Jumat, 23 Oktober 2015

Menguji Kemampuan Bertanya Sembari Berpikir Tengah Bertanya

“Emosi adalah karunia luar biasa yang kita punyai untuk memberitahu apa yang sedang kita pikirkan.”~Bob Doyle

Pekerjaan gampang tetapi susah adalah ‘bertanya’, dan pekerjaan sulit tanpa pernah berpikir telah dan tengah melakukannya adalah ‘berpikir’. Keduanya memiliki tingkat kesulitan yang setara, tetapi itu hanya akan tercapai bila ketika kita tengah bertanya dan berpikir mempertanyakan tanya – saya ini sedang berpikirkah atau tengah bertanyakah?. Tidak mudah menjelaskan detil keduanya, sama tidak mudahnya untuk orang bisa memahaminya. Tidak heran jika ada yang bertanya: ‘saya ini sedang apa kah?’ dan itu tidak memerlukan jawaban – percayalah!, hanya orang yang kurang kerjaan yang sudi menjawabnya.

Ada banyak pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban benar atau jawaban salah, bahkan terkadang pertanyaan yang diajukan secara tepat ndilala itu adalah jawaban yang paling tepat. Jadi untuk apa dijawab lagi? Tak heran jika Anda mencuba bolak balik membaca dan cuba meraba kemana arah postingan ini. Sebagaian barangkali merasa geli, lucu atau mungkin malah tidak peduli.

Mari sejenak menenggelamkan pikiran ke kedalaman genangan samudera pertanyaan yang oleh para penikmat sejati dinilai berkhasiat membebaskan diri dari himpitan kepenatan beban pikiran. Sebagai berikut:

Kesatu:
“Pernahkah Anda bertanya berapa lama lagi Anda akan hidup?”
Ini pertanyaan gila, sama gilanya jika Anda mengikuti kata hati Anda untuk menuntutnya agar ia juga ikut bertanya – berapa lama lagi kah? Dan akan semakin lebih gila lagi jika Anda tidak tahu berapa lama lagi persisnya. Kapan kira-kira berakhir? Ampun, berat nian!

Kedua:
“Bilamana Anda yakin, hidup Anda tak lah begitu lama lagi, mengapa Anda masih saja melakukan hal-hal yang Anda tidak sukai?”
Wah pelanggaran! Hanya orang yang tidak waras yang mau hidupnya singkat dan lebih tidak waras lagi jika ada yang mau hidup selama-lamanya. Baiklah, oleh karena Anda tidak ingin hidup selama-lamanya maka Anda senantiasa bergegas mencapai banyak hal, bekerja keras menyelesaikan segala hal. Setidaknya berharap bisa hidup senang dikala masih hidup syukur-syukur bisa menyenangkan hidup orang-orang yang Anda senangi. Itu terdengar waras dan akan lebih waras lagi jika Anda yakin tidak akan pernah bisa menyelesaikan semua hal. Akan selalu ada hal yang belum dilakukan, dan biar lah itu begitu.

Ketiga:
“Jika Anda yakin telah melakukan banyak hal, yakinkah Anda bahwa semua itu adalah hal yang benar? pernah kah Anda berpikir bahwa yang Anda lakukan itu sesungguhnya hanyalah hal-hal yang tidak benar belaka?”
Waduh cilaka, Saya pilih REMIS!
Anda urus saja sendiri, oleh karena hanya Anda seorang yang tahu apa saja hal yang sudah Anda lakukan. Apakah itu benar atau tidak itu hanyalah persepsi semata.

Keempat:
“Andai kata Anda diberi kesempatan menasihati bayi yang baru lahir, apa gerangan nasihat yang menurut Anda tepat untuk Anda berikan?”
Gila, ini pertanyaan yang tidak waras! Sama tidak warasnya jika Anda tidak pernah berpikir bahwa sejatinya anak bayi itu - dengan caranya, tengah menasihati Anda? Wah,,, tambah engga waras lagi!
Baiklah, anggaplah Anda dengan bayi itu sama-sama waras oleh karena itu – dengan cara masing-masing, Anda dengan nya sepakat untuk tidak saling menasihati. Benar-benar kesepakatan waras yang tidak waras bukan? Dan lebih tidak waras lagi manakala kita kerap melakukan hal yang tidak kita sukai. Dimanakah letak kewarasan itu? maka biarlah itu menjadi tugas akhir dari mereka yang mengaku waras, hanya merekalah yang membutuhkannya.

