Senin, 29 Juli 2019

JAWAHIR-JAWABAN AWAL AKHIR

Kata JAWAHIR adalah istilah populer dalam lingkup pergaulan masyarakat di kalangan tertentu. Kata ini dianggap melekat sebagai kependekan dari: “JAWABAN AWAL AKHIR”, lazimnya dipergunakan sebagai ungkapan pemahaman dari awal timbulnya “rasa percaya” yakni untuk bergegas MEMULAI.

MEMULAI dianggap menjadi bukti pertanda bahwa Anda berhasil menyemangati sendiri, diri Anda sendiri, untuk segera bergegas bangkit bergerak melangkah maju, meraih sukses keberhasilan.

Sederhananya, penggunaan kata JAWAHIR dianggap sebagai kata kunci bahwa Jawaban Awal untuk bertindak melaksanakan sesuatu (berjuang) telah ditemukan, karena Jawaban Akhir atas penyebab terjadinya ketertundaan dianggap telah ditemukan (menunda-nunda perjuangan).

JAWAHIR dianggap bagaikan vonis inkrah yang sifatnya final putus mengikat. Tak lagi perlu diperdebatkan, dan tak lagi ada langkah upaya lanjutan menunda-nunda. Tinggal hanya satu kata: “jalankan”!

Kata JAWAHIR ini ditujukan untuk menggambarkan penyelesaian akhir terhadap sesuatu situasi chaos, atau stagnansi tanpa penyelesaian akhir. Jika pun terlihat ada upaya penyelesaian, tetapi terkesan hanya untuk mengulur waktu, sejatinya malah kian membuat semakin terkatung-katung, tidak tuntas. Karenanya, diperlukan kepastian.

Istilah kata JAWAHIR diyakini timbul untuk mengakhiri suatu situasi dimana ketertundaan tanpa keputusan akhir, telah berulang-ulang terjadi hingga malah dianggap biasa. Bahkan diperlakukan bagai suatu kelaziman. JAWAHIR ditujukan untuk memupus tuntas situasi yang sedemikian itu, karena penyebab utamanya diyakini lebih disebabkan oleh kemelut di dalam pikiran sendiri.

Anda pasti paham apa yang dimaksudkan jika menyimak dengan benar arti makna kata-kata bijak berikut ini.

“Stop believing you should feel more confident before you take the next step because taking the next step is what builds your confidence. We all learn the way on the way. No matter what it is you want to accomplish, you just need to get started. Starting in the main key, It is a thing that should make a daily ritual”.~Anonimous

Berhentilah untuk percaya bahwa Anda harus terlebih dahulu membangun “rasa percaya” untuk bisa merasa percaya diri sebelum memutuskan untuk melangkah maju. Karena dengan mengambil keputusan untuk melangkah maju, sejatinya Anda akan dan tengah sedang berupaya membangun “rasa percaya” yang diperlukan.

Terserah bagaimana menurut Anda!
Tetapi saya akan lebih setuju jika saja Anda bisa menerima pemahaman yang sama bahwa rangkaian kata-kata bijak diatas mengusung makna yang dalam.

“Bahwa setiap kita, semuanya diharuskan belajar mengetahui tiap sesuatu hal, disaat kita sedang melakukan sesuatu hal lainnya, dari sekian banyak rupa ragam hal prihal yang sudah menunggu untuk dilakukan.~Ini kata Saya.

Tidak soal, hal persoalan apa itu yang ingin Anda selesaikan, namun satu hal yang diperlukan yakni dengan memutuskan segera untuk MEMULAI langkah, bergerak maju dan mulai melakukan tindakan yang diperlukan.

Dengan mulai mengambil satu tindakan, diyakini itu akan memicu timbulnya minat ketertarikan melakukan banyak hal serta tindakan apa saja yang diperlukan, untuk menuntaskan tiap-tiap hal yang terkait dengan prihal apa yang sedang Anda usahakan untuk mencapainya.

Langkah MEMULAI itulah, yang menjadi titik awal fase yang krusial.

Itu yang menjadi kunci utama dari tiap sukses keberhasilan orang-orang yang Anda pernah ketahui. Itulah ritual awal yang perlu dilakukan disaat hendak memulai sesuatu tindakan. Karenanya, perlu untuk kita menjadikannya bagai ritual harian.

