Selasa, 31 Desember 2019

REFLEKSI AKHIR TAHUN, SELASA, 31-12-2019

KIAT MEMBANGUN IMPIAN SENDIRI

Alkisah penguasa tertinggi di Nagari TaeKlan diduga telah berlaku serampangan mengelola Nagari, kebijakannya cenderung kian menjauh dari kepentingan anak bangsa. Inkonsisten. Bahkan konsisten inkonsisten.

Pagi berkata: “engkau begini-engkau begitu” Sore berubah: “karena engkau begini-ini maka begitu-itu”. Lelah sendiri membantah sendiri dirinya sendiri. Bagai salah asuhan konsisten inkonsisten tertekan “janji-janji” mangkrak tak jelas memalukan orang-orang yang punya kemaluan.

Kerap bersandar pada tuduhan radekil radikangkang, terpapar virus “dungu tingkat akut” hingga lucu dan dungu saling mencemari satu sama lainnya. Tak lagi jelas mana “Planga” mana pula yang “Plongo”.

Tentang hal ini, kelak Anda akan menerima catatan sejarah dengan alasan ala kadarnya. Karena kecenderungan “konsisten inkonsisten” menjadi bukti pertanda “kapasitas terbatas”.

Telat loading!

Mari berpindah ke diri Anda sendiri:
“Apakah Anda benar-benar konsisten?
Apakah Anda kukuh dalam berpendapat?
Apakah Anda konsisten untuk inkonsisten hingga Anda kerap beradu argumen dengan pendapat Anda sendiri?”

Anda bebas mengaku. Apalagi jika Anda sudah tidak yakin apakah saldo simpanan ingatan Anda menipis, atau telah habis tergerus serapah deretan “NawaCincai”.

Tergantung Anda! Artikel ini tidak ditujukan untuk menghakimi. Hanya refleksi Selasa di HARI TERAKHIR 31-12-2019, menjelang pergantian Tahun.

Sekiranya merasa terhakimi, mungkin itu dikarenakan masih ada sisa residu ingatan, mungkin dari upload yang paling terakhir, mungkinkah?

Lanjut. Mari ulas seputar diri Anda sendiri.
Sekarang saya akan ajak Anda ke dalam suasana situasi masa kecil.

Kala Anda masih kecil, bercita-cita menjadi Insiniur Kehutanan. Tiap ditanya akan menjadi apa? Kukuh berkata kelak besar akan menjadi Insiniur Hutan. Menjaga hutan dan seisinya.

Seiring waktu, Anda berubah. Setelah dewasa, Anda malah berprofesi sebagai pengusaha meubel kayu, menebangi pohon-pohon, merusak cabang dan ranting-rantingnya, memotong-motong membelah menjadikannya Kursi, Meja, Lemari, Buffet, Meja Rias, Sofa, dll. Menjaga dengan cara merusaknya. Anda  itu sudah terlatih agar konsisten untuk inkonsisten.

Berpikirlah, pikirkan apa yang Anda pikirkan itu.
Setidaknya bantu diri Anda memikirkan dirinya atau periksakan ke analis paradoksial. Akan sial jika Anda sendiri tidak tahu apa yang Anda inginkan.

Pastinya, Anda kini paham apa yang dimaksudkan dengan kerumitan berpikir, akan selamanya mengganggu Anda memikirkan diri Anda sendiri di sisa perjalanan hidup Anda.

Mari tafakur sejenak!
Kembali lagi ke pertanyaan itu: “Sesungguhnya, apa yang hendak Anda tuju dalam hidup ini?”

Geli juga mendengarnya. Anda betul.
Saya juga Geli menuliskan: “Apakah Anda benar-benar tahu apa tujuan yang benar-benar Anda inginkan di sisa perjalanan hidup Anda?”

Andai diijinkan Anda mempertanyakan hal yang sama kepada sejuta orang, mungkin Anda akan terkesima mendapati 99% mengaku tahu dan mengerti tujuan hidupnya, tetapi tidak sampai 1% yang paham apa yang diketahuinya, tentang apa itu – tujuan hidupnya.