Kelima:
“Pernahkah Anda berpikir bahwa tiap orang kerap merenggut kebahagiaan Anda atau telah membuat Anda menjadi tidak berbahagia?”
Cilaka! Jika Anda berpendapat sedemikian itu, segeralah berkemas menggali timbunan nurani Anda moga-moga masih ada remah yang tersisa. Hanya nurani yang berkuasa atas makna arti bahagia, yang menikmati getaran kebahagiaan, yang tidak pernah bermasalah dengan ketidakbahagiaan. Dan saya sepakat dengan nurani Anda. Masih ada kan? Tak masalah jika Anda menghalalkan segala cara untuk menyelamatkan nurani Anda, dan itu tidak melanggar hukum - apa pun.

Adalah mudah mempertanyakan tindakan orang lain dan itu bisa dilakukan oleh siapa pun tetapi, pernahkah Anda mempertanyakan tindakan diri sendiri? Jika kesempurnaan hanya dimiliki oleh mahluk sempurna, masih kah Anda sudi mengaku diri sebagai sempurna? Satu tanya yang menggelitik nurani. 
Demikian disadur dari berbagai sumber.
~Salam hangat selalu.

Senin, 19 Oktober 2015

Tiap Orang Bertindak Sederhana Tetapi Berpikir Sangat Rumit

Kegagalan bukan pilihan tetapi rencana realistis pertanda lebih cerdas memanfaatkan yang terbaik.

"Believe that life is worth living and your belief will help create the fact."
~William James

Tiap kali memulai bisnis kita nyaris tak pernah bertanya; saya dapat apa – berapa? Tatkala rekan kita ajak turut serta, kita cenderung dibawa tenggelam berpikir rumit. Dihadang berbagai perilaku, ada yang meminta kompensasi diawal, ada yang bersedia dengan syarat ini dan itu. Ada yang langsung jalan tak lama kembali mengusung alasan; ini susah diteruskan! Banyak saingan, produk belum dikenal, harga lebih mahal dari yang sejenis, dll.

Berbagai hal menghadang, bahkan kelayakan kita dipertanyakan. Tawaran tambahan modal tetapi mengontrol sepenuhnya untuk alasan kepastian usaha bagaikan intimidasi. Alat kelengkapan menyedot modal. Mengawali dengan menjual rugi merusak perhitungan awal dan menggerus kinerja. Tiap orang memilih bertindak sederhana tetapi berpikir serumit mungkin. Tak ada jaminan sukses, hanya keuletan dan bersikukuh itu lah modal utama.

Tawaran bisnis menjadi kaya dalam 1x24 jam telah usang bahkan dicemooh. Orang semakin pintar dan lebih realistis, kita harus siap ditanya tanpa pernah siap gerangan hal apa yang akan ditanya. Norma kewajaran, aturan dan syarat kelayakan bisnis bertambah semakin menggerus enerji, menghambat minat berbisnis yang terus bertumbuh.

Modal bukan lagi masalah utama, jaringan bisnis bukan lagi tantangan, kemudahan internet berhasil melengkapi prinsip dasar HAM – persamaan hak mendapatkan penghidupan yang layak. Kini ini, Tim Kerja yang terpenting, dengan siapa Anda berbisnis. Banyak yang memilih menawarkan ke tiap orang, latar belakang bukan penghalang. Yang luwes berpikir sukses oleh kemudahan internet. Dunia tanpa batas menjadikan anak usia belum dewasa kaya raya, melampaui berjibun ilmu yang ditawarkan perguruan tinggi.

Berpromosi menjadi tergantung pada kelihaian kita, fasilitas internet hanya sarana dan kita lah pemain utama. Alat pemasaran menawarkan cara mudah berpromosi; kampanye E-mail, ber-iklan di sosial media, membuat situs Web atau Blog, ber-iklan gratis atau berbayar, dll. Pemasaran bukan lagi hak mutlak penjual, semua bisa berpromosi, menjual dan mendapat hasil. Jaringan internet menciptakan tatanan baru bahkan tipu penipu marak menggerogoti kerja keras pebisnis tulen. Hati-hati, kejujuran akan menang mengalahkan tindakan tidak terpuji.

