Jumat, 29 Juni 2018

ANDAI KITA PAHAM ARTI BERBAGI

"The Great use of life is to spend it for something that will outlast it."~William James

Your Inspiration!
You don't need money or fancy toys to be fulfilled. The world is full of things that can delight you - the sound of a spring robin, the scent of a flower, the smile on a child's face. Today, make it a point to count the things that delight you - and I bet you will find that most of them are the simple things and don't cost a thing.
Mungkin terasa aneh pada awalnya, dan mungkin kita telah sering melakukannya. Jika tidak, saya tak punya hak untuk mendesak agar Anda segera melakukan hal yang sama dan menjadikannya sebagai kebiasaan baik dalam perjalanan hidup Anda. 

Kita semua tahu bahwa perihal tunawisma adalah mereka yang oleh karena satu dan lain hal tidak punya atau kehilangan tempat tinggal, tempat dimana selayaknya keluarganya berteduh. Kita juga tahu bahwa hal yang sama seperti itu mudah ditemukan di belahan bumi ini, bahkan Amerika negara super digdaya pun punya permasalahan tunawisma. Anehnya, semua pemimpin negara merdeka, diawal mula kemerdekaannya mengajak warganya untuk bersama mendukung menyatakan kemerdekaannya agar terbebas dari penjajah, dan punya tempat tinggal yang layak dan nyaman. 

Seiring waktu, semua diserahkan ke-keadaan yang kini dikenal sebagai kebebasan ekonomi. Pemodal akan selalu mendapatkan tempat untuknya bisa berusaha, sedangkan pekerja hanya akan mendapatkan pertimbangan layak tidaknya diberi pekerjaan. Pekerja yang ditugaskan untuk mengatur beberapa bawahan, tak lama kemudian menyatakan diri bahwa mereka adalah tenaga profesional yang  dibayar sesuai keahliannya. 

Jika punya akal sehat, jangan pernah mengomentarinya - terima saja! Semua telah jelas apa adanya. Tak cukup alasan untuk bertanya mengapa negara lebih memilih membangun jalan bebas hambatan daripada menyediakan rumah layak untuk warganya? Konon katanya, itu demi untuk pertumbuhan ekonomi nasional, demi rakyat juga - nantinya. Percaya sajalah. Itu benar dan itulah kebenarannya, karenanya tak perlulah dibahas. 

Dan tulisan kali ini, bukan untuk membahas itu, tetapi sesuatu yang bisa atawa sama sekali tidak terkait akan hal itu.

Nyaris semua orang pintar berpendapat senada seirama, bahwa tunawisma adalah buah dari sifat malas. Malas belajar, malas mencari pekerjaan, malas bekerja bahkan malas bermalas-malasan. Konon kabarnya, mereka menjadi seperti itu karena mereka punya kebiasaan alkohol atawa narkoba. Mudah mengatakannya, bahwa mereka akan membelanjakan berapa pun uang miliknya untuk bisa membeli alkohol dan narkoba yang kian merusak dirinya.

Akan letih mengulasnya, lebih mudah jika diabaikan saja. Dan kita semua suka akan hal-hal yang mudah. Mungkin, bisa jadi begitu itu!

“We think too much and feel too little. More than machinery, we need humanity. More than cleverness, we need kindness and gentleness”
~Charlie Chaplin.

Apapun itu, sejarah akan mencatatnya. Alam semesta tidak peduli apa yang kita pikirkan. Itu tidak membedakan antara niat kita dan apa yang sebenarnya terjadi jika kita memberi bantuan.

Alam semesta tidak pernah memandang rendah niat membantu, apakah mereka menggunakannya untuk tujuan baik atau menghabiskannya untuk hal tidak baik. Tak cukup keahlian kita untuk bisa menilai apa yang membuat mereka itu menjadi tuna di Nagari yang dikenal kaya akan alam dan potensi pemberdayaannya. Walau dikata Negara wajib memberdayakan mereka, jangan kita mau terjebak dalam pusaran adu jawab adu tanya, adu titik adu koma, argumentasi tak akan kunjung habis. Jika kita suka hal-hal mudah maka mari kita bikin mudah. 

Memberi bukan hal mudah, itu betul dan Anda jujur akan hal itu. Tetapi jika itu mulai dilakukan dan menjadikannya menjadi kebiasaan rutin, tak lama berselang hal itu akan mudah. Berilah dengan penuh makna dan lihatlah betapa bersyukurnya mereka menerima. Terasa aneh, ternyata bukan jumlah yang terutama. Kita akan merasakan debaran perasaan syukur yang mereka alami, dan kemudian apa yang kita beri akan kembali sebagai berkat. Percaya saja akan hal itu!

