencampuri urusan orang. Ketika diingatkan, semua berdalih bahwa akan lebih mengkhawatirkan - jika kita tak tahu tentang apa itu urusannya.

Mencengangkan!

Bahkan tanpa diminta kita terdorong untuk mengkoreksi orang lain walau itu akan menimbulkan pertengkaran, tetap saja kita mengulanginya. Entah karena merasa lebih tahu atau merasa diri lebih baik atau mungkin bosan dengan urusan sendiri. Tak jelas!

Serasa puas – bila ikut campur. Dan kita tak mau mengaku, tetapi nafsu ikut campur urusan orang lain seolah melekat merata bak perilaku.

Mungkin karena kita merasa ikut bertanggungjawab atas keberlangsungan kehidupan semesta jagad raya ini hingga terpanggil ikut campur, meski terkadang malah tambah runyam, tetapi setidaknya telah ikut turut campur.

Dan tiap orang selalu memberi saran - Jangan ikut campur!

2. Jangan Larut Dalam Gosip:
Gosip seolah sudah mendarah daging. Tidak pejabat, penguasa atau pengusaha apalagi anggota rumah tangga bahkan antar rukun tetangga semua suka - seolah santapan rohani bagi kita semua.

Meski sulit tetapi penting untuk bisa menahan diri, jangan ikut latah.

Diduga banyak kekacauan timbul karena gosip, banyak yang rugi bahkan tragedi peperangan patut diduga bermula dari gosip juga. Walau enggan mengaku namun semua senang jika diajak ikut gosip.

Dan tulisan ini pun mungkin diangkat karena si penulis diikutkan membahas gosip tentang kesuksesan seseorang. Tak apalah jika diduga begitu pula!

Serasa haus untuk ikut bicara, serasa merasa takut ada informasi yang luput jika tak ikut. Walau kebenarannya diragukan tetapi takut jika dianggap engga Gaul – apalagi jika itu  sedang viral di sosmed.

Jika bisa, jangan sampai larut karenanya!

3. Berani Bertanggungjawab:
Orang enggan untuk mau bertanggungjawab atas sesuatu peristiwa. Umumnya karena tergoda pemikiran negatif, semua terbiasa “overthink” dan cenderung memikirkan yang rusak dan negatif - yang belum pasti terjadi.

Kita tidak sadar bahwa kita itu tengah merusak kemampuan kita untuk bisa menikmati masa-masa saat sekarang. Luput akan berbagai kesenangan yang tersedia dimasa sekarang hanya karena takut akan sesuatu – sesuatu dimasa depan. Walau kita ragu akan bagaimana itu – nantinya?

Kita perlu menguasai diri dengan cara memikul tanggungjawab atas ekses dari buah pemikiran kita - dimasa mendatang. Hanya itu yang terbaik untuk membuktikan bahwa kita siap untuk sukses.

Dan itu adalah pilihan kita sendiri.

Pernah ada kejadian lucu. Ada seseorang yang menolak bertanggungjawab atas pembengkakan biaya yang terjadi sebagai ekses dari ide gagasan pemikirannya. Tetapi kemudian menuntut balik ‘bahwa itu adalah prestasi pribadinya’ - demi melihat hasil akhir yang mengagumkan.

Ketahuilah, hidup adalah pengulangan. Bagaimana kita disaat sekarang ini, itu adalah produk kita dimasa lalu, dan pengalaman dimasa lalu kita adalah benar sedemikian itu – dan itu adalah pilihan kita.

Meskipun masa lalu tidak selalu menjadi penentu bagaimana kita dimasa depan, apalagi tiap masa mengusung sendiri perubahannya dan tiap perubahan cenderung berubah mengubah sendiri perubahan dirinya, tetapi jangan sampai kita luput mewarnai masa disaat sekarang ini untuk nanti - dipetik dimasa mendatang.

Pikirkanlah yang dimaui bukan yang ditakutkan!

Bagaimanapun kita kompeten untuk itu!

"Each of us wants to be part of something bigger than ourselves. Call it purpose, destiny or a simple desire to get beyond the insufficiencies of our current existence. An individual's yearning to reach outside his life is a seed of greatness waiting for a stream of inspiration. Carving that stream to people's hearts is a simpler task if the endeavor you are leading them into is attached to a bigger story."
~Mac Anderson & Tom Feltenstein

~salam berlatih!






