Jumat, 16 Oktober 2015

Olah Kesuksesan Orang Lain Menjadi Kesuksesan Sendiri

"Winning starts with beginning."~Robert H. Schuller
"Kemenangan dimulai sedari awal".demikian Robert H. Schuller. Kita kerap tertahan oleh pemikiran sesat akan diri sendiri. Seolah-olah ada sesuatu ‘kekuatan eksternal’ yang menahan laju kita maju. Sesuatu di luar kendali kita, seperti; ‘saya ini berasal dari udik’, atau ‘andai saya punya mobil untuk kerja’ atau ‘bos saya tidak suka sama saya’, dll. Sebagian lain berpikir sesuatu ‘kekuatan internal’ didalam dirinya kerap menghalanginya maju. Dua pemikiran keliru manja mekar di diri kita dan selalu disesali keberadaannya.

Seringkali ‘kekuatan eksternal’ itu kita cari-cari walau kita tahu ia bersemayam didiri kita sendiri. Kita cenderung lebih mudah menyalahkan orang lain, dan nyaman dengan itu. Seakan membenarkan bahwa kita telah berusaha tetapi karena kurang disukai tetap tidak berkembang, bertahan meratapinya. Acap terjerat oleh pemikiran keliru dan terbenam didalamnya, bahkan nyaman dengan itu dan bersemangat menyembunyikan kelemahan sendiri. Andai kita jujur tentulah kita bisa mengenal kekuatan internal kita, tidak seharusnya kita tersudut oleh kekeliruan sendiri. Kita harus mengendalikannya.

Faktor kejiwaaan yang dikenal sebagai ‘kekuatan internal’ adalah "self-image" sesuatu gambaran yang tertanam di ingatan kita - akan citra diri sendiri. Ekstrimnya keluarga terdekat telah menggambarkannya sedari dini, berulang-ulang hingga kita dewasa. Ironisnya hanya hal-hal buruk yang mendominasi, gambaran baik malah terlupakan tanpa kita pernah menyadarinya. Begitu parahnya bahkan ucapan pujian tulus dari atasan dianggap bak peringatan.

Pengalaman masa kecil sangat membekas, manakala oleh keluarga kita diperbandingkan dengan saudara lain atau dengan teman seusia. Gambaran terbentuk dan menjadi citra diri. Semisal kata-kata; ‘dia itu pemalu tidak bisa membawa diri’ atau ‘dia itu kurang percaya diri tak bisa menjelaskan sesuatu’. Tanpa sadar itu tertanam hingga dewasa dan berubah: ‘aku tidak akan pernah berhasil menyampaikan ide gagasan karena tidak pandai berbicara, pemalu dan aku bukan tipikal pemimpin’. Tumpukan ha-hal negatif bak menggunung, keyakinan negatif menghambat. Rongrongan kejiwaan sedari dini, mungkin awalnya terdorong keinginan orang tua untuk melindungi tetapi malah merusak potensi diri.

Bagaikan ‘bahasa pemrograman’ kata-kata dipercaya membentuk bangunan citra diri. Tiap kita cenderung menyembunyikan kelemahan sendiri dengan memilih kegiatan yang bisa menyembunyikannya. Tersandera tanpa kuasa memastikan kebenarannya. Diperlukan seseorang untuk mendorong kita melintasi pembatas itu, atau kita tak akan pernah mengolah keunggulan kita. Mungkin tak bisa dimusnahkan atau mungkin tak akan bisa memaksa nya keluar tetapi kita BISA mengubahnya. Hanya kita harus percaya, mengujinya dengan percobaan sederhana semisal melakukan sesuatu yang berbeda dari rutinitas hidup kita.

Caranya bisa dengan mengkritisi kesuksesan sendiri, sayangnya kita terbiasa menolak karena tidak memahaminya. Mengenal batasan arti ‘sukses’ bisa menjadi langkah awal tetapi kita tak siap akan konsekuensi nya. Merubah nya sembari melangkah maju dengan kerendahan hati alhasil menjadi bijaksana. Selebihnya tinggal keberanian kita untuk bangkit. Banyak orang bijak berhasil menjual metode jalan keluar tentang hal ini tetapi malah tidak pernah menerapkannya. Hanya berhasil membuat alasan demi alasan hingga terkubur dalam kepenatan pemikiran. Tidak mengapa membayarnya tanpa harus mengikutinya. Olah lah itu, ingatlah, Anda jauh lebih hebat dari yang Anda duga-duga.

"The only difference between success and failure is the ability to take action".
~Alexander Graham Bell
Di SFI kita dididik untuk berhasil dengan memberhasilkan orang satu lainnya. Menghindari kesalahan yang menghambat keberhasilan orang lain, dilatih meniru para pendahulu kita, dan itu adalah cara jitu mengolah kesuksesan orang lain untuk kesuksesan sendiri.
~Sukses untuk Anda!