“Jika seseorang kehilangan tujuan atau makna, mereka akan mati”
~Frankl, psikiater di Auschwitz.
Orang yang dengan jelas menetapkan tujuannya diyakini akan lebih berpeluang untuk mencapainya, dan yang tidak bisa menetapkan tujuannya diragukan kemampuannya memelihara pengharapannya.
Prihal tujuan kerap dipersoalkan apalagi banyak yang terlihat mudah menyerah dan memilih mengikuti tujuan orang-orang. Mungkin karena rumit njelimet, apalagi kala Anda mempertanyakan sesuatu tujuan akan timbul rentetan berbagai pertanyaan: “Kenapa harus ditetapkan, siapa yang menetapkannya, untuk apa? Apakah jika kita telah menetapkannya kita telah paham arti makna hidup? Jika telah paham, selanjutnya apa?”.
Sejarah pertikaian pada babad peradaban, diduga terjadi karena kebanyakan orang-orang gagal memenangkan pertikaian yang terjadi di dirinya sendiri, bahkan tidak mudah walau jika itu hanya untuk menjawab pertanyaan:"Selanjutnya apa?".
Ironis, tidak banyak yang meluangkan waktu mendalami eksistensinya, kebanyakan takut menjadi Gila karenanya. Terlihat banyak yang malah memilih mengutip bagian-bagian ayat-ayat suci spirituil yang dia kira cukup memadai untuknya.
Dan itupun dipertanyakan juga:“Apakah memang itu tujuan yang sebenar? Apakah itu benar-benar telah mencerminkan tujuan sesuai nurani batin Anda?”.
“Barangkali, Anda itu hanya mengikuti ‘tujuan’ yang oleh orang lain dikatakan tujuan itulah tujuan sebenar yang mesti Anda ikuti? Betulkah, begitu itu?”
Hati-hati, Anda bisa Gila memikirkannya!
Konon katanya, Otak manusia menunjukkan bahwa tiap orang hakikatnya punya ‘tujuan instingtual’ namun, perlu direnungkan agar paham memahaminya. Konon katanya, kita itu perlu membebaskan diri dari sifat habitat lingkungan agar bisa memahami sifat diri sendiri. Konon katanya, kita itu perlu membebaskan diri dari anutan spirituil yang kita telah ketahui, bahkan perlu terbebas dari pengaruh ajaran teologis untuk sekedar menemukan keunikan tujuan hidup. Konon dan seterusnya.
Hati-hati, jangan sampai Anda Gila karenanya!
Mungkin itupun diperdebatkan juga. Mungkin orang-orang akan memberi jabaran uraian panjang bahwa sejarah ilmu filsafat serta ilmu-ilmu agama telah cukup lama dipenuhi berbagai jawaban yang berbeda tentang persoalan ambigu ini.
Itu tak soal! Anda hanya harus paham akan kenyataan bahwa, setiap orang mengandung hakikat kebenarannya masing-masing.
Faktanya adalah, tujuan hidup kebanyakan orang-orang pada dasarnya disesuaikan dengan budaya serta situasi ekonomi wilayah setempat, dilingkungan dia terlahir, bertumbuh berkembang serta berkembang biak. Hingga kemudian mati.
Fakta lainnya adalah, nyaris semua berpendapat sama dengan menempatkan faktor mata pencaharian serta faktor kekerabaatan diposisi teratas. Seolah kebutuhan dan uang adalah segalanya. Puas jika kebutuhan mendasar sandang dan pangan bisa terpenuhi. Lainnya adalah pelengkap. Sederhananya, begitu itu!
Yang tidak puas, berusaha memiliki segalanya!
Walau pada akhirnya, kebanyakan mereka hanya akan mencurahkan keinginan hati dan kegagalannya saja dan, selanjutnya mengumpat serta mencemooh kehidupan yang dianggap tidak berpihak.
Menetapkan tujuan menjadi penopang dalam proses pencapaiannya. Termasuk dan tidak terbatas jika tujuan itu hanya untuk menemukan tujuan orang satu lainnya sebagaimana ditetapkan. Pencapaiannya menjadi ukuran kepuasan, hingga julukan Pelatih terbaik hanya akan dilekatkan pada seseorang yang berhasil membawa Atlit binaannya tampil menjadi juara.