Sebagian pebisnis takut memanfaatkan internet katanya orang lain akan diuntungkan. Pemikiran benar tetapi sesat. Membuat keuntungan menjadi terbagi adalah benar tetapi itu akan semakin lebih menguntungkan. Contoh restoran; mengurangi keuntungan dengan berbagai gaya seperti diskon untuk acara ulang tahun, rapat berkala, arisan atau fasilitas membership, dll. Tak ubahnya menjadikan pengunjung bagaikan bagian dari TIM Kerja, dan itu lebih menguntungkan.

Kontribusi lahir dari komitmen dan membawa sukses dalam bisnis - apapun. Tambahan ide gagasan serta injeksi pemikiran menjadi nilai tambah. Tiap orang dipaksa belajar memahami segala aspek berkenaan, sejatinya tiap orang ingin sukses melebihi apa yang sudah diperoleh. Membangun TIM Kerja adalah pekerjaan terbesar. Mengajarkan pengetahuan tentang bisnis dipercaya memicu gagasan baru yang melampaui ide gagasan awal. Tiap orang bertanya, ingin tahu bagaimana melakukan ini dan itu, apa saja yang menghadang dan cara menghadapinya, bagaimana kedepan. Innovasi dan kreatifitas bertumbuh. Dan tiap orang menyadari kegagalan bukan pilihan tetapi memperkaya gagasan mewujudkan mimpi menjadi nyata, dan itu yang harus ditetapkan.

"Unless commitment is made, there are only promises and hopes; but no plans."
~Peter F. Drucker

"Kecuali komitmen dibuat, hanya ada janji-janji dan pengharapan; Tetapi tidak direncanakan" demikian Peter F. Drucker. TIM Kerja memerlukan rencana kerja karena komitmen dan janji pengharapan mengharuskannya demikian. Dan itu adalah salah satu tujuan nya, lainnya akan Anda temukan, mengagumkan!

Bisnis SFI mengagumkan, kita dididik untuk berhasil dengan memberhasilkan orang satu lainnya. Menghindari kesalahan yang menghambat keberhasilan orang lain. Ingatlah, tidak ada formula tokcer untuk berhasil, lebih cerdas memanfaatkan yang lebih baik menjadi tahap awal keberhasilan.
~Salam sukses selalu!

Jumat, 16 Oktober 2015

Olah Kesuksesan Orang Lain Menjadi Kesuksesan Sendiri

"Winning starts with beginning."~Robert H. Schuller
"Kemenangan dimulai sedari awal".demikian Robert H. Schuller. Kita kerap tertahan oleh pemikiran sesat akan diri sendiri. Seolah-olah ada sesuatu ‘kekuatan eksternal’ yang menahan laju kita maju. Sesuatu di luar kendali kita, seperti; ‘saya ini berasal dari udik’, atau ‘andai saya punya mobil untuk kerja’ atau ‘bos saya tidak suka sama saya’, dll. Sebagian lain berpikir sesuatu ‘kekuatan internal’ didalam dirinya kerap menghalanginya maju. Dua pemikiran keliru manja mekar di diri kita dan selalu disesali keberadaannya.

Seringkali ‘kekuatan eksternal’ itu kita cari-cari walau kita tahu ia bersemayam didiri kita sendiri. Kita cenderung lebih mudah menyalahkan orang lain, dan nyaman dengan itu. Seakan membenarkan bahwa kita telah berusaha tetapi karena kurang disukai tetap tidak berkembang, bertahan meratapinya. Acap terjerat oleh pemikiran keliru dan terbenam didalamnya, bahkan nyaman dengan itu dan bersemangat menyembunyikan kelemahan sendiri. Andai kita jujur tentulah kita bisa mengenal kekuatan internal kita, tidak seharusnya kita tersudut oleh kekeliruan sendiri. Kita harus mengendalikannya.

Faktor kejiwaaan yang dikenal sebagai ‘kekuatan internal’ adalah "self-image" sesuatu gambaran yang tertanam di ingatan kita - akan citra diri sendiri. Ekstrimnya keluarga terdekat telah menggambarkannya sedari dini, berulang-ulang hingga kita dewasa. Ironisnya hanya hal-hal buruk yang mendominasi, gambaran baik malah terlupakan tanpa kita pernah menyadarinya. Begitu parahnya bahkan ucapan pujian tulus dari atasan dianggap bak peringatan.

