Selasa, 29 Desember 2020

Studi Kelayakan Dan Rencana Bisnis

 


"Pilih satu ide gagasan bisnis, kerjakanlah. Terapkan dalam hidup Anda, pikirkan, impikan, dan jalankan. Biarkan otak, otot-otot, saraf-saraf dari setiap bagian tubuh Anda dipenuhi ide gagasan itu, lupakan yang lainnya. Inilah jalan menuju sukses. "~Ntah siapa 

Radikal! 

Oleh sebagian pebisnis ujaran ini dianggap radikal, namun ini adalah tentang prinsip, Anda diharuskan kukuh menjalani janji hidup hingga tidak akan ada aral melintang yang mampu merintangi minat dan niat Anda mencapai sukses keberhasilan.

Namun bisnis adalah tentang ketidakpastian. Karenanya, Anda diharuskan untuk berhati-hati, penuh perhitungan memperhitungkan segala kemungkinan. Ini adalah tentang persyaratan utama mencapai sukses keberhasilan. 

Mustahil Anda bisa menaklukkan ketidakpastian dalam bisnis, semua pebisnis hanya fokus berusaha mengenalinya dengan mempelajari serta menganalisa berbagai faktor kemungkinan untuk menemukan solusi penyelesaian atau cara alternatif yang dimungkinkan dilakukan untuk meminimalkan risiko kerugian yang mungkin terjadi.

Karenanya, Anda diharuskan melakukan studi kelayakan. 

Apa itu Studi Kelayakan? 

Sering disebut sebagai Analisa Kelayakan yakni langkah awal yang harus dilakukan sebelum memulai bisnis atau setidaknya ditahap awal proses pelaksanaannya. Tujuannya adalah untuk meneliti tingkat rasionalitas dari modal yang akan diinvestasikan, apakah layak direalisasikan? Apakah secara teknis layak dilaksanakan? Seberapa ekonomis bisnis tersebut? Akankah menguntungkan? 

Studi Kelayakan juga kerap dilakukan ketika akan memindahkan lokasi bisnis; atau ketika akan membeli peralatan produksi; atau saat akan membeli perangkat yang diperlukan; atau ketika akan menambah karyawan hingga ketika berencana mengakuisisi suatu perusahaan atau mendirikan perusahaan (baru)?

Studi Kelayakan juga ditujukan untuk menghimpun berbagai rupa dokumen serta legalitas perijinan hingga merinci detail permasalahan atau untuk menyusun langkah penanganannya. 

Juga diperlukan ketika pebisnis akan mengurus perizinan proyek yang dipersyaratkan, atau untuk menganalisa RAB/ anggaran biaya atau perkiraan penghasilan.

Termasuk untuk mengakses solusi atau alternatif penyelesaian permasalahan bisnis serta untuk tujuan keperluan pemeliharaan peralatan atau harta perusahaan, termasuk meningkatkan kompetensi tenaga ahli perusahaan, dan lain-lain. 

Mengapa Study Kelayakan Diperlukan? 

Karena hasil dari Studi Kelayakan menghasilkan gambaran tentang kepastian sesuatu langkah. Misalnya, ketika pebisnis memiliki beberapa ide gagasan bisnis, diperlukan kelengkapan data serta informasi tentangnya. Apa saja yang dimungkinkan untuk dilakukan? 

Hasil dari Studi Kelayakan juga diperlukan untuk menentukan ide gagasan yang mana yang paling condong dengan latar belakang pendidikan atau pengalamannya? Mungkin dia sudah pernah bergerak di bidang bisnis itu, atau dia mengenal pebisnis yang bergerak di bidang bisnis itu, tetapi dia tetap memerlukan kelengkapan data atau informasi.

Hasil dari Studi Kelayakanakan menguatkan pendapat karena pengambilan keputusan didasarkan pada data informasi tentang usulan sesuatu peluang bisnis, termasuk untuk menyusun kerangka kerja. 

Pebisnis yang memulai bisnisnya tanpa “Rencana” dianggap berencana untuk gagal. Karena “Rencana Bisnis” merupakan kerangka kerja yang diperlukan untuk mengeksplorasi berbagai hal yang kemungkinan timbul.

Rencana Bisnis juga diperlakukan bagaikan Daftar Ide Gagasan dan alternatif untuk mengatasi permasalahan yang sewaktu-waktu dimungkinkan timbul. Langkah-langkah apa saja yang paling dimungkinkan untuk ditempuh untuk mengatasinya? 

Study Kelayakan bermanfaat untuk menjawab;

^Apakah ide gagasan bisnis itu layak direalisasikan? 

^Apakah akan menguntungkan?

^Apakah Arus Kas akan bisa menutupi risiko kebutuhan kas? 

^Apakah risiko kerugian yang kemungkinan timbul sepadan dengan potensi keuntungan yang kemungkinan bisa didapatkan?

^Apakah bisnis itu akan bisa bertahan hidup ditengah situasi yang dihadapi? 

^Bagaimana kelangsungannya dalam jangka panjang?

^Meneliti sifat bisnis apakah layak diteruskan atau harus dihentikan? 

Karenannya tidak heran jika pihak Investor kerap meminta “Laporan Studi Kelayakan” saat menindaklanjuti pengajuan Permohonan Pendanaan. 

Apa itu Laporan Studi Kelayakan? 

Ini adalah laporan tentang hasil analisa terhadap gagasan bisnis dengan tujuan untuk menentukan kelayakannya. Apakah masuk akal?

