“Kekuatan pikiran kita dapat mengubah segalanya bahkan hidup kita sekarang ini pun adalah cerminan pikiran-pikiran di masa lalu”.
~Rhonda Byrne: "the Secret”
~Rhonda Byrne: "the Secret”
Pembahasan tentang Kekuatan pikiran seolah tak pernah habis, salah satunya tentang pemikiran positif. Mungkin ada ribuan artikel membahasnya, ada yang digali dari makna ujaran-ujaran tua, dari kata-kata mutiara ditiap peradaban, ada yang malah memperlakukannya sebagai mantera ajian. Semua menjadi bukti pertanda bahwa sejatinya tiap orang menginginkan hidup yang lebih baik.
Pikiran positif diyakini bisa mengubah hidup secara radikal hingga tiap orang bergiat belajar berusaha konsisten. Manfaat nyata dirasakan orang yang pernah terjebak dalam lingkaran pemikiran negatif kemudian menemukan pencerahan. Menakjubkan luar biasa!
Tak putus minat para ahli untuk menggali hal apa saja yang bisa menjadi pemicu timbulnya pikiran positif, yang ekstrim bahkan membabi buta hingga terjebak digenangi konsekuensi yang ditimbulkan.
Artikel ini menghadirkan hal-hal yang perlu dipertimbangkan kala kita dari waktu ke waktu dipaksa situasi untuk bisa berpikir POSITIF.
Berlaku Hati-hati:
Kala terserang kantuk wajarnya kita ingin tidur, terkaget kala aliran listrik tiba-tiba padam. Situasi mengharuskan kita berpikir positif, mungkin ini cuma pemadaman sementara. Meraih lilin dan menyalakannya, melanjutkan tidur terlelap walau jika lilin itu akan membakar tempat tidur. Anda pasti tahu maksud saya. Saya menyebutnya sebagai tindakan positif tanpa berpikir positif. Kehati-hatian bukan pikiran negatif, tetapi menguatkan pikiran positif.
Sesuai Akal Sehat:
Berpikir positif adalah penting, namun jangan malah lari menghindar dari kenyataan hidup. Tantangan realistis seperti lingkungan pergaulan sosial, hubungan pekerjaan dan lain-lain jangan dibiarkan karena alasan pemikiran positif, bisa menjadi tidak terkendali. Akan lebih baik jika akal sehat tetap diketengahkan, permasalahan ditangani sedari awal agar tidak menimbulkan reaksi negatif.
Tetap Optimis:
Sikap optimis adalah buah pemikiran positif, dan diperlukan sasaran tetapi itu harus realistis. Jika tidak, akan timbul reaksi negatif kala tidak terjangkau. Menjadi kecewa.
“Anda tidak hanya menjadi apa yang paling Anda pikirkan, tetapi Anda juga meraih apa yang paling Anda pikirkan.”
~John Assaraf
Sikap otimis memicu antusiasme, tetapi perlu disesuaikan mengikutkan dosis berimbang. Dapatkan dahulu informasi lengkap, lakukan analisa situasi, susun persiapan awal hingga tahapan pelaksanaan dimungkinkan sesuai rencana. Kalau tidak, akan terayun-ayun dalam optimisme akhirnya menyerah. Kecewa.
Berlaku Wajar:
Sikap positif jangan diartikan bahwa tiap saat kita harus menyenangkan hati orang lain. Dalil berpikir positif bukan seperti itu. Tersenyum itu baik namun jangan biarkan jika itu disalah artikan. Jika batas kewajaran terliwati, perlu responsif menentangnya, tetapi itu pun ada dosis batasan porsinya.
"Forgive others, not because they deserve forgiveness, but because you deserve peace".
~Jonathan Lockwood Huie
Ada orang yang malah memilih membiarkan perlakuan tidak baik atas dirinya, beranggapan percuma menentang, buang waktu! Lajimnya cara kita memperlakukan orang lain dijadikan sebagai patokan bagi orang lain bagaimana sebaliknya kita diperlakukan. Perlakuan baik disarankan dan kita diharapkan menjadi yang pertama memulainya.
Renungan:
Tindakan kita kerap memancing pembalasan dari orang lain. Jamak pertikaian diketahui bermula dari sikap buruk, kita cenderung memulai pertengkaran yang tidak perlu. Ego dan perilaku diri menjadi faktor perusak. Keras kepala tidak sudi mengalah adalah turunannya. Cemburu dengki dan iri hati menjadi pemicu kehancuran tatanan sosial. Sifat mau menang sendiri kian memperburuk. Tuntutan agar selalu dihargai tetapi tak pernah memulai menghargai orang lain adalah ciri pemikiran negatif.
Perilaku Ekstrim:
Yang ekstrim terlihat janggal kian menjauh dari prinsip ke-positif-an yang dipercaya bermanfaat. Sbb:
Ada yang kerap memancing agar dirinya diperlakuan negatif entah untuk alasan apa. Berawal dari dirinya sendiri, menciptakannya hingga orang-orang terpancing memperlakukannya, merusaknya. Kesadaran datang terlambat.
Ada juga yang membiarkan dirinya diperlakukan tidak baik tanpa mencegah. Dan itu terjadi berulang-ulang, hingga disalah-artikan dan orang lain menjadi terbiasa. Tanpa sekalipun dia mempermasalahkan walau orang-orang itu memetik keuntungan darinya. Seolah berusaha membuat identitas dirinya bahwa dia bisa berterima karena itulah dirinya!
Yang pandir malah berusaha memetik keuntungan dari tiap situasi, bahkan terkadang harus bermain playing victim mewujudkannya. Berakting seolah korban! Senang mempermainkan situasi. Mungkin karena berkali-kali berhasil dia menjadi terbiasa, layaknya itulah jati dirinya. Pelanggaran!
“Pada dasarnya hukum tarik-menarik mengatakan bahwa kemiripan akan menarik kemiripan. Tetapi sebenarnya kita berbicara di tingkat pemikiran.”
~Bob Doyle
Berpikir positif disarankan perlu menetapkan standar aturan dan batasan sendiri tetapi, tidak menutup diri dari kritik dan saran.
“Anda tidak hanya menjadi apa yang paling Anda pikirkan, tetapi Anda juga meraih apa yang paling Anda pikirkan.”
~John Assaraf
Salam Positif selalu!