Pengalaman masa kecil sangat membekas, manakala oleh keluarga kita diperbandingkan dengan saudara lain atau dengan teman seusia. Gambaran terbentuk dan menjadi citra diri. Semisal kata-kata; ‘dia itu pemalu tidak bisa membawa diri’ atau ‘dia itu kurang percaya diri tak bisa menjelaskan sesuatu’. Tanpa sadar itu tertanam hingga dewasa dan berubah: ‘aku tidak akan pernah berhasil menyampaikan ide gagasan karena tidak pandai berbicara, pemalu dan aku bukan tipikal pemimpin’. Tumpukan ha-hal negatif bak menggunung, keyakinan negatif menghambat. Rongrongan kejiwaan sedari dini, mungkin awalnya terdorong keinginan orang tua untuk melindungi tetapi malah merusak potensi diri.

Bagaikan ‘bahasa pemrograman’ kata-kata dipercaya membentuk bangunan citra diri. Tiap kita cenderung menyembunyikan kelemahan sendiri dengan memilih kegiatan yang bisa menyembunyikannya. Tersandera tanpa kuasa memastikan kebenarannya. Diperlukan seseorang untuk mendorong kita melintasi pembatas itu, atau kita tak akan pernah mengolah keunggulan kita. Mungkin tak bisa dimusnahkan atau mungkin tak akan bisa memaksa nya keluar tetapi kita BISA mengubahnya. Hanya kita harus percaya, mengujinya dengan percobaan sederhana semisal melakukan sesuatu yang berbeda dari rutinitas hidup kita.

Caranya bisa dengan mengkritisi kesuksesan sendiri, sayangnya kita terbiasa menolak karena tidak memahaminya. Mengenal batasan arti ‘sukses’ bisa menjadi langkah awal tetapi kita tak siap akan konsekuensi nya. Merubah nya sembari melangkah maju dengan kerendahan hati alhasil menjadi bijaksana. Selebihnya tinggal keberanian kita untuk bangkit. Banyak orang bijak berhasil menjual metode jalan keluar tentang hal ini tetapi malah tidak pernah menerapkannya. Hanya berhasil membuat alasan demi alasan hingga terkubur dalam kepenatan pemikiran. Tidak mengapa membayarnya tanpa harus mengikutinya. Olah lah itu, ingatlah, Anda jauh lebih hebat dari yang Anda duga-duga.

"The only difference between success and failure is the ability to take action".
~Alexander Graham Bell
Di SFI kita dididik untuk berhasil dengan memberhasilkan orang satu lainnya. Menghindari kesalahan yang menghambat keberhasilan orang lain, dilatih meniru para pendahulu kita, dan itu adalah cara jitu mengolah kesuksesan orang lain untuk kesuksesan sendiri.
~Sukses untuk Anda!

Selasa, 13 Oktober 2015

Warisan Peradaban Yang Kukuh Tetap Bertahan Hanyalah PERUBAHAN

“We often think of time as a powerful healer. But time doesn't change things. What changes is the way you look at the world, the way you choose to interact with it. Recognizing gives you amazing power. IF you can change yourself - and you can - you can change your relationship with the world. When you can be useful to others, rather than merely hoping that they will be useful to you, you are a better person because of it. What's more, you will be happier as well”.
~Ellis Peters

“Kita sering berpikir waktu sebagai penyembuh yang kuat. Tapi waktu tidak mengubah keadaan. Perubahan-perubahan yang terjadi terletak pada cara Anda melihat dunia, cara Anda memilih untuk berinteraksi dengan perubahan itu. Menyadari memberi Anda kekuatan luar biasa. Jika Anda dapat mengubah diri sendiri - dan Anda dapat - Anda dapat mengubah hubungan Anda dengan dunia. Ketika Anda dapat berguna untuk orang lain, bukan hanya berharap bahwa mereka akan berguna bagi Anda, Anda adalah orang yang lebih baik karena itu. Terlebih lagi, Anda akan lebih bahagia juga. Demikian Ellis Peters.

Satu-satunya yang tetap dan konstan mengisi perjalanan hidup kita hanyalah perubahan. Kemampuan fisik, tampilan wujud fisik mengalami perubahan dari hari ke hari. Gombor merubah sintal, mulus pupus mengkeriput dan kita sadar akan itu, bahkan kita menyadari ekses dari perlakuan serta kelakuan kita terhadap tubuh kita. Semisal, untuk menghormati batuk kita cuti merokok, ketika loyo kita senam kesegaran jasmani, dll. Sebagian malah tak sungkan menyiksa tubuhnya hingga hanya diberi asupan makanan dedaunan saja, katanya lebih menyehatkan. Sebagian lain malah tidak peduli. Tetapi tiap satu daripadanya tetap saja berubah dan berubah. Menjadi tua dinilai sehat alamiah. Yang tidak tua-tua malah dikata sakit - tak juga dia bosan!