Nyaris semua orang setuju bahwa tujuan “hidup” adalah bersifat sangat pribadi. Perlu kiat tersendiri untuk membahasnya bahkan ada Pakar untuk itu! Walaupun semuanya terlihat standar memulai dengan arahan untuk terlebih dahulu menuliskan tujuan hidup - yang diyakini. Selanjutnya, menuliskan definisi tujuan - yang dipahami. Dari poin-poin itu sang Pakar terlihat gagah mendiskusikannya interaktif bertanya-jawab. Sessi terakhir ditutup dengan menuliskan kwitansi tagihan yang mesti dibayar. Jika gratis, sang Pakar khawatir ter-degradasi. Apalagi dia telah lebih dahulu menuliskan tujuan dan defisini yang dia pahami, artinya, untuk bisa bergelar Pakar dia harus dibayar walau jika itu hanya untuk kegiatan saling bertukar isi pikiran.
Dan, Anda pun bisa menirunya!
Caranya, mulailah menuliskan tujuh keunikan pribadi terkait tujuan yang bermakna dalam hidup Anda. Renungkan mendalam pertanyaan: “apa keinginan terdalam dalam hidup ini?" Tuliskan tiap wawasan yang terlintas, setiap hari begitu. Dalam satu bulan Anda akan punya tiga puluh catatan unik dari alam pemikiran.
Beri “perhatian”. Karena perhatian adalah mendengar apa yang dikatakan intuisi tanpa menilainya. Proses merenungkannya, adalah bagian dari proses penyelidikan untuk menemukan poin pembahasan interaktif untuk membangun khasanah pemahaman mendalam. Anda memerlukan orang lain untuk bisa membahasnya. Dan itu menjadi bukti bahwa kegiatan untuk menemukan tujuan bukan kegiatan individu perseorangan tetapi, menjadi tanggungjawab sosial. Mustahil melakukan sendiri!
Kashdan & McKnight mengartikan Tujuan: "sebagai tujuan hidup yang sentral demi mengatur diri sendiri. Dan menjadi identitas individu seseorang, terutama karena untuk mengorganisir kerangka kerja pembentukan pola perilaku sistematis kehidupan sehari-hari. Tujuan, akan memotivasi untuk mendedikasikan sumber daya didalam arah tertentu menuju arah tujuan tertentu, oleh dirinya sendiri, bukan oleh orang lain. Terpusat menjadi hasil dari sesuatu tujuan".
Karenanya, mustahil mencapainya secara sekaligus, perlu pembatasan target serta upaya pencapaian terus-menerus.
Frankl, psikiater penulis buku: “Man's Search for Meaning" (1947), mengatakan bahwa: “jika seseorang kehilangan tujuan atau makna, mereka akan mati”.
Olehnya disimpulkan bahwa, penting bagi seseorang untuk mengidentifikasi tujuan positif dalam hidupnya, karena itu yang akan membuatnya mencintai hidup. Merenung membayangkan tujuan dan secara visual membenamkan diri dalam bayangan tujuan keinginan Anda.
Walau tujuan hampir pasti mustahil bisa tercapai namun, penelitian menunjukkan bahwa orang yang menemukannya terlihat lebih bahagia. Perlu waktu bertahun-tahun mencapainya.
Mungkin, itu yang membuat orang-orang tak banyak yang sudi meluangkan waktu memikirkannya. Kebanyakan telah puas walau hanya diberikan tujuan hidup yang ditetapkan oleh orang tua, guru dan para pemimpin spirituil.
Dan Anda pun bisa menuliskan daftar “tujuan" yang dikatakan oleh orang lain untuk Anda miliki, setelahnya, fokuslah pada satu dua tujuan saja. Pertanyakan: "apa nilai terdalam yang paling terdalam dari diri Anda?" Akan timbul banyak pertanyaan mengikuti. Perlahan, nilai-nilai tujuan akan menggiring menemukan tujuannya.
“Pertanyakan segalanya, termasuk pertanyaan diri sendiri!”~Descarte
Dan Anda akan bertumbuh berkembang menjadi seorang individu pemimpin bukan sekedar menjadi orang-orang sekelas pengikut.
