Senin, 28 Mei 2018

ANDAI KITA TAHU MAKNA “JATIDIRI”

“It is absurd that a man should rule others, who cannot rule himself. (Absurdum est ut alios regat, qui selpsum regere nescit)”.
~Latin Proverb

Seorang klien mengirimkan email bersahaja suatu pengakuan yang menyentuh, sangat menggetarkan, saya bahkan terlarut mengikuti tulisannya.

Katanya memulai:
Harus saya akui, sudah lama saya menahan diri untuk melakukan hal mengikutkan kata hati saya. Sesungguhnya saya mengimpikan bisa melakukan banyak hal tetapi saya tak percaya diri. Saya bahkan terlalu takut untuk memulai. Takut keluar dari zona kenyamanan hingga harus mencari-cari alasan pembenaran. Telinga saya terkadang heran mendengar alasan lemah begitu itu, bahkan malah tak nyambung.

Saya itu, takut akan kualitas pribadi yang tidak cukup baik dan tak bisa melakukannya. Keyakinan sesat tertanam membatasi diri bertolak belakang dengan pengakuan banyak orang bahwa saya ini termasuk seseorang yang dinilai cukup sukses dalam berkarier.

Saya sesungguhnya sangat suka membaca buku-buku tentang orang-orang sukses. Sepertinya gampang untuk mereka melakukan hal-hal luar biasa, maka tak salah jika saya juga mengimpikan hal yang sama. Tetapi minus keyakinan diri.

Saya cenderung berpendapat bahwa mereka mudah melakukannya karena mereka terlahir ditengah keluarga kaya yang berkecukupan dan punya koneksi luas. Mungkin punya bakat sedari lahir. Pemikiran sesat itu terpatri dalam-dalam dan membatasi langkah.

Sekali waktu saya diikutkan dalam suatu acara bersama rombongan berkunjung ke kampung halaman salah seorang petinggi nagari. Saya terkejut mengetahui daerah asalnya. Serasa ada beban berat menggayuti, ternyata selama ini saya salah. Beliau ternyata berasal dari keluarga bersahaja bahkan taklah begitu kaya. Saya telah berlaku tidak adil terhadap diri sendiri.

Saya menyadari terlalu banyak buang waktu berkutat dengan pemikiran tidak produktif. Dan itu membatasi gerak langkah saya untuk berani melangkah keluar dari zona kenyamanan.

Abang betul!

“In this world a man must either be an anvil or hammer.”

Kini ini Bang, saya tengah berjuang dan akan terus meyakinkan diri bahwa jawaban yang diperlukan ada di diri sendiri.

Kini ini, saya kian semakin yakin menerima tantangan menangani hal permasalahan baru. Kini saya kian sering dilibatkan menangani hal besar, saya kian tertantang menantang kapasitas pribadi. Saya kian mantap melangkah, tak lagi perlu mencari-cari alasan demi membenarkan ketidak-becusan diri. Dan berkomitmen akan terus memacu kapasitas pribadi bergiat mempelajari hal-hal baru, kukuh mencari jalan keluar untuk sukses mencapai keberhasilan.

Apakah saya telah menemukan jati-diri saya? Terima kasih untuk perhatian dan sarannya.

---Selesai---

Hening,,,,,,saya termangu!
Jauh di lubuk hati, terasa ada dorongan percaya bahwa saya meyakini Dia itu juga sama saja dengan saya, mungkin Anda juga?

Respon apapun yang diberikan hanya akan ada satu kata bahwa jawaban apapun yang diperlukan, itu sudah ada didalam diri kita.

Tak soal dari mana kita berasal. Apa pun latar belakang kita tak masalah, bahkan itu bukan penentu kapasitas pribadi kita.

Bahkan pengalaman masa lalu hanya akan membawa kita ke suatu titik dimana kita tak lagi bisa mengulanginya. Dan itu bukan penentu langkah ke depan, karena kita diberi kesempatan untuk memulai titik baru.