Lakukanlah rutin, Anda tak akan bakal bangkrut karenanya. Justru sebaliknya, Anda akan mendapat kekaguman sendiri dalam hidup, akan banyak yang kembali dalam berbagai cara. Tercengang-cengang pastinya, jika dirunut seolah mendapat imbalan lebih banyak dari yang pernah diberikan. Perhatikan hidup Anda, dan Anda akan lihat.

Mungkin Anda berkata, saya rutin menyumbang sesuai kemampuan. Atau mungkin Anda berkata, saya ini donatur tetap pada badan amal tertentu, itu sah-sah saja. Tetapi menyerahkan langsung memberikannya ke mereka-mereka yang membutuhkan akan membangun koneksitas nurani yang belum pernah Anda rasakan sebelumnya. Sulit menjelaskannya. Lakukanlah, ada rasa berdebar di dada, Anda akan merasakannya.

Kekuatan rasa syukur dibalik ucapan terima kasih penuh makna menjadi imbalan kala berbagi ke sesama. Anda akan kagum akan hidup Anda.

Berbagi ke sesama satu lainnya akan membawa kita ke satu titik pembelajaran rahasia hidup, sesuatu yang kita perlu tahu. Akan ada banyak rahasia lagi yang kita perlu ketahui walau lebih banyak yang kita tak akan sempat bisa ketahui.

Belajar menjadi satu-satunya cara yang dipersyaratkan oleh hidup untuk kita bisa mengisi hidup agar kita tetap diperlukan dalam kehidupan ini.

~salam berbagi selalu!
Just give a click!

Selasa, 26 Juni 2018

ANDAI KITA PAHAM ARTI PERILAKU NEGATIF

“We think too much and feel too little. More than machinery, we need humanity. More than cleverness, we need kindness and gentleness”
~Charlie Chaplin

Tiap kita pasti pernah jengkel, sakit atau mengalami suasana hati yang tidak baik, beberapa bahkan mungkin merasa tengah berada di neraka. Ada yang mendasarkan penilaiannya karena situasi keuangan yang kronis, ada karena pekerjaan yang tidak menjanjikan perkembangan karir, ada juga yang merasa kehidupannya serasa kian jauh dari yang dicita-citakan. Ada banyak hal yang bisa mempengaruhi. 

Meski banyak yang tak mengakuinya tetapi pernah merasakannya. Ada yang pintar menyembunyikannya, ada yang malah ekstrim hingga benci ketiap orang hingga berlaku tidak senonoh terhadap dirinya. Berkata kasar ke tiap orang hingga berusaha mencilakakan dirinya, bahkan malah menggugat sang Maha Kuasa.

Jika disimak lebih mendalam, penyebab utama diduga berawal dari penyangkalan atas diri serta perilaku sendiri dalam mengharungi hidup.

Beberapa yang dianggap menjadi sumber petaka:

DEMI HARGA DIRI:
Sulit jika tiap hal didasarkan pada harga diri. Hingga malu meminta bantuan orang, hingga minus rasa hormat kepada orang lain, hingga hanya percaya pada kekuatan diri sendiri, hingga hanya bersedia mengikuti naluri sendiri. Seiring waktu perilaku seperti itu akan menjadi bumerang dan kita akan dijauhi oleh orang-orang.

Kita harus belajar menerima diri kita sepenuhnya. Baik atau buruk itu adalah diri kita, dan apa yang kita perbuat dalam hidup bukan karena keinginan orang lain. Jika ingin merubah diri, lakukanlah itu karena terdorong oleh keinginan sendiri, bukan karena berpikir agar supaya orang lain menilai diri kita telah berubah menjadi terbaik.

Kita tidak sepatutnya meletakkan harga diri kita melebihi langit-langit kamar tidur kita. Tidak sepatutnya kita bertindak berlebihan berketergantungan pada ketetapan sesat bahwa betapa diri kita sangat penting. Belajarlah mencintai diri sendiri secara benar, menghargainya secara wajar agar orang lain bisa memperlakukan kita secara wajar.

Maka mulailah dari diri kita sendiri. Janganlah berlebihan.

DEMI DENDAM MASA LALU:
Kita kerap bersikap melankolis untuk hal-hal yang menyesatkan. Entah untuk alasan apa, kita kerap menyimpan dendam hingga sulit untuk menemukan kedamaian hidup. Seyogianya kita lepaskan rasa kebencian dan hal-hal yang mengganjal pikiran. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan mengurusi hal-hal negatif, merawat kepahitan-kepahitan yang kita pernah alami.

