Rabu, 12 September 2018

ANDAI KITA PAHAM MAKNA KATA LUAR BIASA TAKUT

Perseverance is the hard work you do after you get tired of doing the hard work you already did.”
~Newt Gingrich

Akhirnya Anda telah mencapai yang Anda inginkan. Tujuan dan keberhasilan Anda telah tercapai. Pada titik ini Anda harus menyaring beberapa hal khusus. Anda harus mempertahankan apa yang telah Anda bangun, semuanya berubah dan sebagainya. Anda harus berhati-hati agar tidak kehilangan segalanya.

Jangan memaksakan kehendak tetapi cobalah untuk menerima batasan dan carilah waktu untuk menemukan keseimbangan dan harmoni. Dengan bantuan bintang-bintang, Anda akan dapat menjernihkan perselisihan dengan rekan, membangun kembali komunikasi dan keinginan untuk berbagi lebih banyak.

Sisi emosional Anda selalu terlihat menonjol, tetapi pada hari seperti hari ini, itu adalah nilai tambah bagi Anda dan orang-orang di sekitar Anda. Ini adalah saat ketika Anda bisa merasakan kebaikan mengalir melalui Anda ke dunia luar.

Semua hal berakhir baik - termasuk hal buruk yang dilakukan. Inilah momen yang tepat untuk mencerabut kayu mati, meninggalkan kapal yang tenggelam dan, beristirahatlah sejenak. Anda tidak perlu memperpanjang penderitaan apalagi, sesuatu yang lebih baik menunggu di sisi lain.

Seperti itulah untaian kalimat penyemangat dari orang yang dengan senang hati berbagi memberi saran, dan berusaha menyenangkan kita.

Tak mudah mendengarkan apa yang dikatakan orang lain tentang hidup kita, apalagi memahaminya. Dan, kita perlu awas terhadapnya, jika tidak diwanti-wanti akan pecah perang dibenak kepala, sebagian menerima dan bagian terbesar akan membantah, menolak mentah-mentah. Terbebani, khawatir akan berbenturan dengan kehendak serta keinginan anak sanak saudara atau bahkan akan berbenturan dengan kepentingan orang-orang yang terbiasa di sekitar kita. Mungkin diperlukan penjelasan tambahan atau mungkin kita malah akan goyah kala menjadi tidak sependapat.

Ketahuilah, ada banyak orang yang tampaknya punya segudang gagasan tentang hidup orang satu lainnya, punya pendapat bahkan saran tentang apa yang orang lain harus lakukan dalam kehidupannya. Namun, kala ketika balik ditanyakan ke orang tersebut bagaimana dengan kehidupannya sendiri? Terlihat banyak yang goyah! Karena didalam benaknya pun, orang itu juga punya pemikiran yang mengakui bahwa dirinya tidak sama dengan orang lain, bahwa orang lain bukanlah dirinya. Berbeda dan punya kehidupan yang berbeda juga.

Karenanya, apa yang dikatakan orang lain tentang kehidupan kita, akan berbeda ketika dibalik tanya apa yang dia akan katakan tentang kehidupannya. Mari lihat contoh sederhana! Ibarat tukang cukur rambut, tidak setiap orang bisa mencukur sendiri rambut di kepalanya, jika pun ada yang bisa, hasilnya tidak akan sebagus jika tukang cukur itu diminta mencukur rambut orang lain dan rambutnya sendiri dicukur oleh orang satu lainnya. Sekilas tidak berarti apa-apa, tetapi jika disimak, sesungguhnya begitu itulah hidup dan kehidupan!

Mari masuk ke Alam angan-angan!
Cuba bayangkan apa yang akan terjadi jika Anda berhenti mendengarkan orang lain? Dan sebaliknya, apa yang akan terjadi jika tiap orang berhenti mendengarkan orang satu lainnya?

Apakah kehidupan Anda menjadi lebih damai? Belum tentu juga!
Atau, apakah kehidupan Dunia menjadi kacau balau? Tak tahu juga! karena sejarah peradaban tidak pernah mencatatkannya!

Yang pasti, tak seorang pun pantas melanjutkan hidupnya dengan konsekuensi pilihan orang lain. Biarlah setiap orang menjalani hidupnya, jika pun salah itu adalah tentang hidup dan kehidupannya. Bagaimanapun dia akan menemukan kesalahannya di sepanjang perjalanannya. Beri kesempatan memperbaikinya!

Jika siorang itu memutuskan ingin hidup dimasa lalu maka akan selamanya dia berada dalam penyesalan hidup, namun jika berkeinginan melanjutkannya ke masa depan, maka tidak akan dia mengulangi kesalahan yang membebaninya.