~Salam domino selalu!
~Frankl, psikiater di Auschwitz.
Orang yang dengan jelas menetapkan tujuannya diyakini akan lebih berpeluang untuk mencapainya, dan yang tidak bisa menetapkan tujuannya diragukan kemampuannya memelihara pengharapannya.
Prihal tujuan kerap dipersoalkan apalagi banyak yang terlihat mudah menyerah dan memilih mengikuti tujuan orang-orang. Mungkin karena rumit njelimet, apalagi kala Anda mempertanyakan sesuatu tujuan akan timbul rentetan berbagai pertanyaan: “Kenapa harus ditetapkan, siapa yang menetapkannya, untuk apa? Apakah jika kita telah menetapkannya kita telah paham arti makna hidup? Jika telah paham, selanjutnya apa?”.
Sejarah pertikaian pada babad peradaban, diduga terjadi karena kebanyakan orang-orang gagal memenangkan pertikaian yang terjadi di dirinya sendiri, bahkan tidak mudah walau jika itu hanya untuk menjawab pertanyaan:"Selanjutnya apa?".
Ironis, tidak banyak yang meluangkan waktu mendalami eksistensinya, kebanyakan takut menjadi Gila karenanya. Terlihat banyak yang malah memilih mengutip bagian-bagian ayat-ayat suci spirituil yang dia kira cukup memadai untuknya.
Dan itupun dipertanyakan juga:“Apakah memang itu tujuan yang sebenar? Apakah itu benar-benar telah mencerminkan tujuan sesuai nurani batin Anda?”.
“Barangkali, Anda itu hanya mengikuti ‘tujuan’ yang oleh orang lain dikatakan tujuan itulah tujuan sebenar yang mesti Anda ikuti? Betulkah, begitu itu?”
Hati-hati, Anda bisa Gila memikirkannya!
Konon katanya, Otak manusia menunjukkan bahwa tiap orang hakikatnya punya ‘tujuan instingtual’ namun, perlu direnungkan agar paham memahaminya. Konon katanya, kita itu perlu membebaskan diri dari sifat habitat lingkungan agar bisa memahami sifat diri sendiri. Konon katanya, kita itu perlu membebaskan diri dari anutan spirituil yang kita telah ketahui, bahkan perlu terbebas dari pengaruh ajaran teologis untuk sekedar menemukan keunikan tujuan hidup. Konon dan seterusnya.
Hati-hati, jangan sampai Anda Gila karenanya!
Mungkin itupun diperdebatkan juga. Mungkin orang-orang akan memberi jabaran uraian panjang bahwa sejarah ilmu filsafat serta ilmu-ilmu agama telah cukup lama dipenuhi berbagai jawaban yang berbeda tentang persoalan ambigu ini.
Itu tak soal! Anda hanya harus paham akan kenyataan bahwa, setiap orang mengandung hakikat kebenarannya masing-masing.
Faktanya adalah, tujuan hidup kebanyakan orang-orang pada dasarnya disesuaikan dengan budaya serta situasi ekonomi wilayah setempat, dilingkungan dia terlahir, bertumbuh berkembang serta berkembang biak. Hingga kemudian mati.
Fakta lainnya adalah, nyaris semua berpendapat sama dengan menempatkan faktor mata pencaharian serta faktor kekerabaatan diposisi teratas. Seolah kebutuhan dan uang adalah segalanya. Puas jika kebutuhan mendasar sandang dan pangan bisa terpenuhi. Lainnya adalah pelengkap. Sederhananya, begitu itu!
Yang tidak puas, berusaha memiliki segalanya!
Walau pada akhirnya, kebanyakan mereka hanya akan mencurahkan keinginan hati dan kegagalannya saja dan, selanjutnya mengumpat serta mencemooh kehidupan yang dianggap tidak berpihak.
Menetapkan tujuan menjadi penopang dalam proses pencapaiannya. Termasuk dan tidak terbatas jika tujuan itu hanya untuk menemukan tujuan orang satu lainnya sebagaimana ditetapkan. Pencapaiannya menjadi ukuran kepuasan, hingga julukan Pelatih terbaik hanya akan dilekatkan pada seseorang yang berhasil membawa Atlit binaannya tampil menjadi juara.