JoinMySFITeam
 

Selasa, 20 Maret 2018

5 Kiat Sukses untuk Menantang Hidup

-->
I was once asked if a big business man ever reached his objective. I replied that if a man ever reached his objective he was not a big business man."
~Charles M Schwab

Kebebasan diakui sebagai  bentuk pencapaian tertinggi dalam hidup. Bebas menikmati hidup bebas membelanjakan uangnya tanpa takut kehabisan, dll. Tetapi mencapainya diperlukan Waktu yang di-Dedikasi-kan serta Komitmen kukuh melalui proses tahapannya, perlu punya keterampilan, kesiapan diri dan memenuhinya dengan segala daya ikhtiar sedemikian rupa. Itulah “investasi” terbaik dalam hidup.

Perlu Kiat Sukses untuk itu, Yakni:

1. Mengelola Waktu:
Sekeras bagaimanapun kita bekerja, kita hanya punya waktu 24Jam sehari. Hanya itu yang bisa dimanfaatkan, yang harus dikendalikan secara Fokus agar efisien, agar kita tidak kehilangan momentum – untuk sukses.

Mengelola waktu dengan benar menjadikan kita terlihat professional, teliti dan tidak tergesa-gesa memenuhi jadwal aktivitas kita, bahkan punya waktu menikmati hidup, bersantai. Kita terlihat lebih siap menghadapi tiap perubahan dan mengubahnya demi untuk kemanfaatan maksimal.

Kita akan dikenal sebagai pribadi yang tidak gegabah, teliti meneliti detil tiap pilihan yang muncul hingga kecil kemungkinanya untuk membuat keputusan yang salah.

Ada tekniknya itu!

2. Punya Empati:
Empati berarti mampu memahami perasaan orang lain. Berbeda dengan ‘simpati’ karena “Simpati” layaknya ditujukan untuk rasa berbelas kasihan. Seumpama ketika kita tahu ada rekan dipecat, kita langsung mempertanyakan secara terbuka. Itulah “empati” bahwa kita memahami perasaannya, kita dapat merasakan betapa getir nanti kehidupannya.

Empati menjadi kunci sukses oleh karena pola pikir dan cara kerja kita menunjukkan kita berkemampuan untuk memimpin. Perlu nyali menerapkannya - langsung bertanya secara terbuka, tidak malah mendiamkannya.

Hanya cara komunikasi yang baik yang bisa membuat penyampaiannya tidak terdengar seolah bersifat menghakimi.

Ada caranya itu!

3. Meminta Bantuan:
Perlu keberanian kala ketika benar-benar mengharapkan bantuan orang lain, sulit mengutarakannya karena kita cenderung menduga-duga negatif. Ini adalah salah satu keterampilan yang harus dikuasai.

Orang kerap salah, menganggap bahwa jika meminta bantuan itu berarti pertanda lemah. Hingga banyak yang memilih mengerahkan kemampuannya sendiri, terhenti setelah tak tertolong lagi - baru meminta bantuan. Adalah salah menganggap rasa malu sebagai bukti kelemahan, terutama karena perlu keberanian melakukannya, dan itu adalah pertanda jika kita punya kekuatan – berani melakukannya.

Alasan lainnya, orang enggan meminta bantuan karena khawatir akan kehilangan kendali atas kondisi tertentu. Ada juga karena menganggap orang lain tidak setrampil dirinya atau sebaliknya karena tak mau ketahuan tingkat keterampilannya. Ada juga karena tidak mau kelak terhutang budi. Yang pongah beralasan, karena tak mau membebani orang lain.

Sejatinya, jika kita  meminta bantuan maka kita memberi kesempatan ke orang lain untuk tampil menunjukkan keahliannya. Ini tentang memberdayakan orang lain.

Bahwa kita tidak sempurna, itu adalah sama seperti semua orang, dan kita harus menerimanya. Meminta bantuan ke orang lain menjadi bukti bahwa kita mengakui ketidaksempurnaan kita itu. Itu kiat sukses juga.

