Ini adalah tentang kebenaran yang dianggap “kontroversial” karenanya layak untuk diuji;
“Bahwa, berpikir positif bukan jaminan untuk mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi bekerja keras mewujudkannya adalah cara terbaik”. Karena sejatinya; “berpikir positif hanya akan membawa Anda ke jurang kekecewaan jika tidak berusaha mewujudkannya, karena hidup bukan angan-angan. Bagaimana pun berpikir positif memerlukan keterampilan dan kerja keras. Itu yang Anda perlukan”.
Mari mulai dengan ilustrasi sederhana:
“Anda penasaran karena sulit melupakan mimpi Anda. Bertanya kesana-kemari mencari tahu maknanya apa. Beberapa orang menyarankan untuk mempercayai naluri Anda, alasannya mimpi adalah gambaran tentang sesuatu yang nyata, perlu bersabar untuk mewujudkannya, perlu waktu dan harus bekerja keras. Sebagian orang akan menggali potensi kompetensi Anda dan menyarankan untuk meningkatkannya. Lainnya berkata agar Anda sadar akan realita, itu hanya mimpi penghias tidur saja. Tidak perlu diingat-ingat karena akan berubah seiring perubahan warna sprei tilam dan sarung bantal Anda. Hei…bangunlah, jangan kau mau terbawa mimpi!”
Semuanya benar, karena mereka mengungkapkan apa yang di dalam pemikirannya. Itu adalah tentang mimpi Anda, sesuatu yang Anda idam-idamkan, diperlukan tekad dan kerja keras serta fokus.
Intinya adalah kompetensi dan kapasitas.
"Nobody is superior, nobody is inferior, but nobody is equal either. People are simply unique, incomparable.You are you, I am I."~osho
Apakah Anda termotivasi melakukannya? Anda tidak perlu menjawabnya, hanya Anda perlu menunjukkan dengan berusaha, itu yang menjadi bukti pertanda bahwa Anda tengah fokus berusaha mewujudkannya.
Anda perlu berlatih memprogram ulang cara Anda berpikir:
1. Perhatikan Hal-hal Kecil
Hal-hal kecil jangan diabaikan karena banyak peristiwa penting gagal oleh karena hal-hal kecil yang bahkan tidak dipertimbangkan. Ibarat tekanan angin pada roda ban, jika kurang kendaraan bisa berkurang kecepatannya dan menjadikan bensin boros.
2. Jangan Terlalu Khawatir
Lepaskan diri Anda dari tekanan rasa khawatir jika tidak Anda akan kehabisan waktu, lebih baik memanfaatkan waktu untuk mencari solusi. Rasa khawatir tidak akan mengubah apa pun bahkan cenderung menimbulkan rasa khawatir lainnya. Fokuslah mencari solusi yang paling dimungkinkan untuk dilaksanakan. Tertawakan rasa khawatir yang timbul. Tersenyumlah, ambil manfaatnya, itu bisa mengubah beban berat menjadi terasa ringan. Tertawalah, itu akan membuat energi positif memenuhi ruang semangat membuat Anda fokus pada aktivitas yang dilakukan.
3. Menyerah
Anda tidak perlu memaksakan diri berusaha membuat segalanya lebih baik. Mustahil bisa memperbaiki segalanya, menyerahkan pada kehendak semesta terkadang malah menjadikannya lebih baik. Menyerah adalah bentuk pengakuan diri akan keterbatasan diri sendiri, itu yang melahirkan perspektif bahwa kehidupan ini tidak seluas yang Anda pikirkan.
Selanjutnya, Anda perlu berlatih memprogram ulang cara berpikir bagaimana Kebijaksanaan Anda akan mengisi dan mewarnai kehidupan Anda.
Mari lihat ilustrasi lainnya:
Konon di suatu masa, seorang pemilik toko kelontong hidup berdua dengan putrinya. Modal toko kelontongnya dipinjam dari orang kaya di kampung sebelah. Dikenal suka membantu walau dengan berbunga tinggi. Pemilik toko kelontong biasanya tidak kesulitan mengembalikan, tetapi kemarau panjang menjadikan panen petani menurun dan peternak gagal menggemukkan sapi peliharaannya. Kering dan gersang. Petani dan peternak itulah yang menjadi pelanggannya mereka kesulitan membayar hutang belanjaannya, imbasnya pemilik toko kelontong gagal membayar hutang modalnya.
Si orang kaya bersama centengnya mendatanginya, dihadapan pelanggannya berkata keras jika jumlah hutangnya sudah menggunung, sepertinya seluruh harta dan nyawanya jika pun laku dijual tidak akan cukup mengembalikannya.
Semua yang mendengar diam. Si pemilik toko kelontong menyahuti perlahan bahwa dia telah membicarakan permintaan si orang kaya yang ingin menikahi putrinya. Tawaran yang sudah lama ditolak karena rasa malu, tetapi merasa terlanjur telah dipermalukan, si pemilik toko kelontong melanjutkan bahwa, tawarannya diterima dengan syarat hutang tokonya dihapuskan. Syarat yang kedua, si orang kaya tidak memanggilnya “bapak mertua” karena usianya jauh lebih mudah. Lebih pantas jika dia yang memanggil “bapak mantu”.
