Jumat, 26 Januari 2018

Ciri-Khas INVESTOR Yang Realistis!

-->
“If you really want something, and really work hard, and take advantage of opportunities, and never give up, you will find a way."
~Jane Goodall, Anthropologist

Tidak banyak yang berminat mendanai bisnis start-up pemula, umumnya menghindar dengan alasan “tidak trampil dan minus pengalaman”. Realistis jika sulit untuk Pemula mendapat sokongan modal.

Satu dua wiraswasta sukses menyadari diawal-awal pun mereka pernah terhempas pasang surut, sukses kala ada kesempatan, teruji oleh waktu. Tahu bahwa Pemula pun akan sukses jika diberi kesempatan apalagi jika bermitra dengan Operator berpengalaman. Realistis jika mereka berminat mendanai bisnis Pemula dan menjadi Investor realistis.

Layaknya pemandu sorak disuatu pertandingan mereka tidak sungkan turun langsung memandu. Rela menghadiri pertemuan reguler dengan bagian produksi marketing distribusi serta penjualan. Turut menambahkan nilai pada bagian unsur perusahaan, menjembatani kesenjangan pengalaman dan tak lelah menggali detil informasi bagian mana yang memerlukan perbaikan.

Interaksinya tidak hanya mencari untung tetapi ikut membentuk sistim kaderisasi kepemimpinan. Menjadi cerminan bagaimana pemimpin harus aktif menyatu ke tiap unsur bagian.

Mereka berupaya mengenal Pemula sebagai individu, mencari tahu hal apa yang mengilhaminya berbisnis dan hal apa yang akan membentuk nilai yang diharapkan. Mereka perlu diyakinkan bahwa modal yang dia tanamkan akan menghasilkan nilai yang setara.

Investor realistis menyadari bahwa Pemula akan bekerja keras, akan totalitas untuk bisa mencapai hal yang tampaknya sulit diraih. Dan itu membuatnya terpanggil untuk membantu menyingkirkan rintangan, apalagi penanganan tertentu seringkali memerlukan pengalaman tersendiri.

Mereka siap menjadi sumber inspirasi emosional menghancurkan kekakuan intelektual saat pengambilan keputusan mengingat bisnis Pemula akan sangat menguras enerji, apalagi kerap tersandung berkali-kali. Diperlukan dukungan emosional agar Pemula tidak hilang harapan.

Investor realistis paham bahwa Visi-Misi adalah tujuan yang diartikulasikan dengan jelas hingga harus dikomunikasikan secara berulang-ulang dari-waktu-ke-waktu agar karyawan bahkan mitra pelanggan terinspirasi. Olehnya visi-misi diartikan sebagai nilai-nilai perusahaan yang harus diikuti secara konsisten.

Mereka tidak mengharuskan Pemula untuk tiap saat bisa menjawab tiap pertanyaan karena keputusan bisnis yang terbaik tidak selalu merupakan keputusan yang tercepat. Diperlukan ragam persfektif serta ketrampilan yang variatif sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan.

Investor realistis juga tahu ceritera tentang Investor yang dicap berkhianat karena meninggalkan Pebisnis-nya, tetapi baginya itu dianggap mewakili ketidak-paduan antara harapan Pendiri dengan pendana. Karenanya para pihak perlu komunikatif dan itu hanya jika keseimbangan yang tepat bisa tercapai.

Ciri khas-nya, mereka sangat menekankan bahwa bakat saja tidak akan menghantarkan Pemula ke tempat yang tepat diwaktu yang tepat. Bahkan “Keajaiban” pun memerlukan kerja keras, apalagi harus menjaga sikap positif, harus bertekun meski tengah dirundung masalah dihimpit kritik serta penolakan. Harus tetap fokus pada tujuan.

Jika tidak mau belajar takada yang bisa menolong namun jika bertekad untuk belajar takada yang bisa menghentikan. Dan itu realistis!

"If you are not willing to learn, no one can help you! If you are determined to learn, no one can stop you!"
~Zig Ziglar
JoinMySFIteam

~Salam realistis!

