"What you choose to
focus your mind on is critical because you will become what you think about
most of the time."
~Noel Peebles
Tiap generasi dibina untuk menjadi kader terbaik di generasinya.
Ditempa untuk berharap serta diajarkan cara memelihara pengharapan. Hidup dalam
bayang pengharapan termasuk pengharapan mengharapkan pengharapan yang tidak diharapkan.
Sumir!!
Hidup tersita untuk berjuang mencari dan mencari peluang hingga
begitu banyak peluang yang tercipta oleh ketidaksengajaan abai terlepas dari
perhatian, beberapa bahkan sengaja tidak dimanfaatkan. Kita terlalu sibuk menciptakan
peluang agar pas sesuai persis dengan keinginan yang mendasarinya.
Dalam banyak hal kita terlalu sibuk untuk tertarik mentertawakan
perilaku orang lain tetapi kita tidak pernah tertarik untuk mentertawakan perilaku
diri sendiri. Kita bahkan tidak menyukai tindakan seseorang yang mentertawakan perilaku
kita. Ironi, tetapi sungkan mengakuinya!
Peluang yang tercipta oleh karena pilihan menjadi ukuran sukses
keberhasilan, sedangkan peluang yang diperoleh karena faktor keberuntungan
semata – dianggap berhasil tanpa perjuangan yang berarti. Diakui keberhasilan tidak
bisa dimiliki oleh orang-per-orang bahkan tidak untuk pegiat yang setia mengisi
hidupnya dengan lembaran perjuangan. Faktor keberuntungan dinilai merendahkan
hakikat dirinya sebagai pejuang. Dalam banyak peristiwa faktor keberuntungan bahkan
menjadi sesuatu yang harus dihindarkan. Ironi pengharapan sesat!
Sesuai judulnya, mengharapkan yang tidak diharapkan tak
ubahnya bak ironi dari nilai-nilai pengharapan. Tidak mudah memahami makna arti
pengertiannya terutama ketika Anda menganggapnya bak ujung lancip yang menghunjam
kualitas pribadi dalam memaknai sesuatu.
Contoh sederhana pada kehidupan sehari-hari. Semisal
‘pengawasan’. Secara umum ‘tindakan pengawasan’ diartikan sebagai bahagian dari
upaya fungsi pencegahan terjadinya kesalahan. Suatu “tindakan yang sangat diperlukan untuk meminimalkan potensi kerugian
dari akibat terjadinya sesuatu kesalahan” ditengah proses pencapaian. Artinya,
“bilamana ada kesalahan!”. Hingga sulit menemukan alasan untuk mempersalahkan pihak
yang berpendapat bahwa ‘tindakan
pengawasan’ menjadi ironi dari sesuatu pengharapaan – yakni mengharapkan yang
tidak diharapkan. Dinilai perlu walau akan menelan biaya yang bahkan terkadang
melebihi nilai kerugian yang kemungkinan timbul – jika kelak terjadi kesalahan.
Tetapi, orang pintar menyatakan bahwa, ‘tindakan pengawasan’ adalah bagian dari
‘fungsi perencanaan’. Itu diperlukan karena itu adalah upaya tindak lanjut akan
‘kelangsungan proses dari fungsi perencanaan’ sedari tahap awal hingga proses berlangsung
sampai ke tahap akhir.
Oleh kelompok yang lebih pintar, ‘skala tindakan
pengawasan’ dijadikan patokan menilai ‘kematangan rencana’. Terkadang skala
pengawasan dinilai berlebihan hingga menghambat laju tahapan proses. Dan itu dianggap
menjadi ekses langsung dari ‘fungsi perencanaan yang tidak matang’. Untuk mana
itu harus dihindarkan.
Pertentangan sudut pandang menemukan titik tengah hingga
tidak jarang ‘tindakan pengawasan’ dilengkapi dengan peralatan canggih yang bahkan
melebihi kecanggihan peralatan yang dipakai dalam berproses. Ironis,,,,! Tetapi
dijawab dengan label yang berbeda, bahwa itu adalah tindakan ‘pengendalian’.
Nama lain untuk ‘pengawasan melekat’. Ini WasKat, bro!
Hal lajim dan itu dinilai biasa-biasa saja. Bahkan – kelompok
terbesar lainnya (kelompok yang dikendalikan) sama sekali tidak tertarik mempersoalkannya.
Katanya itu adalah bagian dari tahapan proses pencapaian hasil. Ironi, tragis
menyesatkan!
“Mengharapkan yang tidak diharapkan” akrab mengisi lembar
kehidupan pengisi dunia, dan masing—masing daripadanya membangun sendiri makna pengertiannya
seiring kualitas kapasitasnya. Dan tiap pihak yang paham makna dan arti
pengertiannya lebih memilih membangun sendiri pemahamannya sesuai kualitas kepentingan
pribadinya.