Selasa, 21 Februari 2017

Kecerdasan Emosional = Orang Tidak Cerdas Kerap Emosional


"If you are not willing to learn, no one can help you! If you are determined to learn, no one can STOP you!"
~Zig Ziglar

Sejarah peradaban mencatat bahwa ‘dimensi persfektif’ yang kerap menimbulkan terjadinya perbantahan atas berbagai perbedaan dinilai berhasil menjadikan hidup menjadi lebih hidup.

Dimensi persfektif” dinilai mengusung ‘dimensi moralitas’ serta asas kepatutan hingga layak menjadikannya sebagai dasar landasan partusnya ‘dimensi hukum’. Tujuannya adalah untuk mengatur sejelas-jelasnya agar bilamana tatanan kehidupan terhadang oleh persfektif yang tidak sama maka para pihak telah punya bekal tuntunan untuk bersama menuju persfektif yang paling memiliki kesamaan. Konon katanya berbeda itu indah. Diperlukan agar tiap orang bisa bekerjasama dengan orang satu lainnya. Dan itu bagian dari ibadah juga.

Manusia yang telah menilai sendiri dirinya sendiri sebagai mahluk mulia paling sempurna, kerap menilai ulang nilai–nilai kemuliaan yang dimaksudkan. Dan itu dianggap mulia juga karena didasari alasan yang mulia bahwa; walau tak akan bakal pernah sempurna namun tindakan penyempurnaan menjadi keharusan demi kemanfaatannya.

Ntah kenapa, proses penyempurnaannya kerap terperangkap oleh makna hakikat kesempurnaan itu sendiri. Diduga karena ‘dimensi persfektif’ selalu dianggap sebagai mula awal dari berbagai dimensi-dimensi yang mewarnai kehidupan.

Dimensi hukum’ yang semula dinilai menjadi batas akhir dari gejolak persfektif yang tidak sama, dianggap menjadi awal mula timbulnya perbedaan. Ia yang semula dinilai sebagai aturan dasar demi untuk keteraturan, seolah dianggap menjadi biang kerok terjadinya ketidakteraturan. Harus kah disesuaikan lagi?

Peradaban dipenuhi catatan berbagai warna-warni pelanggaran, sedari pelanggaran ketentuan Dewa-Dewi hingga hukum ketentuan Nagari malah dianggap kian memperkaya warna ‘dimensi persfektif’ untuk menetapkan ulang ‘dimensi hukum’. Harus kah diubah dan diubah – ubah lagi?

Dimensi hukum’ bahkan kerap dinilai menimbulkan terjadinya kecelakaan persfektif sudut pandang – bagaimana sesuatu pasal ketentuan hukum seyogianya diterapkan? Beda orang beda kepentingan maka wajar jika berbeda pendapat! Walau pun tiap ketentuan pasal-pasal hukum yang diundangkan telah dinyatakan jelas - hingga tak lagi diperlukan pasal penjelasan atasnya, namun titik koma pun bisa dijadikan celah kecil mengusung perbedaan kepermukaan. Konon katanya, berbeda itu adalah anugerah!

Dinamika aspek realitas serta kosa kata dan intonasi yang menghantarkannya pun kian berhasil mengusung perbedaan ke permukaan persfektif yang luas. Saling bantah berbantahan demi membantah tiap perbantahan meluas seolah tak berujung tak berpangkal. Alasan dan bukti dasar serta realita fakta aktual pun turut diperbantahkan. Pendapat Pakar ahli dari berbagai tingkatan ilmu diundang hadir untuk turut serta meramaikan hiruk pikuk perbantahan. Dan kian semakin meruncing oleh ‘dimensi politik’ yang memperanakkan ‘dimensi kekuasaan’.

Dimensi politik’ yang semula dipercaya membidani kelahiran ‘dimensi hukum’ demi untuk tujuan tujuan mulia – agar tercipta keteraturan, berbenturan dengan ‘dimensi persfektif  dari pawang-pawangnya - para politisi. Seolah dipaksa perbantahan fokus mengarah memperdebatkan ‘dimensi persfektif’ – yang dipakai ketika membidani kelahiran ‘dimensi hukum’. Agenda pemodal terselip rapi di celah tiap riak gelombang benturan kepentingan, demi kemanfaatannya siap mendanai biaya ini itu, terkesan rela suka hati-hati. Bayar kini, kelak menagih kemudian.

Penguasa, pawang pengatur tatanan kehidupan lantang berseru bahwa keputusan akhir harus tetap mengkedepankan kepentingan masyarakat luas. Gagah bak panglima pengatur situasi, aktif mengkondisikan jargon-jargon kepentingan pengusung yang memperANAKannya. Demi situasi! Menang atau kalah bukan lagi asas kepatutan yang diharuskan, seketika berubah menjadi pilihan.

Seolah Anda boleh Menang didenda sekian atawa Anda Kalah dibayar sekian. Ini demi masyarakat luas. Demi keteraturan tatanan kehidupan! ‘Dimensi moral’ terabaikan, dan ‘dimensi persfektif’ kembali berhasil mengubah wajah dunia dan penghuninya.

Pasal demi pasal dibaca ulang berturutan. Bab demi Bab terjilid rapi, ditandatangani dan telah diundangkan. Dicatatkan di lembaran berita negara hingga tiap warga negara wajib mengetahui, patuh dan mematuhinya. Demi Keteraturan semua harus diatur teratur – seyogianya begitu itu. Apakah ‘dimensi moral’ tak dianggap pantas untuk dipertimbangkan?

Bentuk lampau dari kebohongan adalah – Anda dapat menebaknya. Manakala kepongahan ‘dimensi politik’ galak mengusung persfektif-nya sendiri maka ‘dimensi moral’ menjadi terabaikan. Segala prilaku didominasi oleh ‘dimensi kekuasaan’. Dan ketika itu terjadi ‘dimensi hukum’ akan diperlakukan bak bagai musuh penghalang. Situasi dan kondisi kian semakin diperkeruh oleh persfektif pemodal yang terbebani motif dan perilakunya.

Kecerdasan versus arogansi emosional. Kecerdasan emosional tak sudi disusupi arogansi karena arogansi emosional bersemayam didiri si empunya kekuasaan.
~Salam Cerdas selalu!!
You're the Best!!

"Don't waste time calculating your chances of success and failure. Just fix your aim and begin.”
~Guan Yin Tzu

Terbaru

MEMBANGUN MOMENTUM DIRI

Perlu momentum untuk berhasil. Banyak yang giat membangun momentum untuk kesuksesan dirinya dan banyak yang sabar, bersabar menunggu saa...