"Most people give up just when they're about to achieve success. They quit on the one yard line. They give up at the last minute of the game, one foot from a winning touchdown."~H. Ross Perot
Pada proses mencapai sukses keberhasilan umumnya sebagian besar rangkaian kegiatan terjadi di belakang layar, lajimnya begitu. Tahapannya berjalan dalam debaran adrenalin semangat perjuangan, dan ketika berhasil sontak kegiatan dipenuhi hingar bingar euforia perayaan, semua beban serasa sirna oleh gejolak kegembiraan.
Tak berselang lama, semua berubah, gaya hidup bahkan lingkungan tempat tinggal berubah. Kehidupan sehari-hari wajib patuh memenuhi kegiatan mengikutkan protokoler, cara makan, cara berjalan bahkan cara berbicara semua diatur. Tiap saat dikelilingi sekretaris hingga pengawal pribadi.
Orang-orang yang semula mengenal sebagian bergumam bingung tak paham kenapa kini tak lagi bebas diajak ngobrol? kenapa kini segala kegiatannya dipenuhi aturan dan peraturan? Terbelenggu tali kekang sukses keberhasilan!
Mari lihat belenggu sebelumnya!
1. Belenggu Penderitaan:
Sejarah orang-orang sukses bermula dari keberhasilan mereka mengubah dera belenggu penderitaan menjadi sesuatu. Mereka berhasil mengubah hambatan, jejak tentang hal ini bisa ditemukan dalam buku-buku kisah para orang-orang sukses pengubah wajah dunia.
Maha karya bahkan penemuan gemilang dihiasi berbagai ceritera kegagalan yang berulang-ulang, lagu-lagu top populer bahkan karya filem serta bintang filem yang menjadi ikon dunia perfiliman menorehkan karirnya dari gelimang belenggu penderitaan. Perjuangan membebaskan diri dari dera rasa sakit banyak mengilhami pencapaian sukses keberhasilan.
Pada ilmu psikologi dikenal ‘pasca-trauma’ bahwa orang-orang yang terbebas dari belenggu penderitaannya bisa berubah menjadi lebih kreatif, lebih bersyukur, lebih mampu mengontrol emosi bahkan kepribadiannya menjadi lebih kuat serta lebih berakal. Penderitaannya memaksa dirinya untuk melihat dunia dari sudut persfektif yang berbeda, menjadikannya bagai pemula dengan persfektif yang lebih aggresif, tahan banting dan menjadi lebih kreatif.
2. Belenggu Sikap:
Jamaknya, kemampuan diagnosis alam pemikiran kita akan jauh lebih meningkat bila kita bisa fokus pada hal-hal yang positif. Sifat yang optimis lebih cepat berhasil dibandingkan dengan sikap pesimis. Dalam hal ini jiwa psikologis kita akan lebih baik melakukan hal-hal yang terbaik kala kita bersikap positif bukan kala bersikap negatif atau bahkan netral.
Lebih efektif jika kita berhasil melepaskan diri dari enerji emosi negatif, bila perlu kita bahkan diharuskan bisa menerima sesuatu keadaan jika tak lagi bisa mengubahnya.
Kemampuan mengelola pola pikir menghadapi masalah dinilai jauh lebih penting dibandingkan kemampuan mengelola masalah.
3. Belenggu Kehendak:
Tiap kita pasti pernah bertanya: “Apakah kita bisa menghilangkan semua masalah berserta segala permasalahan awal mula musabab dari masalah-masalah itu?”
Jawabannya, mungkin itu tidak mungkin bisa dilakukan disepanjang hidup kita, terutama karena masalah-masalah itu sudah ada jauh sebelum kita ada. Beberapa bahkan dinilai keberadaannya diperlukan untuk menyibukkan kita dalam hidup ini, apalagi hidup adalah sesuatu masalah hingga pada tataran tertentu kita seolah hidup untuk menangani masalah-masalah itu.
Orang-orang sukses lajimnya melakukan sesuatu berdasarkan rencana karena dinilai akan lebih bermanfaat dibandingkan dengan yang tidak terrencana. Karenanya sibukkanlah diri sesuai rencana agar produktif serta manajemen waktu lebih efektif.
Konon katanya, kita telah terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang sama sekali tidak ter-rencana hingga habis waktu tersia-sia untuk hal-hal yang sama sekali tidak dimengerti, “kenapa?”.
Beberapa bahkan tidak tahu apa yang dikehendaki dalam hidupnya hingga tak mau pusing bagaimana ia menjalani hidupnya. Karenanya, mari belajar untuk mengetahuinya.
"You can experience rejection for free or you can do it for money. Nobody likes rejection but it is a fact of life in just about every thing you do. In business, deal with it or stay poor."~Jack M. Zufelt
~Salam belajar selalu!