Bilamana menolak belajar dari kesalahan masa lalunya maka dia tidak akan pernah tahu berapa banyak rasa perasaaan menyakitkan yang ditimbulkannya, dan kelak rasa sakit itu akan berbalik menghampiri.

Dan, akan timbul rasa takut akan membuat kesalahan! Dan itulah rasa takut yang luar biasa menyakitkan dari tiap rasa takut yang paling menakutkan yang dia pernah ketahui.

Itu yang disebut, rasa takut melepaskan haknya hidup!

Karena, hidup adalah takut maka hiduplah dalam takut!

~Salam Takut luar biasa!
JoinME

Kamis, 06 September 2018

ANDAI KITA PAHAM MAKNA KATA TAKUT

Success on any major scale requires you to accept responsibility...In the final analysis, the one quality that all successful people have...is the ability to take on responsibility."
~Michael Korda

Jalan pikiran manusia itu sangat kompleks, tak diketahui pernah cuti apalagi berhenti. Luar biasa, dijuluki sebagai mesin pemikir, mengalir tanpa terbendung mengikutkan situasi dan seketika bisa berubah demi membentengi si empunya pikiran.

Tak mudah untuk Pikiran bisa berkata: “Iya, baik saya setuju!” Tetapi, cenderung mendahului berkata: “Tidak, saya tidak setuju”. Kerap mengulur waktu: “Tahan sebentar, nanti dulu, perlu waktu untuk memikirkannya!”.

Kerap terjadi bahkan jika itu untuk kepentingan masa depannya, jalan pikiran manusia cenderung memanipulasi situasi, cenderung berlebihan mengantisipasi terkadang bahkan bisa menghembuskan issu yang meresahkan khalayak.

Beberapa berkesimpulan bahwa jalan pikiran manusia cenderung berbohong membohongi si pemilik pikiran, meyakinkannya untuk tak setuju atau untuk menahan diri tak bertindak walau itu akan menguntungkan. Sering mengambil sikap berlawanan hingga terkadang menolak tawaran untung dan malah lebih memilih Rugi. Sulit menjelaskan, tetapi itu yang terjadi.

Diduga kecenderungan bertolak belakang itu yang kerap menghalangi. Itu yang mencegah untuk tak mau mengikuti proses mencapai keberhasilan. Walau kita berkehendak bagaimana agar sukses tetapi terlalu takut meninggalkan zona kenyamanan - yang oleh jalan pikiran diartikan sebagai yang harus dibela mati-matian, dipertahankan! Dan itu tanggungjawabnya!

Anda boleh mendebat, tetapi sebagian besar pengisi dunia ini percaya hal itulah yang sebenarnya.

Cenderung Tak Masuk Akal:
Pikiran manusia begitu sangat luar biasa tetapi cenderung menyajikan alasan yang sulit diterima akal. Cenderung berbohong menghadapi fakta kenyataan dengan memberikan alasan yang irrasional. Diduga, karena jalan pikiran manusia takut akan tekanan bahkan takut akan perubahan yang secara sepihak dia deteksi akan menimbulkan ketidaknyamanan.

Jalan pikiran manusia terkungkung dalam zona nyaman. Setiap kali diajak memasuki alam perubahan, jalan pikiran serta merta akan menolak berusaha menggagalkan.

Ganjal penghalang timbul dalam berbagai rupa, menjadi malas untuk lebih teliti, takut sakit menjadi stress, semangat menurun, digangggu rasa takut menjadi jauh, takut tergelincir, takut curam, takut dalam, takut rugi, takut dibohongi, takut palsu. Takut akan segala takut yang kita pernah ketahui menakutkan.

Jalan pikiran berusaha mati-matian mengganjal derap langkah maju dan itu telah berlangsung berabad-abad disepanjang kehidupan.

Mari bedah alasan yang umum ditemukan.

Dia Bisa Karena Mereka Berada:
Orang itu bisa sukses karena dia memang berasal dari keluarga berada, segala punya, mudah dalam segalanya, mereka orang kaya. Alasan muncul seketika berupaya membentengi dengan memunculkan alasan tokcer kenapa kita tidak bisa sukses seperti orang lain itu.
Sulit diterima akal, tetapi itu merata hadir didalam tiap kepala.

Dia Bisa Karena DNA Pejuang:
Kala mendapat detil penjelasan bagaimana si orang itu berjuang susah payah jatuh bangun, bagaimana dia jatuh bangkrut merugi, nelangsa ditinggalkan teman-teman yang dia kenal. Bagaimana dicaci-maki kala memohon bantuan dari orang-orang yang dia kenal, bahkan dicemooh keluarga.

