Senin, 26 November 2018

MEMAHAMI MAKNA KEKUATAN PIKIRAN

“Kekuatan pikiran kita dapat mengubah segalanya bahkan hidup kita sekarang ini pun adalah cerminan pikiran-pikiran di masa lalu”.
~Rhonda Byrne: "the Secret”

Pembahasan tentang Kekuatan pikiran seolah tak pernah habis, salah satunya tentang pemikiran positif. Mungkin ada ribuan artikel membahasnya, ada yang digali dari makna ujaran-ujaran tua, dari kata-kata mutiara ditiap peradaban, ada yang malah memperlakukannya sebagai mantera ajian. Semua menjadi bukti pertanda bahwa sejatinya tiap orang menginginkan hidup yang lebih baik.

Pikiran positif diyakini bisa mengubah hidup secara radikal hingga tiap orang bergiat belajar berusaha konsisten. Manfaat nyata dirasakan orang yang pernah terjebak dalam lingkaran pemikiran negatif kemudian menemukan pencerahan. Menakjubkan luar biasa!

Tak putus minat para ahli untuk menggali hal apa saja yang bisa menjadi pemicu timbulnya pikiran positif, yang ekstrim bahkan membabi buta hingga terjebak digenangi konsekuensi yang ditimbulkan.

Artikel ini menghadirkan hal-hal yang perlu dipertimbangkan kala kita dari waktu ke waktu dipaksa situasi untuk bisa berpikir POSITIF.

Berlaku Hati-hati:
Kala terserang kantuk wajarnya kita ingin tidur, terkaget kala aliran listrik tiba-tiba padam. Situasi mengharuskan kita berpikir positif, mungkin ini cuma pemadaman sementara. Meraih lilin dan menyalakannya, melanjutkan tidur terlelap walau jika lilin itu akan membakar tempat tidur. Anda pasti tahu maksud saya. Saya menyebutnya sebagai tindakan positif tanpa berpikir positif. Kehati-hatian bukan pikiran negatif, tetapi menguatkan pikiran positif.

Sesuai Akal Sehat:
Berpikir positif adalah penting, namun jangan malah lari menghindar dari kenyataan hidup. Tantangan realistis seperti lingkungan pergaulan sosial, hubungan pekerjaan dan lain-lain jangan dibiarkan karena alasan pemikiran positif, bisa menjadi tidak terkendali. Akan lebih baik jika akal sehat tetap diketengahkan, permasalahan ditangani sedari awal agar tidak menimbulkan reaksi negatif.

Tetap Optimis:
Sikap optimis adalah buah pemikiran positif, dan diperlukan sasaran tetapi itu harus realistis. Jika tidak, akan timbul reaksi negatif kala tidak terjangkau. Menjadi kecewa.

“Anda tidak hanya menjadi apa yang paling Anda pikirkan, tetapi Anda juga meraih apa yang paling Anda pikirkan.”
~John Assaraf

Sikap otimis memicu antusiasme, tetapi perlu disesuaikan mengikutkan dosis berimbang. Dapatkan dahulu informasi lengkap, lakukan analisa situasi, susun persiapan awal hingga tahapan pelaksanaan dimungkinkan sesuai rencana. Kalau tidak, akan terayun-ayun dalam optimisme akhirnya menyerah. Kecewa.

Berlaku Wajar:
Sikap positif jangan diartikan bahwa tiap saat kita harus menyenangkan hati orang lain. Dalil berpikir positif bukan seperti itu. Tersenyum itu baik namun jangan biarkan jika itu disalah artikan. Jika batas kewajaran terliwati, perlu responsif menentangnya, tetapi itu pun ada dosis batasan porsinya.

"Forgive others, not because they deserve forgiveness, but because you deserve peace".
~Jonathan Lockwood Huie

Ada orang yang malah memilih membiarkan perlakuan tidak baik atas dirinya, beranggapan percuma menentang, buang waktu! Lajimnya cara kita memperlakukan orang lain dijadikan sebagai patokan bagi orang lain bagaimana sebaliknya kita diperlakukan. Perlakuan baik disarankan dan kita diharapkan menjadi yang pertama memulainya.

Renungan:
Tindakan kita kerap memancing pembalasan dari orang lain. Jamak pertikaian diketahui bermula dari sikap buruk, kita cenderung memulai  pertengkaran yang tidak perlu. Ego dan perilaku diri menjadi faktor perusak. Keras kepala tidak sudi mengalah adalah turunannya. Cemburu dengki dan iri hati menjadi pemicu kehancuran tatanan sosial. Sifat mau menang sendiri kian memperburuk. Tuntutan agar selalu dihargai tetapi tak pernah memulai menghargai orang lain adalah ciri pemikiran negatif.

Perilaku Ekstrim:
Yang ekstrim terlihat janggal kian menjauh dari prinsip ke-positif-an yang dipercaya bermanfaat. Sbb:

Ada yang kerap memancing agar dirinya diperlakuan negatif entah untuk alasan apa. Berawal dari dirinya sendiri, menciptakannya hingga orang-orang terpancing memperlakukannya, merusaknya. Kesadaran datang terlambat.

Ada juga yang membiarkan dirinya diperlakukan tidak baik tanpa mencegah. Dan itu terjadi berulang-ulang, hingga disalah-artikan dan orang lain menjadi terbiasa. Tanpa sekalipun dia mempermasalahkan walau orang-orang itu memetik keuntungan darinya. Seolah berusaha membuat identitas dirinya bahwa dia bisa berterima karena itulah dirinya!