4. Harus Konsisten:
Kita perlu fokus pada tujuan dan kukuh berjuang mencapainya. Jika tiap waktu kita mengubah dan mengubah-ubah tujuan maka kita akan kehilangan arah karena tidak konsisten. Konsisten merupakan kunci sukses untuk mencapai keberhasilan.

Ada pelatihannya itu!

5. Mampu Mendengar:
Punya dua telinga dan satu mulut mungkin ditujukan agar kita bersedia mendengar dua kali dan berbicara satu kali - saja. Mendengar bukan berarti lemah tetapi hanya itu cara agar kita bisa benar-benar paham apa pendapat orang lain.

Jika mau mendengarkan baik-baik kita akan terhindar dari salah paham, bisa menghemat waktu pengerjaan sesuatu bahkan bisa terhindar dari rasa frustasi.

Karenanya tak heran jika banyak pemimpin mengirimkan karyawannya untuk kembali bersekolah hanya untuk dilatih bagaimana cara mendengarkan dengan baik, belajar cara terbaik bagaimana memahami sesuatu.

Kemampuan mendengarkan dengan baik adalah keterampilan yang diperlukan untuk bisa ber-komunikasi dengan efektif.

Ada tekniknya itu!

“I am thankful for all of those who said ‘No’ to me. It’s because of them I’m doing it myself”.
~Albert Einstein

~salam sukses!
 

Jumat, 16 Maret 2018

PENEMPAAN DIRI UNTUK HIDUP SUKSES


“It doesn’t matter where you came from, all that matters is where you are going”~Brian Tracy

Hidup adalah penciptaan. Mungkin dicipta dengan api atau dengan tiupan angin, atau dengan terjangan topan badai atau mungkin dengan tetesan air atau malah direndam dalam genangannya - apapun itu, hidup adalah penempaan.

Mari rehat mengaguminya!

Konon hidup kita telah dipalsukan oleh pengalaman terutama karena sesungguhnya kita punya pilihan untuk ikut berpartisipasi membentuknya. Bahkan mungkin kita bisa mengarahkan cetakan yang bagaimana yang kita inginkan. Jika pun yang memalsukan itu punya rencana sendiri, kita bisa saja menolak atau setuju dan menyesuaikannya mengikutkan keinginan kita.

Caranya bagaimana?

Penempaan diri:
Diantaranya adalah dengan penyerahan diri. Mengenali hidup menjadi cara penempaan diri tanpa bersifat represif melawannya tetapi lebih kearah menikmatinya. Itu akan mendorong minat untuk mewarnainya lebih baik lagi.

Lainnya, dengan ber-eksplorasi menggali hal-hal baru menambah daftar perjalanan hidup, membuat kita kian terlatih bagaimana kala sedih, bagaimana ketika didera rasa sesal atas kejadian tertentu. Ketika hal-hal baik terjadi, kepedihan menjadi sirna terlupakan dan kita tak lagi mempersoalkannya. Pemikiran yang diduga sulit untuk diterima orang.

Ada juga yang memilih menghadapi sendiri rasa takutnya. Semisal takut berbicara didepan umum, takut terhadap orang yang tidak dikenal, atau takut gagal berbisnis, takut dipecat atau mungkin takut cintanya ditolak. Memilih menghadapinya dengan metode sendiri hingga tenggelam dalam ketakutannya sampai si takut menjadi takut untuk menakut-nakuti. Takut yang aneh!

Ada juga rasa takut yang diduga malah menimbulkan kekuatan. Semisal takut akan ketinggian diduga malah melahirkan pilot-pilot handal. Ada juga rasa takut yang dinilai tidak irrasional hingga melahirkan pakar professional untuk menangani. Walau terlihat takut-takut tetapi si Pakar takut mengaku. Takut yang menggelikan - dan dibayar!

Kita bisa menempa diri mengikutkan karakter kita. Semisal mendapati diri kita menjadi pembicara internasional yang tiap saat harus terbang ke berbagai penjuru dunia. Sesuatu yang mustahil jika kita takut terbang atau takut berbicara di depan umum, tetapi oleh laju kemajuan teknologi, itu kini bisa – melalui video call.

