Selasa, 24 Januari 2017

Bahkan Kata-kata Mengusung Malapetaka

“Sesuatu yang tidak dapat kita percayai bukan berarti tidak benar – something that we can not trust is not mean untruth”-Unknown

Kita semua tergoda untuk menggunakan kata-kata yang sejatinya tidak terlalu akrab dengan kita – jamaknya seperti itu, dan menyajikannya pada berbagai pertemuan, pada resume serta dokumen lainnya agar orang bisa mengetahuinya. Tidak peduli seberapa berbakat Anda, namun penggunaan kata-kata dapat mengubah cara orang melihat Anda.

Barangkali, Anda tidak berpikir itu adalah masalah - toh itu hanya kata-kata. Tetapi bahasa atau kata-kata bisa berakibat fatal bahkan bisa menghantarkan orang lain membenturkan kepalanya ke dinding terutama mereka yang kerap terbiasa menelan tiap kata yang didengar.

Sejarah menyajikan berbagai petaka kehidupan terjadi oleh karena kata-kata, oleh karena bahasa yang digunakan. Tetapi sejarah enggan untuk mengakui bahwa tingkat kecerdasan emosional orang yang berbeda adalah gambaran dari temuan bahwa kesadaran diri tiap orang adalah yang terendah.

Dalam hal ini semua orang seyogianya dipersalahkan oleh karena kesalahan serupa kerap terjadi. Dari waktu ke waktu, sering orang tersandung oleh karena kata-kata yang digunakan. Kata-kata bahkan dianggap bisa menjadikan seseorang terdengar lebih hebat dari satu lainnya. Lebih pintar bahkan lebih canggih. Hingga kemudian kaget terkejut oleh karena kata-kata yang digunakan menjadi petaka kehancuran dirinya. Kata-kata memiliki kecenderungan untuk membawa kehancuran oleh karena jamak diketahui orang pintar tersandung, terlempar dari arena kehidupan.

Sebagian berpendapat bahwa itu hanyalah faktor kebetulan saja, itu hanya karena nasib buruk semata. Yang lain berpendapat, itu adalah kekeliruan dan itu manusiawi – cukup mohon maaf saja. Sebagian lain ditengarai telah berhasil membangun pemahaman bahwa kata maaf pun harus dimaknai dan disempurnakan penggunaannya. Itu adalah sesuatu gambaran bahwa telah terjadi sesuatu pengakuan ‘bersalah’. Jadi itu bukan nasib buruk, itu bukan lagi faktor kebetulan tetapi, itu adalah ironi.

Ironi diartikan sebagai sesuatu ‘pembalikan’ situasional. Verbalnya sebagai mengusung pembalikan dari apa yang diharapkan. Semisal kalimat: “panjatlah tinggi-tinggi agar kau jatuh”. Ditengarai tujuannya adalah agar tidak perlu memanjat hingga tidak bakal akan jatuh. Ironi situasionalnya adalah ketika hasilnya merupakan kebalikan dari apa yang diharapkan.

Penggunaan kata-kata bisa membawa efek – mempengaruhi, dan yang seperti itu umumnya malah menimbulkan kebingungan tersendiri, terutama karena kata-kata yang digunakan bisa untuk tujuan kata benda atau bahkan kata kerja. Ketika digunakan untuk ‘mempengaruhi’, pencapaian hasilnya adalah untuk pencapaian tujuan – sesuatu. Sebagai kata benda, efek adalah cerminan dari sesuatu. Konon kata-kata yang digunakan untuk tujuan seperti itu kerap dikenal sebagai ‘hoaks’.

Dan kita semua cukup paham arti ‘kebohongan’ yakni sesuatu yang tidak benar. Penggunaan kata-kata untuk mengamankan ‘kebohongan’ disajikan dengan baik dan teratur. Mumpuni dijelaskan bahwa itu lah yang sebenarnya dan itu dijamin ‘kebenaran’-nya. Dijamin akurat. Terdengar lucu menggelikan apalagi jika sesuatu kebenaran benar-benar dijamin kebenarannya secara benar-benar. Benar-benar dah!!

Sejatinya, kata-kata hanyalah sarana. Orang pintar umumnya sepakat untuk menggunakan kata-kata sederhana dalam penjelasannya hingga tiap orang sederhana bahkan tak paham bagaimana cara untuk memahaminya. Manakala kerumitan tiba maka sebagian orang pintar lainnya menghidupi dirinya dengan dalil agar bisa lebih disederhanakan lagi. Membuatnya menjadi lebih sederhana dan kian semakin lebih sederhana lagi hingga bahkan orang yang paling sederhana pun kian sulit untuk sekedar bisa bingung - apalagi paham?. Maka jadilah ‘paham dan memahami’ menjadi sesuatu yang mahal dan kian semakin mahal dari waktu ke waktu.

Ada banyak kerumitan yang terjadi hingga kata-kata yang terdengar benar sesungguhnya adalah salah dan kata-kata yang terdengar salah sejatinya adalah benar. Cilaka!!

Maka itu, jagalah kata-kata Anda agar tidak salah walaupun kebenaran bukan milik Anda - si empunya kata-kata.
~Selamat berkata-kata.
Join mySFIteam
 

Terbaru

MEMBANGUN MOMENTUM DIRI

Perlu momentum untuk berhasil. Banyak yang giat membangun momentum untuk kesuksesan dirinya dan banyak yang sabar, bersabar menunggu saa...