Kita diberi waktu menambah pengalaman.

Titik dimana kita terlahir kembali dengan segala alat kelengkapan yang diperlukan untuk sukses. Sama seperti orang lain, kita juga punya alasan yang sama bahwa kita juga bisa sukses berhasil.

Seperti orang satu lainnya, jika pun merasa diberati rantai pengikat langkah maju itu hanya karena ulah kita sendiri. Hanya kita yang terbiasa memasung sendiri ayunan langkah maju yang membuat kita terjebak dalam lingkaran tak putus hingga lelah - tertahan.

Dari pengalaman pribadi yang mendapat kehormatan untuk terlibat dalam banyak kegiatan yang melibatkan banyak pihak dari berbagai unsur lapisan masyarakat, telah banyak yang saya lihat bahwa penghalang menuju sukses keberhasilan adalah bikinan sendiri.

Karena, tiap kita sejatinya punya kemampuan mencapai batas maksimal potensi kapasitas pribadi kita sendiri.

“Rely on your own strength of body and soul. Take for your star self-reliance, faith, honesty, and industry. Don’t take too much advice – keep at the helm and steer your own ship, and remember that the great art of commanding is to take a fair share of the work. Fire above the mark you intend to hit. Energy, invincible determination with the right motive, are the levers that move the world”.
~Noah Porter

Saya meyakini bahwa tiap kita diberi kesempatan untuk sukses, dan saya antusias melihat perjuangan meraih keberhasilannya. Saya meyakini, tiap kita diberi hak untuk memilih bagaimana kita mencapai keberhasilan itu, bahkan dibekali keunggulan pribadi untuk itu.
Hanya kita harus membebaskan diri dari ketidakyakinan diri karena kita diberi kebebasan untuk memilih bagaimana berpikir untuk itu.

Jika hari ini sukses itu masih tertunda, kita diberi waktu untuk meraihnya pada keesokan harinya, maka cukup alasan untuk tetap bersemangat menatap ke masa depan.

"Once a man has made a commitment to a way of life, he puts the greatest strength in the world behind him. It's something we call heart power. Once a man has made this commitment, nothing will stop him short of success."
~Vince Lombardi

Tulisan ini kami sepakati untuk dibagikan kepada Anda atau siapa saja yang membacanya, dengan harapan agar bisa menemukan cara bagaimana menemukan jati-diri dan memanfaatkannya. Karena jatidiri adalah modal awal mencapai sukses keberhasilan

Mulailah mencarinya! Karena masih ada banyak lagi rahasia hidup yang kita perlu ketahui bahkan yang tak akan pernah kita ketahui.

~Salam jati diri!


 

Rabu, 23 Mei 2018

ANDAI KITA TAHU MAKNA "MEMAAFKAN"

“Forgiveness isn’t just a blessing you deliver to another human being. Forgiveness is also a gift you give yourself”
~Robin S. Sharma

Oleh Robin S Sharma dikatakan bahwa: “tindakan Memaafkan bukan hanya berkah yang kita berikan ke orang lain. Memaafkan adalah juga merupakan pemberian hadiah untuk diri kita sendiri”.

Kita memang harus mengakuinya, bahwa rada sulit untuk kita bisa memaknainya secara se-sederhana itu. Ada benjolan berontak kecil di hati sanubari bahwa taklah semudah itu memahaminya.

Tetapi jika kita sudi menghabiskan waktu yang cukup untuk menggalinya lebih jauh lagi, maka jelas akan terasa manfaat dari “tindakan memaafkan” yang dimaksudkan. Sejatinya itulah langkah awal yang baik karena tindakan Memaafkan tidak akan menghajar balik diri kita – yang memberikan maaf. Bahkan akan ada waktu untuk mengakui bahwa itu layak, bahwa tindakan itu bak memberi hadiah untuk diri sendiri – memberi tanpa pamrih.