Salut, Takjub!

Tetapi, didalam kepala bergumam sayup, tak heran dia bisa meliwati rintangan begitu itu apalagi sedari moyangnya hingga ibu bapaknya semuanya pejuang. Tekad semangatnya berbeda, sedangkan saya ini cuma anak seorang Guru SD Kelas-3, itupun guru Bahasa Indonesia. Murid seisi kelas bapakku itu, engga diajari pun memang sudah berbahasa Indonesia.

Matian-matian jalan pikiran sekenanya bertahan bahwa kita itu punya alasan tokcer kenapa tak bisa maju seperti orang itu.
Aneh!

Seolah diramu tersedia segudang alasan untuk digunakan seketika, semisal dia itu masih muda, mudah untuknya menang, dia bisa begitu karena fasilitas. Dia menang karena fokus latihan, tidak seperti saya yang latihan sembari bekerja menghidupi keluarga. Dia bisa fokus berlatih karena didukung istrinya tidak seperti saya yang selalu dicari-cari hingga tak fokus. Alasan demi alasan meluncur membenarkan kenapa tidak sukses.

Kenapa kita hanya sukses membangun alasan?

Kita Suka Berpura-Pura:
Beberapa menduga isi dalam pikiran manusia dipenuhi alasan bagaimana membentengi diri agar rasa iri, dengki dan cemburu tidak terlihat, dan jalan pikiran berupaya memandu agar tidak terlihat berpura-pura.

"Have you ever thought there'd be a day when people think a different way? And on that day, what would you say, if you still thought the other way?"
~Paul McMillan

Konon, bantahan spontan mencuat didalam kepala adalah cara terbaik menahan diri, berpura-pura menjadi seseorang yang bukan diri kita. Betulkah begitu itu?

Ini mengemuka karena kita harus melindungi diri dari perasaan terbebani merasa tengah dihakimi dunia. Jalan pikiran punya kekhawatiran tak bisa berterima karena tak ada yang suka dihakimi.

Bagaimana jika kita benar-benar tahu bahwa kita tengah berpura-pura menjadi yang terbaik?

Walau itu harus berpura-pura tetapi kita telah berjuang untuk menjadi yang terbaik, dan kita belajar untuk bisa begitu itu.

Yang terbaik adalah menjadi diri sendiri - to be yourself! Dan, itu tidak mudah! Tetapi, Anda pasti bisa!

~Salam berpura-pura!

Senin, 03 September 2018

ANDAI KITA PAHAM MAKNA KATA TANGGUNGJAWAB

“Batas akhir ‘Tanggungjawab’ berakhir tuntas kala ‘Kewenangan’ yang dimiliki dipakai menguliti ‘Kekuasaan’ dari sipemberi Kewenangan itu”~Hotman Sihombing

Ujung akhir dari proses mencapai sukses keberhasilan adalah sejumput “Kekuasaan” yakni “Kewenangan” mengatur, kewenangan berbuat begini-begitu, menguasai segala ini serta segala itu. Dengan stempel ‘Penguasa’.

Tentangan atasnya dianggap kudeta menentang kekuasaan. Haram dan harus ditindak sesuai hukum demi tegaknya hukum. Penguasa bahkan diberi hak membuat peraturan ketentuan demi keteraturan.

Kekuasaan terlihat absolut gagah dibekali Kewenangan hingga kelak diperhadapkan pada sessi akhir yaitu “Tanggungjawab”. Bagai rangkaian gerbong ketiganya bersambung saling bertarikan mengisi situasi mengikutkan keterjadiannya.

Kekuasaan mengatur Kewenangan kelak diperhadapkan disessi pengecekan yakni tahap dimana tiap Tanya harus diberi Jawab. Sessi dimana Kewenangan yang melekat pada Kekuasaan akan dibenturkan dengan rupa-ragam delik meneliti: Bagaimana pelaksanaannya? Sejauh apa terlaksananya? Apakah telah persis sesuai seperti yang ditetapkan? Apakah terlanggar? Telah terjadikah atau bisa dikategorikan demikian?

Sessi dipenuhi segala dalil dan dalil-dalil, bahkan dalil dari dalil-dalil. Tiap Tanya berjejalan dengan Jawab, ganti saling depak bersahutan hingga tak lagi jelas mana Tanya dan yang mana Jawab? Terkadang bahkan Tanya berubah menjadi Jawab begitu pula sebaliknya, kala yang Jawab terdengar bernada Tanya.