Kita bahkan bisa mengajak orang se-Dunia untuk berubah dengan cara mengubah lingkungannya hanya dengan memodifikasi pergaulan sosial kita menjadi tanpa batas. Menjadi warga global – netizen penghuni dunia maya. Mengajak seisi dunia melakukan penanaman pohon atau dunia akan dilanda kekeringan (global warming). Dimulai dari hal-hal kecil yang inspiratif untuk mempengaruhi, dan memperlihatkan dengan cara bagaimana kita berubah – mengubah wajah dunia.

Mendisain Karakter Pribadi:
Dimulai dengan: “apa impian kita, karakter yang bagaimana yang sesungguhnya kita inginkan?”. Selanjutnya kita susun daftar impian untuk memilih impian yang mana yang paling kita inginkan menjadi bagian dari karakter pribadi kita.

Jika diteliti akan ada pola peristiwa yang terjadi secara berulang – apa itu? daripada menolaknya lebih mudah untuk menerimanya dan menempa karakter yang diinginkan.

Jika ditelusuri, akan ada pengalaman pahit yang terjadi berulang-ulang – apa itu? daripada tiap saat menyesalinya akan lebih baik menghindarinya.

Jika diakui jujur, akan ditemukan perasaan takut yang kerap menghantui – apa itu?, daripada takut terulang dan terulang lagi, akan lebih baik berdamai dengannya. Tetapi itu perlu langkah penanganan tersendiri yang harus kita amini realitasnya.

Keadaan sosial di lingkungan kita bertempat tinggal diyakini ikut membangun karakter pribadi maka tak heran jika semua menginginkan hunian yang layak, yang nyaman dimana kita bisa berbaur tanpa merasa terkucil. Karakter pribadi akan lebih signifikan.

Pertanyaannya, akankah ada jedah waktu untuk menjelajahi yang kita bangun? Apakah seperti itu karakter yang kita inginkan? Jawab saja sendiri – kelak!.

"Take up one idea and act on it. Make that one idea your life. Think of it, dream of it, and live on that idea. Let the brain, muscles, nerves, and every part of your body be full of that idea and leave all other ideas alone. This is the way to success."
~Unknown

~salam tempa diri!


 

Senin, 12 Maret 2018

MERANCANG KARAKTER HIDUP SUKSES

"Deal with the faults of others as gently as your own."
~Chinese proverb

Adakalanya kita berpikir bahwa kita terlahir ke dunia ini bagaikan balok marmer bening untuk dipahat oleh pemahat berpengalaman dibengkelnya, diwarnai. Bengkel itu adalah dunia ditempat mana kita hidup. Kita bisa saja membiarkan sipemahat itu melakukannya sendiri, tetapi kita juga punya pilihan untuk berpartisipasi, terutama jika kita siap untuk itu. Atau kita bisa ikut bergabung kerja denganNya terutama untuk mengatakan apa dan bagaimana kitanya.

Baru-baru, saya diundang ikut acara bedah buku, bersama penulis dan pembandingnya berbagi ide gagasan pemikiran dengan para yang hadir. Nyaris semua yang berbicara menyampaikan bahwa konsep ketika “orang mati” adalah bayangan akan adanya cahaya putih benderang dan tiap kita melangkah memasuki dan terlarut didalamnya.

Kala itu terjadi, kita telah melepaskan identitas keduniaan yang melekat, kita sudah tidak lagi memiliki kesadaran penuh, kita terlarut berbaur dalam pendarnya. Sudah tidak ada ego yang tersisa tetapi kesadaran diduga bisa melihat dirinya sendiri. Kala kita berbicara tentang masuk terlarut dalam terang cahaya maka acontrario-nya akan ada kegelapan – mendatangi kemudian. Pembahasan terhenti jeddah – coffee break.

Suasana rehat dipenuhi perbincangan alot. Satu-demi satu suara peserta disuarakan, baik berupa saran maupun pendapat alternatif sudut pandang dan lain sebagainya. Entah kosakata apa yang paling tepat untuk menggambarkan persfektif yang muncul. Kian menarik ketika ada yang mendebat bertanya: “setelah tahapan larut dalam cahaya itu, apa kemudian yang terjadi - berikutnya?”. Terdiam, merenung satu demi satu peserta diam menatap cangkir kopinya. Sunyi dingin seolah menyergap.