Itu dugaan saya.
Anda bebas menduga dengan dugaan yang berbeda. Alasan perbedaannya mungkin akan Anda temukan jika menyimaknya secara seksama.

Kebanyakan orang-orang tidak tahu apa tujuannya hidup. Hanya ikut-ikutan mengerjakan yang dikerjakan orang satu lainnya. Melakukan hal-hal yang setidaknya sama. Cenderung terbius mengatakan hal yang sama dengan mengusung perkataan orang satu lainnya.

Kenapakah?
Tidak akan ada yang tahu jawabannya semua cenderung menduga-duga.
Tak ubahnya seperti Saya saat ini.

DIDUGA karena kebanyakan orang-orang berlaku seolah-olah telah merasakannya, berkata: “telah teruji” oleh peradaban manusia.

Orang-orang melakukan hal yang sama dengan harapan akan merasakan hasil yang sama dan berkecukupan. Tidak perlu bersusah payah melakukan yang berbeda jika malah menjadi sengsara?
Itu dugaan saya.

Dari jaman ke jaman, melakukan hal yang sama. Sedari bangun tidur hingga tidur lagi dan bangun lagi. Mendapati hasil yang sama. Yang itu-itu juga seperti sebelum-sebelumnya. Seperti itu-lah, dan semua baik-baik saja. Itu yang penting.

Yang sulit mengerti saban waktu terlihat menggelinding kesana-sini, seolah kehilangan arah, walau tak punya arah. Akhirnya kelelahan mengaku telah puas melakukan inti kehidupan.

Tidak ada salahnya melakukan hal yang sama seperti kebanyakan orang-orang namun ada konsekuensinya, karena apa yang tampaknya baik untuk kebanyakan orang-orang tidak otomatis berlaku sama untuk yang lainnya.

Tidak semua baik untuk kebaikan semua, seiring waktu semua berubah. Bisa dikarenakan bosan, jenuh dan lelah atau jerih hingga jera, atau karena sesal tak juga berubah walau setelah sekian lama.

Kemudian melakukan hal yang berbeda dan mendapati hasil yang berbeda, yang lebih baik dari sebelumnya. Orang-orang inilah yang dicatatkan sejarah untuk dikenal dunia, dikenang berhasil membangun impian dirinya.

Ini tentang membangun impian diri sendiri!

Mari lihat bagaimana seseorang melakukannya dan menyusunnya menjadi sesuatu yang dia sebut sebagai: “Jadwal Tujuan”.

Terlebih dahulu dicatatkannya apa saja itu tujuan hidupnya. Dari sekian banyak tujuan yang bisa dia ketahui, dipilihnya beberapa yang dia duga akan bisa dia ketahui dengan lebih baik lagi.

Tujuan ini yang lebih bagus!

Setiap hari ditelaah. Ditambahkan lagi sesuai masukan keluarga, dikoreksi lagi berdasarkan saran rekan-rekan serta pengamatan berbagai corak kehidupan orang-orang.

Terkadang bertambah, terkadang dikurangi. Ditambahkan lagi setelah beradu argumentasi dengan para profesional yang dikira lebih mengetahui.

Semakin warna-warni. Timbul keraguan hingga bertanya kesana-sini mencari arahan stratejik yang dianggap mumpuni. Kemudian diperbaharui lagi.

Orang-orang sukses mengakui daftarnya menjadi kian pendek setelah sekian waktu. Diperbaharui tiap waktu, menjadikannya fokus maju untuk meraihnya.

FOKUS akan tujuan, menjadikan tujuannya tergambarkan lebih jelas, kian semakin dimungkinkan mencapainya. Disesuaikan dengan kemampuannya disaat itu. Putaran waktu memberi pengalaman hidup yang lebih baru.

Terbarukan dari waktu ke waktu.
Kematangan berpikir meningkat. Kemampuan ekonomis keuangan membaik dan semakin meningkat.

Secara berkala, Daftar itu ditambah-dikurangkan lagi.
Kian semakin terarah, ritme kehidupan pun semakin meningkat.