Tawaran baik tetapi terdengar menyepelekan. Si orang kaya mencibir dan berkata bahwa tak perlu berlama-lama memutuskannya. Akan dia masukkan dua batu kerikil ke dalam kantong kulit yang dibawanya. Satu kerikil hitam bulat lonjong, yang kedua kerikil putih bulat bundar. Keduanya diambil dari batu-batu yang berserakan di jalanan depan toko kelontong itu. Putri pemilik toko kelontong akan dipanggil mengeluarkan salah satu dari dalam kantong.
Ketentuannya; jika yang dia keluarkan kerikil hitam bulat lonjong, hutang hapus, putrinya dinikahi; jika kerikil putih bulat bundar hutang hapus tetapi putrinya tidak dinikahi. Jadi jika putrinya bersedia dinikahi itu adalah keputusannya sendiri bukan oleh si pemilik toko kelontong. Orang-orang yang mendengar riuh berpendapat, ketentuan itu adil.
Si orang kaya berjalan ke jalanan, memungut dua kerikil. Putri si pemilik toko kelontong diam-diam mengintip, mengetahui jika si orang kaya sengaja memasukkan dua kerikil hitam bulat lonjong. Nalurinya mengingatkan bahwa hanya ada tiga pilihan tersedia untuknya, yakni:
1, Menolak mengeluarkan kerikil dari dalam tas.
2. Mengeluarkan keduanya, orang-orang akan menghakimi keculasan si orang kaya, namun mempertimbangkannya lagi, bagaimana pun si orang kaya sudah banyak membantu ayahnya.
3. Mengeluarkan salah satu konsekuensi dinikahi, hutang bapaknya hapus.
Si orang kaya berseru memintanya mendekat untuk memasukkan tangannya ke dalam tas kulit dan mengeluarkan satu kerikil. Orang-orang diam ditempat, masing-masing memelihara sendiri pendapatnya.
Putri si pemilik toko kelontong mendekat, tangannya masuk mengeluarkan satu kerikil tetapi tak sengaja menjatuhkannya ke tumpukan kerikil yang berserakan di jalanan. Seolah kaget dia berseru; “Maaf, saya tidak sengaja”. Dia meminta si orang kaya memeriksa tasnya, katanya: “dari kerikil yang tertinggal, pastinya Anda bisa mengetahui warna kerikil yang tadi terjatuh”.
Orang-orang riuh berpendapat, ada yang berkata itu kerikil putih, lainnya berkata itu kerikil hitam. Si orang kaya termangu, pastinya dia tahu kerikil yang tersisa. Memahami jika putri si pemilik toko kelontong tidak ingin mempermalukannya serta tidak ingin menyinggung perasaan bapaknya. Pasti dia mengetahui situasi keuangan bapaknya.
Si orang kaya kemudian melirik sebentar ke dalam tas kulitnya, memilih untuk tidak mengekspos warna kerikil yang tersisa. Dia simpan rahasia itu untuk dirinya. Kemudian berseru, bahwa sejak saat itu hutang si pemilik toko kelontong telah hapus dan putrinya tidak akan dinikahi. Bersama centengnya berlalu meninggalkan toko kelontong itu.
Orang-orang gaduh berkerumun, masing-masing bersitegang kukuh menjaga pendapat dan pemahamannya sendiri.
Pesan moral yang dituju adalah, Anda bisa mengatasi sesulit apapun permasalahan yang terjadi, hanya saja Anda harus berpikiran positif. Setiap hal pasti ada hal ihwal muasal penyebabnya karenanya jangan menyerah pada pilihan yang ditetapkan orang lain untuk dilakukan. Anda juga memiliki pilihan, hanya saja Anda perlu meyakini orang-orang pastinya bisa menerimanya setidaknya mempertimbangkan karena setiap orang akan bisa menerima pilihan yang berbeda.
Anda hanya perlu berpikiran positif dan berdamai dengan masa lalu Anda. Jangan terganggu dengan apa yang dipikirkan orang-orang tentang Anda. Waktu akan bekerja dengan caranya, menyembuhkan segalanya, hanya saja Anda harus bertanggung jawab terhadap hidup Anda. Itulah kebahagiaan sejati.
Berhentilah membanding-bandingkan hidup Anda dengan orang lain dengan cara jangan pernah mau menilai orang lain. Karena Anda tidak tahu apa saja yang telah dilalui orang lain dalam hidupnya. Berhentilah memikirkan segalanya apalagi berusaha membuat segalanya lebih baik menurut versi Anda.
Tersenyumlah dan bebaskan dirimu dari hal-hal yang bukan tanggung jawabmu.
~salam sukses selalu