Sangat menarik! Bagaimana jika ternyata tidak terlarut dalam cahaya, bagaimana jika ternyata sudah tidak ada kesadaran kala terlarut? Semua peserta seolah kehilangan kata-kata bekal bersilat lidah.

Bagaimana jika ternyata itu yang disebut sebagai perjalanan spiritual? Bagaimana jika itu tentang kehidupan kita? Ya, kita berkeinginan untuk bisa terus berjalan melangkah bahkan jika setelah terlarut dalam terang cahaya itu, kita ingin bisa terus berjalan melampauinya. Bahkan jika itu pun nanti akan berganti menjadi kegelapan, kita ingin terus berjalan menolak tawaran - apapun yang muncul. Tiap kita ingin berjalan terus dengan sesuatu apa yang kita pernah ciptakan.

Didalam hati masing-masing bergumam “Terima kasih, aku akan terus berjalan dengan apa yang aku ciptakan kala ketika aku hidup”. Persfektif yang semakin menarik berhasil menenggelamkan seruan untuk masuk lagi memulai tahapan sessi pembahasan.

Sessi berikutnya diisi dengan tofik penciptaan. Kala pemahat jumawa berhasil menciptakan pedang pusaka yang begitu luar biasa keindahannya, apakah kita bersedia mengakui kebesarannya? Akan kah kita kemudian akan melemparkannya kembali kedalam perapian untuk dimusnahkan dan didaur ulang? Atau, akan kah kita memilih tampil bangga memamerkannya? Atau menimang-nimang mengaguminya membangun minat mempelajari keahlian sipemahat yang begitu jumawa.

Akankah kita menikmati penggunaannya? Lajimnya, begitu sebilah pedang yang begitu elegan tercipta bukankah kita tertantang untuk menggunakan? Mengeksplorasi kreatifitas penciptaan jurus menggunakannya? Bahkan mungkin eksporasi itu akan terus melampaui tahun penempaannya.

Hidup adalah penempaan. Terkadang harus ditempa dengan api perapian, dengan tetesan air atau siraman luapan terjangan hebat air terjun. Dan, besar kemungkinan akan ada jedah waktu untuk rehat beristirahat mengagumi tempaannya.

Apakah kita merancang karakter hidup sukses atawa kita tengah sukses merancang karakter hidup kita?

Jawabnya, tergantung telur masing-masing!

Love yourself first and everything else falls into line. You really have to love yourself to get anything done in this world."
~Lucille Ball

~salam sukses selalu!

Awesome - Very rare!



Kamis, 08 Maret 2018

MOTIVASI MEMENANGKAN HIDUP

"If everything's under control, you are going too slow."~Mario Andretti

Sebagaimana ungkapan ~Zig Ziglar: “Jika Anda tidak mau belajar, tidak ada yang bisa menolong Anda! Tetapi jika Anda bertekad untuk belajar, tidak akan ada yang bisa menghentikan Anda!", kebenarannya terungkap dijaman now.

Era teknologi kini ini, kian membuat semakin tidak banyak aturan permanen yang mengikat mengingat ekspresi perubahan yang terjadi begitu cepat. Semisal ukuran seksi bukan lagi hanya lekuk tubuh siseksi tetapi dipengaruhi seberapa banyak follower-nya? menjadi ukuran tingkat popularitas, dan itu dipertimbangkan. Wajah dunia telah berubah.

Indikator sukses keberhasilan tidak lagi hanya tergantung pada tingkat kekayaan yang dihasilkan – tetapi siapa yang mengikutinya, kini segalanya terlihat sumir. Sukses bukan lagi domain para keturunan darah biru, tetapi yang tidak berdarah pun banyak yang sukses mencapai keberhasilannya. Indikatornya kian semakin meluas engga jelas apalagi diharuskan mendapat pengakuan dari netizen - para penghuni dunia maya, dunia yang tak jelas dilintang berapa letak posisinya.

Semua berubah dan semuanya wajib menerima perubahan demi perubahan yang mengubah tiap perubahan itu.

Jika dulu, tiap kali kita menghadapi perubahan kita diperhadapkan pada ungkapan kata: “bagaimana jika?”, kini ini cenderung berhadapan dengan: “kenapa tidak?”.