Jika dilaksanakan untuk tujuan meneliti sifat karakter bisnis, kegiatannya sering difokuskan untuk mengetahui tingkat kelayakannya, merekapitulasi seluruh temuan dan menghimpun hasil analisa menjadi Laporan Studi Kelayakan. 

Studi kelayakan diperlukan saat akan mengakusisi suatu perusahaan atau akan mendirikan anak perusahaan yang aktivitasnya terkait dengan perusahaan induk, atau perusahaan anak yang aktivitasnya berbeda dari perusahaan induk, dan lain-lain. Laporan Studi Kelayakan menjadi dasar alasan yang membenarkan mengapa langkah itu yang ditempuh.

Dengan terlebih dahulu melakukan Studi Kelayakan itu akan menghemat waktu, tenaga dan biaya jika dibandingkan dengan jika bisnis langsung dijalankan tanpa pertimbangan atau tanpa saran masukan yang memadai dari orang yang ahli dibidang itu. 

Karena Laporan Studi Kelayakan adalah untuk mengungkap berbagai faktor-faktor kemungkinan tentang ketidakpastian, maka akan lebih menguntungkan jika dilaksanakan oleh orang yang ahli dibidang itu. 

Apa Bedanya Studi Kelayakan dengan Rencana Bisnis? 

Keduanya sering dianggap dan diperlakukan sama. Mungkin karena data informasi yang disajikan pada keduanya terdapat banyak kesamaan, namun sejatinya berbeda, baik dalam penyajian maupun dalam hal peruntukannya.

Laporan Studi Kelayakan adalah laporan tentang hasil analisa yang dilakukan terhadap ide gagasan bisnis untuk tujuan menentukan kelayakannya. Apakah masuk akal atau tidak? Sedangkan Rencana Bisnis adalah mengenai laporan tentang kerangka rencana kerja yang lebih terperinci tentang bagaimana bisnis itu akan dijalankan agar sukses mencapai keberhasilan. 

Rencana Bisnis mencakup tujuan sasaran, langkah-langkah stratejik, dan memuat data informasi tentang data keuangan dan non keuangan yang diperlukan mendukung pencapaian tujuan bisnis.

Jika Studi Kelayakan dilakukan oleh profesional yang handal, akan dihasilkan suatu “ikhtisar” yang mempersempit cakupan alternatif dari berbagai kumpulan alternatif yang dimungkinkan atau kemungkinan sudah dimiliki oleh pebisnis. 

Jika Laporan Studi Kelayakan memuat hasil penelitian yang fokus menyoroti potensi peluang yang menguntungkan hingga yang kemungkinannya berpotensi memiliki kelemahan atau memiliki kecenderungan akan terkendala. Sedangkan cara menyelesaikannya dituangkan pada “Rencana Bisnis”.

Jadi Rencana Bisnis dianggap baik jika disusun berdasarkan kajian yang terdapat pada Laporan Studi Kelayakan. Sulit jika keduanya memuat data informasi yang saling bertentangan. 

Laporan Studi Kelayakan memuat ikhtisar perhitungan, hasil analisa dan perkiraan proyeksi yang menggambarkan apakah ide gagasan bisnis itu layak direalisasikan atau tidak, sedangkan Rencana Bisnis memuat taktik dan stratejik yang diperlukan untuk melaksanakan ide gagasan bisnis itu.

Jadi Studi Kelayakan adalah tentang laporan hasil penelitian dan analisa mengenai kelayakannya maka Rencana Bisnis adalah tentang pertumbuhannya. Dengan kata lain, Laporan Studi Kelayakan memuat potensi keuntungan yang diharapkan bisa diperoleh sedangkan Rencana Bisnis memuat ikhtisar cara merealisasikannya, termasuk cara mendapatkan Investor pendana. 

Mengubah Laporan Studi Kelayakan menjadi Rencana Bisnis sangat dimungkinkan yakni dengan cara memasukkan langkah-langkah strategis serta kiat bisnis ke dalamnya.

~Salam sukses selalu 

"Take up one idea and act on it. Make that one idea your life. Think of it, dream of it, and live on that idea. Let the brain, muscles, nerves, and every part of your body be full of that idea and leave all other ideas alone. This is the way to success."-Unknown



Kamis, 24 Desember 2020

PELUANG BISNIS

Jika Anda ingin berbisnis tetapi tidak ingin melakukannya tanpa rencana, lakukan study kelayakan, karena bisnis tanpa rencana sama saja berencana untuk gagal, dan Anda tidak perlu berbisnis jika berencana untuk gagal.


Saat akan memulai bisnis Anda perlu bertanya: (1) Apa yang Anda inginkan dari bisnis itu? Lakukan identifikasi. (2) Mengapa Anda menginginkannya, apakah Anda pernah mendapatkan hasil dari bisnis seperti itu? Jawaban atas kedua pertanyaan itu akan bisa menggiring Anda untuk memulai persiapan bagaimana cara merealisasikannya.


Rangkuman jawaban yang diidentifikasi akan membuat Anda bergairah dan termotivasi hingga tertarik menetapkan “apa makna pengertian dari tujuan Anda itu”.


Itu adalah awal permulaan, secara perlahan akan terasa berbagai kemajuan dan Anda akan menikmati manfaatnya hingga kian semakin mendorong minat ketertarikan Anda untuk semakin fokus menggali hal-hal terkait ikhtiar bagaimana menemukan cara terbaik mewujudkan bisnis Anda. Pastinya kini bisa Anda paham hal apa yang dimaksudkan.