Dengan mengambil keputusan untuk melangkah maju, Anda tidak akan pernah punya waktu untuk mencari-cari kesempatan untuk mundur. Bahkan mungkin, hal itu tidak lagi terpikirkan jika seluruh waktu, tenaga, perhatian terpusat fokus bergerak MEMULAI angkah maju.

Satu langkah tiap waktu, selangkah demi selangkah, langkah Anda akan bergerak maju meraih sukses keberhasilan.

MEMULAI adalah hal krusial, dalam banyak hal ia menjadi beban permasalahan yang sangat prinsipil dan mendasar.

Memutuskan langkah untuk MEMULAI adalah saat-saat penting, dimana kita terbebani rasa khawatir, meragu, dilanda ketakutan. Bagaimana jika nanti gagal? Bagaimana jadinya jika nanti tak cukup modal? Meragu, bagaimana jika nanti ternyata diri ini tidak begitu cukup pintar. Terombang-ambing hingga terhempas dipenuhi perasaan ragu-ragu, takut dan malu. Bagaimana jika Nanti terjadi penolakan?

MEMULAI adalah suatu situasi awal yang dipenuhi gonjang-ganjing. Semua musuh-musuh penghalang sukses keberhasilan, satu demi satu muncul, timbul kepermukaan. Bertimbun-timbun menumpuk satu demi satu persis disaat waktu yang bersamaan, semuanya serentak membebani persis kala ketika hendak memutuskan “MEMULAI”.

Bagi sebagian kalangan, tahap “MEMULAI” menjadi awal akhir keperkasaan diri. Jika berhasil, akan menjadi awal keperkasaan yang akan diperhitungkan dunia, masuk dalam kancah deretan daftar keberhasilan. Jika gagal, akan dianggap menjadi awal kenistaan diri. Musnah punah kedigdayaan pribadi perkasa yang selama ini diagung-agungkan.

Kala memutuskan untuk MEMULAI, seluruh isi kepala dipenuhi pemikiran, bagaimana jika nanti begini ini? Bagaimana jika nanti begitu itu? Terbebani pemikiran begini begitu, bahkan bisa mematikan akal budi pekerti.

Hal ikhwal perihal MEMULAI kerap menjadi bahan perdebatan yang tak ada ujung pangkalnya.

Berbagai bayang-bayang kejadian serupa penjelasan diatas, kerap menjadi bahan pembahasan seru didalam berbagai kegiatan pelatihan pengembangan potensi kemampuan diri.

Dan semua para Influencer, Coach, Mentor atau Trainer terlatih, tak bosan melatih diri. Tak bisa berhenti mengasah kemampuan diri untuk agar bisa menemukan jalan keluar dari suatu kemacetan komunikasi dalam pembahasan yang sering terjadi.

Semuanya berusaha agar penjelasan yang dipaparkan bisa diterima peserta pelatihan, atau setidaknya berkemampuan menyajikan suatu pemaparan yang paling sedikit mendapatkan sanggahan.

Para Influencer, Coach, Mentor atau Trainer, wajib membekali diri dengan berbagai ragam jawaban, sedari yang standar hingga yang bersifat khusus, dengan tujuan untuk bisa menggugah semangat juang yang sejatinya itu telah erat melekat dan menjadi prinsip dasar kejiwaan orang per orang.

Diantaranya, sebagai berikut:

“Seyogianya Anda tak perlu bimbang akan hal itu. Itu adalah sesuatu hal yang semestinya tidak perlu dipersoalkan, terutama karena hal perasaan takut sedemikian itu, pernah juga dialami oleh semua orang-orang sukses yang Anda pernah ketahui”.

“Semua orang-orang sukses pasti pernah mengalaminya, bagaimana situasinya kala harus berhadap-hadapan dengan berbagai kesukaran, yang kurang lebih sama sukarnya seperti bayang-bayang yang Anda takutkan itu. Dan mereka ternyata berhasil melewatinya. Sukses melampauinya.“

“Mereka telah merasakan bagaimana diombang-ambingkan perasaan yang tidak menentu. Mengalami betapa hati sangat sakit kala ketika dirinya dianggap tidak cukup pintar untuk bisa sukses”.