Dua-duanya mengusung kandungan makna dengan bobot yang sama kuatnya, abtraksi keduanya terlihat pada gagasan bahwa ada yang tengah sedang atau akan berubah. Keduanya diyakini menjadi pemicu minat yang menumbuhkan inovasi, yang memacu kreativitas dan perubahannya – seolah tertantang membuat sesuatu hal menjadi lebih baik.

Semua dipaksa untuk berubah setidaknya ekpresinya berubah bahkan imajinasi kita dipaksa berubah untuk mampu memahami sejauh mana sesuatu kreativitas bisa mengrefleksikan tiap hal yang bisa kita bayangkan. Dunia tanpa batas!

Kemampuan kita berimajinasi ditantang tiada habisnya. Surfing seolah dicap sebagai kecanduan berinternet apalagi kini internet menyediakan segalanya, sedari detik-detik kelahiran bayi hingga detik-detik kematian seseorang menjemput, terpampang jelas. Tersangka pesakitan korupsi pun bisa sewaktu-waktu berubah posisi seolah pendekar penebar keadilan (justice collaborator). Yang heran kian semakin heran hingga sakit terheran-heran sedangkan yang kagum kian semakin kagum hingga mati kelojotan menjadi cara mati mengagumkan. Dunia kian menggila!

Resep sukses tak lagi harus belajar tinggi-tinggi di perguruan tinggi, kini cukup dengan pelatihan dan keuletan untuk jatuh bangun secara digital agar bisa menjadi master digital. Bahkan professor pun bisa mengukuhkan sendiri dirinya sendiri sebagai “professor digital” berstempel dan ber-sertifikasi digital. Bayar secara digital. Dunia berubah menjadi digital.

Semakin kreatif kita dianggap penuh kreasi, tinggal menerapkannya kedalam satu bidang kehidupan, menularkannya kedalam aspek kehidupan lainnya. Ide bagus jarang diminati tetapi ide yang rada gila bisa menjadi viral. Pesohor kesohor kini tergantung pada total jumlah klik sebagai bukti pertanda berapa kali sudah ditonton netizen? Kualitas menjadi sumir, tergantung pada tingkat elektabilitas Netizen – sang penghuni dunia maya.

Seiring waktu tiap kita merasa terbebani, bahwa semua kita kian semakin membutuhan sesuatu ukuran standar yang mencakup lebih dari sekedar viral atau like dari netizen dunia maya.

Kita perlu aturan yang meletakkan kebahagiaan pada posisi semestinya dan bahkan kita dituntut memahami sifat karakter yang melekat atasnya:

1. Bertanggungjawab secara Mandiri:
Jamak kita temukan seseorang yang mengaku kurang bahagia dalam kehidupannya lari dari kenyataan realitas hidupnya. Terlihat begitu mudah menghindari tanggung jawab pribadinya, semudah ia menyalahkan orang lain dan atau menunjuk siapa saja yang dia anggap tidak memuaskannya – untuk dipersalahkan. Dan semakin kita mengenalnya, semakin kita bisa mengungkap kehidupannya. Nelangsa.

Tak mudah untuk kita bisa menemukan seseorang yang berbahagia menerima tanggungjawab pribadinya sebagai bagian dari realitas hidupnya. Semakin kita mengenalnya semakin terungkap bahwa kebahagiaan mereka adalah ekses dari sikap karakter pribadi mereka sendiri. Bertanggungjawab penuh seolah tak cukup alasan untuk mereka – mempersalahkan orang satu lainnya.

2. Rendah Hati secara Pribadi:
Tingkat kepercayaan diri memungikinkan kita untuk mempercayai nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat – bahwa kita layak untuk sukses. Seseorang yang berbahagia memiliki tingkat kemampuan pribadi untuk percaya pada kemampuan dirinya sendiri mengembangkan ketrampilan yang dibutuhkan. Yang bisa menghasilkan kualitas yang kompeten yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan yang baik.

Tipikal mereka ini, merasa tidak cukup alasan untuk teriak-teriak membesar-besarkan prestasi yang dicapai. Menjabarkan pengalaman hidupnya dengan seksama tanpa dilebih-lebihkan, terkesan jauh dari kesombongan. Diduga mereka menganut prinsip bahwa kerendahan hati akan memancarkan rasa percaya diri yang diperlukan untuk mencapai sukses keberhasilan. Penerimaan diri menghadirkan bobot kerendahan hati dan mereka nyaman dengan kehidupannya.