I. Mengevaluasi Peluang Bisnis

Bagaimana cara mengetahui apakah peluang bisnis itu layak direalisasikan?

Yang cekatan biasanya bisa cepat mengetahuinya. Walau jika dipermukaan bisnis serupa tampak menguntungkan namun Anda harus hati-hati, apalagi tidak semua rencana bisnis layak untuk direalisasikan. Diperlukan ketelitian dan kejelian, pengalaman Anda hanya untuk mendukung dasar-dasar penilaian apakah peluang bisnis itu layak atau tidak.

Apakah ada cara terbaik untuk menilainya? Pebisnis berkata bahwa hanya jawaban sumir yang banyak ditemukan karena nyaris semua bisnis dipenuhi ketidakpastian. Namun beberapa faktor dianggap perlu dipertimbangkan saat mengevaluasi apakah peluang bisnis itu layak direalisasikan atau tidak.

Sebagai berikut:

I.A. Industri dan Pasar

Ketahui terlebih dahulu bisnis itu masuk kategori bidang industri apa? Bagaimana situasi pasar di bidang itu? Apakah ada peraturan pemerintah yang mendukung atau mungkin malah merintangi? Siapa saja pemainnya, bagaimana persaingan yang ada, siapa yang paling mendominasi? Mungkin masih ada ceruk pasar yang bisa ditembus, dan lain-lain.

Anda bebas menambah daftar pertanyaan lainnya.

Hal-hal mendasar seperti itu perlu diketahui sebelum merealisasikannya. Misalnya, seberapa besar ceruk pasar yang ada? Bagaimana tingkat pertumbuhan bisnis di bidang industri itu? Apakah ada produk alternatif substitusi pengganti? Apakah itu akan berterima di pasar? Bagaimana dengan produk sejenis lainnya? Anda perlu mempertanyakan hal-hal senada.

Kunjungi instansi pemerintah yang membidangi bidang industri itu, atau meminta saran masukan dari Advisor stratejik bisnis, membuka ruang diskusi setidaknya untuk menambah khasanah pemahaman tentang karakter bisnis sejenis itu.

Mendatangi produsen yang sudah terlebih dahulu bermain dibidang itu akan membawa manfaat tersendiri, bisa menguatkan penilaian Anda.

I.B. Cakupan Peluang

Pertimbangkan jangka waktu mempersiapkan persyaratan yang diperlukan? Setelah dokumen perijinan lengkap, apa lagi yang perlu dipersiapkan? Bagaimana dengan modal awal, berapa lama mendapatkannya? Berapa lama proses produksi, berapa lama mendapatkan bahan materialnya, apakah jangka waktunya bisa terpenuhi tepat waktu?

Hati-hati. Umumnya peluang bisnis yang menguntungkan memiliki cakupan jangka waktu yang relatif singkat. Dampaknya, hanya pebisnis yang siaga yang selalu melangkah selangkah didepan pesaingnya.

Bagaimana dengan pendistribusiannya? Berapa jauh jarak lokasi produksi dengan lokasi pemasarannya? Berapa lama jangka waktu memasarkannya? Pertimbangkan secara hati-hati jika akan memproduksi secara massal apalagi jika pasar sudah dibanjiri produk sejenis atau produk alternatif pengganti.

Bagaimana dengan pendanaannya? Tentukan jumlah modal yang ideal untuk mendanai seluruh aktivitas yang diperlukan? Hitung yang benar. Modal selalu menjadi kendala utama. Perhitungkan jangka waktu mendapatkan pendanaan yang diperlukan atau kesempatan akan hilang.

Pada proyek pengadaan barang atau jasa jenis tertentu, jangka waktu yang tertera pada kontrak kerja relatif sangat terbatas, sehingga hanya pebisnis yang siaga dengan dukungan modal yang memadai yang selalu memetik keuntungan.

Bagaimana dengan jaringan bisnis pendukung?, setidaknya Anda perlu mengetahui dimana bahan baku serupa bisa didapatkan, berapa lama mendapatkannya? Apakah kuota bisa terpenuhi? Mungkin Anda perlu membangun relasi dibidang pergudangan, pengangkutan, dan lain-lain.

I.C. Motivasi dan Kompetensi

Investor kerap meneliti kompetensi pebisnis yang akan mengelola investasinya. Mencermati motivasinya, harus diyakinkan bahwa semangat pebisnis termotivasi oleh kompetensi yang mumpuni. Pengalaman pebisnis hanya untuk menambah dasar penilaian, jadi harus fokus mencapai sukses keberhasilan.

Bagaikan bermain layang-layang, keberhasilannya sangat dipengaruhi faktor eksternal seperti arah dan arus angin, hujan, lokasi bermain dan lain-lain. Sama halnya dengan bisnis, pengaruh faktor eksternal terasa sangat dominan, tidak cukup jika hanya bersandar pada bakat dan keterampilan semata.

Jamak pebisnis dengan bakat keterampilan rata-rata terlihat malah melampaui keberhasilan pebisnis yang jenius. Mungkin karena dia fokus mengejar sukses keberhasilannya. Mungkin!

Sulit mengetahui cara menilai motivasi? Namun, Anda disarankan untuk menghindari pebisnis yang hanya termotivasi oleh alasan cara mudah mendapatkan uang banyak.

