Senin, 11 Januari 2021
Selasa, 05 Januari 2021
20-12-20: REFLEKSI TAHUN 2020
Tahun Kecemasan
Sejak sedari Nopember 2019 dunia dikerubungi seliweran issu ancaman gejala “pnumonia”, nafas sesak, lemas hingga tak bernyawa. Diduga, ribuan jiwa telah mangkat, berpulang ke alam baka.
Aktivitas sedunia lumpuh, para pemimpin negara, penguasa adigung-adidaya yang biasa garang seketika kuyup lemas kaget tak berdaya, beberapa tampak konyol, bangga mempertontonkan kedunguannya.
Virus diduga bermula di Wuhan, China. Konon katanya, berasal dari kencing kelelawar liar yang diperdagangkan untuk dikonsumsi. Issu aneh, liar tak terkendali.
Reporter dan para pewarta sosmed dadakan turut gaduh menambah kepanikan, berita korban mati terjangkit virus Wuhan menjalar cepat ke seluruh dunia. #Trending.
Pemakaman massal viral dipertontonkan, korban-korban tergeletak tak terurus. Terduga mati sekian ribu, yang dirawat ribuan, yang diduga tertular sekian ratus ribu orang. Kapasitas rumah sakit terlampaui.
Mencekam!
Dunia dirundung dugaan yang diduga terjadi tanpa terduga.
Dokter dan Nakes bergegas siaga sebisanya, tak lelah mengharap pasiennya agar kuat bertahan. Hanya itu, tidak ada obatnya. Dokter dan Nakes lelah, ikut lemas, tewas, menambah panjang daftar penderita.
Anggota keluarga semua diperiksa, khawatir ikut tertular. Sebelumnya kemana, periksa siapa saja yang berhubungan dengannya. Mencekam.
Ambulans bolak-balik mengusung peti-peti jenazah dibungkus plastik sesuai protokol penanganan korban mati tertular virus Wuhan. Keluarga dilarang mendekat, pemakaman diiringi ritual seadanya.
Ada gerangan apakah?
Orang Batak memendam tanya, bingung mengetahui jika jenazah simati dikuburkan tanpa ritual adat. Acara “tonggo raja” ditiadakan, tak jelas “saur-matua atau sari-matua?”. Bahkan ritual “Panakkok tujabu-jabu naso pinukkana” pun diselenggarakan langsung oleh petugas Nakes tanpa kehadiran “raja-i-rajani-hula-hula”, apalagi sang Tulang? Jadinya bagaimana, “ulos tujung apa ulos sari-matua”. Bahkan “parjambaran” tak lagi dihiraukan, apalagi “bukka hobbung”.
Bingung, sakit apa katanya?
Mungkin, Bir Corona! Hush,,,, virus corona katanya.
Pewarta SosMed kian gencar menebar trending berita penyebaran virus yang mengganas menggasak nikmat hidup orang se-dunia. Pemimpin negara sibuk rapat merapat mengolah daya mencari cara menghentikan penyebaran virus yang populer bernama “Covid-19” turunan virus marga “Corona SARS-2”.
Namun Indonesia santai saja. Terkesan anggap enteng tidak perduli malah meluncurkan program pariwisata berbiaya murah, berharap turis manca negara datang berwisata. Indonesia adalah syurga dunia.
Wisatawan manca negara ditunggu kedatangannya di bandar udara beberapa mendapatkan kalungan bunga, karena tiba dengan selamat mengusung dollar sumber devisa negara. Joplak!
Percayalah, virus corona takut singgah, karena Indonesia punya Susu Kuda Liar yang diduga jauh lebih liar dari kencing kelelawar liar. Liar diwartakan “wedang jahe” jitu menaklukkan virus corona digdaya. Koplak!
Tercatat sedari Pebruari 2020 Gubernur DKI Jakarta sudah ancang-ancang hendak mengambil langkah, namun gamang menerapkannya mengingat jajaran pejabat pemerintah pusat terkesan remeh anggap enteng akan ancaman bencana wabah.
Konon katanya, Indonesia bukan sekali dua kali dilanda wabah, sedari demam berdarah, flu burung hingga sapi ngorok, bahkan korupsi ikut merebak laksana virus. Semua bencana mengusung nikmat juga.
