Rabu, 27 Februari 2019

EFEK DOMINO PERTANYAAN

“Jika seseorang kehilangan tujuan atau makna, mereka akan mati”
~Frankl, psikiater di Auschwitz.


Orang yang dengan jelas menetapkan tujuannya diyakini akan lebih berpeluang untuk mencapainya, dan yang tidak bisa menetapkan tujuannya diragukan kemampuannya memelihara pengharapannya.


Prihal tujuan kerap dipersoalkan apalagi banyak yang terlihat mudah menyerah dan memilih mengikuti tujuan orang-orang. Mungkin karena rumit njelimet, apalagi kala Anda mempertanyakan sesuatu tujuan akan timbul rentetan berbagai pertanyaan: “Kenapa harus ditetapkan, siapa yang menetapkannya, untuk apa? Apakah jika kita telah menetapkannya kita telah paham arti makna hidup? Jika telah paham, selanjutnya apa?”.

Sejarah pertikaian pada babad peradaban, diduga terjadi karena kebanyakan orang-orang gagal memenangkan pertikaian yang terjadi di dirinya sendiri, bahkan tidak mudah walau jika itu hanya untuk menjawab pertanyaan:"Selanjutnya apa?".

Ironis, tidak banyak yang meluangkan waktu mendalami eksistensinya, kebanyakan takut menjadi Gila karenanya. Terlihat banyak yang malah memilih mengutip bagian-bagian ayat-ayat suci spirituil yang dia kira cukup memadai untuknya.

Dan itupun dipertanyakan juga:“Apakah memang itu tujuan yang sebenar? Apakah itu benar-benar telah mencerminkan tujuan sesuai nurani batin Anda?”.

“Barangkali, Anda itu hanya mengikuti ‘tujuan’ yang oleh orang lain dikatakan tujuan itulah tujuan sebenar yang mesti Anda ikuti? Betulkah, begitu itu?”

Hati-hati, Anda bisa Gila memikirkannya!

Konon katanya, Otak manusia menunjukkan bahwa tiap orang hakikatnya punya ‘tujuan instingtual’ namun, perlu direnungkan agar paham memahaminya. Konon katanya, kita itu perlu membebaskan diri dari sifat habitat lingkungan agar bisa memahami sifat diri sendiri. Konon katanya, kita itu perlu membebaskan diri dari anutan spirituil yang kita telah ketahui, bahkan perlu terbebas dari pengaruh ajaran teologis untuk sekedar menemukan keunikan tujuan hidup. Konon dan seterusnya.

Hati-hati, jangan sampai Anda Gila karenanya!

Mungkin itupun diperdebatkan juga. Mungkin orang-orang akan memberi jabaran uraian panjang bahwa sejarah ilmu filsafat serta ilmu-ilmu agama telah cukup lama dipenuhi berbagai jawaban yang berbeda tentang persoalan ambigu ini.

Itu tak soal! Anda hanya harus paham akan kenyataan bahwa, setiap orang mengandung hakikat kebenarannya masing-masing.

Faktanya adalah, tujuan hidup kebanyakan orang-orang pada dasarnya disesuaikan dengan budaya serta situasi ekonomi wilayah setempat, dilingkungan dia terlahir, bertumbuh berkembang serta berkembang biak. Hingga kemudian mati.

Fakta lainnya adalah, nyaris semua berpendapat sama dengan menempatkan faktor mata pencaharian serta faktor kekerabaatan diposisi teratas. Seolah kebutuhan dan uang adalah segalanya. Puas jika kebutuhan mendasar sandang dan pangan bisa terpenuhi. Lainnya adalah pelengkap. Sederhananya, begitu itu!

Yang tidak puas, berusaha memiliki segalanya!

Walau pada akhirnya, kebanyakan mereka hanya akan mencurahkan keinginan hati dan kegagalannya saja dan, selanjutnya mengumpat serta mencemooh kehidupan yang dianggap tidak berpihak.

Menetapkan tujuan menjadi penopang dalam proses pencapaiannya. Termasuk dan tidak terbatas jika tujuan itu hanya untuk menemukan tujuan orang satu lainnya sebagaimana ditetapkan. Pencapaiannya menjadi ukuran kepuasan, hingga julukan Pelatih terbaik hanya akan dilekatkan pada seseorang yang berhasil membawa Atlit binaannya tampil menjadi juara.

Nyaris semua orang setuju bahwa tujuan “hidup” adalah bersifat sangat pribadi. Perlu kiat tersendiri untuk membahasnya bahkan ada Pakar untuk itu! Walaupun semuanya terlihat standar memulai dengan arahan untuk terlebih dahulu menuliskan tujuan hidup - yang diyakini. Selanjutnya, menuliskan definisi tujuan - yang dipahami. Dari poin-poin itu sang Pakar terlihat gagah mendiskusikannya interaktif bertanya-jawab. Sessi terakhir ditutup dengan menuliskan kwitansi tagihan yang mesti dibayar. Jika gratis, sang Pakar khawatir ter-degradasi. Apalagi dia telah lebih dahulu menuliskan tujuan dan defisini yang dia pahami, artinya, untuk bisa bergelar Pakar dia harus dibayar walau jika itu hanya untuk kegiatan saling bertukar isi pikiran.

