"Winning
starts with beginning."~Robert H. Schuller
"Kemenangan dimulai sedari awal".demikian Robert H.
Schuller. Kita kerap tertahan oleh pemikiran sesat akan diri sendiri. Seolah-olah
ada sesuatu ‘kekuatan eksternal’ yang menahan laju kita maju. Sesuatu di luar kendali
kita, seperti; ‘saya ini berasal dari udik’, atau ‘andai saya punya mobil untuk
kerja’ atau ‘bos saya tidak suka sama saya’, dll. Sebagian lain berpikir
sesuatu ‘kekuatan internal’ didalam dirinya kerap menghalanginya maju. Dua pemikiran
keliru manja mekar di diri kita dan selalu disesali keberadaannya.
Seringkali ‘kekuatan
eksternal’ itu kita cari-cari walau kita tahu ia bersemayam didiri kita
sendiri. Kita cenderung lebih mudah menyalahkan orang lain, dan nyaman dengan itu.
Seakan membenarkan bahwa kita telah berusaha tetapi karena kurang disukai tetap
tidak berkembang, bertahan meratapinya. Acap terjerat oleh pemikiran keliru dan
terbenam didalamnya, bahkan nyaman dengan itu dan bersemangat menyembunyikan
kelemahan sendiri. Andai kita jujur tentulah kita bisa mengenal kekuatan
internal kita, tidak seharusnya kita tersudut oleh kekeliruan sendiri. Kita
harus mengendalikannya.
Faktor kejiwaaan
yang dikenal sebagai ‘kekuatan internal’ adalah "self-image" sesuatu gambaran
yang tertanam di ingatan kita - akan citra diri sendiri. Ekstrimnya keluarga
terdekat telah menggambarkannya sedari dini, berulang-ulang hingga kita dewasa.
Ironisnya hanya hal-hal buruk yang mendominasi, gambaran baik malah terlupakan tanpa
kita pernah menyadarinya. Begitu parahnya bahkan ucapan pujian tulus dari
atasan dianggap bak peringatan.
Pengalaman masa
kecil sangat membekas, manakala oleh keluarga kita diperbandingkan dengan saudara
lain atau dengan teman seusia. Gambaran terbentuk dan menjadi citra diri. Semisal
kata-kata; ‘dia itu pemalu tidak bisa membawa diri’ atau ‘dia itu kurang
percaya diri tak bisa menjelaskan sesuatu’. Tanpa sadar itu tertanam hingga dewasa
dan berubah: ‘aku tidak akan pernah berhasil menyampaikan ide gagasan karena
tidak pandai berbicara, pemalu dan aku bukan tipikal pemimpin’. Tumpukan ha-hal
negatif bak menggunung, keyakinan negatif menghambat. Rongrongan kejiwaan
sedari dini, mungkin awalnya terdorong keinginan orang tua untuk melindungi
tetapi malah merusak potensi diri.
Bagaikan ‘bahasa pemrograman’
kata-kata dipercaya membentuk bangunan citra diri. Tiap kita cenderung
menyembunyikan kelemahan sendiri dengan memilih kegiatan yang bisa
menyembunyikannya. Tersandera tanpa kuasa memastikan kebenarannya. Diperlukan
seseorang untuk mendorong kita melintasi pembatas itu, atau kita tak akan
pernah mengolah keunggulan kita. Mungkin tak bisa dimusnahkan atau mungkin tak akan
bisa memaksa nya keluar tetapi kita BISA mengubahnya. Hanya kita harus percaya,
mengujinya dengan percobaan sederhana semisal melakukan sesuatu yang berbeda
dari rutinitas hidup kita.
Caranya bisa dengan
mengkritisi kesuksesan sendiri, sayangnya kita terbiasa menolak karena tidak memahaminya.
Mengenal batasan arti ‘sukses’ bisa menjadi langkah awal tetapi kita tak siap akan
konsekuensi nya. Merubah nya sembari melangkah maju dengan kerendahan hati alhasil
menjadi bijaksana. Selebihnya tinggal keberanian kita untuk bangkit. Banyak orang bijak berhasil menjual metode jalan
keluar tentang hal ini tetapi malah tidak pernah menerapkannya. Hanya berhasil
membuat alasan demi alasan hingga terkubur dalam kepenatan pemikiran. Tidak
mengapa membayarnya tanpa harus mengikutinya. Olah lah itu, ingatlah, Anda jauh
lebih hebat dari yang Anda duga-duga.
"The only difference between
success and failure is the ability to take action".
~Alexander Graham Bell
Di SFI kita dididik untuk berhasil dengan memberhasilkan orang satu lainnya. Menghindari
kesalahan yang menghambat keberhasilan orang lain, dilatih meniru para
pendahulu kita, dan itu adalah cara jitu mengolah kesuksesan orang lain untuk
kesuksesan sendiri.
~Sukses untuk Anda!