Anda bisa memeriksa ulang RAB yang diajukan. Hati-hati jika pebisnis mencantumkan gaji yang tinggi dengan alasan bahwa dia akan bekerja setengah mati, itu bukan jaminan. Alasan mendapatkan gaji tinggi itu bisa diterima jika masuk akal, namun kewajaran harus tetap menjadi pertimbangan. Seyogianya bukan uang yang menjadi motivasi utama.

I.D. Aspek Manajemen

Keberhasilan bisnis sangat tergantung pada kehandalan tim manajemen. Jika Anda adalah inisiator, Anda bisa leluasa menentukannya tetapi jika sebagai Investor pendana, kekuatan dan kelemahan tim manajemen perlu dianalisa.

Pebisnis seyogianya memberi nilai tambah bukan mengintimidasi. Menghindari sifat yang manipulatif tetapi harus menginspirasi motivasi tim untuk kreatif.

Tidak sedikit pencapaian besar menjadi terkendala hanya karena hal-hal sepele, dan semua berawal dari ketidakbecusan pemimpinnya.

Kemampuan pebisnis mengelola kompetisi internal teruji saat menghadapi realitas persaingan internal di kalangan tim manajemen karena berimbas negatif pada jajaran dibawahnya. Terapkan prinsip kerjasama, menjadikan kekuatan tim sebagai pendorong mencapai keberhasilan.

Sekalipun kualitas produk sangat baik namun jika didukung tim manajemen yang lemah hanya akan membuat Anda frustasi. Investor kerap memperhatikan hal ini sehingga ide gagasan bisnis yang brillian pun tidak akan didanai jika tim manajemen tidak memadai, setidaknya memenuhi – sesuai dipersyaratkan.

I.E. Aspek Modal & Teknologi

Kecukupan modal untuk mendanai seluruh aktivitas bisnis menjadi keharusan, akan fatal jika produksi terkendala dikarenakan kurang modal. Tenaga kerja terampil serta teknologi pendukung juga kerap menjadi kendala, karenanya harus diperhitungkan dengan cermat.

Faktor modal, tenaga kerja dan teknologi diperlukan untuk menilai rasio risiko imbal hasil. Investor bahkan menjadikannya sebagai dasar untuk menentukan analisa resiko bisnis namun, faktor keuntungan potensil kerap mendominasi minat dan ketertarikan saat mempertimbangkan apakah akan didanai atau tidak.

I.F. Aspek Ekonomi

Aspek ekonomi secara umum sudah termaktub pada saat mempertimbangkan kategorial bidang industri, namun kebijakan pemerintah terkait fiskal moneter serta situasi politik harus benar-benar dipertimbangkan, apalagi hal itu terkait dengan kebijakan perekonomian dari rejim pemerintahan yang berkuasa. Bagaimanapun bisnis akan terpengaruh.

Konon katanya, pebisnis adalah produk dari lingkungan yang kesuksesannya adalah cerminan dari lingkungannya maka pertimbangkan faktor-faktor lingkungan yang terkait dengan bidang industri bisnisnya. Apakah situasinya mendukung?

Misalnya, beberapa bidang bisnis tertentu tidak dimungkinkan untuk berkembang di lingkungan situasi politik rejim pemerintahan yang sosialis, namun bidang bisnis lain mungkin tidak bisa sukses berkembang di lingkungan kapitalis. Hal-hal seperti itu perlu dipertimbangkan.

I.G. Lain-Lain

Walaupun tidak semua faktor bisa tercakup dalam artikel singkat ini, namun Anda bisa menambahkan hal-hal lain yang sekiranya perlu untuk dianalisa.

Pertanyaan pokok adalah: apakah peluang bisnis itu layak atau tidak? Kejelian dan intuisi Anda akan dipertaruhkan.

"Pilih satu gagasan, kerjakanlah. Jadikan gagasan itu menjadi bagian dari hidup Anda. Pikirkan, impikan, dan jalani. Biarkan otak, otot, saraf, dan setiap bagian tubuh Anda dipenuhi gagasan itu, tinggalkan ide-ide lainnya. Inilah jalan menuju sukses."-Ntah siapa.

"Take up one idea and act on it. Make that one idea your life. Think of it, dream of it, and live on that idea. Let the brain, muscles, nerves, and every part of your body be full of that idea and leave all other ideas alone. This is the way to success."-Unknown

Rabu, 23 Desember 2020

Mengapa Harus Melakukan Survei Pelanggan?

Anda boleh percaya atau membantah kebenarannya, tetapi masalah yang kerap mengemuka dalam pembahasan hasil evaluasi berkala adalah apakah Anda perlu mengetahui siapa yang menjadi pelanggan Anda? Apakah perlu Anda mengenalnya? Apakah bisa mengenalnya dengan cara melakukan survei pelanggan?

 

Kebanyakan pebisnis memilih diam ketika ditanya namun tidak ada yang membantah kebenaran fungsi dan tujuannya karena nyaris semua pebisnis melakukannya dengan cara yang dianggap paling memungkinkan untuk dilakukan.

 

Mengenal pelanggan populer dikenal dengan istilah “Know Your Customer” atau kenali pelangganmu. Mungkin bertujuan untuk bisa mendapatkan pelanggan-pelanggan yang memiliki ikatan emosional dengan produknya, bangunan ikatan yang diakui memiliki keunggulan tersendiri. 

 

Tipikal pebisnis selalu ingin tahu tetapi tidak pernah merasa telah tahu.