Jika pun itu adalah kesalahan fatal orang-orang, tak lah patut kita berlelah-lelah menghabiskan waktu untuk mendaftarkan kesalahan orang-orang itu ketiap pelosok penjuru dunia. Melepaskannya akan membuat hidup lebih indah, lebih ringan serta mewarnainya dengan berbagai keindahan.

Hidup itu indah, tak patut untuk dirusak dengan kenangan-kenangan pahit seolah tiap orang yang pernah bersalah malah berhutang pengampunan ke kita.

Belajarlah menerima masa lalu, melepaskannya untuk menjadi pendorong yang memberdayakan kita mencurahkan kantong-kantong pengampunan ke orang-orang yang pernah menyakiti.

Bergegaslah. Mulailah sedari dini.

TERPERANGKAP RUTINITAS:
Kita terbiasa melakoni hidup mengikutkan kebiasaan sehari-hari, kita lupa bahwa bukan hanya itu cara mengisi hidup. Tersadar ketika menjelang usia pensiun, kala vitalitas kian melemah, kemampuan produktif menurun seiring usia. Kesempatan kala muda serasa menghilang seiring waktu. Menyesal terpenjara oleh rutinitas sehari-hari, kehilangan waktu seolah menggerogoti perasaan sisa usia.

Seyogianya usia tua dianggap sudah meliwati zona kenyamanan hidup hingga tak lagi perlu berpikir secara rutinitas. Akan lebih bersahaja untuk mencari sesuatu yang baru. Usia tidak patut untuk dijadikan penghalang menggali pengalaman baru. Kita hanya perlu peluang, menjalankannya dan memanfaatkannya. Walau itu hanya untuk waktu singkat itu lebih berarti daripada tidak sama sekali.

Ada banyak yang bisa dilakukan tanpa harus terbebani akan usia. Hidup itu bersahaja, tak patut untuk dirusak dengan pikiran takut tak berdasar. Kelak sejarah mencatat bahwa kita telah melakukan sesuatu. Karena ada banyak hal besar yang sukses dilakukan oleh orang-orang di usia senja.

Jangan biarkan rasa takut menghentikan langkah menyalurkan unsur kebajikan. Jangan biarkan perangkap rutinitas membuat pikiran menjadi rentan membuat hati terluka. Kreatifitas bisa memacu rasa empati dan menghadirkan seluruh unsur kebajikan dalam hidup kehidupan kita.

TERPENJARA ALAM KESENDIRIAN:
Terkadang kita sendiri yang menghalangi langkah untuk mengenal lingkungan. Tanpa sadar membangun tembok pemisah agar tidak perlu bertegur sapa, hingga orang lain pun menjadi enggan untuk bersisian. Seolah berupaya menghindari orang-orang demi mencari ketenangan, sunyi di alam kesendiriannya.

Sebaliknya, disudut lain, ada yang malah memaksakan diri untuk bergaul walau orang-orang di lingkungan itu tidak mengharapkannya, beberapa malah menghindarinya. Ini adalah situasi demi menghindari perasaan sunyi karena alam kesendirian.

Mencari ketenangan didalam kesunyian diri adalah normal, sama normalnya dengan memaksakan diri bergaul dengan siapa saja dilingkungannya daripada terperangkap dalam perasaan sunyi oleh kesendirian yang mencekam.

Ibarat candu, menghindari pergaulan hanya akan merusak diri. Kita seolah menentang pemahaman bahwa kita punya kebutuhan untuk diakui - bahwa kita eksis.

Menghindari pergaulan dengan cara menenggelamkan diri dengan alkohol, atau menonton semua siaran televisi atau surfing internet adalah cara semu agar kita teralihkan dari lingkungan sekitar. Kita terbantu hingga batas waktu tertentu, tetapi akan terpenjara dalam alam kesendirian. Rasa sunyi akan meracuni hari-hari kita.

Sejatinya, kita terlahir tidak untuk hidup sendiri!

Belajarlah mengisi keseharian dengan tindakan efektif bahkan jika itu disaat-saat sulit sekalipun, yakinlah bahwa itu menuju titik kebahagiaan.

Belajar menjadi satu-satunya cara yang dipersyaratkan untuk kita bisa mengisi hidup agar tetap diperlukan dalam kehidupan ini.

~salam positif selalu!


"There's no feeling quite like the one you get when you get the truth: You're the captain of the ship called you. You're setting the course, the speed and you're out there on the bridge, steering."
~Carl Frederick