Bagaimana Mendapatkan
Tambahan Penghasilan? Menurut petuah para tetua yang tertua, mengurangi pengeluaran adalah cara
terampuh, dan menggunakan sisa penghasilan setelah dikurangi biaya adalah pilihan
tambahan. Artinya biaya harus ditekan lebih kecil dari penghasilan, semakin
besar selisihnya semakin bagus, dan memanfaatkannya bertambah bagus. Bagaimana dengan yang berpenghasilan pas-pasan? satu-satunya
pillihan adalah dengan bekerja lebih keras memberdayakan energi pemikiran dan
waktu untuk meningkatkan penghasilan sembari menekan pengeluaran. Yang berpenghasilan tinggi akan lebih leluasa mendapatkan tambahan penghasilan untuk
menjadi semakin lebih kaya. Bagaimana caranya? Cara mudah tapi rada sulit dipahami
sebagai berikut:
1. Menabung di Kendaraan Bermotor:
Membeli kendaraan bermotor tunai atau mencicil untuk kemudahan
transportasi, purna jualnya untuk tambahan penghasilan. Teliti informasi
tentang harga, merek serta pemeliharaan, kehandalan kendaraan terutama purna
jualnya. Jika mencicil, teliti informasi seputar bunga, asuransi, dll. Memilikinya
tidak untuk kemudahan transportasi belaka tetapi tambahan penghasilan.
2. Menabung di Kepemilikan Rumah:
Jika kesulitan membeli tunai, pelajari opsi menyewa atau mencicil.
Sebagian berpendapat menyewa lebih fleksibel dari mencicil, alasan kenaikan
harga atau fasilitas over-cicilan tidak menjanjikan. Harga rumah rentan
terhadap situasi perekonomian dibanding kendaraan bermotor. Piihan menyewa dinilai
lebih menguntungkan daripada mencicil alasannya lokasi tempat tinggal, jarak
rumah ke pekerjaan atau ke sekolah, fasilitas dan keramaian hunian turut
berpengaruh.
Jika menyewa lebih mahal dari mencicil, perubahan karir dan perkembangan usia anak menjadi pertimbangan, tetapi pilihan menyewa diyakini lebih fleksibel daripada mencicil 20Tahun. Jauh lebih sulit menjual rumah atau over-cicilan daripada meninggalkan rumah dengan sisa masa sewa. Bagaimana jika tidak terjual ketika harus pindah? Ada yang berpendapat itu bisa nanti disewakan. Namun, untuk alasan fleksibilitas menyewa menjadi pilihan.
Jika menyewa lebih mahal dari mencicil, perubahan karir dan perkembangan usia anak menjadi pertimbangan, tetapi pilihan menyewa diyakini lebih fleksibel daripada mencicil 20Tahun. Jauh lebih sulit menjual rumah atau over-cicilan daripada meninggalkan rumah dengan sisa masa sewa. Bagaimana jika tidak terjual ketika harus pindah? Ada yang berpendapat itu bisa nanti disewakan. Namun, untuk alasan fleksibilitas menyewa menjadi pilihan.
3. Menabung di Kerja Keras:
Diawal mulai bekerja, semangat memacu diri untuk selalu
tepat waktu. Dan ketika pertama kali mendapat gaji rasa bangga memicu motivasi meningkatkan
karir agar lebih hebat lagi dan naik gaji. Seiring waktu, kebosanan mengganggu
hingga timbul pemikiran ‘disini tidak ada karir’, harus pindah kerja. Lesu dan
semakin tak berdaya pekerjaan seolah beban berat. Ingatlah, jika menjadi pekerja
- meskipun tidak kita sukai, kita harus memberikan perhatian terbaik, memperlakukannya
seakan milik sendiri seakan kita lah CEO pemiliknya. Bayangkan bagaimana peluang
sebagus itu, walau tidak mudah tetapi itu mungkin. Fokuslah bekerja keras, akan
ada yang mulai memperhatikan, tetaplah bersikeras bahwa itulah pintu pembuka untuk
bisa menambah penghasilan.