Berubah menjadi  DAFTAR IMPIAN HIDUP.
Itu yang mengilhami alam bawah sadarnya untuk konsisten mengejar tujuan hidup yang diimpikannya.

Alam bawah sadar mempengaruhi pertumbuhan emosional, mempengaruhi muatan perilaku diri. PIKIRAN dipengaruhi langsung oleh kedashyatan alam bawah sadar yang mendominasi hasrat pencapaian impian hidup.

DAFTAR Tujuan itu, berfungsi bagai VISI, merangsang alam bawah sadar menggerakkan kekuatan pikiran memvisualisasikan rencana langkah, membuatnya fokus menjalankan MISI mencapainya.

Menjadikannya konsisten dalam ucapan dan tindakan.
Pastinya Anda tahu simpul kaitannya!

Daftar Tujuan itu, bagai papan reklame mengkampanyekan diri Anda. Akan kemana dengan modal berapa, akan bagaimana dengan bekal apa. Harus bagaimana?

Itu bisa disusun dengan cara apa saja, dalam bentuk apa saja yang memungkinkan Anda tiap waktu bisa melihatnya.

Berupa tulisan kata-kata mutiara dari tokoh-tokoh atau figur panutan dalam hidup Anda. Berupa poster idola, gambar rumah, mobil idaman, gadis pujaan, sepeda atau ikan dambaan hati. Tergantung keinginan Anda.

Tentukan, apa-apa saja itu? Pilih salah satu. Letakkan di tempat yang mudah terlihat, tujuannya untuk membangkitkan gelora alam bawah sadar agar fokus mendapatkannya.

Alam bawah sadar akan melamunkannya, mencipta langkah-langkah apa yang diperlukan dan langkah apa yang dimungkinkan dilakukan? Bahkan bisa menghentikan langkah-langkah apa saja yang diDuga berlawanan.

Pastinya Anda kini kian semakin mudah memahami kegunaannya. Tak soal jika membantah: “Tidak semudah itu-lah!!”. Kan perlu ini – perlu itu. Harus begini-begitu dulu setelah sebelumnya itu-ini. Rumitlah! Anda mungkin benar.

Saya duga begitu. Selama menduga-duga bukan pelanggaran Anda bebas menduga-duga tentang apa saja. Tidak akan dikenai Pasal, diduga BAB-nya takada.

Saya akan bantu Anda menduga-duga dugaan yang lebih spesifik lagi.

Patut DiDUGA, Anda itu tidak tahu berapa biaya yang dihabiskan pengusaha untuk papan reklame rumah hunian di setiap prapatan jalan. Mungkin Anda bahkan tidak menghitung berapa jumlah papan reklame yang terpampang, beriklan tentang apa saja. Sepanjang jalan hingga bahkan ke luar kota.

Patut DIDUGA, Anda bahkan tidak menerima jika tujuan iklan yang bombastis secara seperti itu diDUGA bertujuan untuk menabur benih-benih impian sang produsen merasuki alam bawah sadar Anda.

Agar, kala ketika Anda berpikir membeli Rumah, membeli mobil, sepeda motor, hendak menginap di hotel, hendak berbelanja, dan lain-lain, alam bawah sadar Anda akan otomatis menggiring Anda ke papan reklame itu.
Patut diDUGA, begitu itulah.

Mari menduga-duga lebih dalam lagi.
Cuba simak dengan seksama tulisan pada papan reklame itu. Tafakur sejenak, akan Anda temukan propaganda yang merangsang emosional.

Ini tentang “Cara-Jitu” bercocok tanam benih gagasan ide pemikiran di wahana alam bawah sadar Anda. Menyirami tanaman ide pemikiran para pelintas penikmat iklan itu. Salah satunya Anda.

Mari lihat lainnya.
Diawal era millenium, saya terkesima dengan seruan kata: “Dunia tanpa batas”. Salah satu iklan Rokok menggunakan slogan yang memuaskan jika saya menghisapnya. Tertanam di alam pemikiran: “Menembus batas”.

