Hukum Tarik-Menarik:
“Pada dasarnya hukum tarik-menarik
mengatakan bahwa kemiripan akan menarik kemiripan. Tetapi sebenarnya kita
berbicara di tingkat pemikiran.”
~Bob Doyle
“Tugas kita sebagai manusia adalah
memelihara pikiran-pikiran yang kita inginkan, memperjelas apa yang kita
inginkan di dalam benak, dari situ kita mulai membangunkan salah satu hukum
terbesar di Semesta, dan itulah hukum tarik – menarik. Anda tidak hanya menjadi
apa yang paling Anda pikirkan, tetapi Anda juga meraih apa yang paling Anda
pikirkan.”
~John Assaraf
Kekuatan pikiran kita dapat mengubah
segalanya bahkan hidup kita sekarang ini pun adalah cerminan pikiran-pikiran di
masa lalu. Demikian dikutip dari Rhonda Byrne: "the Secret”, Rahasia, Gramedia
Pustaka Utama, Nopember 2008. Hal.8-9
Tiap satu dari
kita memiliki jangkauan pemikiran sendiri-sendiri, tidak heran jika sepaham atau
sepakat, bahkan jika menolak akan kemurnian hukum tarik-menarik sesuai penjabaran
diatas.
Tahap panjang
pengajaran hingga pembinaan bermula sedari lingkungan keluarga hingga selama
usia sekolah. Jangkauan pemahaman akan berbagai hal digodok dan diperkaya oleh
pengalaman hidup di lingkungan sehari-hari. Alam pemikiran menjadi wilayah penggodokan
utama, pemahaman baru yang timbul menjadi batas wilayah nalar penalaran, semua
terpampang pada rentang titik bagaimana kita mengamalkannya. Sepanjang badan
mengandung hayat, hidup kita diisi tahap demi tahap pembelajaran yang tidak
berkesudahan. Melelahkan bukan?
Separuh usia kita
berdayakan dengan muatan pengamalan. Hitam putih warna–warni buah penempaan panjang
terpampang menghiasi dinding perjalanan hidup, hingga masanya tiba untuk
diselaraskan ulang. Kita kembali mengajarkannya ke anak-anak kita hingga mereka
tiba di tahapan selepas usia sekolah juga. Patokan normalnya iya begitu itu! Hidup
adalah pengulangan, berulang dan berulang-ulang sedari generasi ke generasi di era
berikutnya. Tak kala tiba saatnya, tiap orang diberi hak ‘tak kuasa menolak’ itulah
warisan abadi si penghias peradaban. Tak ada grasi untuk itu.
Sejatinya, cukup
alasan untuk kita sudi mengisi hidup dengan kebajikan untuk beragam kebutuhan
akan kebaikan. Tetapi hidup tak kenal lelah mengarahkan kita ke berbagai
wilayah yang banyak kadang tidak terjangkau alam pemikiran. Kadang-kadang
kebejatan malah membuahkan kebejatan lainnya untuk alasan sesuai bab pasal ayat
kesekian – berikut penjelasannya. Penistaan yang menistakan kemuliaan hidup
menjadi tantangan utama. Tak heran karena
tiap sesuatunya kerap kita perhadapkan pada kewajaran tetapi diawali dari titik
tidak wajar. Tidak wajar ini, harus wajar
agar layak, bagaimana? menjadi awalan pembuka sekaligus penutup rona
penalaran yang diagung-agungkan sepanjang hidup. Selamanya alam pemikiran diperhadapkan
dengan kemurnian sanubari yang tak pernah tersentuh hal apa pun.
Andai saja nurani
bisa diarahkan menggenangi memenuhi alam pemikiran, pendidikan tidak akan bisa
meracuni penalaran, dan pengamalan tidak akan pernah membutuhkan pengadilan.
Hukuman terberat sejatinya adalah kekecewaan, hanya itu awal muasal dari rasa
kecewa, dan ia itu yang memupuk masuk ke ranah hukum tarik-menarik hingga
menimbulkan bentuk kekecewaan satu lainnya, dan terus berjalan sedemikian itu
seiring ‘Ki Waktu’ memberangus ‘Ki Amat’.
~Salam hangat selalu.