“Hati nelangsa, ketika tengah berjuang mengalami kekurangan modal. Sedih, pilu beraduk bercampur rasa jengkel kala ketika sedang menyelesaikan tahap akhir penyelesaian proyeknya, harus tertunda karena perlu tambahan modal. Pekerjaan serba tanggung, tak bisa selesai.”

“Hati tersiksa, terbebani perasaan mendongkol, resah, gundah gulana. Seolah semua pintu bala bantuan menutup rapat-rapat. Merasa seolah dijauhi teman-teman, dicemooh keluarga, bahkan ditolak oleh sahabat karib. Serasa semua orang serentak memalingkan muka, tak satu pun yang sudi memberi bantuan.”

“Orang-orang sukses pastinya pernah mengalami bagaimana getirnya perjuangannya. Bagaimana tersiksanya perasaan kala ketika dihantam dihempaskan badai perasaan malu, ditolak mentah-mentah, oleh karena kurang sesuatu hal.”

“Bahkan, pernah ditolak setengah matang tanpa sebab alasan pasti, tanpa kejelasan yang jelas. Dipermalukan ditengah khalayak ramai. Dikata-katai bodoh, kerja tanpa perencanaan yang matang. Dianggap tidak becus, tidak punya otak, goblok tak bisa kerja. Dinilai malas, bagaimana mau sukses?”

“Bahkan, tak jarang ditolak tanpa sebab alasan yang jelas.”

Tetapi, semua penolakan-penolakan itu, tidak menjadikannya malah mundur dari gelanggang arena perjuangan. Tidak malah menjadikannya menyerah untuk kemudian berhenti. Tidak malah menjadikannya lari dari tanggungjawabnya. Tidak menjadikannya menunda-nunda penyelesaian pekerjaannya.”

“Hingga sampai akhirnya mereka berhasil gemilang mencapai sukses keberhasilannya. Dan berbagai kisah rintangan-rintangan yang pernah dialami, semuanya hanya akan menjadi catatan tambahan dalam buku sejarah perjalanan hidupnya.”

“Few things are impossible to diligence and skill... Great works are performed not by strength, but perseverance.”
~Samuel Johnson

“Ketahuilah, semua orang-orang yang kini dikenal sukses atau terkenal sangat sukses, dipastikan pernah merasakan rintangan dalam perjalanan karirnya. Setidaknya menghadapi beban persoalan yang kurang lebih sama. Mungkin malah lebih buruk dari bayang-bayang terburuk yang bisa Anda khawatirkan itu.”

“Mereka mungkin telah dihajar dibenturkan situasi sedemikian kerasnya oleh sukarnya beban kehidupannya. Ditimpa musibah, atau terjerembab oleh sesuatu situasi, yang mungkin selama hidupnya tidak akan pernah dia akui wajar, bahkan walau jika itu untuk sekedar dikemukakan kepada orang-orang terdekat atau kepada anggota keluarga yang dicintainya.

“Bayangkan bagaimana kerasnya perjuangan mereka, jadi bayang-bayang penderitaan yang bagaimana lagi yang hendak Anda jadikan alasan pembenaran menunda-nunda langkah Anda memulai bergerak maju?.”

“Ketahuilah, umumnya orang-orang sukses hanya akan bersedia menceriterakan sekilas tentang beberapa hal penting terkait sejarah perjalanan karirnya. Mereka lebih memilih menyampaikan beberapa peristiwa yang sangat penting, untuk dijadikan bekal petunjuk bagi para pemula – seperti Anda.”

“Berbagi pengalaman tentang beberapa hal terkait perjalanan hidupnya, agar orang-orang yang tengah sedang berjuang dapat terhindar dari melakukan kesalahan yang sama.”

“Karena, tidak satupun dari mereka yang sudi mengingat-ingat peristiwa kelam yang dialami.”

“Orang-orang sukses, umumnya bijaksana. Mereka memilih menjaga sesuatu rahasia demi privasi yang sangat bersifat pribadi. Namun apa pun itu, tiap satu daripadanya mereka cenderung bersedia menceriterakan hal-hal yang dianggap bisa berguna menyemangati diri, menyemangati nilai-nilai semangat juang dari orang-orang seperti Anda.”