"I was once asked if a big businessman ever reached his objective. I replied that if a man ever reached his objective he was not a big businessman."~Charles M Schwab

 

Saya pernah ditanya apakah (ada) seorang pebisnis besar pernah mencapai tujuannya. Saya menjawab bahwa jika seorang pebisnis pernah mencapai tujuannya, dia bukanlah pebisnis besar, demikian menurut Charles M Schwab. 

 

Terinspirasi kiriman email yang dari Silver pendiri “TopHomeBusiness.Us” dia mengemukakan ada sepuluh alasan pokok yang mendasari pemikiran kenapa pebisnis melakukan survei pelanggan pengguna produknya secara berkala, bahkan pengunjung situs websitenya pun ikut disurvei. Dan saya tertarik mengulasnya lebih mendalam lagi,

sebagai berikut: 

 

1. Dengan survei pelanggan, pebisnis ingin mengetahui jenis konten produk apa saja yang paling diinginkan atau konten yang mana yang paling sering dilihat pengunjung di situs websitenya. Dengan mengetahuinya Anda - sebagai pebisnis, akan terdorong menyempurnakannya, terdorong untuk menambah ragam jenisnya dan berharap akan kian semakin menarik pengunjung.

 

2. Dengan melakukan survei, Anda sebagai pebisnis akan dapat mengetahui bagaimana cara terbaik meningkatkan kualitas produk atau layanan jasa yang telah ada dan berusaha untuk semakin menyempurnakannya, dengan harapan bisa meningkatkan minat dan ketertarikan pelanggan untuk tetap bertahan membeli produk atau layanan jasa Anda. 

 

3. Dengan melakukan survei pelanggan, Anda akan dapat mengetahui produk atau layanan jasa yang mana yang paling sering mendapatkan perhatian pelanggan. Dan Anda diharapkan akan terdorong untuk bisa memberi perhatian lebih atasnya. Akan berusaha menyempurnakan penyajiannya dan berharap upaya Anda akan bisa meningkatkan penjualan di masa mendatang. Sederhananya, survei pelanggan akan menggiring langkah Anda ke arah yang dimungkinkan untuk meningkatkan penjualan.

 

4. Dengan melakukan survei pelanggan, Anda diharapkan bisa mengetahui dengan cara bagaimana Anda bisa meningkatkan sistem layanan atau manajemen administrasi penjualan Anda. Bisa mengetahui keluhan pelanggan dan akan berusaha meminimalkannya, Anda bahkan bisa menemukan cara terbaik menyelesaikan permasalahan yang timbul atau yang kemungkinan akan timbul. 

 

5. Dengan melakukan survei, Anda akan bisa mengetahui bagaimana cara menyempurnakan format faktur penjualan atau menemukan cara bagaimana menyempurnakan layanan iklan produk Anda. Survei bisa menggiring langkah Anda menemukan cara terbaik untuk bisa mengenal siapa pelanggan setia Anda.

 

6. Dengan melakukan survei Anda berharap bisa mengetahui Artikel atau model kuesioner yang seperti apa yang paling diminati pengunjung situs website Anda,  dan menemukan ide gagasan meningkatkan jumlah pembaca artikel Anda. 

 

7. Dengan melakukan survei, Anda akan mengetahui cara bagaimana menyesuaikan rancangan situs website Anda agar sesuai dengan kebutuhan pengunjung. Survei bahkan bisa meningkatkan lamanya waktu yang dihabiskan pengunjung bersilancar di situs website Anda. Anda diharapkan akan berusaha menyajikan sajian terbaik agar pengunjung menghabiskan waktunya di website Anda dan tidak berpaling ke lain tempat.

 

8. Dengan melakukan survei pelanggan Anda akan mengetahui model serta jenis ragam produk atau layanan jasa lainnya, yang tidak terkait dengan produk/ layanan jasa utama Anda, yang diminati dan yang akan dibeli oleh pelanggan Anda. Dengan survei pelanggan diharapkan akan bisa membantu Anda untuk mendiversifikasi penjulan jenis produk atau layanan jasa yang berbeda bahkan hingga melakukan ekspansi ke pasar yang berbeda. 

 

9. Dengan melakukan survei, Anda diharapkan akan mudah mengetahui cara menetapkan tingkat harga yang lebih memikat dan yang paling diminati dan yang paling banyak mendapatkan pesanan. Menarik pembeli dengan cara mengendalikan penetapan harga jual dianggap sangat efektif, bahkan mengenakan diskon atau potongan harga dianggap bisa membangkitkan minat pelanggan untuk menambah volume pembeliannya.

 

10. Dengan melakukan survei pelanggan diharapkan Anda akan bisa mengetahui apakah pelanggan atau calon pelanggan Anda punya kegiatan berkumpul atau senang melakukan acara kumpul-kumpul sesama penggemar produk Anda. Anda akan bisa mengetahui jadwalnya berkumpul dimana dan disaat-saat kapan?

 

Informasi yang didapatkan dari hasil melakukan survei akan bisa dijadikan rujukan untuk mengetahui ke mana dan saat kapan Anda bisa mempromosikan produk atau layanan jasa Anda. Mensponsori aktivitas kegiatan klub penggemar produk bahkan dianggap bermanfaat untuk memancing minat perhatian dari calon pelanggan baru. 

