“Emosi adalah
karunia luar biasa yang kita punyai untuk memberitahu apa yang sedang kita
pikirkan.”~Bob Doyle
Pekerjaan gampang
tetapi susah adalah ‘bertanya’, dan pekerjaan sulit tanpa pernah berpikir telah
dan tengah melakukannya adalah ‘berpikir’. Keduanya memiliki tingkat kesulitan
yang setara, tetapi itu hanya akan tercapai bila ketika kita tengah bertanya
dan berpikir mempertanyakan tanya – saya ini sedang berpikirkah atau tengah
bertanyakah?. Tidak mudah menjelaskan detil keduanya, sama tidak mudahnya untuk
orang bisa memahaminya. Tidak heran jika ada yang bertanya: ‘saya ini sedang
apa kah?’ dan itu tidak memerlukan jawaban – percayalah!, hanya orang yang
kurang kerjaan yang sudi menjawabnya.
Ada banyak pertanyaan
yang tidak memerlukan jawaban benar atau jawaban salah, bahkan terkadang pertanyaan
yang diajukan secara tepat ndilala itu adalah jawaban yang paling tepat. Jadi untuk
apa dijawab lagi? Tak heran jika Anda mencuba bolak balik membaca dan cuba meraba
kemana arah postingan ini. Sebagaian barangkali merasa geli, lucu atau mungkin
malah tidak peduli.
Mari sejenak menenggelamkan
pikiran ke kedalaman genangan samudera pertanyaan yang oleh para penikmat sejati
dinilai berkhasiat membebaskan diri dari himpitan kepenatan beban pikiran. Sebagai
berikut:
Kesatu:
“Pernahkah Anda
bertanya berapa lama lagi Anda akan hidup?”
Ini pertanyaan gila,
sama gilanya jika Anda mengikuti kata hati Anda untuk menuntutnya agar ia juga
ikut bertanya – berapa lama lagi kah? Dan akan semakin lebih gila lagi jika
Anda tidak tahu berapa lama lagi persisnya. Kapan kira-kira berakhir? Ampun,
berat nian!
Kedua:
“Bilamana Anda
yakin, hidup Anda tak lah begitu lama lagi, mengapa Anda masih saja melakukan
hal-hal yang Anda tidak sukai?”
Wah pelanggaran!
Hanya orang yang tidak waras yang mau hidupnya singkat dan lebih tidak waras
lagi jika ada yang mau hidup selama-lamanya. Baiklah, oleh karena Anda tidak ingin
hidup selama-lamanya maka Anda senantiasa bergegas mencapai banyak hal, bekerja
keras menyelesaikan segala hal. Setidaknya berharap bisa hidup senang dikala masih
hidup syukur-syukur bisa menyenangkan hidup orang-orang yang Anda senangi. Itu
terdengar waras dan akan lebih waras lagi jika Anda yakin tidak akan pernah
bisa menyelesaikan semua hal. Akan selalu ada hal yang belum dilakukan, dan
biar lah itu begitu.
Ketiga:
“Jika Anda yakin
telah melakukan banyak hal, yakinkah Anda bahwa semua itu adalah hal yang
benar? pernah kah Anda berpikir bahwa yang Anda lakukan itu sesungguhnya
hanyalah hal-hal yang tidak benar belaka?”
Waduh cilaka, Saya pilih
REMIS!
Anda urus saja
sendiri, oleh karena hanya Anda seorang yang tahu apa saja hal yang sudah Anda
lakukan. Apakah itu benar atau tidak itu hanyalah persepsi semata.
Keempat:
“Andai kata Anda
diberi kesempatan menasihati bayi yang baru lahir, apa gerangan nasihat yang
menurut Anda tepat untuk Anda berikan?”
Gila, ini pertanyaan
yang tidak waras! Sama tidak warasnya jika Anda tidak pernah berpikir bahwa
sejatinya anak bayi itu - dengan caranya, tengah menasihati Anda? Wah,,, tambah
engga waras lagi!
Baiklah, anggaplah
Anda dengan bayi itu sama-sama waras oleh karena itu – dengan cara
masing-masing, Anda dengan nya sepakat untuk tidak saling menasihati. Benar-benar
kesepakatan waras yang tidak waras bukan? Dan lebih tidak waras lagi manakala kita
kerap melakukan hal yang tidak kita sukai. Dimanakah letak kewarasan itu? maka
biarlah itu menjadi tugas akhir dari mereka yang mengaku waras, hanya merekalah
yang membutuhkannya.
Kelima:
“Pernahkah Anda
berpikir bahwa tiap orang kerap merenggut kebahagiaan Anda atau telah membuat Anda
menjadi tidak berbahagia?”
Cilaka! Jika Anda
berpendapat sedemikian itu, segeralah berkemas menggali timbunan nurani Anda moga-moga
masih ada remah yang tersisa. Hanya nurani yang berkuasa atas makna arti bahagia,
yang menikmati getaran kebahagiaan, yang tidak pernah bermasalah dengan ketidakbahagiaan.
Dan saya sepakat dengan nurani Anda. Masih ada kan? Tak masalah jika Anda menghalalkan
segala cara untuk menyelamatkan nurani Anda, dan itu tidak melanggar hukum - apa
pun.
Adalah mudah mempertanyakan tindakan orang lain
dan itu bisa dilakukan oleh siapa pun tetapi, pernahkah Anda mempertanyakan
tindakan diri sendiri? Jika kesempurnaan hanya dimiliki oleh mahluk sempurna, masih
kah Anda sudi mengaku diri sebagai sempurna? Satu tanya yang menggelitik
nurani.
Demikian disadur dari berbagai sumber.
~Salam hangat selalu.