Korban mati bertambah, April 2020 Gubernur DKI Jakarta berseru dari Balaikota menerapkan aturan pengetatan aktivitas warga di wilayah DKI Jakarta. Bantuan sosial pangan dibagikan untuk mengurangi beban hidup warganya, namun kebijakannya ditanggapi tidak simpatik oleh jajaran pejabat pemerintah pusat. Virus? Penguasa lebih berkuasa.
Korban meninggal dengan gejala pnumonia meningkat, beberapa pejabat pemerintah pusat tak malu mempertontonkan kedunguannya hingga terjangkiti, dan beberapa jatuh menjadi pasien.
Terbit penetapan kategori pasien. ODP: klasifikasi untuk orang dalam pengawasan, PDP: pasien dalam pengawasan. Hingga klasifikasi sebagai OTG: yakni orang tanpa gejala.
Sekonyong-konyong diwartakan jika Indonesia tidak akan menerapkan kebijakan “Karantina Wilayah” tetapi memberlakukan aturan ketentuan “Pembatasan Sosial Berskala Besar” (PSBB). Pemerintah tidak wajib menanggung biaya hidup warganya namun bantuan sosial akan diatur pembagiannya.
Penyebaran virus kian tidak terkendali, aturan ketentuan PSBB merata diberlakukan ke penjuru Nusantara. Aktivitas perkantoran pemerintah dan swasta diatur. Bantuan sosial berupa pangan senilai tiga ratus ribu rupiah per KK ditebar merebut pesona.
Kegiatan belajar-mengajar dilakukan online, dari rumah, para guru kikuk serba salah tanpa panduan kurikulum darurat. Para murid lebih bingung tak bisa bertemu Bu Guru dan teman-temannya. Para orang tua kian terbebani membeli peralatan Android dan kuota untuk belajar online.
Konsep tatanan hidup baru, new-life_new-habit, digelindingkan.
Semua aktivitas ditentukan harus dilakukan online. Jaga jarak, hindarkan tradisi jabat tangan. Wajah dipaksa tutup dengan masker standar nasional, tipe tertentu dilarang.
Jargon 3-M: mencuci tangan, gunakan masker dan menjaga jarak!
Sosial Media marak, trending istilah kluster. Virus dilaporkan sesuai lokasi korban terjangkiti. Kluster RT, kluster RW, kluster perkantoran, kluster gereja, pengajian hingga kluster keluarga. Tercatat meningkat. Hanya akan terkendali jika interaksi langsung dibatasi – minimal.
Aturan ketentuan pembatasan aktivitas warga diperketat. Pertemuan hanya diperbolehkan jika pesertanya terbatas. Yang melanggar diancam sekian juta, denda pelanggaran protokol kesehatan - agar jera.
Warga diwajibkan menerapkan aturan “tatanan hidup baru”.
Orang-orang Batak membisu memendam kata tanya, kemarin jenazah simati dikubur tidak beradat, kini yang menikah pun hanya diadatkan seadanya. Undangan terbatas, ritual “marria-raja” sekenanya bahkan “hula-hula-na-marhaha-anggi” tak perlu hadir walau diberitahu.
”Horas jala gabe!”.
Gedung kapasitas ribuan, terlihat lengang, undangan seratusan, diatur duduk berjauhan. Jabat tangan ditiadakan. Manortor sembari mangulosi dan “panakkok-temanten” tak lagi diadakan. Singkong, acara bergulir singkat dan kongkrit, gegara nai Corona!
Selepas pesta, jamak diwartakan keluarga yang pesta terjangkit Covid-19. Para undangan siapa saja, semua disisir diperiksa rapid test, kian banyak yang khawatir, beberapa malah memilih selepas pemberkatan langsung diadati, walau jika hanya dihadiri panatua Gereja? Sah!
Hmh...sesuai ketentuan: “hidup baru_tatanan baru”.
Aktivitas pergerakan warga antar wilayah diawasi, beberapa moda angkutan bahkan wajib mematuhi aturan screening “Swab Test” atau “PCR Test”.Tambahan biaya sekian, tanpa test, ticket Anda tak berlaku!
Hmh...sesuai ketentuan: “hidup baru_tatanan baru”.
Tak bisa ditolak walau hasil test diputuskan sepihak, tak heran jika hasilnya bisa berubah seketika, dalam hitungan jam petugas kesehatan disertai petugas bencana didampingi petugas keamanan sudah tiba ditempat. Anda harus patuh diangkut menuju lokasi isolasi.
Menjadi tidak nyaman oleh situasi, merasa bersalah, orang-orang di sekitar terikut rendong, diperiksa hingga diharuskan ikut menjalani isolasi.
