Jumat, 24 Agustus 2018

ANDAI KITA PAHAM MAKNA KATA BELENGGU

"Most people give up just when they're about to achieve success. They quit on the one yard line. They give up at the last minute of the game, one foot from a winning touchdown."~H. Ross Perot

Pada proses mencapai sukses keberhasilan umumnya sebagian besar rangkaian kegiatan terjadi di belakang layar, lajimnya begitu. Tahapannya berjalan dalam debaran adrenalin semangat perjuangan, dan ketika berhasil sontak kegiatan dipenuhi hingar bingar euforia perayaan, semua beban serasa sirna oleh gejolak kegembiraan.

Tak berselang lama,  semua berubah, gaya hidup bahkan lingkungan tempat tinggal berubah. Kehidupan sehari-hari wajib patuh memenuhi kegiatan mengikutkan protokoler, cara makan, cara berjalan bahkan cara berbicara semua diatur. Tiap saat dikelilingi sekretaris hingga pengawal pribadi.

Orang-orang yang semula mengenal sebagian bergumam bingung tak paham kenapa kini tak lagi bebas diajak ngobrol? kenapa kini segala kegiatannya dipenuhi aturan dan peraturan? Terbelenggu tali kekang sukses keberhasilan!

Mari lihat belenggu sebelumnya!

1. Belenggu Penderitaan:
Sejarah orang-orang sukses bermula dari keberhasilan mereka mengubah dera belenggu penderitaan menjadi sesuatu. Mereka berhasil mengubah hambatan, jejak tentang hal ini bisa ditemukan dalam buku-buku kisah para orang-orang sukses pengubah wajah dunia.

Maha karya bahkan penemuan gemilang dihiasi berbagai ceritera kegagalan yang berulang-ulang, lagu-lagu top populer bahkan karya filem serta bintang filem yang menjadi ikon dunia perfiliman menorehkan karirnya dari gelimang belenggu penderitaan. Perjuangan membebaskan diri dari dera rasa sakit banyak mengilhami pencapaian sukses keberhasilan.

Pada ilmu psikologi dikenal ‘pasca-trauma’ bahwa orang-orang yang terbebas dari belenggu penderitaannya bisa berubah menjadi lebih kreatif, lebih bersyukur, lebih mampu mengontrol emosi bahkan kepribadiannya menjadi lebih kuat serta lebih berakal. Penderitaannya memaksa dirinya untuk melihat dunia dari sudut persfektif yang berbeda, menjadikannya bagai pemula dengan persfektif yang lebih aggresif, tahan banting dan menjadi lebih kreatif.

2. Belenggu Sikap:
Jamaknya, kemampuan diagnosis alam pemikiran kita akan jauh lebih meningkat bila kita bisa fokus pada hal-hal yang positif. Sifat yang optimis lebih cepat berhasil dibandingkan dengan sikap pesimis. Dalam hal ini jiwa psikologis kita akan lebih baik melakukan hal-hal yang terbaik kala kita bersikap positif bukan kala bersikap negatif atau bahkan netral.
Lebih efektif jika kita berhasil melepaskan diri dari enerji emosi negatif, bila perlu kita bahkan diharuskan bisa menerima sesuatu keadaan jika tak lagi bisa mengubahnya.

Kemampuan mengelola pola pikir menghadapi masalah dinilai jauh lebih penting dibandingkan kemampuan mengelola masalah.

3. Belenggu Kehendak:
Tiap kita pasti pernah bertanya: “Apakah kita bisa menghilangkan semua masalah berserta segala permasalahan awal mula musabab dari masalah-masalah itu?”

Jawabannya, mungkin itu tidak mungkin bisa dilakukan disepanjang hidup kita, terutama karena masalah-masalah itu sudah ada jauh sebelum kita ada. Beberapa bahkan dinilai keberadaannya diperlukan untuk menyibukkan kita dalam hidup ini, apalagi hidup adalah sesuatu masalah hingga pada tataran tertentu kita seolah hidup untuk menangani masalah-masalah itu.