Senin, 22 Januari 2018

Berburu INVESTOR Yang Terbaik?

Don't be afraid to fail. Don't waste energy trying to cover up failure. Learn from your failures and go on to the next challenge. It's OK to fail. If you're not failing, you're not growing."
~H. Stanley Judd

Pebisnis pemula kerap terlihat mondar-mandir nubruk semua arah menggali berbagai tipikal informasi usaha untuk diracik, dipresentasikan keharibaan Investor. Penyajiannya terkadang dianggap berlebihan tak masuk akal - disadari ketika Investor menarik diri, batal berinvestasi.

Pebisnis paham pahit getirnya. Sedari proses indentifikasi, evaluasi hingga memperbandingkan informasi usaha sejenis dan substitusinya, menyusun estimasi perhitungan berdasarkan asumsi. Cenderung subjektif! Tujuannya hanya agar dilirik Investor – yang juga punya asumsi sendiri. Tak cocok, revisi lagi.

Ditolak lagi - revisi lagi! menjadi pengalaman tersendiri. Yang berjibaku memulai usaha kecil-kecilan, tertatih timbul tenggelam tanpa dukungan Investor. Namun banyak juga yang terlihat mudah menggaet Investor, bahkan gonta-ganti.

Beberapa Pebisnis ditinggalkan Investor karena salah paham. Bermula dari bertukar pemikiran hingga sepakat berbisnis ditafsirkan bagaikan hubungan kekerabatan. Berakhir saat Investor menarik modal karena Pebisnis masih menganggap Investor sebagai kerabat bukan sebagai profesional yang punya tanggungjawab legalitas fidusia.

Beberapa Investor mendanai Pebisnis ber-ekspansi dengan memperjelas batas ruang kekerabatan diantara keduanya. Dalam praktik malah menjadikan Pebisnis bingung, beberapa malah menghadapi tuntutan hukum karena modal usaha dipakai untuk membangun tugu patung moyang kakeknya. Kisah sedih jadinya!

Investor memposisikan Pebisnis sebagai rekanan untuk meraih untung, minimal remis - pulang pokok, sedangkan Pebisnis masih menganggap Investor sebagai kerabatnya. Seyogianya Pebisnis menyesuaikan diri mengikutkan dinamika aturan dunia usaha.

Investor memposisikan diri sebagai penantang sekaligus pendukung agar Pebisnis bertumbuh. Bahkan membimbingnya saat memutuskan jika harus keluar koridor – delapan enam, demi tuntutan bisnis! Pebisnis seyogianya tumbuh menjadi professional maupun secara pribadi.

Investor meninggalkan Pebisnis jika sembrono mengelola modal usaha. Beberapa malah harus mendepaknya keluar dari bisnis yang dirintisnya, menggantikannya dengan yang dinilai lebih berkompeten. Pahit!

Gambaran yang sebegitu pahit menjadikan beberapa Pebisnis memilih untuk tidak melaporkan tiap situasi sulit ke Investor. Berharap ketiban mukzijat untuk bisa membalikkan keadaan, gagal dan kian merugi. Harap-harap cemas! Memaksanya menjadi sangat tergantung pada keputusan Investor. Tiap hal dilaporkan – dirapatkan – mohon petunjuk? Tak berNyali. Terkesan tak bisa memimpin.

Dalam situasi sulit umumnya tiap Investor siap membicarakan alternatif jalan keluar. Memberikan dukungan rekomendasi untuk ditindaklanjuti – atawa ditolak? Sesulit apapun harus ada keputusan demi menyelamatkan perusahaan.

"The goal is not always meant to be reached, but to serve as a mark for our aim."
~Joseph Joubert

Prinsip saling menghormati membawa nilai tersendiri, menjadi kekuatan unik untuk menjembatani kesenjangan pengalaman serta pemahaman konstektual tentang dunia usaha.

Investor Terbaik paham itu!

"Talent alone won't make you a success. Neither will being in the right place at the right time, unless you are ready. The most important question is: 'Are you ready?'"
~Johnny Carson

~Salam Terbaik selalu!
JoinmySFIteam

Kamis, 18 Januari 2018

Yang Diburu Yang Terburuk dari Yang Terbaik?

