Sabtu, 28 Juli 2018

ANDAI KITA PAHAM MAKNA ANTUSIAS

"Within you right now is the power to do things you never dreamed possible. This power becomes available to you just as soon as you can change your beliefs."~Maxwell Maltz

Mari bertanya ke diri sendiri: "Apakah saya menghargai diri sendiri? Kenapa harus menanggalkan harkat pribadi hanya oleh sesuatu yang menguntungkan?" Tak usah dijawab! Hidup adalah tentang kehormatan yang harus dirawat secara benar, tak soal apakah menguntungkan atau akan merugi. Harkat diri harus dijaga.

Jangan berdalih takada yang tahu jika kita curang, tetapi reputasi menjadi taruhannya. Jagalah itu, jangan sekali-kali curang! Ingat pepatah tua “sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh”. Ntah untuk alasan apa, perbuatan tercela kelak akan membebani reputasi, jangan sampai tergoda oleh sejumput materil yang bakal sirna disita waktu.

Reputasi itulah kepribadian kita, dan kita harus Antusias merawatnya!

Mari tanya lagi: "Cukup antusias kah saya menghargai diri sendiri? Kenapa saya lupa merawatnya dengan baik?" Tak perlu dijawab!

Dan mengakulah, bahwa tanpa sadar kita kerap meremehkan harkat diri dan kita antusias melakukannya. Boleh dibantah, tetapi bantahlah setelah benar-benar berpikir bahwa tak sekalipun Anda pernah meremehkan diri sendiri!
Betulkah? Yang betul-lah!

Kita kerap bersikeras membuat teman terkesan, bahwa kita bisa diandalkan, bahwa kita kita tak akan mengecewakan, kita layak dijadikan sahabat dan pantas dibanggakan. Dan kita antusias berusaha! Walau kita harus berubah menjadi orang lain, walau harus mengkhianati diri sendiri bahkan membuat orang lain takut akan topeng kepalsuan kita.

Kita telah berbuat tidak senonoh terhadap diri sendiri. Kita telah berbuat culas hanya untuk menyenangkan teman. Hanya demi seseorang yang kita kata layak disebut sahabat, seseorang yang membuat kita berkhianat ke diri sendiri. Sesal telat, batin tersiksa!

Kelak akan tiba waktunya untuk kita bisa melihat banyak hal secara berbeda, dan kita tersadar bahwa kita telah meremehkan diri sendiri. Itu tak masuk akal, berontak kita melepaskan diri, tak peduli jika orang menjadi tidak suka. Waktunya menegakkan harkat diri. Tak soal apakah orang lain setuju, tetapi kita layak memperjuangkannya atau kian terbebani sesal di sisa hidup kita.

Berubah. dan kita harus antusias melakukan-nya! Saatnya untuk berpikir dengan pikiran sendiri, saatnya untuk bertindak demi alasan sendiri tanpa harus merusak kepentingan orang lain! Tanpa harus merebut hak orang satu lainnya. Mungkin kita akan kesulitan atau kalah oleh penolakan orang-orang, tetapi kita berhak menegakkan hak menolak meremehkan diri sendiri.

“Hidup adalah perjuangan. Baik atau buruk itu adalah pilihan apalagi hidup bahagia bukan berarti tidak punya masalah, tetapi kemampuan mengatasinya akan timbul dari kejujuran yang terpelihara. Hadapilah dengan apa yang dimiliki bukan karena apa yang akan dimiliki atau oleh karena apa yang pernah dimiliki.”

BANTING STIR!:
Sabar bukan berarti terus menunggu, tetapi merawat semangat juang bahwa itu sepadan dengan apa yang diperjuangkan. Jika tidak, segera tinggalkan. Mungkin hidup kita akan menjadi tak nyaman tanpa penghasilan, mungkin tak lagi makan enak, tak lagi tidur nyaman. Mungkin panik, sampai kapan? Kepahitan hidup mungkin akan merusak hubungan dengan teman atau bahkan keluarga dekat. Mungkin dicemooh.

Kita diperhadapkan pada situasi uji tekad, bisa berubahkah? Dan beban kesulitanlah yang membuat ruang yang dibutuhkan untuk mencipta hal-hal besar. Melangkahlah, sekecil apapun itu, itu karunia!