Orang-orang sukses lajimnya melakukan sesuatu berdasarkan rencana karena dinilai akan lebih bermanfaat dibandingkan dengan yang tidak terrencana. Karenanya sibukkanlah diri sesuai rencana agar produktif serta manajemen waktu lebih efektif.

Konon katanya, kita telah terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang sama sekali tidak ter-rencana hingga habis waktu tersia-sia untuk hal-hal yang sama sekali tidak dimengerti, “kenapa?”.

Beberapa bahkan tidak tahu apa yang dikehendaki dalam hidupnya hingga tak mau pusing bagaimana ia menjalani hidupnya. Karenanya, mari belajar untuk mengetahuinya.

"You can experience rejection for free or you can do it for money. Nobody likes rejection but it is a fact of life in just about every thing you do. In business, deal with it or stay poor."~Jack M. Zufelt

~Salam belajar selalu!
Join-my-sfi-team!

Selasa, 07 Agustus 2018

ANDAI KITA PAHAM MAKNA KATA SELFISH

Success on any major scale requires you to accept responsibility...In the final analysis, the one quality that all successful people have...is the ability to take on responsibility."
~Michael Korda

Kata ‘Selfish’ sering diartikan sebagai sikap egois, perilaku yang oleh orang lain dinilai menyimpang karena lebih mementingkan diri sendiri. Kata egois dikenakan untuk menggambarkan tabiat seseorang yang tidak perduli akan keberadaan sekitar apalagi kepentingan orang-orang di lingkungannya.
Sungguh tak sehat dia!

Diperistiwa lain, seseorang dikenai tuduhan telah berperilaku ‘selfish’ karena terdorong oleh perasaan tidak suka. Penilaian yang cenderung subyektif. Pada peristiwa lainnya, perilaku ‘selfish’ terlihat bagaikan upaya berpura-pura menjadi seseorang yang bukan dirinya tetapi berusaha melindungi dirinya. Perilaku yang dia pikir diperlukan untuk menekan hunjaman beban rasa khawatir akan imbas suatu kenyataan dan takut akan dihakimi oleh keadaan.
Semakin tak sehat kah?

Namun ada juga perilaku ‘selfish’ untuk menyenangkan diri si orang itu sendiri, terdorong oleh rasa bahagia bahwa dia sukses menuntaskan sesuatu tugas. Dan dia memaksakan keberhasilannya agar diterima khalayak bahwa itu adalah prestasinya, bahwa dia lah orangnya. Bahwa itu harus diketahui orang-orang. Dia bahkan berkata tidak penting menjadi juara, julukan itu dia abaikan karena juara bisa siapa saja, tetapi ini adalah tentang dia, tentang kemampuannya. Menjadi dirinya lebih penting dari apapun!
Sakit kah?

Sekilas perilaku ‘selfish’ terlihat bagaikan penyakit. Jadi jika Anda berpikir orang itu sakit atau mengidap gangguan kejiwaan yang memerlukan penanganan psikiater, tak berarti Anda menjadi tak sehat. Mungkin Anda benar!

Tetapi ada juga yang bilang perilaku ‘selfish’ itu adalah dorongan untuk membahagiakan orang lain. Menyenangkan keluarga, teman-rekan bahkan demi menyenangkan hati orang banyak. Atau untuk memuaskan pelanggan, untuk menyenangkan hati pemodal pendana atau demi bos penguasa. Walau terdengar berlebihan tetapi sulit membantah jika ada orang yang mengabaikan dirinya demi mencapai sesuatu. Dunia penjilat punya motto bahwa ia terlahir untuk membahagiakan orang lain walau jika harus mengabaikan kebahagiaan dirinya.

"Have you ever thought there'd be a day when people think a different way? And on that day, what would you say, if you still thought the other way?"
~Paul McMillan

Pada skala tak terukur, perilaku ‘selfish’ diduga karena keberhasilan mendengarkan apa yang orang lain katakan untuk dilakukan dengan hidupnya. Sesuatu indoktrinasi menanamkan gagasan pemikiran yang harus dilaksanakan tanpa pengecualian, walau jika itu harus mengorbankan hidup orang lain.