Jamak terdengar orang-orang mengatakan bahwa mereka telah “memberi maaf atas tindakan seseorang” tetapi tiap waktu orang itu tetap memunculkan “peristiwa yang dia maaafkan itu”. Ini menunjukkan bahwa mereka belum benar-benar memaafkannya, atau mungkin yang dia berikan hanya sekedar kata “Maaf” saja. Satu kata yang didengar oleh orang banyak disekitarnya, namun diduga kata itu tidak dari lubuk hatinya. Niatnya hanya untuk sekedar komsumsi orang banyak saja, dan itu tidak disarankan. Maaf yang hampa!

Pemberian maaf haruslah didasari niat tulus, oleh Robin S Sharma diatas dikatakan bahwa itu bukan saja hanya sebuah berkat yang kita berikan ke seseorang, tetapi sekaligus merupakan pemberian hadiah untuk diri kita sendiri. Sesuatu yang jarang kita lakukan!

Ada banyak penjelasan tentang hal ini, beberapa bahkan telah dibukukan, diperjualbelikan hingga membawa manfaat komersil bagi banyak pihak terutama si pembeli yang memanfaatkannya.
  
Dan dalam tulisan ini saya akan berbagi dan kemudian membiarkan Anda menemukan cara sendiri agar benar-benar bisa “memberikan maaf” dan mendapatkan manfaat darinya. Menjadikannya sebagai asupan giji yang diperlukan untuk Anda bisa menemukan jati diri Anda yang sebenarnya.

Kita ketahui, bahwa “Pencarian jati diri” telah berlangsung berabad-abad lamanya, diduga telah dimulai sejak mula peradaban kehidupan manusia berlangsung dan didokumentasikan. Pencarian yang tiada akan pernah tuntas! Apalagi hidup akan terus hidup dan lebih hidup lagi.
  
Hidup memang sebuah mistery!

Para filsuf sejak era kehidupan bermula diduga memiliki kesamaan pemikiran bahwa Alam Semesta hanya memiliki kebaikan untuk tiap manusia yang menikmatinya – tiap diri kita, pribadi lepas pribadi. Terutama karena hidup adalah karunia!

Sebagian malah mempertajamnya dengan menanamkan pemikiran bahwa sesungguhnya mimpi indah itu adalah tanda pertanda keindahan hidup yang dikirimkan oleh alam semesta. Sedangkan mimpi buruk diberi makna bahwa itu menunjukkan ada enerji buruk di sekitar kita dan ditengarai akan mengganggu nikmat hidup atawa kesuksesan kita.

Dan pemikiran positif diyakini akan dapat menjebak enerji positif - sang sumber mimpi indah, untuk berdiam tinggal menetap di alam pemikiran kita. Itu yang berperan mencegah enerji negatif - si sumber mimpi buruk, untuk hinggap atawa tinggal berlama-lama atau bahkan malah akan mencegahnya.

Hidup adalah tanda tanya, dan demikian selamanya!

Vitalitas diri diduga menjadi sumber inspirasi yang memotivasi diri kita bergerak ke arah yang lebih baik dan menjadikan langkah serta alam pemikiran kita bisa selaras dengan kesuksesan yang akan kita raih. Jiwa akan dipenuhi enerji positif, dipenuhi niat baik dan menghadirkan berbagai keindahan hidup untuk diri kita maupun untuk lingkungan sekitar ditempat mana kita berada. Gerbong keindahan alam semesta berpindah ke diri kita.

Hidup memang indah!
Dan itu semua bermula hanya dari satu kata “Memaafkan”.

Andai kita tahu maknanya, kita akan terkagum-kagum didalamnya. Karena ada banyak lagi rahasia hidup untuk diketahui, bahkan malah banyak yang kita tidak akan pernah sempat tahu apalagi paham akan maknanya.

Hidup memang singkat!