Mungkin kita akan menghadapi penolakan, atau terkendala karena kerap gagal dan gagal, namun jika benar-benar menginginkannya, kita tak akan lelah berjuang. Dan kita harus antusias memperjuangkannya!

Perlahan, tiap langkah akan membawa hasil, seiring waktu akan terasa lebih baik dan hidup akan lebih nikmat. Sejatinya, perjuangan memerlukan titik awal pemberangkatan, dan itu tak akan ditemukan ditengah perjalanan, tetapi itu-lah jalannya.

Teruskanlah! Hidup akan terasa lebih hidup.

TERBANTING-BANTING:
Kala terbanting-banting, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan terus berjalan meliwatinya. Jangan habiskan waktu mengerjakan hal-hal yang tak bisa diubah.

Mungkin akan kelelahan, rehatlah hingga segar dan bangkit lagi mencoba sembari berjuang memelihara impian. Jangan berhenti karena terbanting-banting, karena pelajaran terbaik hanya akan bisa dikuasai kala diperhadapkan pada masa-masa terburuk. Ketika salah tiap hal akan terasa serba salah, seolah terjebak dalam pusaran kegagalan hingga timbul keinginan untuk berhenti. Kala itu muncul, ingatlah bahwa hal-hal harus salah terlebih dahulu untuk bisa tahu yang benar. Bergegaslah, lalui yang terburuk menemukan yang terbaik.

Sulit nian! Hidup memang sulit, tetapi Anda lebih tangguh. Tanamkan pikiran itu, tak berselang lama akan ditemukan alasan mentertawakan kesalahan-kegagalan yang terjadi. Disitu itu jawabannya. Jika kesalahan ditemukan, kebenaran pun telah ditemukan.

Hidup itu indah, dan kita lahir untuk itu! Saatnya untuk berbagi. Karena perjuangan kita tak lepas dari dorongan orang-orang, ada teman ada keluarga yang menginginkan kita sukses dan tiap satu daripadanya antusias akan keberhasilan kita. Maka Antusiaslah menjaga keharmonisan hidup.

~salam Antusias selalu!

"In many ways, the world is always only what it is, good and bad. It doesn't change. What changes is the way you look at the world, the way you choose to interact with it. Recognizing gives you amazing power. IF you can change yourself - and you can - you can change your relationship with the world."
~Ellis Peters
sfi4.15634647


Minggu, 22 Juli 2018

ANDAI KITA PAHAM APA ITU PERSEPSI

"Penyesalan terbesar sepanjang hidup kita adalah ketika kita tak pernah mau berusaha untuk mencuba memulai melakukan sesuatu"
~
Anonimous

Persepsi adalah untuk menafsirkan informasi agar terbangun gambaran pemahaman akan sesuatu. Mari ambil contoh dari kejadian sehari-hari: semisal ketika akan memulai bisnis, lajimnya kita berupaya mewujudkannya dengan menggali informasi terkait, berusaha mencari seseorang yang tahu bisnis itu.


Bisnis Modern:
Katakanlah, kita hendak berbisnis “coffee-shop” khusus untuk anak-anak muda nongkrong seharian sembari beraktivitas. Kita akan berusaha mengumpulkan informasi bahkan mencari orang yang mumpuni dibisnis itu. Menemuinya berharap diberi masukan tentang banyak hal, bagaimana perijinannya, bagaimana tatanan perabotan-peralatan serta material yang diperlukan, bagaimana mengelola karyawan dan seterusnya. Pebisnis berpengalaman umumnya suka memberi pencerahan tentang konsep sesuatu bisnis, dan bahkan mungkin kita akan didorong agar segera buka - mulai saja!

Berbeda jika bertanya ke seseorang yang bukan pebisnis, kita akan dijejali informasi yang cenderung negatif, yang menurutnya melekat pada sifat bisnis “coffee-shop” itu. Bahkan disarankan agar kita menjauhi dan menawarkan bidang bisnis lain yang dia nilai lebih baik. Mengambil contoh dari seseorang yang dia kenal dan dia nilai sukses.

Dua sudut pandang yang bertolak belakang!