“Mereka menyadari hal itu. Terutama karena pada akhirnya tiap-tiap orang akan tiba di persimpangan jalan dalam lintasan perjalanan hidupnya, dimana dia harus berhasil menyemangati sendiri, dirinya sendiri.”

Berpantang mundur!

Sekali layar terkembang, sauh terangkat, kemudi diputar mengarah ke tengah samudera lepas, berjuang menaklukkan rahasia warna-warni kehidupan!

Dan, mengambil keputusan untuk segera MEMULAI adalah bukti pertanda keberhasilan Anda menguasai diri, Anda sukses menyemangati diri sendiri!

“The worst decisions I’ve ever made, have been to make no-decision. When I overthink and over analyze, I do nothing. It’s a classic case of analysis paralysis”.
~William Chapman

Saya yakin, Anda kini paham apa yang dimaksudkan.

~Salam JAWAHIR Selalu!

Rabu, 03 Juli 2019

MISKIN CITRA DIRI (5) BAGAIMANA DI DUNIA BISNIS?

"Tanya Pak! Maaf, bagaimana caranya agar saya bisa mengetahui orang-orang yang miskin citra dirinya? Apakah ada kiat-kiat tertentu yang perlu diterapkan agar saya bisa terhindar dari lingkup pergaulan orang-orang yang miskin citra dirinya? Mohon penjelasannya, sebelumnya diucapkan terima kasih."

Ini adalah bagian yang ke-5.
 Hotman's Collections

Ciri-Ciri Orang Yang Citra Dirinya Miskin:
Dunia bisnis juga dipenuhi orang-orang yang miskin citra dirinya. Misalnya di dunia marketing pemasaran atau penjualan.

Mari lihat contoh berikut:

Alkisah. sang pemilik usaha memilih tiga tenaga salesman (si A, si B, si C), ketiganya ditugaskan menjual produk di tiga wilayah yang berbeda.

Si “A” bergerak perlahan ragu-ragu menjual produk kepada setiap orang yang dijumpainya. Merasa yakin bahwa orang-orang itu tidak akan mau membeli darinya karena menurutnya tidak ada orang yang menyukainya. Hingga waktu berakhir, tidak satu pun produk terjual. Sedih menyesali diri kenapa orang-orang tidak menyukai dirinya membuatnya tidak berani menawarkan produknya karena pasti akan ditolak.

Pulang ke rumah dan mengasihani diri dengan secangkir kopi panas, termenung meratapi nasib sembari menjilati luka hatinya.

Hati yang terluka!


Si “B” melangkah pasti, sepanjang jalan menjelaskan ke setiap orang yang dijumpainya tentang detil keunggulan serta kelebihan produknya. Terlihat banyak orang berkumpul mendengarkannya, tetapi si “B” terlalu takut jika mereka diminta membeli, satu demi satu orang-orang itu akan surut pergi meninggalkannya. Dia memutuskan untuk terus berbicara.

Ego keperkasaan dirinya menghalanginya untuk menjual, merasa kagum akan dirinya karena didengarkan banyak orang. Seiring waktu orang-orang perlahan surut berkurang, terbata-bata dia menyampaikan bahwa dia bisa menerima jika mereka tidak mau membelinya.

Dia pulang ke rumah dan menghibur dirinya dengan secangkir kopi panas. Termenung dengan rasa kagum ada banyak orang yang senang mendengarkannya walau tidak satu pun yang membeli.

Hati yang merindukan Bulan!


Si “C” sigap bertindak cekatan. Dia segera pulang ke rumah, dipenuhi rencana akan membentuk tim tenaga penjualan sendiri. Dia merasa rencana itu akan lebih efektif daripada dia menjual langsung, sebab dia sendiri yang akan mengarahkan tim itu. Dia akan melatihnya sendiri cara menjual. Dia memenuhi kepalanya dengan rencana teknik mengarahkan tim salesman tenaga penjualan, perlu bertindak begini-begitu.

Menurutnya tipikal orang seperti dirinya lebih efektif jika memimpin. Lebih baik begitu karena jika  dia menjual secara langsung orang-orang akan menolak sebab tipikal pribadi seperti dirinya adalah tipikal manajer bukan tipikal salesman.