3. Penerimaan Diri:
Seseorang yang sampai pada tahap pengenalan diri terlihat dipenuhi rasa kebahagiaan, terlihat berhasil menghubungkan perasaannya dengan realitas kenyataaan hidupnya dan terus belajar bertumbuh seiring waktu.

Baginya memelihara kelemahan hanyalah untuk menggali kekuatan yang diperlukan untuk menjadikannya bisa menghindarkan stagnasi kemalasan bahkan sifat apatis. Terutama karena telah berhasil membangun pemikiran bahwa dirinya telah berdamai dengan dirinya – dan menerima apa adanya. Ketenangan batin menjadi momentum pengingat yang handal bahwa dirinya tengah sedang berjuang memenangkan dirinya dengan menerima dirinya - apa adanya. Terkesan tengah memaksa dirinya sendiri untuk berinvestasi pada dirinya sendiri. Oleh karenanya – jangan mau bingung sendiri!!

"Far better it is to dare mighty things, to win glorious triumphs, even though checkered by failure, than to rank with those poor spirits who neither enjoy much nor suffer much, because they live in the grey twilight that knows neither victory nor defeat."
~Theodore Roosevelt

~salam motivasi!
Awesome - Free

Senin, 05 Maret 2018

Anda Cukup Kompeten Untuk Menantang Hidup

“Worry never robs tomorrow of its sorrow, it only saps today of its joy.”
~Leo F. Buscaglia

Kekhawatiran tidak akan pernah merampas hari esok dari kesedihannya, ia itu hanya akan mengurangi sukacita dihari ini, demikian Leo F Buscaglia. Seolah mengingatkan, karena kita telah terbiasa untuk khawatir akan sesuatu yang tak jelas. Kebiasaan yang merusak.

Sebagai makhluk yang dipenuhi emosi, kita kerap diganggu pemikiran khawatir. Walau terkadang khawatir karena untuk alasan tertentu adalah bagus karena berhasil membangun rasa takut tetapi tak bagus untuk kita membiarkannya. Seolah khawatir lebih baik dari keyakinan diri kita sendiri. Haruskah kita membiarkannya?

Tiap kita bercita-cita untuk menjadi orang besar tetapi kita ragu apakah paham akan arti kebesaran yang dimaksudkan, terutama karena hal itu bukan hanya menyangkut bagaimana orang-orang memandang diri kita, tetapi bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Njlimet - tidak semudah mengatakannya.

Anehnya kita terlihat begitu mudah untuk tahu hal-hal yang membuat kacau orang lain, bahkan begitu yakin mengatakan bahwa kita telah mengindentifikasi hal-hal yang menahan langkahnya mencapai puncak kebesarannya. Bagaimana memperbaikinya menjadi persolan tersendiri - aneh.

Diseminar-seminar pengembangan diri kerap diperdengarkan bahwa seseorang tidak bisa mencapai puncak kejayaannya karena terganjal beberapa hal,

Yakni:

1. Diperkosa Pemikiran Negatif:
Kita perlu memahami bahwa hidup kita sangat dipengaruhi oleh orang-orang disekeliling kita. Konon orang-orang yang tiap waktu mengeluh, menebarkan ceritera negatif tentang betapa buruk hidupnya, itu bisa merontokkan daya juang kita. Disarankan untuk kita bisa menghindarkan efek mentalitas negatif setidaknya hingga kita mencapai tahapan dimana kita tak lagi bisa terkontaminasi.

Disarankan juga agar kita menghabiskan waktu dengan orang-orang yang bergizi positif karena mereka antusia akan perjuangan kita, dan itu yang akan mendorong kita mengejar impian kita.

2. Dikerangkeng Kepahitan Masa Lalu:
Kita harus meyakini bahwa kepahitan hidup masa lalu harus ditinggalkan agar tidak menghambat langkah menuju puncak kebesaran yang diimpikan.

Abstraksi makna kata yang menyarankan agar kita “belajar dari kepahitan masa lalu” kerap dipahami secara salah, seolah-olah diartikan agar kita terus menyeret-nyeret jangkar kepahitan itu - kemanapun. Agar tidak kehilangan tongkat dua kali?