Terintimidasi oleh situasi. Cemas dalam kecemasan, tak jelas!
Oleh pemerintah APBN direvisi, diajukan. Disetujui, jumlah anggaran disesuaikan dengan kebutuhan dana untuk penanggulangan ancaman bencana wabah. Pejabat pengguna mata anggaran bahkan dibebaskan dari ancaman tuntutan pidana. Agar tidak takut-takut, begitu itu dalilnya.
Hmh.. sesuai aturan: “tatanan hidup baru”.
Ratusan trilliun rupiah digelontorkan demi alasan stimulus penyehatan ekonomi nasional. Bisa diterima akal hingga sosmed dipenuhi berita trending #Korupsi Bansos, #OTT, #Belasan miliar.
Diduga Dana Bantuan Sosial dipotong Rp.10.000.- per paket. Bansos virus corona, raib digigit “MenSos-JPB” dan antek-antek konconya.
Tega nian!
Disisi lain pebisnis tersungkur tak kukuh direnggut virus. Investasi terhenti, hutang usaha menggunung, piutang usaha membukit tidak tertagih. Developer gagal meneruskan pelaksanaan pembangunan konstruksi proyek apartemen.
Mangkrak.
Kustomer dan pebisnis frustasi
terbelenggu tanya, sampai kapan-kah?
Bisnis anjlok, arus kas minus mencapai titik nadir. Situasi menuntut keputusan praktis penanganan peristiwa luar biasa. Pebisnis sebisanya menyelamatkan yang tersisa, PHK menjadi alternatif terakhir. Pahit, gelombang PHK menjadikan anak bangsa kian semaput.
Pakar bisnis gontai menjumput sisa remah-remah hipotesa. Keahliannya raib direnggut Covid-19. Advisor stratejik bisnis menjadi bodoh, analisa bisnis tidak lagi berguna, realitas menghunjam dasar kehancurannya.
Studi Kelayakan dan Rencana Bisnis praktis gagal, Covid-19 sukses menjungkir-balikkan fakta, bisnis merosot hancur tak terkendali.
Hingga akhir semester kedua 2020 pakar gagal mendisain alasan, menghindar mengulasnya. Benur-benur kemerosotan ekonomi sebelum era covid-19 sukses tertutup oleh wabah virus corona.
Beberapa menggumam lirih: “Terima kasih covid-19, semoga senantiasa perkasa menghantam segala apa yang masih tersisa, kami akan persiapkan dana stimulus penyehatannya! Apakah bansos plontos mantos jokotos koplaktos akan kami carikan judulnya. Teruslah berkuasa, jika bisa sepanjang masa. Rapatkan barisan, persiapkan rancangan berkuasa 3 periode”.
Kecemasan 2020 berakhir, kelam, dunia gagal menaklukkan Covid-19 menyisakan kata tanya, menggayut lemas direlung hayal. Wabah digdaya!
Dunia mengharuskan orang-orang divaksinasi. Sinovac, sitovac, sijovac, sikovac dan berbagai merek vaksin berhias pamer harga, perlu disediakan untuk seluruh warga negara apalagi diberi kemudahan berhutang untuk mendapatkannya.
Mari rancang peraturan aturan serta ketentuan yang mendasarinya. Penggiat akal sehat ternyata benar juga, “jangan menyerah, ancaman wabah virus corona Covid-19 juga mengusung peluang bisnis”.
Betul juga!
Faktanya, Koruptor Bansos sukses menambah kekayaan keluarganya. Konco-konconya berpesta ria memanen derita warga ditengah bencana.
Semoga nanti tidak akan ada berita trending #Koruptor Vaksin
Pastinya Anda kini paham apa yang dimaksudkan, terutama jika terdengar doa-doa dipanjatkan sayup mengalun dari kejauhan:
“iya,,,,Tuhan, karuniai-lah kami pemimpin yang bekerja dengan ikhtiar nyata bukan hanya planga-plongo tebar pesona malah cengar-cengir ketahuan memanen nikmat atas penderitaan anak bangsa”. Amin!
Sumber:
https://www.etalase.net/2020/07/covid-19-hidup-baru-yang-terbarukan.html
https://www.etalase.net/2020/04/anda-bukan-tandingan-corona-nan-digdaya.html
https://www.etalase.net/2020/04/virus-covid-19-konspirasi-sengketa-hak.html