Yang pandir malah berusaha memetik keuntungan dari tiap situasi, bahkan terkadang harus bermain playing victim mewujudkannya. Berakting seolah korban! Senang mempermainkan situasi. Mungkin karena berkali-kali berhasil dia menjadi terbiasa, layaknya itulah jati dirinya. Pelanggaran!

“Pada dasarnya hukum tarik-menarik mengatakan bahwa kemiripan akan menarik kemiripan. Tetapi sebenarnya kita berbicara di tingkat pemikiran.”
~Bob Doyle

Berpikir positif disarankan perlu menetapkan standar aturan dan batasan sendiri tetapi, tidak menutup diri dari kritik dan saran.

Anda tidak hanya menjadi apa yang paling Anda pikirkan, tetapi Anda juga meraih apa yang paling Anda pikirkan.”
~John Assaraf

Salam Positif selalu!
rwgw

Senin, 19 November 2018

MEMAHAMI MAKNA JANGKAUAN ALAM PEMIKIRAN

“Anda tidak hanya menjadi apa yang paling Anda pikirkan, tetapi Anda juga meraih apa yang paling Anda pikirkan.”
~John Assaraf

Diduga setiap orang punya jangkauan pemikiran yang tidak sama dikarenakan gelombang alam pemikiran yang berbeda. Tak aneh jika ada yang mudah untuk bisa membangun kata sepakat untuk saling memahami, sementara yang lain harus terlebih dahulu berperang berkorban nyawa, harta serta martabat hanya untuk mendapatkan kata sepakat.

Diyakini perbedaan jangkauan alam pemikiran terbangun bertahap mengikutkan pengalaman hidup, dari kontribusi pengajaran, dari hasil pembinaan termasuk pengaruh lingkungan ditempat mana kita hidup. Semua berkontribusi menciptakan pemahaman baru bahkan hingga menerobos batas nalar melintasi rentang perjalanannya, berakhir di titik konkrit bagaimana untuk mengamalkannya. Diduga perbedaan itu yang membuat proses belajar menjadi tak pernah tamat bahkan selama hayat dikandung badan, bahkan walau dua pertiga daripadanya telah diberdayakan untuk mengamalkannya. Dari waktu ke waktu proses belajar yang terjadi terus-menerus menempa alam pemikiran.

Penempaan panjang berlangsung demi mencipta warna kehidupan, demi menambah semarak perjalanan hidup hingga tiba waktunya untuk mengajarkannya kembali ke anak cucu keturunannya karena mereka pun akan melanjutkan pencariannya disepanjang perjalanan hidupnya. Terus-menerus demikian sedari generasi pendahulu hingga ke generasi saat kita sekarang ini, karena hidup adalah pengulangan. Dan, tiap kita dibekali hak “tak kuasa menolak belajar serta mengamalkannya” dan, itulah warisan peradaban.

Hidup adalah pengulangan karenanya cukup alasan untuk kita bisa belajar dari masa lalu pendahulu, dan mengisi hidup kini ini dengan berbagai keragaman rupa kebajikan serta kebaikan.

Namun, hidup tak lelah mengarahkan kita untuk masuk merambah wilayah-wilayah yang terkadang tak terjangkau pemikiran. Hingga bingung kala kebejatan dianugerahi medali penghargaan, linglung kala mendapat penjelasan bahwa demi sesuatu alasan halal kita diharamkan untuk mengharamkannya. Jangkauan pemikiran yang berbeda membangun sekat batasan pemahaman sendiri-sendiri.

Perbedaan gelombang pemikiran diduga menjadikan jangkauan pemikiran menjadi tidak sama, hingga terlihat sebagian menjadi tidak berdaya. Sulit untuknya memahami uraian bahwa Kebejatan pun diperlukan untuk menciptakan tatanan hidup yang bebas dari perbuatan bejat. Bahkan sistim peradilan hukuman mati yang dinilai menista hidup sejatinya diperlukan demi menjaga kesucian nilai-nilai kehidupan hidup itu sendiri. Alam pemikirannya seolah  dipaksa menjangkau menerima kesucian pasal-pasal hukuman mati, hukuman kursi listrik, hukuman tembak, hukuman gantung sampai mati bahkan dirajam serta dihukum pancung. Jangkauan alam pemikiran membangun sekat membuat pemahaman sendiri tentang batas nilai kewajaran menurutkan batasan alam pemikirannya.

Terlihat dungu kala kenyataan hidup memaksanya menghadirkan ketidakwajaran demi mencapai kewajaran? Pepatah Tetua berkata: “Andai saja kau mengubah cara mu melihat sesuatu, niscaya sesuatu itu pun akan berubah mengikutkan cara mu melihatnya”.

Jangkauan alam pemikiran selamanya bertentangan dengan batas penalaran serta kemurnian sanubari yang diduga memiliki batasan akhir dan tidak pernah tersentuh oleh hal apa pun. Murni sepanjang waktu.

Oleh sebagian Pakar diyakini andai kemurnian sanubari bisa diarahkan untuk membanjiri gelombang alam pemikiran dipastikan pendidikan tidak akan pernah bisa meracuni penalaran. Bahkan pengamalan tidak akan pernah membutuhkan corak-ragam bentuk penghukuman hingga dalil perlunya membentuk Pengadilan demi mendapatkan keadilan bisa terpatahkan. Karena hukuman terberat sejatinya adalah kekecewaan.

"A great attitude does much more than turn on the lights in our world; it seems to magically connect us to all sorts of serendipitous opportunities that were somehow absent before the change".~Earls Nightingale

Salam hangat selalu!
FREE