"Success is getting what you want. Happiness is wanting what you get.”
~Haden

Dimana-mana yang diburu itu adalah Yang Terbaik. Mitologynya mencari yang paling baik dari kumpulan yang Terbaik – normalnya begitu. Kini ini, bertebaran fakta untuk disimak bahwa yang diburu adalah Yang Terburuk. Yakni pelaku yang berkelakuan buruk menyembunyikan borok kelakuan buruknya.

Yang Terbaik diduga - mungkin telah, melibatkan profesional untuk turut mengolah kelakuan buruknya – menjadikannya alot tak mudah diringkus. Bahkan walau telah kuat diduga berbuat buruk pun cuma mesem malenggang - tak terbukti. Malah menjadi pejabat penguasa Nagari.

Yang Terburuk terlihat amatiran, keok terseok-seok digelandang masuk kerangkeng. Didakwa segepok pasal - Pelanggaran!

Yang Terbaik, terkesan profesional. Maka patut diduga bahwa mereka mengerahkan Tukang Olah untuk memoles keburukannya. Dan Yang Terburuk, terkesan remeh anggap enteng akan perlunya layanan jasa profesional mengolah kelakuan buruknya. Lemas dihajar. Dikeruk lagi! Dianggap kurang dermawan berbagi hasil. Slurrrpp,,,malu!

Yang Terbaik, diappresiasi karena menerapkan prinsip kerjasama. Umumnya diperlakukan baik karena libido tinggi gairah berinvestasi. Tak soal muasal dana-nya darimana, apalagi ia tak ngotot mempersoalkan prosentase pembagian keuntungan. Prinsip bagi-bagi, yang penting cucian aman - tak tersentuh! Lima puluh lima puluh pun tak soal. Proyek bersih – bersih!

Yang Terburuk, dicap amatiran bak pesohor kesohor, terbaca sedari awal pertemuan kala Tukang Olah datang mengusung layanan jasanya. Tawaran bersih-bersih direspon curiga berlebihan, terkesan takut-takut tak tau malu. Minta waktu mikir-mikir. Kemudian mengundang lagi untuk dijejali tanya tentang ApaIni-ApaItu. Buruk nian - menjengkelkan!

Yang Terbaik, bersikap hati-hati. Santun minta ijin memaparkan alasan yang mendasari minatnya ber-investasi. Transparan, terkesan dipenuhi sesal tapi tak takut – memalukan! Tak terlalu perduli wangnya akan diinvestasikan ke proyek apa. Hanya minta agar bisa dikembalikan di tiga tahun mendatang! Tolong diatur ya,,,,! Elegan, tak heran jika banyak kalangan siaga menjaga kesehatannya.

Yang Terbaik, mengakui kian semakin banyak kemudahan yang diperoleh. Menjadikannya lebih lincah dan kian bergairah. Keruk lagi dan ber-investasi lagi. Statusnya menjadi repeat-client. Pertanda kerjasama terjalin rapi.

Agar terlihat pilon, enggan berlagak bak investor tokcer – riel player. Kerap minta dibuatkan uraian detil proyek yang dimodali - proyek apa itu?

Yang Terbaik, sigap memayungi kelakuannya dengan alat kelengkapan seperti ‘trouble-shooter’. Satgas yang dikatuai oleh Orang yang paham banyak hal tapi tak terlibat – tiap hal apapun. Itu saja!

Tugas si ‘trouble-shooter’ terkesan mudah. Sederhananya, jika investasi itu dirancang akan berbentuk ‘joint operation’ – akan dia lengkapi dengan satgas yang berperan sebagai ‘joint operation management committe’. Jika berbentuk ‘joint venture’ – maka akan dimasukkan langsung mendanai proyek yang tengah berlangsung. Dikawal satgas ber-Tupoksi sebagai ‘finance controller’. Professional lah - ‘segala bisa’!

Yang Terbaik, tak lelah berburu informasi tentang penyedia layanan jasa pendampingan sebagai ‘business arranger and strategic adviser’.