Aspek sosial juga turut berubah, sedari pertemanan di usia sekolah hingga pergaulan saat ketika dewasa, menikah dan menjadi orang tua. Hidup adalah perubahan bahkan detil perubahan itu berhasil disusun rapi sedemikian rupa, mencakup fisik serta aspek sosial yang mengikuti. Perubahan yang terjadi konstan berlangsung dan tiap kita dididik untuk memanfaatkannya demi keuntungan tetapi kita malah kerap abai hingga menjadi merugikan. Seakan lupa bahwa memanfaatkannya akan membedakan kita dari ternak yang juga mengalami perubahan. Perbedaannya terletak pada kekuatan memilih saja dan kita lebih sempurna dari mahluk apa pun.

Kita dibekali kemampuan memutuskan, dikaruniai kekuatan mengeksekusi nya, tidak seyogianya kita lalai mengabaikannya. Perubahan memaksa kita memahami banyak hal terutama perubahan sifat dasar seiring putaran waktu. Perubahan berhasil meningkatkan pemahaman kita akan kompleksitas hidup serta waktu. Hidup telah merubah waktu seiring waktu merubah hidup - berikut segala turutannya, hingga terbentuk pemahaman akan sifat perilaku waktu.

Perubahan menjadikan kita lebih percaya diri, lebih paham akan efisiensi kinerja bahkan menjadikan kita terbiasa mereka-reka situasi dan kondisi. Perubahan berhasil memaksa kita untuk menjadikan ‘kesabaran sebagai mitra utama’ menghadapinya. Tidak ada yang tetap dalam hidup, bahkan perubahan itu sendiri hakikinya juga turut mengalami perubahan, selalu berubah dan mengubah sendiri perubahan dirinya. Semua berubah!

Menerima perubahan bahkan diartikan telah bisa menerima kenyataan, bahwa tidak lagi bersikukuh memelihara sifat menunda-nunda yang kerap berakhir sesal menyesali penyesalan. Kita tidak dibekali kemampuan memutar balik perjalanan waktu untuk kita bisa mengubah-ubah perubahan semau kita. Menjadi produktif dan fokus ke hal-hal yang positif adalah cara efektif menunggangi perubahan. Membiasakan diri untuk hidup di masa kini ini bahkan dinilai mampu menambah nilai guna dari perubahan. Warisan terakhir peradaban hanya tinggal perubahan, maka terima lah!


~Selamat berubah!

Senin, 12 Oktober 2015

Memusnahkan Kepercayaan Diri Atas Keterbatasan Diri

"The best years of your life are the ones in which you decide your problems are your own. You don't blame them on your mother, the ecology, or the President. You realize that you control your own destiny."
~Albert Ellis
“Masa-masa terbaik dalam hidup Anda adalah saat Anda memutuskan bahwa apa pun itu adalah permasalahan Anda sendiri. Anda tidak menyalahkan Ibu Anda, tidak menyalahkan lingkungan bahkan tidak Presiden. Anda mengakui bahwa Anda lah yang mengontrol nasib Anda sendiri”. Demikian dikutip dari Albert Ellis

Kutipan diatas bak mensahkan kesahihan pepatah ‘tiada gading yang tak retak’ artinya tiada sesuatu apa pun yang sempurna. Seakan perintah untuk tiap kita sadar dan mengakui keterbatasan diri. Yang berpendapat setuju, positif menerima kesahihannya, meyakini tujuannya adalah mulia agar bisa melepaskan diri dari rongrongan perasaan seakan paling tahu segala hal.

Pengakuan keterbatasan diri dianggap wajar bahkan terkadang diharuskan. Tidak heran tingkat kerusakan yang terjadi malah terlupakan oleh karena mengakui keterbatasan diri dianggap layak mendapat pujian dan dianugrahi medali. Namun sebagian lain berpendapat, menjadikan nya sebagai alasan dasar pembenaran untuk mengalah berhenti berbuat lebih banyak lagi hal bermanfaat adalah kekeliruan. Itu adalah Tuna penalaran!