 

Sepuluh langkah diatas merupakan ide gagasan saja. Anda bebas menambah dan menguranginya, bebas mengubah poin-poin uraian sebagaiamana dijelaskan diatas. Menyesuaikannya dengan alasan yang paling tepat yang mendasari alasan mengapa Anda terdorong melakukan survei pelanggan.

 

Anda bebas merekonstruksi hingga memodifikasinya menyesuaikannya dengan situasi lapangan atau menyesuaikannya dengan tujuan yang hendak dicapai.


Langkah selanjutnya tergantung Anda.

Disadur dari:  https://topHomeBusiness.us

Kamis, 10 Desember 2020

INVESTOR MUNDUR KARENA KESALAHAN PEBISNIS

 

"The future is a concept, it doesn't exist. There is no such thing as tomorrow. There never will be, because time is always now. That's one of the things we discover when we stop talking to ourselves and stop thinking.  We find there is only present, only an eternal now."~Alan Watts


Menurut Alan Watts, “masa depan” bukanlah sesuatu apa, itu hanya suatu pemahaman tentang konsep waktu. Sama halnya dengan kata ‘besok’, itu adalah suatu konsep waktu yang tidak jelas batas keberadaannya dan tidak akan pernah terwujud. Makanya tidak ada “Hari Besok” di Kalender – yang ini menurut saya, Hotman Sihombing.


Anda disarankan untuk membacanya seulang lagi, agar jangan kecelakaan paham.


Tulisan ini diangkat dari konsep pemahaman salah satu klien menyangkut Rencana Bisnisnya yang katanya telah memenuhi segala unsur yang dimungkinkan terjadi dimasa depan. Seluruh risiko telah diidentifikasi siap diantisipasi, Investor tidak perlu khawatir akan “risiko investasi”.


Saya menanggapinya, jika bagi investee/ klien, dana investasi adalah “sejumlah uang yang dianggap sebagai kemudahan untuk mendanai proyeknya”, sebaliknya investasi adalah “risiko Investor yang melekat pada Dana yang ditempatkan”. Sehingga tidak dikenal dikotomi pemahaman tentang konsep waktu, apakah “besok” atau ”dimasa depan”, ini adalah tentang “potensi kerugian”. Jika klien tidak memperbaiki proposalnya berdasarkan temuan evaluasi dan hasil analisa pihak independen, kami, Investor mundur dan menarik diri.


Selang setahun kemudian, klien memberitahukan jika Investor yang diharapkan tak kunjung dia dapatkan. Saya menyemangati agar terus berusaha, bahkan pendiri “Kentucky Fried Chicken” Kolonel Sanders ditolak 1009 kali sebelum berhasil membangun bisnisnya.


Tidak mudah, namun saat akan dibantu pebisnis kerap salah pemahaman tentang “risiko” karena memelihara dikotomi pemahaman tentang “risiko sekarang” dan “risiko dimasa depan”. Bagi Investor “risiko” itu adalah “saat sekarang” tidak perlu ditunggu sampai menjadi “risiko dimasa depan”.


Terinspirasi uraian pada Smerger edisi 20-01-2020 ketika pebisnis bertanya-tanya mengapa Investor tidak berminat mendanai? Tidak jelas apa alasannya dan tidak mau menjelaskan apa yang menjadikannya “hilang-minat” mendanai.


Namun beberapa kesalahan pebisnis yang bisa diidentifikasi patut diduga menjadi faktor yang memicu timbulnya alasan penyebabnya.


Sebagai berikut:


Kesalahan-1: Minus Penjelasan:

Penjelasan Anda tidak lengkap tetapi alasan Anda terlalu berbelit-belit.

Ketahuilah Investor tidak punya waktu yang cukup untuk memeriksa data proyek dan profil perusahaan Anda, karenanya, sajikan secara ringkas dan komprehensif. Jangan melebar berputar-putar menjelaskan industri dibidang sejenis, Investor juga tahu hal itu sebelum Anda diminta mempresentasikan proposal Anda. Bahkan punya kriteria dan kategorial tersendiri mengenai bidang bisnis itu, namun Investor ingin mengenal kriteria individual pebisnis yang akan mengelola investasinya.


Karenanya jangan terkecoh jika Investor berulang-ulang menanyakan:


1. Apa sebenarnya inti bisnis Anda?

2. Berapa sebenarnya dana yang diperlukan? 

3. Dengan kapasitas yang sekarang, berapa yang bisa dihasilkan?

4. Dengan kapasitas Anda saat ini, Apa yang Anda hasilkan? 

5. Mengapa diperlukan pendanaan?

6. Investor dapat imbalan apa? 

7. Informasi apa lagi yang menurut Anda perlu untuk disampaikan?


Jika profesional, Anda tidak perlu menutup-nutupi kerahasiaan bisnis Anda apalagi jika perjanjian kerahasiaan (NDA) telah ditandatangani.


Kesalahan-2: Tidak Realistis:

Sajikan proyeksi yang realistis, kredibel dan pragmatis, atau Investor menolak membahasnya. Anda dianggap terkesan tidak cakap. Walau jika Anda ambisius, harus realistis dengan langkah-langkah stratejik yang masuk akal.