Waduh! Nyaris lupa jualan! Jadi rendong iseng membeberkan pernak pernik jagad raya permodalan – dan yang melingkarinya.

"Don’t let what you cannot do interfere with what you can do”.
~John Wooden

~Salam Terbaik selalu!
Join-mySFI-team

Minggu, 14 Januari 2018

Cara Profesional Mendapatkan Modal usaha?


"Nothing worthwhile come easily…Work, continuous work and hard work, is the only way to accomplish results that last.”
~Hamilton Holt

Lajimnya saya diundang ngopi santai untuk kemudian dijejali berbagai rupa macam Tanya - seputar jagad investasi. Berjam-jam dihajar soal dunia permodalan usaha.

Semisal, Bang saya ada sekian tolong taruh diproyek yang aman? Bang, tolong modal saya diamankan? Tolong carikan rekanan yang bisa dipercaya? Bang, tolong carikan modal tanpa bunga, tanpa proses bertele-tele? Oom, saya perlu daftar asset untuk tambahan jaminan? Oom, proyekku mandek, sudah habis-habisan, tolong carikan jalan?

Fokus interaktif mencungkil-cungkil jagad permodalan. Semua senada, berbeda pada cara ber-tanya-nya saja. Semisal; bagaimana saya bisa yakin kalau proyek ini bakal untung? Ada lagi; Bang orang ini teman dari teman keluarga - dari pihak istri, bawa proyek butuh sekian – tolong saya bagaimana agar bisa percaya orang ini benar kerjanya?

Yang spesifik repeat-client umumnya minta dibuatkan uraian gambaran detil dari sesuatu sistim yang memudahkannya mengawasi modalnya. Terkadang diundang untuk posisi ‘trouble-shooter’.

Tetapi,,, yang ini berbeda - jauh berbeda!

Kali ini dijejali keluh kesah sedari ragam proyek yang susah payah dikerjakan hingga ‘prosentase retensi’ yang bikin gundah.

Bang, itulah proyekku dan pernak-perniknya. Sebenarnya saya ini tengah nelangsa karena diperlakukan secara tidak senonoh. Terdiam!

Katanya, baru-baru saya tolak tawaran modal karena caranya kurang berkenaan -katanya– tidak dikenai bunga, tidak perlu jaminan. Simpel. Keuntungan dibagi tujuh puluh tiga puluh untuk saya. Tidak ada penarikan ditahun berjalan. Proyek selesai, diaudit, keuntungan di ‘deferred’ - untuk tambahan kapasitas.

Saya sudah serahkan CV, pengalaman kerja proyek dan copy rekening Bank setahun terakhir. Tetapi, dilongok pun tidak!

Katanya, jika ada SPMK - seberapa pun, dimodali. Sudah bertemu berkali-kali dengan A-2-nya, tangan kanan sipemodal.

Ini dari dia, joint operation agreement – tinggal tandatangan. Jika memilih joint venture – yang ini yang diteken. Langsung dimodali, besaran jumlahnya diisi di ‘formulir permintaan’ – ini suratnya.

Saya disodorkan bundel file - tanpa nama, hanya kuasa hukum saja. Tolong bantu bang, cari tahu siapa dibalik ini. Siapa dia? bandar apa? Tidak seyogianya saya dibeginikan - Saya ini profesional!

Saya diberi nama A-2-nya, No-Tel dan Email-nya. Saya langsung tahu - itu perusahaan baru kakaknya. Sekantong tapi dari botol yang berbeda. Pengusaha sukses juga.

Selang sehari, si kakak mengundang. Dia akui, itu dia tempuh karena lelah dengan keluhan si-mama-nya. Si-papa pengganti sudah tiada. Si-mama-nya Ngilu katanya melihat si-Adik lelah memodali proyeknya. Pulang larut saban waktu tak juga kaya raya. Sebagai si-kakak dia dianggap minus kasih sayang  - takada empaty!

Hingga akhirnya dia menugaskan orangnya mengusung tawaran modal dengan berbagai kemudahannya. Kaget dia ditolak karena aroma ketersinggungan. DNA-nya sama, dominan si-mama.