Meminta orang lain untuk menghindar dari hal-hal yang dianggap kurang dia pahami seakan membenarkan tindakan pembiaran bahkan dibungkus dengan kata istilah ‘serahkan saja ke ahlinya’. Ahli yang juga memiliki keterbatasan. Korban kecelakaan lalu lintas dapat dijadikan contoh sederhana, menunggu petugas, menunggu ambulance seakan menjadi keharusan dan melupakan perlunya tindakan P3K - segera.

Mempertandingkan keterbatasan semarak dilakukan dibungkus kata: ‘kontes pemahaman’. Berbagai rupa perlombaan menjadi portal pemisah antara yang pintar dengan yang tidak berkemampuan. Visi misi bahkan dipertandingkan secara tidak senonoh. Bahkan jumlah follower dalam akun nya dijadikan bak tolok ukur patokan kelayakan memimpin. Penilaian kompetensi yang keliru, antusias diamini beramai-ramai.

Tuna pemahaman serta pengertian keliru berkembang ke segala penjuru bahkan dinilai memerlukan keahlian baru. Dibutuhkan Ahli yang dinilai mumpuni menilai sesuatu bahkan untuk menilai tingkat kerusakan oleh akibat kekeliruan. Ketidakahlian dipertentangkan dengan keahlian semu, tiap orang diliputi kebanggaan diri dadakan, masing-masing mensertifikasi dirinya sendiri ‘cakap’ serta memiliki kompetensi yang mumpuni. Ahli nya para ahli pun partus populer dikenal sebagai ‘Pakar Ahli’. Kekeliruan penalaran membawa kemerosotan tak terhingga, hingga pengamalan hasil pendidikan kerap diperhadapkan pada peradilan. Diputus vonis final mengikat: ‘keterbatasan adalah akar masalah sumber awal bencana semesta jagad malapetaka’, demikian persidangan para pakar ahli kompetensi. Pakar yang juga memiliki keterbatasan. Wah pelanggaran - tambah keliru saja!

Tujuan hakiki perlunya mengingatkan diri akan ‘keterbatasan diri’ menjadi terlupakan. Misteri kandungan mulia dari pepatah tua menjadi sirna tenggelam oleh hiruk-pikuk keberhasilan keterbatasan melahirkan sesuatu keterbatasan satu lainnya. Tindakan pembiaran berkesinambungan telah berhasil menggiringnya melintasi pembatas tolok ukur keterbatasan.

Adakah cara efektif untuk memusnahkannya? Tidak diperlukan jawaban yang benar, bahkan suatu pertanyaan bisa merupakan jawaban yang benar. Masih kah kita sudi mengakui keterbatasan? Kurang mulia kah kita jika bisa meyakinkan diri kita sebagai orang yang paling memahami segala hal? Salah kah jika kita beranggapan bahwa diri kita lah yang paling pintar? Banyak yang berkeyakinan seyogianya lah kita harus sedemikian itu! Namanya ‘suka tahu’!

Kita tidak perlu mengakui keterbatasan diri jika untuk menjadikannya alasan pembenaran untuk kita tenggelam olehnya. Sepanjang mampu melampaui portal pembatas yang ada maka wajib untuk kita bersabda bahwa kita tahu segalanya, paham akan tiap sesuatu - apa pun itu. Sejatinya kita terlahir tanpa keterbatasan. Memusnahkan kepercayaan diri akan keterbatasan diri adalah bagian dari perjuangan hidup, karena bukan percaya diri yang seperti itu yang diperlukan untuk berhasil.

Kepercayaan diri atas keterbatasan diri adalah sesuatu yang salah, karena mengurangi minat berkembang, bisnis afiliasi bisa memusnahkannya. Kehandalan bisnis Afiliasi yang mengagumkan patut dipertimbangkan untuk digeluti sedari dini. Tetapi hati-hati memilih tawaran bisnis online. Di SFI, kita dididik untuk berhasil denganmemberhasilkan orang satu lainnya. Diajarkan cara menghindari kesalahan yangmenghambat keberhasilan orang lain. Ingatlah akan satu hal, bahwa tidak ada formula tokcer untuk berhasil, tetapi kegagalan adalah tahap awal keberhasilan. Dan yakinlah akan hal itu!
~Selamat berkarya!

Terbaru

MEMBANGUN MOMENTUM DIRI

Perlu momentum untuk berhasil. Banyak yang giat membangun momentum untuk kesuksesan dirinya dan banyak yang sabar, bersabar menunggu saa...