Karenanya, perhatikan jika Investor kembali bertanya:


1. Apa tujuan Anda berbisnis?

2. Apakah benar Anda menguasai bidang ini? 

3. Dengan kapasitas yang disajikan, apa yang Anda harapkan?

4. Apakah Anda pernah mempertimbangkan jika yang Anda harapkan itu realistis?

5. Apakah jumlah Dana yang diperlukan itu adalah realistis?

6. Dengan  Dana sebesar yang diajukan, apakah imbalan untuk Investor itu realistis?

7. Jika sekiranya Anda punya informasi lain yang lebih realistis, mengapa tidak disampaikan?


Kesalahan-3: Agar Dinilai Setinggi Langit:

Konsultasikan Rencana Bisnis Anda dengan profesional karena menyangkut kredibilitas Anda. Pahami jika: “potensi pendapatan $100” itu berbeda dengan “pendapatan $100”. Jangan malah salah paham.


RAB perlu dinilai untuk mendapatkan angka perkiraan yang realistis. Umumnya Investor menginginkan break event point bisa dicapai dalam kurun waktu 3-4 tahun, yang berarti kisaran sekitar 3-6 kali EBITDA akan bisa diterima. Ketahuilah, penilaian tinggi sering membuat Investor tertarik mendanai karenanya harus hati-hati karena jika terlalu tinggi akan merugikan.


Dan Anda harus memperhatikan jika Investor kembali bertanya:


1. Apakah RAB sudah diaudit?

2. Apakah hasil yang disajikan akan bisa dicapai?

3. Dengan perkiraan hasil yang tinggi, mengapa masih perlu Dana?

4. Apakah ada rujukan jika hasil yang tinggi seperti itu pernah terjadi?

5. Jika sekiranya pebisnis dibidang sejenis menjual bisnisnya, apakah Anda mau membeli?

6. Jika berminat (dan didanai), apakah Anda meyakini jika perkiraan hasilnya akan sama?

7. Apakah ada data yang bisa dijadikan rujukan?


Ketahuilah, nyaris semua bidang bisnis telah pernah digeluti para pebisnis, jadi bukan hanya Anda seorang yang memahami bisnis itu.


Kesalahan-4: Tidak Tanggap:

Investor kerap menugaskan orangnya untuk berperan di kedua belah pihak, jadi jika salah satu pihak sudah setuju dan ditolak pihak satu lainnya, rangkaian negosiasi tetap berjalan. Anda jangan langsung beranggapan sudah gagal, kebanyakan hanya tertunda. Jalinan komunikasi tetap berlangsung diantara para pihak sehingga tingkat keseriusan tetap konsisten terpelihara. Sewaktu-waktu kesepakatan bisa terjadi apalagi jika Anda memelihara korespondensi dengan baik. Karenanya, korespondensi perlu diselenggarakan secara tertulis (Email), namun untuk hal yang krusial bisa dibahas interaktif secara tatap muka.


Karenanya, hati-hatilah jika Investor menanyakan:


1. Mengapa Anda tidak menggunakan advisor bisnis?

2. Apakah Anda tidak meyakini keahlian konsultan bisnis?

3. Apakah Anda mendokumentasikan seluruh korespondensi yang terjadi?

4. Apakah Anda yakin jika seluruh korespondensi terkait negosiasi telah didokumentasikan?

5. Jika sekiranya terjadi kebuntuan dalam negosiasi, apakah Anda masih berminat jika suatu waktu kelak bertemu lagi untuk negosiasi ulang?


6. Jika sekiranya Anda diminta untuk tidak terlalu kaku menanggapi tawaran negosiasi apakah Anda malah merasa jika Investor yang tidak tanggap akan kebutuhan Anda?


7. Apakah kebuntuan negosiasi yang terjadi karena Anda khawatir tidak bisa memenuhi keinginan Investor? Mungkin Anda yang tidak memahami kekhawatiran Investor terkait tawaran yang Anda ajukan?


Lumrah jika para pihak memerlukan waktu agar bisa saling menyamakan persfektif untuk mencapai kesepakatan.


Kesalahan-5: Minus Dokumen:

Bisnis adalah tentang dokumen dan dokumentasi. Anda akan dinilai serius jika sedari awal telah menyertakan dokumen perusahaan, profil proyek, hasil evaluasi, dll. Pebisnis kerap ceroboh tidak mendokumentasikan poin-poin kesepakatan diawal pertemuan hingga skedul pelaksanaan due-diligence tertunda karena dokumen tidak dipersiapkan.


Perubahan skedul yang disepakati juga kerap gagal karena dokumen perijinan, lisensi produk dan lain-lain belum didapatkan dari otoritas yang berwenang. Terkadang laporan keuangan tidak diaudit, RAB dan proyeksi Arus Kas tidak  dinilai kelayakannya oleh profesional. Laporan appraisal tidak ada, dll., sehingga Investor harus membatalkan kontrak pelaksanaan due-diligence, Anda dianggap tidak siap.


Karenanya, Anda harus memperhatikan jika Investor bertanya:


1. Apakah dokumen telah lengkap, bagaimana dengan perijinan?

2. Mengapa tidak menggunakan jasa konsultan untuk melengkapi seluruh dokumen yang diperlukan, apakah Anda tidak meyakini keahliannya?

3. Jika korespondensi diawal pembicaraan telah didokumentasikan, mengapa hal dokumen malah terabaikan? Apakah Anda menyadari kerugian yang terjadi?

4. Jika hanya berdasarkan dokumen yang ada, apakah Anda yakin jika Investor berminat membahas proposal yang diajukan?

5. Jika sekiranya diberikan kelonggaran waktu melengkapinya, berapa lama itu, apakah RAB Anda masih uptodate, dampaknya mungkin akan berubah signifikan?