Sampai di rumah wajahnya sumringah tersenyum simpul. Melamunkan keberhasilannya sembari ditemani secangkir kopi panas. Tak satupun produk bisa dia jual.

Kucari Jalan Terbaik!


Alkisah, ceritra pun berakhir.
Sang pemilik usaha sadar akan potensi kerusakan yang ditimbulkan orang-orang yang miskin citra dirinya. Dan dengan berat hati dia memutuskan untuk memecat sekaligus ketiganya, berlaku efektif disaat itu juga. Berusaha mengamankan kelangsungan bisnisnya, setidaknya sebelum investor dengan timnya tiba memeriksa perkembangan usahanya.

Apakah Anda tahu?

Anda ini sangat beruntung, karena Saya menjadi ragu akan pendapat Anda jika Anda merasa tidak masuk kategori orang-orang yang punya citra diri miskin seperti orang-orang dalam contoh-contoh itu.

Kenapa bisa begitu?

Karena dengan Anda membaca hingga ke tahapan deretan baris kalimat ini saja, sesungguhnya itu telah membuktikan bahwa Anda tengah berusaha mencari cara terbaik untuk merubah garis sejarah perjalanan hidup Anda, setidaknya agar tidak menjadi seperti mereka itu.

Bisa jadi Anda kini meragu akan penilaian itu?

Tak salah juga, jika pun Anda meragukannya.

Atau mungkin kini Anda malah berpikir bahwa Anda merasa memiliki salah satu ciri-ciri sebagaimana dijelaskan diatas itu, tetapi Anda ragu-ragu, apakah iya benar begitu itu?

Jika pun Anda meragu, Anda tidak perlu khawatir tentang hal itu karena tiap kita sesungguhnya memerlukan satu titik awal tempat kita berpijak untuk memulai kesempatan melangkah melakukan upaya perbaikan nasib dengan melakukan perubahan tertentu ke arah yang lebih baik di sisa perjalanan hidup kita.

Jika kemudian Anda menganggap tidak juga bisa menemukan kesempatan itu, Anda bisa menciptakannya sendiri.

Karena, sejarah hanya akan mencatatkan bahwa Anda telah turut serta mengubah wajah Dunia dengan tingkah laku serta perilaku Anda, bukan oleh pendapat Anda.

Pastinya kini Anda paham yang dimaksudkan!

MISKIN CITRA DIRI (4): BAGAIMANA CIRI-CIRINYA?


"Tanya pak! Maaf, bagaimana caranya agar saya bisa mengetahui orang-orang yang miskin citra dirinya? Apakah ada kiat-kiat tertentu yang perlu diterapkan agar saya bisa terhindar dari lingkup pergaulan orang-orang yang miskin citra dirinya? Mohon penjelasannya, sebelumnya diucapkan terima kasih."

Ini adalah bagian yang ke-4.

 Hotman's Collections


Ciri-ciri Orang Yang Miskin Citra Dirinya:
Mari jujur memeriksa diri sendiri apakah Anda termasuk dalam kelompok ini. Orang-orang yang miskin citra dirinya umumnya tidak sadar jika dirinya telah dibekali “talenta”. Sulit untuknya berlaku jujur terhadap dirinya sendiri untuk mencari tahu jatidirinya. Dia cenderung mengungkapkan dirinya dengan cara-cara dan sifat kritis serta dipenuhi rasa cemburu.

Umumnya orang-orang itu tidak antusias akan keberhasilan orang lain, tetapi malah membenci keberhasilan orang satu lainnya. Selalu cemburu ketiap orang walau tidak berdasar. Semu dicemburui, suami, istri, pacar, tetangga bahkan orang yang baru dikenal dicemburui dengan alasan yang terkesan mengada-ada. Terkesan benar-benar tidak menyukai dirinya sendiri bahkan mengaku heran jika ada orang lain yang menyukainya. Citra dirinya benar-benar buruk.

Selalu beralasan bahwa rasa cemburunya yang terkesan sangat berlebihan didasari karena rasa cinta, atau karena sangat sayang terhadap orang-orang yang dicemburui. Mereka sejatinya tidak pernah bisa mencintai bahkan tidak pernah bisa percaya terhadap pasangannya. Dirinya pun sulit dia percayai.