Produsen diduga berhasil menembus batas omzet yang diinginkannya. Pencinta lingkungan diDuga mencemooh dashyatnya efek slogan yang diduga telah sembrono mencemari kebersihan udara jagad raya. Dan perokok seperti saya merasa lebih nikmat menikmatinya daripada mencemooh.

Dashyat mukjijat iklan papan reklame, bahkan dapat diduga telah berhasil menjadikan seisi dunia terpapar radikalisme blanja-blanji konsumerisme.

Ini dugaan saya, Anda bebas menduga yang berbeda.

Mari intip alam bawah sadar pencipta impian hidup pemutar gerak roda pikiran itu. Dan kita lanjutkan ke dugaan-dugaan lainnya.

Patut diduga telah terjadi pembiaran penguasa wilayah hingga papan reklame bisa mudah terpampang bertebaran sedemikian rupa mengawal perjalanan kemana pun Anda bepergian.

Perlukah dilakukan pembatasan terhadapnya?
Papan reklame yang diduga tidak senonoh, tidak pantas jika tidak dilarang. Yang pantas pun perlu dibatasi agar jangan sampai mencemari sudut pandang. Nenek bilang itu berbahaya!

Yang diduga telah menembus batas alam bawah sadar menggerakkan orang untuk turut menghembuskan asap Rokok bahkan diduga telah diharamkan. Disamping mencemari udara se-dunia diduga merokok bisa merusak jantung serta organ tubuh lainnya.

Ini adalah tentang upaya menabur benih “cara-hidup-sehat” ke alam bawah sadar Anda. Selayaknya Anda berterima kasih ke slogan: “Dilarang merokok”.

Sedari menebar janji blanja-blanji hingga menebarkan info cara hidup sehat papan reklame adalah bagian dari upaya meraih sukses keberhasilan mencapai puncak impian.

Upaya mencapai sukses keberhasilan tidak selamanya mempersoalkan besaran biaya. Demi impian! Demi agar bisa tercetak tebal di alam bawah sadar Anda.

Mari Saya bantu Anda bertanya ke diri Anda sendiri!
Jika produsen beriklan berani menghabiskan budjet yang terkesan tidak masuk akal, kenapa Anda tidak melakukan hal yang sama? Anda pun perlu perduli akan tujuan hidup Anda.

Iklan-kan-lah diri Anda!
Jika mahal, iklan mandiri - ciptakan sendiri saja. Ini demi cita-cita Anda!

Tempelkan di dinding pintu kamar tidur. Di pintu Kulkas. Kamar mandi, di dapur, di toilet, di garasi, di ruang keluarga atau di mana saja, yang mudah Anda lihat. Gratis, tak dikenai pajak reklame untuk itu.

Ini tentang upaya menabur benih sukses di alam bawah sadar agar tercetak tebal, untuk memancing Pikiran mencipta situasi rencana, merancang langkah mencapai impian hidup Anda. Ini tentang iklan diri Anda sendiri.

Mari tafakur sejenak!

Saya akan ajak Anda kembali ke masa-masa ketika masih sekolah.
Mungkin Anda masih ingat.
Kala ketika Roster pelajaran Semester dibacakan Bapak Ibu Guru di depan kelas. Semua diminta tertib menuliskannya dengan serapi mungkin.

Jadwal Hari Senin:
Selepas Upacara Bendera, PMP di jam pertama; P-4 di jam berikutnya selepas mata pelajaran Sastra Bahasa Indonesia; Istirahat; Lanjut Aljabar; Jam Istirahat lagi; Mata pelajaran terakhir Sejarah Perjuangan Bangsa; Doa penutup, pulang.

Jadwal Hari Selasa:
Jam pertama Bahasa Inggris; Pancasila di jam berikutnya setelah pelajaran Olahraga; Istirahat; Fisika dan Ilmu Ukur; PKK /Pra-Karya; Jam Istirahat; terakhir Aljabar; Doa Pulang.