"Nobody succeeds beyond his or her wildest expectations unless he or she begins with some wild expectations"
~Ralph Charell

~Salam hidup selalu!

Mysfi!

Jumat, 18 Mei 2018

ANDAI KITA TAHU SEDIKIT RAHASIA HIDUP

Diduga ada jutaan orang hidup tanpa pernah punya kesempatan memilih cara bagaimana ia hidup, hingga tidak sadar bahwa ia telah mensia-siakan hidupnya oleh karena tidak secara semestinya. Pasrah bahwa hidupnya akan hanya begitu-begitu saja.

“Kita dapat memiliki apapun yang kita pilih. Terlepas dari seberapa pun besarnya. Rumah seperti apa yang Anda inginkan? Apakah Anda ingin menjadi jutawan? Bisnis seperti apa yang Anda inginkan? Apakah Anda menginginkan lebih banyak sukses? Apa yang sungguh – sungguh Anda inginkan?.”~John Assaraf.

HIDUP ADALAH PILIHAN:
Ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita kendalikan. Begitu banyak yang terjadi tanpa kita bisa berbuat apa-apa. Tetapi kita bisa mengendalikan PIKIRAN kita; mengendalikan TINDAKAN kita; mengendalikan PERILAKU dan PERASAAN kita sebagai respon atas berbagai hal kejadian itu, terutama agar bisa mengendalikan apa yang kita LAKUKAN  atau apa yang AKAN kita lakukan kala ketika keadaan menjadi sulit.

Kita sendirilah yang membuat perbedaan, dan itu dimungkinkan jika kita bisa memahami PIKIRAN dan mengendalikan PERILAKU kita. Oleh karena itulah ketahanan stamina pikiran kita walau dalam keadaan tertekan. Bagaimana kita menghadapi, bagaimana kita menanggapi ketidaknyamanan dan kita bertanggungjawab atas penanganannya.

Ada jutaan orang hidup yang terlambat menyadari, sesal dan bergegas mencari cara terbaik, berjuang menjalaninya dengan lebih baik lagi demi nikmat hidup yang lebih baik. Hanya kita harus berani memilih, berjuang mendapatkan dan memeliharanya oleh karena itulah awal sukses keberhasilan hidup.

Hidup itu Indah!

KUCARI JALAN TERBAIK:
Kita harus terlebih dahulu bertekad mengubah sikap diri, setelahnya menentukan tujuan hidup. Mulai dari tahap sederhana dulu, yang muluk-muluk nanti saja menyusul. Bergegaslah, tingkatkan kemampuan, konsisten, jangan terpengaruh komentar miring. Jangan menyerah terhenti persis di tengah, ikuti langkah para pendahulu – yang sukses sebelum era kita. Mereka berhasil karena tidak menyerah. Ketahuilah tiap usaha perlu waktu untuk tumbuh, mekar dan berkembang.

Dan itulah hidup!

Bagian terberatnya adalah, kala ketika kita memerangi rasa takut diri sendiri kala kita diperangi tumpukan rasa khawatir dari orang-orang yang mencintai kita. Merekalah yang paling tersiksa dihantui bahana rasa takut, bakal gagal, getir dirajam bayang kehancuran. Bakal rugi dan kian merugi, mereka bahkan bosan melawan kebosanan terkungkung siksa.

Bertahanlah! Itulah fase awal. Itulah jalan terbaik, awal mula bermulanya segala yang baik. Tak lama berselang segala hal baik akan muncul menghampiri dan kita telah lupa akan siksa deraan bayang-bayang kekhawatiran itu.

Hidup itu luar biasa singkat!

Jika kita memilih untuk memperhatikannya akan ketemu bahwa siksa tekanan itu ada di tiap persimpangan pergantian jalan hidup. Beban stress bahkan dapat menjadi tekanan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun itu bisa membuat kita kian termotivasi tetapi stress terkadang bisa merampas hidup, merampas kebebasan individu anggota keluarga. Dalam kategori tertentu, stress bahkan merampas segala hal baik yang ditawarkan hidup hingga hak hidup.

