“It is absurd that
a man should rule others, who cannot rule himself. (Absurdum est ut alios
regat, qui selpsum regere nescit)”.
~Latin Proverb
Seorang klien mengirimkan email bersahaja suatu pengakuan
yang menyentuh, sangat menggetarkan, saya bahkan terlarut mengikuti tulisannya.
Katanya memulai:
Harus saya akui, sudah lama saya menahan diri untuk melakukan
hal mengikutkan kata hati saya. Sesungguhnya saya mengimpikan bisa melakukan
banyak hal tetapi saya tak percaya diri. Saya bahkan terlalu takut untuk
memulai. Takut keluar dari zona kenyamanan hingga harus mencari-cari alasan pembenaran.
Telinga saya terkadang heran mendengar alasan lemah begitu itu, bahkan malah tak
nyambung.
Saya itu, takut akan kualitas pribadi yang tidak cukup baik
dan tak bisa melakukannya. Keyakinan sesat tertanam membatasi diri bertolak
belakang dengan pengakuan banyak orang bahwa saya ini termasuk seseorang yang dinilai
cukup sukses dalam berkarier.
Saya sesungguhnya sangat suka membaca buku-buku tentang orang-orang
sukses. Sepertinya gampang untuk mereka melakukan hal-hal luar biasa, maka tak
salah jika saya juga mengimpikan hal yang sama. Tetapi minus keyakinan diri.
Saya cenderung berpendapat bahwa mereka mudah
melakukannya karena mereka terlahir ditengah keluarga kaya yang berkecukupan dan
punya koneksi luas. Mungkin punya bakat sedari lahir. Pemikiran sesat itu
terpatri dalam-dalam dan membatasi langkah.
Sekali waktu saya diikutkan dalam suatu acara bersama
rombongan berkunjung ke kampung halaman salah seorang petinggi nagari. Saya
terkejut mengetahui daerah asalnya. Serasa ada beban berat menggayuti, ternyata
selama ini saya salah. Beliau ternyata berasal dari keluarga bersahaja bahkan taklah
begitu kaya. Saya telah berlaku tidak adil terhadap diri sendiri.
Saya menyadari terlalu banyak buang waktu berkutat dengan
pemikiran tidak produktif. Dan itu membatasi gerak langkah saya untuk berani melangkah
keluar dari zona kenyamanan.
Abang betul!
“In this world a man must either be an
anvil or hammer.”
Kini ini Bang, saya tengah berjuang dan akan terus meyakinkan
diri bahwa jawaban yang diperlukan ada di diri sendiri.
Kini ini, saya kian semakin yakin menerima tantangan menangani
hal permasalahan baru. Kini saya kian sering dilibatkan menangani hal besar,
saya kian tertantang menantang kapasitas pribadi. Saya kian mantap melangkah, tak
lagi perlu mencari-cari alasan demi membenarkan ketidak-becusan diri. Dan berkomitmen
akan terus memacu kapasitas pribadi bergiat mempelajari hal-hal baru, kukuh mencari
jalan keluar untuk sukses mencapai keberhasilan.
Apakah saya telah menemukan jati-diri saya? Terima kasih
untuk perhatian dan sarannya.
---Selesai---
Hening,,,,,,saya termangu!
Jauh di lubuk hati, terasa ada dorongan percaya bahwa saya
meyakini Dia itu juga sama saja dengan saya, mungkin Anda juga?
Respon apapun yang diberikan hanya akan ada satu kata bahwa
jawaban apapun yang diperlukan, itu sudah ada didalam diri kita.
Tak soal dari mana kita berasal. Apa pun latar belakang kita
tak masalah, bahkan itu bukan penentu kapasitas pribadi kita.
Bahkan pengalaman masa lalu hanya akan membawa kita ke suatu
titik dimana kita tak lagi bisa mengulanginya. Dan itu bukan penentu langkah ke
depan, karena kita diberi kesempatan untuk memulai titik baru.
Kita diberi waktu menambah pengalaman.
Titik dimana kita terlahir kembali dengan segala alat
kelengkapan yang diperlukan untuk sukses. Sama seperti orang lain, kita juga
punya alasan yang sama bahwa kita juga bisa sukses berhasil.
Seperti orang satu lainnya, jika pun merasa diberati
rantai pengikat langkah maju itu hanya karena ulah kita sendiri. Hanya kita
yang terbiasa memasung sendiri ayunan langkah maju yang membuat kita terjebak
dalam lingkaran tak putus hingga lelah - tertahan.
Dari pengalaman pribadi yang mendapat kehormatan untuk
terlibat dalam banyak kegiatan yang melibatkan banyak pihak dari berbagai unsur
lapisan masyarakat, telah banyak yang saya lihat bahwa penghalang menuju sukses
keberhasilan adalah bikinan sendiri.
Karena, tiap kita sejatinya punya kemampuan mencapai
batas maksimal potensi kapasitas pribadi kita sendiri.
“Rely on your own
strength of body and soul. Take for your star self-reliance, faith, honesty,
and industry. Don’t take too much advice – keep at the helm and steer your own
ship, and remember that the great art of commanding is to take a fair share of
the work. Fire above the mark you intend to hit. Energy, invincible
determination with the right motive, are the levers that move the world”.
~Noah Porter
Saya meyakini bahwa tiap kita diberi kesempatan untuk
sukses, dan saya antusias melihat perjuangan meraih keberhasilannya. Saya meyakini,
tiap kita diberi hak untuk memilih bagaimana kita mencapai keberhasilan itu, bahkan
dibekali keunggulan pribadi untuk itu.
Hanya kita harus membebaskan diri dari ketidakyakinan
diri karena kita diberi kebebasan untuk memilih bagaimana berpikir untuk itu.
Jika hari ini sukses itu masih tertunda, kita diberi waktu
untuk meraihnya pada keesokan harinya, maka cukup alasan untuk tetap bersemangat
menatap ke masa depan.
"Once a man has made a commitment
to a way of life, he puts the greatest strength in the world behind him. It's
something we call heart power. Once a man has made this commitment, nothing
will stop him short of success."
~Vince Lombardi
Tulisan ini kami sepakati untuk dibagikan kepada Anda
atau siapa saja yang membacanya, dengan harapan agar bisa menemukan cara
bagaimana menemukan jati-diri dan memanfaatkannya. Karena jatidiri adalah modal
awal mencapai sukses keberhasilan
Mulailah mencarinya! Karena masih
ada banyak lagi rahasia hidup yang kita perlu ketahui bahkan yang tak akan
pernah kita ketahui.