Demikian seterusnya hingga Jadwal di Hari Rabu; di Hari Kamis; di Hari Jumat; di Hari Sabtu. Oleh bapak ibu Guru kita diwanti-wanti agar rapi menuliskannya, menempelkannya ditempat yang mudah terjangkau mata. Jangan sampai ada yang salah.

Yang salah atau yang lupa, dipesankan agar menuliskannya kembali di Lembar Karton, dipotong rapi seukuran tertentu. Ditempelkan di seantero dinding rumah. Di ujung meja makan, pintu kamar bagian luar, kamar mandi, pintu lemari pakaian, rak buku. Seisi rumah dipesankan, dipastikan sudah tahu sama tahu bahkan diminta untuk membantu mengingatkan.

Agar jangan lupa lagi, atau  dikenai: Distrap!

Walau lembut, pesan bapak ibu Guru terasa bagai sembilu tajam menembus telinga. Sudah puluhan tahun, terkadang tertawa geli sendiri teringat kisah buku P.R ketinggalan. Jadinya kena distrap. Wajah mendiang bapak Guru sekelebat tersenyum dalam angan.

Serasa segar teringat upaya pembinaan disiplin diri. Pelajaran berharga. Roster Jadwal Pelajaran seolah menjadi mantra pegangan untuk tidak akan pernah lupa mengerjakan P.R dan, tidak akan salah membawa buku tulis, buku bacaan pada keesokan harinya.

Pedoman berharga! Kenapa tidak Anda lakukan lagi seperti itu?

Anda bisa menempelkan “Rencana Kerja Praktis” ditempat yang mudah terlihat. Mengembangkannya dan menjadi “Rencana Lanjutan” dari setiap pencapaian tiap tahap. Sepele, tetapi menjadikan Anda konsisten berikhtiar.

Mengiklankan diri sendiri bagai menebalkan garis demarkasi pembatas pertahanan diri terhadap gangguan yang mungkin terjadi setiap saat, karena berbagai tawaran yang terdengar lebih baik terkadang hanya menyita waktu dan pikiran.

Dijejali impian orang-orang melalui iklan reklame disepanjang perjalanan hidup akan menjadikan Anda inkonsisten. Berubah tiap waktu mengikutkan perubahan impian orang-orang.

“Fall down seven times, stand up eight”~Japanese Proverb

~salam JAWAHIR 2019!

Minggu, 08 Desember 2019

JAWAHIR - RAHASIA BOTOL AIR

Seorang teman mendapat kiriman Artikel bermanfaat dari temannya dan kemudian membagikannya ke Saya. Artikel bagus yang menginspirasi.

Konon katanya, hidup ini bagaikan botol Air perlambang hal-hal bermakna bagi kehidupan. Melambangkan energi, kesehatan, kesejahteraan, kekayaan serta kebahagiaan hingga bahkan kenangan.

Orang yang bijaksana akan dengan senang hati memberikan Air sebanyak yang dia bisa berikan, waktunya habis tersita untuk berbagi ke orang-orang hingga tidak cukup waktu baginya untuk sekedar memperhatikan dirinya sendiri. Tetapi ibarat botol Air, jika pun habis, kebaikan hatinya akan mengisinya kembali hingga tak putus dia membagikannya lagi kepada orang satu lainnya.

Orang yang kurang bijaksana akan berubah menjadi serakah. Dipenuhi dengki, amarah kerap merasa bahwa dia memerlukan botol terbesar untuk diisi penuh hingga meluap tumpah. Baginya mendapat botol yang kecil, walau itu wajarnya, dianggap tidak cukup, terkadang bahkan dianggap penghinaan.

Baginya, botol terbesar adalah mutlak haknya. Untuk dia isi dan untuk dia bisa membagikannya kepada konco-konconya, untuk para anggota keluarganya, untuk kelompoknya, untuk seseorang yang menyenangkan hatinya, terutama untuk pemuja yang memuji-muji kehebatannya.

“Hidup paduka mulia raja si empunya hak segala jenis harta, mulialah sepanjang hidupnya bisa berguna mendapatkan Air untuk pemujanya, jika tidak, Tammatlah!”