6. Jika sekiranya Investor mundur karena ketidaklengkapan dokumen, apakah Anda akan kembali menghubungi jika telah lengkap?

7. Jika Anda menerima bahwa ketidaksepakatan yang terjadi disebabkan keterlambatan Anda melengkapi dokumen terkait, apakah Anda juga menerima jika hal itu adalah bukti pertanda ketidaksiapan Anda?


Ketidaksiapan adalah bukti ketidakmampuan apalagi bisnis adalah tentang dokumen sehingga semua kesepakatan bisnis didokumentasikan dengan baik. Poin-poin kesepakatan tentang hal ini sudah tertuang pada NDA/ MOU yang Anda tandatangani. Anda harus pahami itu.


Kesalahan-6: Tidak Profesional:

Komunikasi pebisnis kerap tidak efektif bahkan cenderung emosionil saat menanggapi pertanyaan Investor terkait penerapan asumsi dasar perhitungan dalam penetapan estimasi perkiraan  jumlah penghasilan atau taksiran biaya.


Apakah asumsi dasar yang dipergunakan telah diperiksa kelayakannya oleh profesional? independen? Apakah RAB telah diaudit Akuntan Publik? Apakah persentase penyelesaian proyek berdasarkan hasil pemeriksaan konsultan engineering? Apakah dokumen, legalitas perijinan telah diperiksa keabsahannya oleh konsultan hukum?


Ditanggapi ketus; “itu adanya seperti itu, Anda tidak usah ajari saya cara berbisnis, saya sudah puluhan tahun di bidang ini”. Terkesan mendiskreditkan arah pertanyaan. Seyogianya pebisnis menghargai jika Investor menanyakannya itu adalah bukti bahwa proposal Anda telah dibaca.


Emosi tinggi pertanda Anda tidak profesional. Perilaku Anda saat berinteraksi dengan Investor adalah gambaran perilaku berbisnis, karenanya Anda perlu meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Jika via Email, periksa ulang tata bahasa yang digunakan, teliti pengetikannya sebelum mengirimkannya.


Hadir tepat waktu saat pertemuan tatap muka menandakan Anda bertanggungjawab dan disiplin. Kesibukan atau kemacetan lalulintas tidak seyogianya dijadikan alasan untuk datang terlambat, karena Investor juga punya kesibukan dan terkena kemacetan lalulintas.


Karenanya Anda harus memperhatikan jika Investor bertanya:


1. Apakah angka-angka yang disajikan sudah diperiksa profesional?

2. Apakah metode perhitungan seperti ini telah dikonsultasikan dengan profesional yang ahli dibidang ini bahwa perkiraan ini telah tepat?

3. Mengapa Anda tidak meyakini keahlian konsultan profesional dibidang ini?

4. Mengapa tidak melibatkan Advisor stratejik bisnis?

5. Dikarenakan Anda telah berpengalaman, apakah asumsi dasar perhitungan pada proposal Anda sudah tidak bisa dipertanyakan lagi kebenarannya?

6. Jika diskedulkan untuk tatap muka membahasnya, apakah Anda bisa di Hari X, Jam X0:00 di XYZ?, kira-kira kapan waktu yang tepat?

7. Apakah tim Anda diajak mendampingi atau hanya Anda yang mempresentasikannya?


Jangan takut akan dipermalukan jika tidak menguasai hal-hal teknis, Investor bisa memahami hal itu. Mungkin Anda perlu mengajak serta tim teknis. Jika khawatir tidak bisa hadir tepat waktu, minta agar waktunya diatur ulang. Belajarlah menghargai waktu, kesampingkan ego pribadi, dan fokuslah berbisnis.


Kesalahan-7: Terlalu Curiga:

Anda perlu memeriksa latar belakang Investor atau yang mewakilinya, namun tidak perlu curiga berlebihan, bersikaplah positif. Jangan terlalu protektif menjaga informasi rahasia terkait proposal yang diajukan. Menolak menanggapi hal-hal tertentu dengan alasan rahasia.


Pebisnis kerap curiga jika diberi masukan tentang asumsi dasar perhitungan yang dipergunakan dari sudut pandang yang berbeda, emosi ketika tahu hasilnya malah terlihat lebih realistis. Pebisnis cenderung mendiskreditkan saran masukan Investor.


Bersikukuh jika proposalnya layak, seluruhnya sudah diidentifikasi, siap diantisipasi. Audit akuntan publik tidak perlu, konsultan, Appraisal bahkan Notaris nanti saja, pebisnis menolak membayar biaya untuk menyempurnakan proposal bisnisnya. Namun, semua akan dilibatkan dan dibayar jika Investor telah menyetorkan Dana Investasi. Kebijakan yang menakutkan, membuat Investor mundur!


Frustasi terbelenggu kata tanya: waduh,,,mengapa Investor mundur? Sebagai profesional Anda tidak seharusnya bangga memperlihatkan kejanggalan.


Pebisnis yang terlihat mudah menggaet Investor umumnya menyerahkan urusannya kepada Advisor stratejik bisnis, dia fokus mencari jalan keluar tentang hal-hal yang sulit dijelaskan secara formal, Investor juga paham itu. Misalnya, dukungan politisi, dll.


Meski demikian, Investor juga mengakui jika pihaknya kerap melakukan kesalahan karena menugaskan orang yang tidak cakap mewakili kepentingannya. Pastinya Anda kini paham apa yang dimaksudkan.~salam sukses selalu.