Saya tertantang situasional yang sedemikian unik. Bahwa, walaupun tiap pengusaha butuh modal namun mereka kukuh dengan etikanya sendiri. 

Masing-masing berjuang dengan gaya langkahnya sendiri.

"Nothing can add more power to your life than concentrating all of your energies on a limited set of targets”.
~Nido Qubein

~Salam professional!
It is FREE
 

Rabu, 10 Januari 2018

Kekhawatiran Anda Taklah Beralasan!

"The difference between a successful person and others is not a lack of strength, not a lack of knowledge, but rather a lack of will."
~Vince Lombardi

-->
Rasa khawatir berlebihan kerap memperdaya kedigdayaan kita, merusak potensi mukjizat keperkasaan kita. Dan akan terus begitu itu, tatkala kita bersikukuh bahwa hanya kita seorang yang paling tahu permasalahan kita, yang paling tahu bagaimana cara mengatasinya.

Orang lain bisa apa? paling hanya akan berkata mestinya begini, setelahnya begitu, nah seperti itu! Untuk kemudian terbahak mentertawakan.

Sebegitu itu sesatnya kita dalam berpendapat. Dan ketika tersadar sungguh kita memerlukan orang satu lainnya, mereka yang menyayangi telah menjauh pergi demi menjaga keagungan privacy kita.

Nelangsa, jika tiap memulai hari kita dipenuhi rasa khawatir, dipenuhi rasa cemas tentang - harus bagaimana lagi kah? Serasa tiap orang mentertawakan ketidakmampuan kita.

Seolah tiap kolega bakal berkata, kita ini hanyalah produk gagal - yang tak bisa apa-apa. Sedih tak berkesudahan.

Kian semakin khawatir terbebani pikiran bagaimana kita dimata orang-orang. Bagaimana tanggungjawab akan ketidaklengkapan, akan ketidakmampuan memenuhi kewajiban kepada keluarga, bagaimana dengan sekolah anak-anak, tagihan air, listrik yang kian naik tak turun-turun. Terbelit sakit , seolah kita tak maksimal berusaha.

Dan kian khawatir akan banyak hal yang tak kita miliki. Khawatir akan tiap hal yang orang lain miliki. Khawatir akan tiap hal yang dulu kita pernah miliki. Tersandera kecewa. Nelangsa.

Kita lupa, bahwa sesama lainnya juga terbebani alam pemikiran yang kurang lebih sama, diperhadapkan pada berbagai hal yang sama. Harap-harap cemas juga. Diwariskan rasa khawatir juga, berbeda pada kualitas saja. Konon katanya, itu bukti pertanda kita masih normal dan Dunia terus berputar mewarnai kehidupan siang malam.

Kita kerap terobsesi akan berbagai hal yang mungkin salah, hal-hal yang mengecewakan. Terbebani kebiasaan menduga-duga alam pemikiran apa yang mungkin ada di benak orang lain - tentang kita, tentang ketidakmampuan kita, dst. Apa kata dunia? Terfokus akan hal yang negatif saja.

Kita lupa, mungkin itu, hanya sesuatu kemungkinan saja. Mungkin itu, tidak akan mungkin terjadi. Jika pun terjadi, mungkin dampaknya tidak seburuk yang dibayangkan.

Mari periksa rasa khawatir itu lebih jauh lagi. Ketika hal-hal negatif itu mungkin benar terjadi, mungkin itu akan membawa kita ke pengalaman berharga dan mungkin itu akan menjadikan kita kian kuat.

Ini masalah keinginan semata. Keinginan dini untuk bisa lebih kuat. Mari berlatih berpikir positif, menjadikan nya bak ritual positif - bahwa kita baik-baik saja, dan hidup akan lebih baik.

My Inspiration For Today!
"Starting the day with a positive thought sets the tone for everything that follows. Instead of focusing on your troubles and worries, you can think about your blessings. Take a few minutes when you first wake up to think about the many good things in your life".
~Ellis Peters

Hotman's Collections
~Salam sukses selalu~
= = = = = = =

Kamis, 04 Januari 2018

Selamat Tahun Baru 2018 – Cukup-kah Alasan Anda Berbahagia?