Orang yang tidak bijaksana merasa tidak aman jika mendapatkan botol kecil, walau itu telah lebih dari cukup untuknya, namun akan menuntut yang lebih besar. Dan dia menyadari sejatinya dia tidak akan bisa minum semua Air yang dia telah peroleh dalam hidupnya.

Tetapi, orang yang berpikiran Positif, akan selalu merasa cukup senang, bersyukur dengan botol yang didapatkannya. Sekecil apapun botol itu, sepenuh apa pun isinya, baginya mendapatkannya adalah berkat yang perlu dan harus disyukuri.

Orang yang berpikiran Negatif, akan fokus selamanya pada ruang kosong di botol, merasa isinya tidak memadai. Diperlukan lebih banyak lagi. Tak hirau dengan orang-orang lain yang lebih membutuhkan, bahkan jatah teman pun akan dia sikat habis.

Orang kaya raya, terkenal dengan botol emas mengkilap miliknya. Terlihat mewah walau terkadang isinya kosong. Tidak ada Air kehidupan di dalamnya. Terkadang disepanjang hidupnya tak dia pernah menemukan sahabat yang menyayangnya. Persahabatannya didasarkan pada kemewahan yang melekat di dirinya. Tetapi, dia yang memiliki botol mengkilap,  menjadi impian setiap orang.

Orang miskin sudah terbiasa dengan botol yang tidak begitu banyak disukai. Walau diisi semampunya tetapi terasa manis menyegarkan. Orang miskin tak hirau akan kemiskinannya, itu keistimewaannya yang tidak dimiliki oleh orang kaya.

Demikianlah kehidupan ini tercipta, kurang lebihnya iya begitu itulah.

Untuk mendapatkan kehidupan yang memuaskan tidak selamanya tergantung pada botol yang dimiliki tetapi tergantung pada isinya dan rasanya tergantung pada bagaimana Anda membuatnya. Bersyukurlah jika Anda punya Air yang diperlukan setiap harinya. Cukup alasan untuk Anda berbahagia dan membagikannya ke sesama satu lainnya.

Bilamana Anda fokus membangun hubungan persahabatan dengan sesama, maka Air Anda akan terasa manis dan menyegarkan. Tetapi, bila hanya fokus membanding-bandingkan botol Anda dengan milik orang lain, ketidakpuasan akan melanda. Sedari bangun pagi hingga menjelang tidur pikiran dipenuhi keinginan mendapatkan botol yang besar. Terasa akan sulit menemukan kebahagiaan hidup. 

Hidup itu bagaikan sebotol Air. Berbanggalah akan botol milik Anda, hiaslah dengan seksama, isilah  dengan rasa syukur bahagia, hingga isinya manis menyegarkan.

Hanya diri Anda seorang yang bisa mensyukuri apa yang Anda bisa nikmati.

--> ~Salam JAWAHIR selalu.

"If a man does not keep pace with his companions, perhaps it is because he hears a different drummer. Let him step to the music which he hears, however measured or far away."~Henry David Thoreau

Rabu, 04 Desember 2019

JAWAHIR-AWAS ADA YANG MENGAWASI


Ketahuilah, setiap orang punya kebiasaan untuk mengawasi. Tetapi terkadang rada berlebihan dan menjadi tidak sehat, terutama ketika dilabeli dengan alam pikiran ketidaksukaan. Menjadi bias, sumir tidak terukur.

Karenanya, jika semisal Anda bertugas MENGAWASI dan diharuskan untuk membuat daftar PENGAWASAN, lakukanlah dengan cara-cara yang benar demi untuk tujuan keperluan yang benar. Didasari alasan yang benar.

Disamping catatan kesalahan yang bisa ditemukan, catatkan juga hal-hal benar yang tentunya bisa disyukuri keberadaannya. Karena, suatu kesalahan paling fatal pun kerap mengandung hal positif serta kemanfaatannya.

KISAH BERAT GELAS KACA:
Alkisah seorang profesor perlahan memutari kelas sembari menerangkan “Manajemen Krisis” dan tentang “Stress” serta prinsip keilmuan yang terkait.