Hidup adalah perjuangan dan harus dihadapi!

Kita hidup di dunia yang tidak pasti. Kita ini bagian dari dunia infomasi yang kerap dijejali desas-desus serba tidak pasti, sedari kemerosotan ekonomi, benturan kepentingan politik, bahkan suasana tidak aman. Ketidaknyamanan dan ketidakpastian seolah dijejalkan bak sebagai hal yang biasa.

Hidup memang tidak pasti!

Dan dalam kehidupan sehari-hari pun, kita juga dihadapkan pada tekanan beban hidup terus-menerus. Mengapa hidup tidak seperti yang kita impikan? Mengapa kebahagiaan seolah hanya milik orang-orang kaya yang berkecukupan? Kenapa kita serba berkekurangan? Kenapa kita dijauhkan dari kebahagiaan hidup? Apakah jalan hidup kita yang salah? Tekanan batin, stress berlebihan bisa menjadi penghalang menuju sukses.

Hidup memang penuh akan tekanan!

Dan kita harus melepaskan diri dari tekanan itu. Diyakini bahwa diri kita sendiri, bisa melepaskan diri dari tekanan stress jika kita bisa menemukan sumber awal terjadinya. Meyakininya sebagai awal pemicu sebelum kita berusaha mengatasinya, kegagalan menemukan bisa membuat kita malah kian stress.

Terkadang awal pemicunya tidak jelas darimana mulanya, bisa jadi itu berasal dari situasi luar yang begitu beragam atau pola pikir kita yang berulang-ulang yang menjadikannya. Hingga setelah sekian waktu kita malah lebur didalamnya, terakumulasi dari waktu ke waktu. Dalam keadaan seperti itu, bantuan professional dinilai akan membantu.

Hidup memang stress dan itu ada ahlinya!

Senam nafas diakui sangat membantu. Terdengar sederhana tetapi bernafas dalam-dalam bisa mengurangi tekanan stress. Ambil kuda-kuda, posisi santai saja, tarik nafas dan keluarkan, tarik lagi kian mendalam lalu keluarkan, fokuslah bernafas dari hidung. Tarik dan keluarkan, tiga tarikan nafas pertama tekan nafas Anda sepanjang jalur keluar.

Nafas keluar diyakini akan bisa merangsang sistim saraf parasimpatis yang diperlukan untuk rileks. Mungkin terdengar sederhana tetapi cuba diingat kembali kapan kali terakhir kita melakukannya?

Hidup memang harus bernafas, sederhana!

Disarankan juga untuk kita bersedia mematikan telepon seluler selama tiga hingga enam jam per setiap hari – ya itu betul! Bebas memilih kapan waktunya, bisa saat perjalanan pulang atau pagi hari saat menuju kantor beraktivitas. Kini ini, saran ini dianggap mahal, dianggap sulit bahkan tidak mungkin bisa dilakukan. Tetapi tindakan ini adalah saran yang paling sederhana, bahkan dinilai dunia tidak akan berhenti karenanya. Bersediakah?

Hidup memang tergantung kita!

Saran berikutnya, adalah menghentikan alasan untuk berdalih atas tiap hal. Mulailah menghargai hal peristiwa apapun di sekitar kita. Kapan terakhir kita duduk santai bertegur sapa dengan tetangga, kerabat serta orang-orang sekitar lingkungan kita tinggal? Cubalah melakukannya, ini sangat disarankan. Ditengah kehidupan hiruk pikuk kota dunia modern, hal sesederhana begitu itu sudah sangat jarang terjadi. Cubalah dan rasakan manfaatnya.

Hidup memang harus bersahaja!