--> My Inspiration For Today!
"Starting the day with a positive thought sets the tone for everything that follows. Instead of focusing on your troubles and worries, you can think about your blessings. Take a few minutes when you first wake up to think about the many good things in your life".
~Ellis Peters

Anda perlu kesiapan untuk bisa memenangkan persaingan bisnis ditahun ini.

Melawan kemalasan:
Anda boleh tidak percaya, tetapi tingkat kemalasan dipercaya akan menyerang hebat dan menghantui para pelaku bisnis di tahun ini, dan Anda harus bisa memenangkannya dengan mengatur ritme tingkat kerajinan Anda menggeluti bisnis Anda.

Memenangkan hati pemirsa:
Menangkan peminat bisnis Anda dengan berbagi ceritera melalui berbagai platform yang tersedia seperti facebook, instagram, youtube, dll. Tidak hanya sekedar menambah daftar panjang alamat E-mail Anda.
Daftar E-mail mungkin masih menjadi faktor utama tetapi jangan abaikan jalur lainnya untuk menarik minat dan menghasilkan. Menonjolkan konten harian di berbagai platform sangat disarankan.

Membuat Konten Harian:
Melihat-lihat berbagai konten harian pada berbagai platform menjadi jalan termudah untuk menghabiskan waktu, tak cukup alasan untuk berhenti menyerapnya bahkan walau itu tidak ada kaitan dengan bisnis Anda. Dan Anda harus menjadi orang yang menciptakan konten harian itu, baik itu melalui blogging atau video tentang berbagai produk seperti pelatihan atau perangkat layanan lainnya.

Mulai Memulai:
Jangan tunggu hingga produk sempurna atau menunggu hingga saluran penjualan terbentuk tetapi mulailah menjual - sesegera mungkin, sisanya menyusul di langkah berikutnya. Memulai adalah hal tersulit, itu kunci utama.

Perfeksionisme akan membunuh ide bisnis Anda bahkan sebelum ide bisnis itu dijalankan. Lengkapi dengan ideologi berbisnis semisal: ‘Ready, Aim’. Hindarkan ‘Liar, Fake, Scammer’ - karena akan selalu ada scammers online hingga sulit membedakan siapa yang benar mengusung hal sebenar.

Tidak perlu kaget, scammers business ada di bisnis on-line dan off-line. Tetapi sejarah tidak pernah mencatatnya pernah menang terhadap kebenaran. Usung lah kebenaran. Jangan kecewa jika diawal-awal orang sinis dan curiga, seiring waktu realitas bisnis Anda akan membuktikan keabsahannya.

Barukan Skill Anda:
Bisnis membutuhkan keterampilan tertentu. Jangan resisten! Sediakan waktu mempelajari skill tertentu atau, Anda bisa memilih meningkatkan keterampilan yang sudah dimiliki. Keterampilan adalah assets bisnis terbesar.

Keterampilan Anda tidak hanya terletak pada kemampuan membangun daftar E-mail, bukan pula terletak pada jenis produk bahkan bukan pada jaringan network penjualan. Namun, keterampilan membuat produk, keterampilan menulis email penjualan akan berbeda jika digabungkan dengan keterampilan mengkampanyekannya. Atau, berinvestasilah mengiklankan bisnis Anda.

Ritual Harian Anda:
Menjadikan bisnis Anda bagaikan ritual harian akan membawanya ke ranah tersendiri. Diawal-awal kewajiban harian itu akan terasa membebani, tetapi seiring waktu sedikit demi sedikit akan terasa ada yang kurang kala ketika Anda memulai hari tanpa terlebih dahulu mengecek aktivitas bisnis Anda.

Anda bisa memulai dengan menghadirkan kata tanya:
Apa yang mengkhawatirkan dihari besok? atau Apa yang membuat Anda berbahagia dihari ini?”
Temukan dan catatlah rinciannya, diawal tahun 2019 Anda akan menemukan alasan yang membenarkannya!

Hotman's Collections

~Salam positif selalu!