Dan, Anda pun bisa menirunya!
Caranya, mulailah menuliskan tujuh keunikan pribadi terkait tujuan yang bermakna dalam hidup Anda. Renungkan mendalam pertanyaan: “apa keinginan terdalam dalam hidup ini?" Tuliskan tiap wawasan yang terlintas, setiap hari begitu. Dalam satu bulan Anda akan punya tiga puluh catatan unik dari alam pemikiran.


Beri “perhatian”. Karena perhatian adalah mendengar apa yang dikatakan intuisi tanpa menilainya. Proses merenungkannya, adalah bagian dari proses penyelidikan untuk menemukan poin pembahasan interaktif untuk membangun khasanah pemahaman mendalam. Anda memerlukan orang lain untuk bisa membahasnya. Dan itu menjadi bukti bahwa kegiatan untuk menemukan tujuan bukan kegiatan individu perseorangan tetapi, menjadi tanggungjawab sosial. Mustahil melakukan sendiri!

Kashdan & McKnight mengartikan Tujuan: "sebagai tujuan hidup yang sentral demi mengatur diri sendiri. Dan menjadi identitas individu seseorang, terutama karena untuk mengorganisir kerangka kerja pembentukan pola perilaku sistematis kehidupan sehari-hari. Tujuan, akan memotivasi untuk mendedikasikan sumber daya didalam arah tertentu menuju arah tujuan tertentu, oleh dirinya sendiri, bukan oleh orang lain. Terpusat menjadi hasil dari sesuatu tujuan".

Karenanya, mustahil mencapainya secara sekaligus, perlu pembatasan target serta upaya pencapaian terus-menerus.

Frankl, psikiater penulis buku: “Man's Search for Meaning" (1947), mengatakan bahwa: “jika seseorang kehilangan tujuan atau makna, mereka akan mati”.
Olehnya disimpulkan bahwa, penting bagi seseorang untuk mengidentifikasi tujuan positif dalam hidupnya, karena itu yang akan membuatnya mencintai hidup. Merenung membayangkan tujuan dan secara visual membenamkan diri dalam bayangan tujuan keinginan Anda.


Walau tujuan hampir pasti mustahil bisa tercapai namun, penelitian menunjukkan bahwa orang yang menemukannya terlihat lebih bahagia. Perlu waktu bertahun-tahun mencapainya.

Mungkin, itu yang membuat orang-orang tak banyak yang sudi meluangkan waktu memikirkannya. Kebanyakan telah puas walau hanya diberikan tujuan hidup yang ditetapkan oleh orang tua, guru dan para pemimpin spirituil.

Dan Anda pun bisa menuliskan daftar “tujuan" yang dikatakan oleh orang lain untuk Anda miliki, setelahnya, fokuslah pada satu dua tujuan saja. Pertanyakan: "apa nilai terdalam yang paling terdalam dari diri Anda?" Akan timbul banyak pertanyaan mengikuti. Perlahan, nilai-nilai tujuan akan menggiring menemukan tujuannya.

“Pertanyakan segalanya, termasuk pertanyaan diri sendiri!”~Descarte

Dan Anda akan bertumbuh berkembang menjadi seorang individu pemimpin bukan sekedar menjadi orang-orang sekelas pengikut.

~Salam domino selalu!
rwgw

Senin, 25 Februari 2019

KEUNIKAN PERJALANAN HIDUP

“If you want to be truly successful invest in yourself to get to the knowledge you need to find your unique factor. When you find it and focus on it and persevere your success will blossom”.
~Sidney Madwe

Seorang klien lama mengundang bertemu dan memaparkan detil bisnis yang akan digelar ditahun babi tanah 2019 konon dipenuhi kemakmuran. Rencananya telah lama dirawat dibenaknya, ditahun babi tanah keberaniannya meningkat, akan all-out menuju keberhasilan. Berbagai survey terkait dibayar untuk mendalami konten dan pemasarannya, ikut beberapa pelatihan demi meningkatkan kemampuannya. Anaknya yang baru saja diwisuda diajak serta turut mendampingi untuk menambah khasanah wawasannya.

