Kita semua tergoda untuk menggunakan kata-kata yang sejatinya
tidak terlalu akrab dengan kita – jamaknya seperti itu, dan menyajikannya pada
berbagai pertemuan, pada resume serta dokumen lainnya agar orang bisa mengetahuinya.
Tidak peduli seberapa berbakat Anda, namun penggunaan kata-kata dapat mengubah
cara orang melihat Anda.
Barangkali, Anda tidak berpikir itu adalah masalah - toh
itu hanya kata-kata. Tetapi bahasa atau kata-kata bisa berakibat fatal bahkan
bisa menghantarkan orang lain membenturkan kepalanya ke dinding terutama mereka
yang kerap terbiasa menelan tiap kata yang didengar.
Sejarah menyajikan berbagai petaka kehidupan terjadi oleh
karena kata-kata, oleh karena bahasa yang digunakan. Tetapi sejarah enggan
untuk mengakui bahwa tingkat kecerdasan emosional orang yang berbeda adalah
gambaran dari temuan bahwa kesadaran diri tiap orang adalah yang terendah.
Dalam hal ini semua orang seyogianya dipersalahkan oleh
karena kesalahan serupa kerap terjadi. Dari waktu ke waktu, sering orang
tersandung oleh karena kata-kata yang digunakan. Kata-kata bahkan dianggap bisa
menjadikan seseorang terdengar lebih hebat dari satu lainnya. Lebih pintar bahkan
lebih canggih. Hingga kemudian kaget terkejut oleh karena kata-kata yang digunakan
menjadi petaka kehancuran dirinya. Kata-kata memiliki kecenderungan untuk membawa
kehancuran oleh karena jamak diketahui orang pintar tersandung, terlempar dari
arena kehidupan.
Sebagian berpendapat bahwa itu hanyalah faktor kebetulan
saja, itu hanya karena nasib buruk semata. Yang lain berpendapat, itu adalah
kekeliruan dan itu manusiawi – cukup mohon maaf saja. Sebagian lain ditengarai
telah berhasil membangun pemahaman bahwa kata maaf pun harus dimaknai dan disempurnakan
penggunaannya. Itu adalah sesuatu gambaran bahwa telah terjadi sesuatu
pengakuan ‘bersalah’. Jadi itu bukan nasib buruk, itu bukan lagi faktor
kebetulan tetapi, itu adalah ironi.
Ironi diartikan sebagai sesuatu ‘pembalikan’ situasional.
Verbalnya sebagai mengusung pembalikan dari apa yang diharapkan. Semisal kalimat:
“panjatlah tinggi-tinggi agar kau jatuh”. Ditengarai tujuannya adalah agar
tidak perlu memanjat hingga tidak bakal akan jatuh. Ironi situasionalnya adalah
ketika hasilnya merupakan kebalikan dari apa yang diharapkan.
Penggunaan kata-kata bisa membawa efek – mempengaruhi,
dan yang seperti itu umumnya malah menimbulkan kebingungan tersendiri, terutama
karena kata-kata yang digunakan bisa untuk tujuan kata benda atau bahkan kata
kerja. Ketika digunakan untuk ‘mempengaruhi’, pencapaian hasilnya adalah untuk
pencapaian tujuan – sesuatu. Sebagai kata benda, efek adalah cerminan dari
sesuatu. Konon kata-kata yang digunakan untuk tujuan seperti itu kerap dikenal
sebagai ‘hoaks’.
Dan kita semua cukup paham arti ‘kebohongan’ yakni
sesuatu yang tidak benar. Penggunaan kata-kata untuk mengamankan ‘kebohongan’ disajikan
dengan baik dan teratur. Mumpuni dijelaskan bahwa itu lah yang sebenarnya dan
itu dijamin ‘kebenaran’-nya. Dijamin akurat. Terdengar lucu menggelikan apalagi
jika sesuatu kebenaran benar-benar dijamin kebenarannya secara benar-benar.
Benar-benar dah!!
Sejatinya, kata-kata hanyalah sarana. Orang pintar
umumnya sepakat untuk menggunakan kata-kata sederhana dalam penjelasannya hingga
tiap orang sederhana bahkan tak paham bagaimana cara untuk memahaminya.
Manakala kerumitan tiba maka sebagian orang pintar lainnya menghidupi dirinya
dengan dalil agar bisa lebih disederhanakan lagi. Membuatnya menjadi lebih
sederhana dan kian semakin lebih sederhana lagi hingga bahkan orang yang paling
sederhana pun kian sulit untuk sekedar bisa bingung - apalagi paham?. Maka
jadilah ‘paham dan memahami’ menjadi sesuatu yang mahal dan kian semakin mahal
dari waktu ke waktu.
Ada banyak kerumitan yang terjadi hingga kata-kata yang
terdengar benar sesungguhnya adalah salah dan kata-kata yang terdengar salah sejatinya
adalah benar. Cilaka!!
Maka itu, jagalah kata-kata Anda agar tidak salah walaupun
kebenaran bukan milik Anda - si empunya kata-kata.
~Selamat berkata-kata.