4. Menabung di Pendidikan:
Pendidikan adalah cara membangun potensi mendapatkan penghasilan,
gelar titel bahkan dianggap investasi. Sebagian lain menilai pendidikan cukup
seperlunya saja, bersekolah lebih tinggi lagi adalah pemborosan, lelah membosankan
dan tidak ada jaminan kenaikan penghasilan. Sertifikasi keahlian bahkan kurang membawa
rewards yang sepadan tidak sebanding dengan pengorbanan memperolehnya. Pendidikan
kerap dinilai gagal membawa manfaat langsung kenaikan penghasilan. Tetapi
pendidikan adalah cara memenangkan kompetisi potensi karir. Seiring waktu,
cakrawala jagad kesempatan terbuka lebih lebar bagi yang berpendidikan. Dalam
banyak peristiwa tingkat pendidikan tak ubahnya bagaikan media alat pemasaran.
5. Menabung di Pemasaran Diri:
Pemasaran dihiasi berbagai media dan peraga tujuannya
sederhana yakni untuk meningkatkan penjualan, mengenalkan produk dan kenaikan
margin keuntungan. Bila itu diterapkan memasarkan potensi diri, akan berpotensi
menaikkan penghasilan. Tokoh–tokoh populer gemilang menerapkannya. Cara
berpakaian dan keunikan pakaian membawa nilai tersendiri. Tutur kata yang sopan
serta kemampuan menelaah sudut pandang menjadi jalan karir.
Pakaian rapi tidak selalu identik harus mahal trendy buatan
disainer ternama, cara berbicara tidak selalu harus dipenuhi istilah-istilah
asing. Terlihat profesional dinilai cukup memadai dan menjadi patokan utama.
Brosur, tool kits materi seminar, sarasehan kerap dimanfaatkan sebagai sarana memasarkan
diri. Turut ikut pada program pelatihan lokakarya bahkan meniru orang ternama
dinilai perlu, dan itu mengubah cara berpikir untuk bertumbuh. Memahami kutipan-kutipan
sangat disarankan karena memperkaya upaya pengelolaan diri. Bagaimana
memasarkan diri tak ubahnya bak sistim pemasaran produk.
6. Menabung di Waktu:
Bagaimana? ini gagasan gampang tetapi sulit karena kita ditantang untuk membagi dua puluh empat jam yang tersedia. Penyaluran bakat menjadi salah satunya, semisal bakat membaca atau menulis, tujuannya untuk memanfaatkan waktu ke hal-hal yang lebih utama. Bagi yang suka tantangan berbisnis tanpa mengganggu kegiatan pokok utama menjadi pilihan.
Bisnis Affiliasi adalah model bisnis yang mengagumkan, patut untuk dipertimbangkan sedari dini karena akan lebih menguntungkan. Di SFI, kita dididik untuk berhasil dengan memberhasilkan orang satu lainnya. Menghindari kesalahan yang menghambat keberhasilan orang lain.
6. Menabung di Waktu:
Bagaimana? ini gagasan gampang tetapi sulit karena kita ditantang untuk membagi dua puluh empat jam yang tersedia. Penyaluran bakat menjadi salah satunya, semisal bakat membaca atau menulis, tujuannya untuk memanfaatkan waktu ke hal-hal yang lebih utama. Bagi yang suka tantangan berbisnis tanpa mengganggu kegiatan pokok utama menjadi pilihan.
Bisnis Affiliasi adalah model bisnis yang mengagumkan, patut untuk dipertimbangkan sedari dini karena akan lebih menguntungkan. Di SFI, kita dididik untuk berhasil dengan memberhasilkan orang satu lainnya. Menghindari kesalahan yang menghambat keberhasilan orang lain.
Demikian disadur dari berbagai sumber offline dan online.
Ingatlah, tidak ada formula yang mujijat untuk berhasil, tetapi kegagalan
adalah tahap awal keberhasilan. Yakinlah akan hal itu!
~Selamat berkarya!