Uraiannya menarik, bahkan semakin menarik karena merinci bagian-bagian rencana terurai tahap demi tahap. Beberapa masih perlu dimatangkan spesifik walau perlahan telah menunjukkan hasil tetapi masih perlu dimaksimalkan. Menurutnya, butuh beberapa tahun untuk sampai ke tahapan itu tetapi, dia bisa merampungkannya dalam dua tahun terakhir ini. Beberapa bagian malah telah beroperasi dan menunjukkan perkembangan lumayan, beberapa lainnya yang dinilai kritis perlahan nyaris rampung. Setelah diwisuda anaknya ditawari sistim partnership diminta mendalami bidang yang cocok, bisa mulai bersiap mengelolanya.

Tipikal bisnisnya sepertinya dipersiapkan untuk generasi setelahnya, apalagi persiapannya sudah sedemikian rupa walau usia telah tergolong lanjut. Diakui bisnis ini memerlukan pemain usia muda, lebih enerjik, inovatif dipenuhi ide kreatif. Itu adalah generasi setelahnya.

Dia akhiri dan bertanya: “Sudahkah Anda bisa memahami betapa pentingnya pertemuan ini? Tentunya Anda telah bisa menangkap intisari penjelasan saya dan, apa tujuan spesifik yang hendak dicapai?”

Saya kaget!

Saya jawab gamblang: “Sebagaimana Anda berhasil menunda pencapaian tujuan bisnis Anda ini, barangkali Saya pun perlu melatih diri untuk menunda tujuan saya untuk langsung bisa memberi jawaban. Tentunya, detilnya akan saya uraikan melalui email pada beberapa waktu kedepan”.

Dia juga ikut kaget!

Risiko pertemuan kagetan, kerap berhias hal yang mengagetkan dan tak perlu kaget jika peserta terkaget-kaget. Kami tertawa bersalaman sembari saling mengingatkan agar tidak lupa kenapa kaget berbuah kaget itu terjadi.

Dalam perjalanan pulang, benak dipenuhi tanya terpacu bertanya: Pernahkah Anda menunda tujuan?
Tidak apa-apa, jika Anda sudah pernah!
Itu bagus!

Jika pun belum, itu juga tidak apa-apa!
Karena itu juga bagus!

Anda hanya perlu sesuatu pengingat, untuk memotivasi agar Anda memotivasi diri, dan termotivasi - tiap waktu!
Berkemampuan memotivasi diri!
Itu perlu!

Orang cenderung berputar-putar keliling sana-sini bagai gasing, lelah letoy menggelinding kesana kemari hanya karena menunggu persetujuan sebelum dia membiarkan dirinya sendiri memperoleh sesuatu. Sesuatu yang diinginkan. Sesuatu yang disebut sebagai sukses keberhasilan.

Dari berbagai kisah sukses orang-orang sukses bisa disimpulkan bahwa hanya akan ada dua cara mencapai sukses keberhasilan.

Kesatu: Jalan Panjang?
Perhatikan dengan cara seksama dan, lakukan seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain. Ikuti cara apa dan bagaimana dilakukan; disiplin berlari mengejar waktu, menyelam kedasar lautan ilmu mendalami kedalaman pengetahuan; memanjat mendaki posisi teratas persis seperti yang dilakukan orang-orang; mengeluh demi mendapatkan tangga penopang, memanjat naik dan, tunggu sampai seseorang mengijinkan Anda untuk Anda bisa melakukan hal yang sama persis seperti yang mereka lakukan atau untuk melakukan hal yang berbeda yang Anda kira bisa Anda lakukan.
Pahit dan melelahkan.

Kedua: Jalan Cepat?
Perhatikan secara seksama kemudian lakukan secepatnya dengan cara tercepat yang memungkin Anda lakukan; Mulailah sesuai dipercontohkan, pelajari mendalam dan dapatkan cara tercepat walau jika risiko kegagalan kerap menganga. Hadapi! Abaikan selam-menyelam menggali pengetahuan; lupakan anak tangga yang dipersyaratkan. Cemooh berbagai persyaratan yang dipersyaratkan orang-orang kepada Anda, karena Anda tak memerlukan ijin dari siapa pun untuk bisa sukses mencapai sukses keberhasilan. Bantu orang-orang lain melakukan hal yang sama, motivasi mereka agar kreatif berinovasi menggali sampai potensi maksimal pribadinya. Tawarkan berbagai ide kemudahan yang bisa didapatkan apalagi Anda telah pernah merasakan bagaimana pahitnya meliwati perjuangan. Jangan biarkan orang-orang mengalami hal berat yang dulu pernah Anda rasakan. Sayangi orang lain sebagaimana Anda menyayangi diri Anda sendiri. Bantu mereka keluar dari kesusahan karena ketidakmampuannya. Tawarkan ide terbaik.
Itu perlu Anda pertimbangkan!

Jalan panjang bagai kebanyakan orang-orang sukses? Atau jalan tercepat bagai beberapa orang sukses lainnya?