Nyaris semua orang setuju bahwa tujuan “hidup” adalah bersifat sangat pribadi. Perlu kiat tersendiri untuk membahasnya bahkan ada Pakar untuk itu! Walaupun semuanya terlihat standar memulai dengan arahan untuk terlebih dahulu menuliskan tujuan hidup - yang diyakini. Selanjutnya, menuliskan definisi tujuan - yang dipahami. Dari poin-poin itu sang Pakar terlihat gagah mendiskusikannya interaktif bertanya-jawab. Sessi terakhir ditutup dengan menuliskan kwitansi tagihan yang mesti dibayar. Jika gratis, sang Pakar khawatir ter-degradasi. Apalagi dia telah lebih dahulu menuliskan tujuan dan defisini yang dia pahami, artinya, untuk bisa bergelar Pakar dia harus dibayar walau jika itu hanya untuk kegiatan saling bertukar isi pikiran.
Dan, Anda pun bisa menirunya!
Caranya, mulailah menuliskan tujuh keunikan pribadi terkait tujuan yang bermakna dalam hidup Anda. Renungkan mendalam pertanyaan: “apa keinginan terdalam dalam hidup ini?" Tuliskan tiap wawasan yang terlintas, setiap hari begitu. Dalam satu bulan Anda akan punya tiga puluh catatan unik dari alam pemikiran.
Beri “perhatian”. Karena perhatian adalah mendengar apa yang dikatakan intuisi tanpa menilainya. Proses merenungkannya, adalah bagian dari proses penyelidikan untuk menemukan poin pembahasan interaktif untuk membangun khasanah pemahaman mendalam. Anda memerlukan orang lain untuk bisa membahasnya. Dan itu menjadi bukti bahwa kegiatan untuk menemukan tujuan bukan kegiatan individu perseorangan tetapi, menjadi tanggungjawab sosial. Mustahil melakukan sendiri!
Kashdan & McKnight mengartikan Tujuan: "sebagai tujuan hidup yang sentral demi mengatur diri sendiri. Dan menjadi identitas individu seseorang, terutama karena untuk mengorganisir kerangka kerja pembentukan pola perilaku sistematis kehidupan sehari-hari. Tujuan, akan memotivasi untuk mendedikasikan sumber daya didalam arah tertentu menuju arah tujuan tertentu, oleh dirinya sendiri, bukan oleh orang lain. Terpusat menjadi hasil dari sesuatu tujuan".
Karenanya, mustahil mencapainya secara sekaligus, perlu pembatasan target serta upaya pencapaian terus-menerus.
Frankl, psikiater penulis buku: “Man's Search for Meaning" (1947), mengatakan bahwa: “jika seseorang kehilangan tujuan atau makna, mereka akan mati”.
Olehnya disimpulkan bahwa, penting bagi seseorang untuk mengidentifikasi tujuan positif dalam hidupnya, karena itu yang akan membuatnya mencintai hidup. Merenung membayangkan tujuan dan secara visual membenamkan diri dalam bayangan tujuan keinginan Anda.
Walau tujuan hampir pasti mustahil bisa tercapai namun, penelitian menunjukkan bahwa orang yang menemukannya terlihat lebih bahagia. Perlu waktu bertahun-tahun mencapainya.
Mungkin, itu yang membuat orang-orang tak banyak yang sudi meluangkan waktu memikirkannya. Kebanyakan telah puas walau hanya diberikan tujuan hidup yang ditetapkan oleh orang tua, guru dan para pemimpin spirituil.
Dan Anda pun bisa menuliskan daftar “tujuan" yang dikatakan oleh orang lain untuk Anda miliki, setelahnya, fokuslah pada satu dua tujuan saja. Pertanyakan: "apa nilai terdalam yang paling terdalam dari diri Anda?" Akan timbul banyak pertanyaan mengikuti. Perlahan, nilai-nilai tujuan akan menggiring menemukan tujuannya.
“Pertanyakan segalanya, termasuk pertanyaan diri sendiri!”~Descarte
Dan Anda akan bertumbuh berkembang menjadi seorang individu pemimpin bukan sekedar menjadi orang-orang sekelas pengikut.
~Salam domino selalu!