Orang-orang yang miskin citra dirinya menyukai gosip. Suka membangun rumor negatif tentang prilaku kehidupan orang lain. Terkesan membiarkan dirinya mendapat komentar buruk tentang perilakunya yang menyimpang, jauh dari tatakrama, bertentangan dengan tatanan sosial masyarakat. Mereka akan benci jika ada seseorang mendapat pujian dari orang satu lainnya.

Kerap menonjolkan rasa ketidakpuasan, tidak senang, bernada negatif dan berlebihan jika ketika memberikan tanggapan kepada seseorang. Namun, jika tanggapannya dikritisi, dia akan menganggapnya sebagai penghinaan. Dan jika si orang yang mengkritisi memberi tanggapannya sembari tertawa kecil atau terlihat tersenyum, akan dianggapnya sebagai penghinaan yang tidak bisa dimaafkan. Bahkan kritik membangun dianggap sebagai penghinaan pribadi atau upaya menjatuhkan nama baik keluarga atau kelompoknya.

Hidupnya dipenuhi rasa curiga atas tiap hal, selalu menonjolkan sisi negatif. Sulit menerima gagasan bernilai, bereaksi berlebihan jika ada orang yang menyampaikan ajakan untuk bersama-sama menertawakan diri sendiri. Ajakan bernada instropeksi diri seperti itu tidak bisa diterima dan dianggap bertujuan untuk mempermalukannya atau menjatuhkan kelompoknya.

Orang-orang yang bercitra diri miskin, umumnya sulit menerima suasana hening, situasi tenang tanpa kegiatan, hingga akan melakukan kegiatan apa saja sebagai selingan, tetapi sedikit pun tidak menghiraukan akibat yang ditimbulkannya. Misalnya, menghidupkan televisi tetapi tidak menontonnya atau menghidupkan radio tetapi tidak hirau program acaranya.

Emosi dirinya naik turun hingga motivasinya sering terganggu. Jika punya usaha sendiri, bisa tiba-tiba dia hentikan jika ada orang lain yang dikenalnya membuka usaha sejenis. Dia tidak menyukai persaingan usaha, cenderung tidak lagi memperdulikan usahanya karena telah lebih dahulu memposisikan dirinya bakal tidak akan pernah menang bersaing. Menjadikannya benci, dendam terhadap orang yang dianggapnya sengaja menyaingi usahanya.

Orang-orang yang bercitra diri miskin, sering mengkedepankan tindakan serta prilaku sombong, pongah berlebihan. Misalnya, jika hidupnya berkecukupan, kemana-mana akan mengagungkan nilai harta kekayaannya. Jika ada orang lain punya harta yang kurang lebih sama akan dikritisi secara tidak senonoh, terkadang terkesan berlaku kejam, iri dengki, dipenuhi dendam.

Jika dia atau salah satu anggota keluarganya punya posisi jabatan tertentu disalah satu instansi, kemana-mana akan mengagungkannya. Tiap pembicaraan akan dimulai dengan membanding-bandingkan kedudukannya berikut fungsi dan kewenangannya. Jika semisal ada orang lain punya jabatan atau posisi yang kurang lebih sama, akan dikritisi secara kejam dipenuhi rasa iri dan dengki.

Sering gagal dan tidak bisa memposisikan dirinya sebagai pemenang dalam hidupnya hingga merasa selalu kalah, akhirnya tidak henti berusaha memperburuk situasi untuk membangun alasan buruk pada berbagai situasi.

Ada juga yang kerap berpenampilan norak, jauh dari kepantasan, tampil menjauhi nilai-nilai kebersihan, menjadi gemuk hingga kemudian melarikan diri ke alkohol atau menjadi korban Narkotika, membuatnya bertingkah laku vulgar dalam segala hal dan terkesan tidak sopan. Tidak menghormati orang-orang yang lebih tua, apatis cenderung cuek terhadap lingkungan sekitar. Tetapi bertingkah laku superior merasa dirinya jauh melebihi orang-orang sehingga cenderung merendahkan orang lain.