Banyak yang senang menunggu waktu bahkan terlihat mencari-cari waktu yang tepat, berharap mimpi ketemu waktu yang tepat untuk nanti bisa bangun diwaktu yang tepat dan, sukses. Tak terasa waktu berlalu begitu saja.

Belajarlah dari orang yang sudah berbuat, menganalisa untuk mendapatkan cara tercepat teliti lagi untuk menemukan cara terbaik yang paling baik.

Kegagalan terbesar adalah ketika Anda tidak memiliki kisah sukses karena Anda tidak pernah berbagi bagaimana Anda mengisi perjalanan hidup Anda. Sudahkah Anda menjalani hidup Anda sepenuhnya?

Mulailah melakukannya. Tidak perlu khawatir jika ceritera Anda tidak sempurna, karena sempurna adalah musuh bersama, bahkan tak seorang pun mau untuk dianggap sempurna. Secukupnya saja! Itu malah lebih bersahaja.

Langkah panjang bermula dari langkah pendek! Tindakan sekecil apapun mengandung makna arti dan punya keindahannya sendiri.
~salam tertunda selalu!
rwgw

Kamis, 21 Februari 2019

KALA KETIKA BERLUMURAN RASA KHAWATIR

“Every great story on the planet happened when someone decided not to give up, but kept going no matter what.”~Spryte Loriano

Setiap kisah hebat di planet ini terjadi ketika seseorang memutuskan untuk terus berjuang dan tidak menyerah walau apa pun yang terjadi, demikian menurutkan Spryte Loriano. Kebenarannya tak perlu diragukan bahkan tidak untuk diperdebatkan karena esensinya itu adalah kebenaran sejati untuk direnungkan, menjadi suplemen nurani agar tidak surut melangkah meraih impian.

Anda mungkin sama dengan saya yang tak henti bekerja keras untuk mencapai sesuatu, berjuang mewujudkan impian. Oleh karena begitu beratnya, semua menjadi berantakan. Terhenti, pusing, lelah, enerji terkuras habis, semangat pupus, diri tak lagi sudi meneruskan.

Mungkin Anda sama dengan saya, yang selalu berusaha menabung agar bisa membeli sesuatu. Irit dari waktu ke waktu, berusaha menyisahkan sebagian penghasilan bulanan. Sedikit demi sedikit sekian lama bakal menjadi bukit. Bisa membeli keinginan hati. Berjalan sekian waktu, tabungan tak juga membukit, malah habis tergerus karena kebutuhan lain.

Nelangsa!
Harapan tinggal harapan, keinginan hati kalah oleh sesuatu keinginan lainnya. Gagal, seolah kita tak berhak menurutkan keinginan hati. Tak sesuai harapan, nurani berontak. Serasa ada yang mengganjal, ada yang menghalangi. Sesuatu yang sulit dijelaskan.

Tertanam didalam benak, kita tidak akan bisa berhasil menabung, mungkin kita tak akan bisa mendapatkannya. Bahwa kita pasti akan gagal. Mungkin, harus menyerah karena tak sesuai harapan. Rasa dongkol membukit, perlahan berubah menjadi penyakit.

Itu yang salah! Begitu kata tetangga. Mestinya tidak begitu Oom! Keinginan harus terus dipacu, rasa dongkol jangan dipelihara, jangan malah dilayani, harus dilawan! Jika tidak, bakal penyakitan!

Kala termenung merenung, terbayang kenyataan berganti dengan pendapat tetangga. Kedua-duanya kenyataan. Pendapatnya sahih tak diragukan kebenarannya.

Itu yang benar!


Mungkin, pikiran kita yang menghalangi, pelan-pelan berbisik membisiki sesuatu yang mustahil di nurani, meracuni semangat, memberitahu bahwa kita tidak akan pernah bisa berhasil. Bahwa kita pasti akan gagal. Sebelum kita tersadar menyadari, kita telah mengalahkan diri sendiri.

Musuh terbesar adalah keraguan diri!

Bukan kita yang tidak fokus pada tujuan. Bukan kita yang tidak maksimal berjuang. Bukan kita yang kurang semangat berusaha. Bukan kita yang tidak keras berjuang keras. Bukan pikiran kita yang harus dimusuhi. Bukan pikiran tetangga yang lebih baik dari pikiran kita karenanya tak perlu menyewa pikirannya untuk agar bisa berpikir seperti dia.

Kita harus bisa menolak pikiran yang menyesatkan, melawannya. Perlu bandel, ngotot menghalaunya. Kita perlu akal sehat.

“Too many of us are not living our dreams because we are living our fears.”~Les Brown
Terlalu banyak dari kita yang tidak mewujudkan impian kita karena kita menjalani ketakutan kita, demikian kata Les Brown.

Kiranya menjadi sumber inspirasi menggapai sukses keberhasilan.

Salam Khawatir Selalu!
rwgw