Seyogianya kita bisa meninggalkannya agar bisa merangkul masa depan yang lebih baik, bukan malah menjadikan kesialan masa lalu sebagai patokan langkah kedepan.

Pengampunan terhadap kesialan dimasa lalu diyakini akan membinasakan sisa-sisa kepahitan hidup dan berdamai dengannya akan melipatgandakan produktivitas. Melepaskan beban emosional masa lalu akan menjadikan langkah kita lebih ringan.

Melupakan kepahitan masa lalu menjadi patokan apakah kita telah berhasil memetik pelajaran berharga darinya - untuk kita terus bisa maju melangkah.

3. DiBorgol Situasi Kondisi:
Mengejar puncak kebesaran akan tertahan jika kita tidak mau menerima perubahan terutama karena masa depan berarti sama dengan berubah, dan itu tidak terelakkan.

Jangan biarkan situasi kondisi kini memborgol keinginan kita untuk berubah. Jangan menganggap perubahan sebagai sesuatu yang buruk, tetapi beradaptasilah dengannya. Banyak yang malah bertambah sukses setelah dipecat dari pekerjaannya bahkan seorang salesman seperti JackMa pemilik alibaba.com sukses karena memanfaatkan perubahan teknologi - internet.

Kita menyadari perubahan kala kita melihat lagi kebelakang perjalanan kita bahwa memiliki pengharapan itu masih lebih baik daripada samasekali tidak. Dan kita perlu melepaskan diri dari kungkungan borgol keadaan hidup kita karena itu yang akan memaksa keluar keberanian kita mengembangkan kualitas kreativitas.

Walau tidak semua perubahan berakhir baik tetapi perubahan memberi kita kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih baik dan itu yang akan membuat kita menjadi lebih baik.

4. Terkungkung Keyakinan Yang Terbatas:
Ntah disadari atau tidak, kita kerap membatasi sendiri keyakinan kita untuk bisa sukses, seolah membangun kegagalan diri sendiri. Semisal, pemikiran tentang: “saya tidak akan bisa melakukannya karena saya tidak tahu caranya. Dan saya tidak cukup cerdas untuk memahaminya. Saya perlu kiat sukses tetapi saya tidak kenal orang yang tepat untuk mengajarkan kiat jurusnya".

Banyak yang tidak yakin bahwa mereka sejatinya sangat kompeten menangani tantangan hidupnya bahkan banyak orang yang tidak yakin jika dirinya layak untuk hidup layak. Pilar harga diri yang terlalu tinggi telah merusak.

Ini hanyalah satu “keyakinan”. Yakni satu pemikiran yang dipikirkan berulang-ulang secara terus-menerus. Jika kerap memikirkan hal yang negatif maka tak heran jika yang negatif yang cenderung terjadi. Tetapi, jika kita memikirkan yang sebaliknya maka berbagai hal positif akan mendominasi. Karena pemikiran yang berulang-ulang secara terus-menerus diyakini akan menegaskan pemikiran yang seperti itulah yang diharapkan terjadi.

Mungkin banyak dari kita yang telah ditinggal mati kedua orang tua atau bahkan telah mengalami betapa pahit ketika Bangkrut, ketika kehilangan teman atau dipecat dari pekerjaan, ketika tak punya uang, ketika reputasi hilang, dan sebagainya. Betapa pun tragik tetapi kita bertahan meliwatinya, ini membuktikan bahwa kita punya kapasitas melaluinya. Itu-lah sumber daya kita, kemampuan untuk hidup lebih baik!

Manakala kita yakin bahwa kita layak mendapatkan kehidupan yang lebih baik maka kita telah punya modal dasar untuk bergerak satu-langkah-tiap-waktu, demikian seterusnya. Itu akan meningkatkan kepercayaan diri untuk melakukan apa pun yang diperlukan agar hidup lebih layak.

Dan kita kompeten untuk itu!

Mulailah dengan mengenali keterbatasan diri, lakukan perubahan atasnya. Lihatlah seberapa hebat diri kita merengkuh puncak kebesaran kita. Anda cukup kompeten untuk menantang hidup!

Masih tak percaya juga kah?

~salam berubah!
Awesome