Untuk sesaat terlihat penuh peminat, ramai. Namun yang tidak berbakat bakal memilih mengatur jarak. Konon berjalan lamban membosankan! Apalagi kala menentukan yang mana tanggungjawab dari kewenangan? Dan yang mana kewenangan yang dari kekuasaan? Kenapa ada wewenang menguliti kekuasaan - si pemberi kewenangan?

Membingungkan, mari cuba ulas lebih jauh!

Tanggung jawab, Kewenangan & Kekuasaan:
Sesuai kosakata, taklah berlebihan jika ketiganya disebut sebagai “Biji” dari suatu buah, bahwa; “tanggungjawab adalah biji dari buah ‘kewenangan’ yang sebelumnya dibuahi oleh biji ‘kekuasaan’ yang notabene adalah buah perjuangan. Tiap satu daripadanya adalah “biji”, sederhananya begitu!

Bahwa, sesuatu 'Tanggungjawab' walau melekat erat pada 'Kewenangan' sejatinya tergantung pada seberapa tebal lapis ‘Kekuasaan’ yang dimiliki. Ada lapisan akhir yang membatasi.

Pengemban 'Kekuasaan' pun diijinkan untuk menunjuk pihak yang memikul ‘tanggungjawab’ atas sesuatu hal pada sesuatu peristiwa. Atau sebaliknya, memilih untuk sama sekali tidak bertanggungjawab dengan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Dibekali ‘Kewenangan’ memilih pelaksana di bagian tertentu maka yang itulah pihak yang paling bertanggungjawab tentang itu.

Saling bersilang sang berpendapat, masing-masing bersitegang kukuh menyatakan bahwa bagaimanapun “Tanggungjawab, Kewenangan serta Kekuasaan” adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Bahkan tiap satu daripadanya tegas menyatakan hal itu, dan itu nyata tersirat pada ketentuan produk kekuasaan.

Ditemukan ada pihak yang jelas dinyatakan sebagai paling bertanggungjawab walau diketahui tidak memiliki kewenangan. Itu dimungkinkan, mungkin karena diiming-imingi sesuatu. Ironis jika itu terjadi karena dijebak, walau kukuh tak mengaku namun posisinya jauh dari rentang Kekuasaaan. Dikorbankan?

Ada juga yang jor-joran mengaku bertanggungjawab. Ketika ditelusuri, ternyata itu adalah modus barter jabatan. Kian lucu lagi, sekonyong-konyong mengaku bertanggungjawab walau tak jelas pucuk pangkalnya. Ternyata “penjilat kekuasaan” tengah berupaya hendak naik panggung.

Lebih banyak yang tak mau tanggungjawab, walau Kewenangan’ nya jelas, oleh karena satu dan lain hal atau oleh karena takut kehilangan Kekuasaan secara licik berkelit menghindar. Terlihat lucu - benjol menggelikan.

Ada juga yang pada awalnya terlihat pintar, dimulai dengan mendisain sistem pembatasan tanggungjawab terbatas. Lalakonnya adalah dengan menipiskan ketebalan Kewenangan untuk tujuan agar bisa memelihara lapisan tingkat Kekuasaan yang diemban. Akhirnya, terjadi simpang siur batas kewenangan hingga membuat batas tanggungjawab menjadi absurd tak jelas. Secara tiba-tiba dia tampil menjadi pembuat keputusan tetapi tanggungjawab akhir tetap berada dipihak satu lainnya.

Tiap sebentar berulang, terlihat ada saja bawahan dimintai tanggungjawab untuk kemudian diejek tidak becus, bangsat dan dibebastugaskan, tuntas!
Lain waktu ada lagi dan ada lagi, berulang hingga dirinya dikenal bagai pembasmi bangsat begal, pejabat bersih. Tiap kali bersin ada bawahan yang dilepastugaskan, semua demi tonggak penopang tirai kekuasaannya.

Seiring waktu terdeteksi, tindakannya amoral jauh dari layak, ironisnya sipelaku terlihat cenderung bertahan mengerahkan segala daya demi mempertahankan pamor bahkan hingga tergelincir sendiri anak istri kurban diberai cerai.

Konon, batas lapisan terakhir dari ‘Tanggungjawab’ tuntas berakhir kala ‘Kewenangan’ dibekali wewenang menguliti ‘Kekuasaan’ dari sipemberi kewenangan itu.

Kelak dibahas disessi berikut.

~Salam tanggungjawab selalu!
JoinmySFIteam