Menjadi tidak terukur ketika gagasan itu dipraktikkan untuk menyakiti orang-orang yang mengasihinya, dia menjadi goyah. Terguncang akan konsekuensi bahwa kebahagian orang lain itu adalah untuk membahagiakan dirinya dan dia gagal membahagiakannya. Penjilat lebih tersiksa jika dia gagal membahagiakan Bos-nya.

Ada juga yang meyakini bahwa perilaku ‘selfish’ lebih dikarenakan karena seseorang itu masih hidup dimasa lalu, dikekang penyesalan gelisah dihantui konsekuensi masa lalu. Menolak belajar dari kesalahan masa lalu dengan membantah keberadaan masa depan. Baginya, masa depan tak beda dengan himpitan beban imbas peristiwa masa lalu. Derita batin yang tak terhingga hingga takut tak akan pernah menemukan lagi hidupnya yang dulu. Memilih tak melepaskan kenangan masa lalu walau ia sadar itu tak akan pernah kembali karena telah disita oleh waktu. Dikerangkeng masa lalu.

Ada lagi yang berpendapat bahwa perilaku ‘selfish’ terjadi karena terdorong oleh pengakuan bahwa itu bukan pikirannya bahkan bukan perasaannya. Menolak memiliki pikiran bahkan membantah punya perasaan hingga menolak dimintai tanggungjawab. Parah!

Dan kian parah kala yang berperilaku ‘selfish’ mengaku bahwa sejatinya dia sadar akan hal itu, tetapi dia begitu karena dia telah tidak adil terhadap dirinya karena telah mensia-siakan hidupnya, menghabiskan waktu dengan orang-orang yang tak berguna. Menurutnya sudah tak lagi punya waktu untuk bisa lebih baik selain dari berperilaku ‘selfish’.
Agak ganjil tetapi genap!

Dan kian semakin seru untuk terus belajar lebih banyak lagi!
~Salam belajar selalu!
JoinMySFITeam

Sabtu, 04 Agustus 2018

ANDAI KITA PAHAM MAKNA APATIS

“Hanya orang-orang yang memberi kesempatan kebahagiaan hadir ditengah-tengah kehidupannya yang akan bisa mengecap apa arti kata bahagia”~Hotman Sihombing

Para Tetua kerap berpesan: “Hidup adalah perjuangan. Baik atau buruk itulah pilihan”! Bahagia bukan berarti tak bermasalah tetapi kemampuan mengatasinya timbul dari kejujuran yang terpelihara. Hadapilah dengan apa yang dimiliki, bukan karena apa yang akan dimiliki atau oleh karena apa yang pernah dimiliki.

Mungkin kita pernah mendengar seorang teman bergumam,: “hingga kini saya terus mencari cara terbaik agar berhenti menyalahkan diri sendiri. Saya tak akan henti berusaha mengubah pola pikir serta mentalitas diri, dan akan terus begitu. Mungkin tak akan saya pernah tahu bahwa saya telah berhasil mengubahnya tetapi saya yakin itu harus dilakukan, dan tak akan berhenti belajar tentangnya. Akankah saya berhasil?

Dilain waktu teman itu kembali bergumam,: “Saya tengah berusaha mengubah kisah hidup saya. Mengubah segalanya! Saya tak akan berhenti menyatakan ke diri sendiri tentang hal yang saya kehendaki yang ingin saya lakukan. Saya terus bergerak menemukan jalan terbaik menuju hidup yang lebih baik dengan cara yang lebih baik. Akan berhasilkah?”

Sekali waktu kita mendengar dia bertanya kepada seseorang: “jadi bagaimana dia melakukannya? bagaimana dia bisa bangkit mengatasi rintangan?

Dan selanjutnya dia bergumam,: “Salut, dia berhasil menggeser pola pikirnya”. Itu membuatnya menjadi lebih bertanggungjawab akan hidupnya. Tak lagi menyalahkan dirinya, dan itu yang mengubahnya menjadi tauladan bagi sesama satu lainnya. Siapkah saya?