Jika kemudian kita pergi ke orang satu lainnya, kita mungkin akan mendapat informasi lain lagi. Bisa malah mengendurkan semangat atau mungkin malah diberi penjelasan lebih detil tentang bisnis “coffee-shop” atau mungkin malah ditawari lokasi yang dinilai cocok.

Semakin banyak bertanya, kian banyak penjelasan yang diperoleh dan tiap satu daripadanya bisa menambah informasi atau mengaburkan rencana dan menjadi tak jelas.

Jika kita terpengaruh, kita mungkin akan mengubah-ubah lagi rencana semula dan mengubahnya lagi dan tetap saja masih sebuah rencana. Tak pernah wujud. Atau malah tergiur tawaran bisnis lain atau bekerjasama di bisnis yang berbeda.

Rencana segera terlupa jika semua lancar, tetapi kala mandeg, sesal - kenapa dulu tergiur? Beragam persepsi berjejalan muncul menambah daftar alasan, gagal kian menyesak. 

Sesal menyesal kenapa dulu nanya mulu?

Bisnis Tradisionil:
Mari lihat contoh berikutnya! Kita mungkin dengar tukang sayur keliling pagi-pagi teriak mendorong gerobak sayurnya. Saban hari keluar masuk RT-RW, setiap ibu-ibu umumnya dia kenal. Yang kontan hingga rajin ngutang tak pandang bulu dilayani baik. RT-RW bahkan serasa sepi jika dia tak muncul.

Sayurrr,,,,bu,,,u! tak bosan teriak, hari libur atau bukan, bahkan hari kejepit nasional pun tak dia pedulikan. Teriak terus dan setiap hari begitu. Ragam sayur-mayur, telur, paha dada sayap, kerupuk, bawang serta rupa ragam pernik-pernik dapur dia beli di Pasar Induk malam sebelumnya. Subuh dirapikan, pagi beredar keliling hingga menjelang tengah hari. Untung entah rugi, terus dilakoni. Ibadah menjemput rezeki.

Jika kita bertanya ke Pakar yang benar-benar berpikir, model bisnis tukang sayur keliling akan diberi acungan jempol. Semangat dan motivasinya katanya tak bakal bisa tertandingi. Salut, karena mereka benar-benar tahu jika si tukang sayur keliling itu tengah bermain di skala bisnis spekulasi tingkat tinggi dengan pangsa pasar yang sempit. Model bisnis seperti itu harus tahan banting.

Berbeda jika kita bertanya ke orang yang mengaku-ngaku Pakar. Model usaha si tukang sayur keliling akan ditanggapi sinis, bahwa model seperti itu tak layak dia tanggapi, itu bukan bisnis! Lancar alasan mancut keluar: dari skala pasar, modal yang ditanamkan dan seterusnya. Itu tak perlu di evaluasi, tak perlu dianalisa, untung dan ruginya pun jika dikalkulasi cukup pakai jari. Kesimpulannya, model seperti itu tak punya prospek, itu bukan bisnis bernilai!

Ada dua sudut pandang dari berbagai sudut yang bertolak belakang!

Jika nara sumber diperluas, akan kita temukan tanggapan yang cenderung lebih didasari pada prinsip suka atau tidak suka. Maka tak perlu lelah, itulah persepsi dari sudut yang berbeda, dan itu realitas.

Kata Latin persepsi adalah: ‘perceptio’ atau ‘percipio’ lajimnya digunakan untuk suatu tindakan menyusun mengenali dan menafsirkan informasi sensoris untuk mendapatkan pemahaman.

Karenanya, ada beragam persepsi mewarnai hidup dan tiap satu daripadanya bahkan bisa merubah ragam persepsi yang semula kita miliki, dan tiada henti kita terus belajar membangun pemahaman tentangnya.

Karena kita terlahir adalah untuk belajar dan terus belajar
agar kita tetap diperlukan mewarnai kehidupan ini.

~salam persepsi selalu!
"The common conception is that motivation leads to action, but the reverse is true - action precedes motivation. You have to 'prime the pump' and get the juices flowing, which motivates you to work on your goals. Getting momentum going is the most difficult part of the job, and often taking the first step...is enough to prompt you to make the best of your day."
~Robert J. McKain

NGRQ Collections