Sesaat kembali tiba di mejanya, sang professor mengangkat Gelas berisi air putih minumannya, menatap tajam seisi ruangan, jauh menerawang tembus pandang ke hitam bola mata para kandidat doktor siswanya.

Sekujur ruangan terdiam, hening, merenung ternanti-nanti. Semua mata memandang tajam ke arah Gelas, tertuju dipenuhi pertanyaan, mereka-reka, menebak kemungkinan apa yang akan dipertanyakan?

Apakah akan bertanya lagi tentang: “gelas setengah kosong atawa gelas setengah berisi?” atau mungkin tentang: “gelas-gelas kaca?”

Berdehem, Profesor datar bersuara: “berapa berat gelas yang saya angkat ini?” Bagaikan bunyi klakson di terminal Pasar Senen, riuh ramai, tiap siswa bertaruh akan tebakan terbaiknya. Sedari dua ons, tiga empat ons hingga setengah kilo, dan lain-lain direka tak putus.

Tak satu pun yang mengena, sepertinya tepatnya begitu itu!

Berdehem dan berdehem lagi hingga seisi kelas kembali senyap, Professor berkata: “dari sudut pandang saya, berat persisnya bukan lah masalah utama, karena akan sangat tergantung pada berapa lama saya mampu mengangkatnya”.

“Jika hanya untuk satu atawa dua tiga menit saja, itu ringan. Tetapi jika bertahan lima tahun - penuh satu periode, tentunya akan menjadi sangat berat. Semakin lama, kian semakin terbebani oleh beratnya. Bisa sakit sekujur lengan tangan hanya karena terbebani – walau hanya oleh air segelas saja”.

Beban hidup pun demikian itu. Tekanan kekhawatiran hidup tidak tergantung pada seberat apa beban hidup, tetapi akan sangat tergantung pada seberapa lama Anda kuat menanggungkannya.

Jika Anda memikirkannya hanya satu dua tiga waktu saja, akan dipahami bahwa itulah beban yang harus dihadapi. Waktu yang tersisa akan Anda habiskan untuk mencarikan jalan keluar bagaimana cara mengatasinya.

Tetapi, jika Anda menghabiskan seluruh waktu untuk memikirkannya, kenapa begini kenapa begitu? bagaimana kini ini, bagaimana pula nanti? Beban itu akan kian semakin terasa berat membebani, perlahan berubah menjadi beban yang paling terberat dalam hidup Anda.

Pikiran dipenuhi hal yang makin menjauhkan Anda dari langkah-langkah yang bisa mengatasinya. Terbuang percuma waktu habis tersita menyesalkan meratap hingga kemudian mencari cara bagaimana menyalahkan orang-orang yang menurut Anda menjadi durjana penyebab beban yang membuat hidup menjadi seberat itu.

Hilang semangat untuk mengatasi, Anda malah fokus menjatuhkan orang-orang yang menurut Anda adalah yang menjadikan susah memberantakkan hidup Anda.

Seyogianya, apa pun yang menyulitkan jangan dipikirkan sepanjang hari, jangan bebani pikiran hingga keesokan harinya. Jika itu terjadi pagi hari, sebelum jam makan siang pastikan Anda telah melupakannya.

Pastikan beban pikiran yang mengganjal tidak dibawa pulang ke rumah.

Sisi baiknya, beban pikiran itu adalah pemicu semangat yang menjadikan hidup menjadi kian semakin lebih hidup lagi. Tetapi tidak semua orang memahaminya.

Jika tangan Anda sudah merasa berat itulah saatnya untuk Anda meletakkan kembali gelas air itu. Lelah pikiran akan menjadikan stress hingga mengalami kelelahan mental – depressi.

Kelola pikiran Anda, kalahkan pikiran negatif dengan menambah perbendaharaan pikiran yang positif.

Hidup ini terlalu berharga jika rusak hanya karena omongan segelintir orang.

~Salam Jawahir selalu!

Disadur dari : Dr. Steve G. Jones, Founder, Dream Life Mastery