Baru-baru saya terima email dari teman netizen dari dunia maya yang isinya awalnya biasa saja, tetapi selepas membaca beberapa kali, saya semakin terangsang untuk mencuba mencari tahu apa intisari tulisannya dan berusaha memahaminya, ternyata memang sangat berharga.
Hello Hotman, Saya harus membagikan kisah kiriman dari teman, semoga akan membuat hari-hari Anda semakin lebih menyenangkan.
Kisah tentang seorang pria gagah yang menikahi seorang gadis jelita. Mereka hidup bahagia. Hingga suatu ketika, oleh dokter disampaikan bahwa istrinya menderita kanker kulit stadium akut. Perlahan-lahan tubuhnya akan dipenuhi bercak-bercak hingga kemudian melepuh menggerogoti kecantikannya hingga akhir hayatnya.
Sang dokter mengingatkannya untuk berupaya mendampingi istrinya menghadapi goncangan beban mental mengharungi sisa hidupnya. Si lelaki bingung tidak paham apa yang terjadi hingga memilih untuk tidak perlu berkata suatu apa.
Dalam keterbatasannya tentang kanker kulit yang diderita istrinya, lelaki itu belajar sendiri memahaminya. Setiap waktu dia berusaha tampil didepan istrinya seolah tidak tahu penyakitnya, bahkan seolah tidak perduli akan perubahan phisik istrinya. Lelaki itu berjuang membangun pengertian dalam dirinya bahwa tiap hal akan ada waktunya, apa pun itu akan tiba saatnya.
Suatu ketika, si suami harus bertugas ke suatu wilayah tertentu. Perjalanan jauh yang membutuhkan waktu yang lama. Selang beberapa waktu, istrinya dikabari bahwa suaminya mengalami kecelakaan, diminta datang ke tempat perawatannya. Disana, oleh orang yang merawatnya, disampaikan bahwa kecelakaan itu fatal, dan itu akan membuat suaminya rabun dan perlahan-lahan kehilangan penglihatannya.
Selepas perawatannya, suami istri itu pulang, kembali mengisi hari-harinya tanpa terbebani sesuatu apa, kehidupan berjalan layaknya seperti keluarga lainnya.
Seiring waktu, si istri mulai merasakan kehilangan kecantikannya, mentalnya terbebani kanker kulit yang dideritanya. Perasaannya terguncang. Saat bersamaan si suami pun terlihat mulai kesulitan melangkah kehilangan penglihatannya akibat kecelakaan yang dialaminya.
Walau si istri terbebani kanker kulit yang menggerogoti kecantikannya, namun demi melihat suaminya kesulitan dalam penglihatannya, dia memaksakan dirinya untuk mendampingi menuntun suaminya. Dengan sabar ditemaninya kemana pun. Dia yakin suaminya tidak mengetahui bercak-bercak kulitnya dan tidak akan malu karenanya. Dan suaminya pun bangga dengan ketabahan istrinya mendampinginya, kemana pun mereka berdua melangkah bersama.
Oleh waktu si istri pun meninggal. Walau dokter telah memberitahu sebelumnya, namun kematiannya memukul batin suaminya. Tahapan kegiatan ritual, seremonial sewajibnya diselesaikan dengan baik, kemudian si suami memutuskan untuk pergi meninggalkan kota yang memberinya kebahagiaan dan menorehkan duka mendalam.
Selepas acara, dia bergegas melakukan persiapan. Segala apa yang dimilikinya diserahkan ke tetangga dan kerabatnya. Walau tidak jelas memutuskan akan pergi kemana, namun tekadnya bulat akan pergi menjauh, membawa duka hatinya. Orang-orang sekitar berusaha mengingatkan, namun dia kukuh akan pergi mengusung kenangan hidupnya.
Tidak jelas akan menetap dimana nantinya, tetapi menurutnya dia akan menjauh, menjauhi kedukaan hatinya.