Meskipun tak ada cara seragam untuk semua tetapi kita tahu ada yang bisa digunakan untuk mengubah pola pikir kita. Apalagi tiap kita, masing-masing punya kisah dan pengalaman sendiri. Mungkin perlu masukan, mungkin bisa digunakan sebagai panduan awal pemberangkatan. Itu pun, hanya jika Anda setuju. Sebagai berikut:

Ini Yang Sebenarnya:
Mungkin ini terdengar lucu kala kita mengungkapkan diri kita ke diri sendiri. Tetapi itu syarat awal karena tak mudah mengajak diri sendiri memasuki Alam Sadar dan menjadikan diri kita sadar sesadar-sadarnya. Sulit, dan itulah kita. Itulah diri yang kita bangga-banggakan itu. Itulah diri yang tiap saat kita sombongkan itu. Itulah diri yang terkadang menyenangkan bahkan sering menyakiti hati orang satu lainnya. Demikianlah kelakuan kita.

Sanggup-kan?

Ini Narasi Hidup Saya:
Bagaikan narasi skenario filem, mari susun ulang ceritera perjalanan hidup kita, episode demi episode. Membacanya berulang-ulang, mengeditnya mengikutkan perubahan yang diinginkan. Melelahkan, tetapi itulah hidup yang telah kita lalui dan itu yang akan kita ubah menjadi tatanan terbaru untuk dicapai di sisa perjalanan hidup kita episode berikutnya. Naskah itu kita buat secara sadar. Itulah fakta realitas, yang akan memaksa kita untuk lebih menghormati hidup.

Dapatkan masukan dari orang yang benar-benar menyayangi. Hal apa yang membuat disenangi? Itulah realitas. Minta dijelaskan kenapa begitu? Narasi itu akan membuat kita semakin tahu dalam peristiwa apa kita hingga kerap memusuhi diri sendiri dan tidak menghargai hidup kita sendiri.

Jabarkan lagi, lengkapi dengan informasi lain sertakan janji perubahan yang diperlukan. Bisa-kan?

Menjadi Lebih Baik:
Berlatihlah menjalani hidup sesuai itu mengisinya dengan kegiatan bernilai serta perilaku dan kelakuan yang dikehendaki. Teruslah berlatih jika pun masih berbuat salah. Maafkanlah diri sendiri!

Katakan tidak untuk tiap hal negatif, yang kurang produktif. Hargai hidup sendiri. Walau lingkungan sekitar akan terus menghunjam teruslah belajar memahami naskah hidup yang baru. Jangan lagi gagal dan gagal lagi.

Komentar miring sanak keluarga, sahabat bahkan cuitan medsos akan meracuni berusaha menjauhkan kita dari hidup yang dikehendaki. Tetapi kita cukup tangguh jika kita paham akan pentingnya merubah diri. Kita perlu menghargai diri sendiri, tidak malah memusuhinya dengan acuh tak acuh terhadapnya oleh karena kerap terjebak dalam kesalahan yang sama.

Perlu tangguh berkelit dari gurita yang membelokkan kita menjauh dari arah yang hendak dituju. Berani menyatakan bahwa kita tidak seburuk info yang berseliweran di medsos, tidak seburuk yang diberitakan. Jangan mengurusi hal-hal yang tak bisa diubah apalagi jika itu tentang perilaku penghuni dunia. Takkan kita mampu, bahkan Tuhan pun telah berusaha!

Tak perlu menilai sesama, Narasi terbaru itu yang akan memaksa kita belajar agar tidak menafsirkan perilaku orang lain tentang kita, bahkan jika itu tentang komentar miring seseorang mengenai orang satu lainnya.

Sejatinya, hidup itu adalah berteman dan kita terlahir untuk itu, karenanya kita tak perlu memusuhi diri sendiri.

Saatnya belajar menjalani hidup mengikutkan keinginan hati karena tak satu pun kita yang berkehendak dihati akan merusak hidup kehidupan sendiri.

~salam hidup baru!
"The only difference between success and failure is the ability to take action."
-Alexander Graham Bell
sfi4.com