Bagaimana pun secara pribadi, kita selamanya akan bertindak menurutkan cara pandang kita terhadap diri kita sendiri, hingga kita akan terus berusaha menampilkan versi diri kita yang terbaik. Upaya itu bisa Anda lihat di diri orang-orang karena orang lain adalah cerminan dari diri kita sendiri. Mungkin Anda akan melihat bagaimana orang-orang melakukan hal-hal dengan cara memaksakan diri, hingga terlihat konyol. Atau melakukan hal-hal yang tidak sama sekali tidak berdasar, tidak beralasan, atau melakukan hal-hal yang  ber-resiko membahayakan karir dan sisa perjalanan hidupnya. Bahkan walau itu sejatinya sama sekali tidak diperlukan.


Mari lihat ciri-ciri lainnya:

Orang-orang yang punya citra diri miskin punya prilaku hidup materialistis, mengutamakan kemewahan, tampil mencolok menghamburkan uangnya yang berlimpah dengan mengendarai mobil mewah, mengenakan gaun pakaian mode gaya terkini. Tampil serba mahal, model rambut, cat kuku, perawatan gigi cahaya mengkilat, mengenakan make-up wajah ber-merek mahal dan terkadang berlebihan. Beranggapan bahwa jika tampil seadanya, dirinya tidak akan diterima dalam pergaulan sosial hingga perlu tampil ekstrim agar punya teman.

Orang-orang bercitra diri miskin juga bisa terihat di arena olah raga, seperti atlet yang berlatih memacu prestasi secara berlebihan saat menjelang hari pertandingan, memaksakan diri hingga kecelakaan dalam latihannya, dan hilanglah kesempatannya mengikuti pertandingan. Gagal menjadi juara. Tak percaya dengan hasil latihan yang sudah dilakukan, memaksa diri untuk hal-hal yang tidak perlu. Beberapa atlet bahkan terlihat berusaha melukai dirinya saat latihan, persis menjelang hari H. Walau sejatinya hal seperti itu tidak lagi diperlukan karena sedari awal sudah cukup berlatih.

Hal senada bisa juga dilihat di lingkungan Kantor. Seorang staff pekerja yang takut tidak akan dapat promosi jabatan, merusak karirnya persis di sessi penilaian prestasi sedang berlangsung. Akhirnya gagal tidak dapat promosi jabatan. Pulang mengusung masalahnya merusak kebahagiaan keluarga bahkan menjadi gangguan sosial di lingkungan sekitar. Rekan-rekan kerjanya mungkin bisa memahami tetapi umumnya orang-orang sekitar tidak peduli dengan masalah kantor orang perorangan. Ini adalah tentang citra diri miskin.

Contoh lainnya kelompok anak sekolah yang akan mengikuti ujian keesokan harinya tetapi malah bermabuk-mabukan hingga berkendara kebut-kebutan dimalam sebelumnya. Tindakan seperti itu menggambarkan ciri orang yang punya citra diri miskin. Mereka merasa dirinya tidak ada gunanya ikut ujian keesokan harinya karena dipastikan tidak akan bisa berhasil, hingga akhirnya cenderung melakukan hal-hal yang tidak diperlukan demi mengumpulkan alasan jika gagal. Dan akhirnyagagal.

Orang-orang yang citra dirinya miskin akan terus-menerus membangun alasan membenarkan dirinya tanpa menghiraukan akibat yang ditimbulkan. Misalnya, berjanji akan sembahyang berjamaah tepat waktu tetapi kemudian menundanya dengan alasan orang-orang munafik juga sembahyang disana. Berjanji akan ke gereja pada setiap hari Minggu kemudian batal dengan alasan bahwa disana banyak orang-orang munafik, tidak memungkinkan baginya untuk bisa khusuk berdoa menyembah Tuhannya.

Orang-orang yang citra dirinya miskin tidak akan paham bahwa jika pun ada orang munafik berdoa diantara dirinya dengan Tuhannya, sejatinya si orang munafik itu malah lebih dekat dengan Tuhannya. Tetapi mereka tidak putus membangun alasan karena telah tertanam di dalam pikirannya tanpa menghiraukan akibat yang ditimbulkan.

Miskin Citra Diri selanjutnya dibahas lebih mendalam pada bagian yang ke-5.

~Salam citra diri selalu!