Kerabat terdekatnya emosi mengingatkannya, “bagaimana kau akan berjalan tanpa ada yang menuntun? selama ini istrimu yang menuntunmu, tanpanya akan seberapa jauh kau bisa pergi?” Dia diminta berpikir mempertimbangkan kembali rencananya.
Namun, si suami yang menduda hanya mendengarkan penuh perhatian. Menarik nafas dalam-dalam, berdiri melangkah perlahan, dia menatap satu demi satu wajah kerabat dan tetangga yang dikasihinya.
Dia menjawab dengan membuka tabir perjalanan hidupnya, “Saya ini tidak buta. Itu yang sebenarnya. Namun kecelakaan yang dulu terjadi, itu benar-benar terjadi, dan mengharuskannya beristirahat untuk waktu lama. Tentang rabun kebutaannya, itu adalah tindakan yang harus dia lakoni. Dia yang meminta orang yang merawatnya untuk menyampaikannya ke istrinya. Dia tidak ingin istrinya mengetahui jika dirinya akan melihat keburukan yang diakibatkan kanker kulit yang dideritanya, karena itu yang akan membuat perasaannya lebih sakit dibandingkan penyakitnya. Dia harus melakoni kebutaan agar istrinya bersedia menemani menuntunnya kemana pun, dan mengabaikan kanker kulit yang membebaninya. Saya hanya ingin membuatnya bahagia menemani saya menjalani sisa hidupnya. Tergetar dia akhiri penjelasannya. Saya hanya ingin membuatnya bahagia”. Semua yang mendengarkan terdiam tak sudi berkata suatu apa.
Apa yang Anda bisa dapatkan dari kisah ini?_________________
Pastinya Anda pun pernah harus terpaksa berpura-pura rabun buta hingga tidak melihat sesuatu kejadian peristiwa tertentu demi untuk menyelamatkan seseorang dari beban rasa malu. Mungkin pernah berpura-pura buta untuk menyelamatkan diri Anda sendiri dari beban rasa malu.
Atau mungkin memaksakan diri mengaku rabun buta, bahwa Anda benar-benar melihatnya tetapi mengakui apa yang Anda lihat itu benar-benar tidak jelas. Anda mengakui melihat pelaku kejahatan tetapi tidak meyakini persis rupa wajah si pelaku. Akankah Anda terbebani? Jika mengetahui pelakunya tetapi tidak meyakini apakah orang itu yang Anda ketahui itu?
Pembelajaran apa yang bisa didapatkan dari kisah ini?__________
Konon katanya, ini adalah tentang keterpaksaan yang harus dijalani demi menerima kebenaran terjadinya berbagai kejadian peristiwa yang mewarnai kehidupan ini. Dimana kita dipaksa situasi harus memilih membutakan diri sendiri. Tak ubahnya bagaikan lidah yang kerap tergigit oleh gigi sendiri tetapi bertahan menyatu berdampingan di dalam rongga mulut yang sama tanpa bisa berbuat sesuatu apa.
Apakah itu yang dimaksudkan dengan tindakan memaafkan? Atau mungkin itu yang disebut sebagai upaya memelihara kesatuan persatuan? Entahlah! Terserah Anda memaknainya sebagai apa. Anda pun bebas menjabarkannya.
Yang pasti, Anda bisa meyakini, bahwa: ”Jika sendiri, Anda hanya akan bisa ‘berkata-kata’, namun jika bersama orang satu lainnya, Anda bisa ‘berbicara’; Jika sendiri, Anda hanya bisa ‘menikmati’, namun jika bersama orang satu lainnya, Anda bisa ‘merayakan’; Jika sendiri, Anda hanya bisa ‘tersenyum’, namun jika bersama orang satu lainya, Anda bisa ‘tertawa’”. Bukti pertanda bahwa setiap orang memerlukan orang satu lainnya.
Tanpa kehadiran orang satu lainnya, kita ini bukan siapa-siapa.
Anda bebas mendebat kebenarannya!