Berterimakasihlah! Mengucapkannya menjadi cara terbaik untuk kita menyampaikan rasa syukur atas nikmat hidup. Cuba tanya diri, apa yang nikmat dihari ini? Sederhana, lakukanlah setiap hari, pada akhirnya kita akan membenarkan kata hati kita untuk tidak pernah lupa berterima kasih atas apa yang kita peroleh dalam hidup ini.

Hidup memang harus berterima kasih!

“Kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Kamu bisa memilih untuk bahagia. Akan ada stress dalam hidup, tetapi itu pilihanmu apakah kamu membiarkan itu mempengaruhi kamu atau tidak”.~Valerie Bertineli

Saatnya untuk kita menentukan pilihan karena masih ada banyak lagi rahasia hidup yang kita tidak tahu dan tidak akan pernah tahu.

~Salam hidup selalu!
Localvantia
 

Senin, 14 Mei 2018

ANDAI KITA BISA MENGENDALIKAN EMOSI DIRI

"All of us have bad luck and good luck. The man who persists through the bad luck - who keeps right on going - is the man who is there when the good luck comes - and is ready to receive it".
~Robert Collier

TEROMBANG-AMBING OLEH EMOSI DIRI:
Untuk sukses berhasil kita disarankan untuk bisa mengendalikan emosi kita, tidak terombang-ambing olehnya. Diyakini sehat jasmani erat kaitannya dengan kesehatan rohani, karena dalam tubuh sehat terdapat jiwa yang sehat. Kecerdasan emosi penting untuk mengendalikan tingkat intelektualitas kita.
Tidak perlu kita mengamuk tidak menentu hanya oleh karena sesuatu hal kecil, itu tidak baik untuk kesehatan, kita juga tak perlu mengeluh apalagi menyalahkan orang lain, harus dihindarkan!
Jika tidak ingin memuji seseorang lebih baik menghargainya itu akan kian mendorongnya menjadi lebih baik lagi. Kesukaaan kita mendorong akan menjadikan kita sebagai seorang figur yang disukai lingkungan. Bahkan jika seseorang melakukan kesalahan kita disarankan untuk memberi saran perbaikan tidak malah menyalahkannya dan mengeluhkan kesalahannya sepanjang hari.
Dalam hidup jamak fenomena seperti itu ditemukan.
Cara menyampaikan saran juga disarankan agar dilakukan secara bertahap, mulailah dengan memuji prestasinya dan menyertakan saran perbaikan dalam penyampaiannya dan memuji prestasinya akan lebih baik lagi jika dilakukan sesuai yang disarankan.

Ada tekniknya itu!
Saran perbaikan yang disampaikan secara sembarangan akan terdengar seakan menghakimi hingga membuat orang lain cenderung menjadi marah. Coba pikirkan jika kita memuji orang untuk tujuan menyanjung dan itu tidak baik tetapi lakukanlah dengan cara sesuai disarankan diatas. Puji dan beri saran perbaikan, bahwa hasil yang akan dicapai akan jauh lebih baik lagi jika itu dilakukan mengikutkan saran perbaikan.

Jika kita harus mengkritik hasil pekerjaan seseorang pastikan untuk terlebih dahulu menggigit ujung lidah sendiri. Karena pada dasarnya manusia memiliki kesamaan dengan binatang dalam insting perlindungan diri, perbedaan keduanya adalah bahwa manusia tahu cara berpikir dan belajar menggunakannya. Orang lain itu manusia juga - seperti kita.
Kita harus terus belajar agar bakat dan potensi diri tidak stagnan. Belajarlah dari orang-orang yang lebih dahulu sukses, belajarlah menjadi positif dan tidak perlu mendengarkan hal-hal yang negatif atau akan teracuni olehnya, merusak jiwa dan hidup.
Dijaman digital seperti kini ini, belajar menjadi satu-satunya paspor menuju keberhasilan di masa depan, dan kita harus terus belajar agar terus diperlukan untuk mengisi kehidupan ini.
TEROMBANG-AMBING OPINI ORANG LAIN:
Tiap kita cenderung membuat keputusan berdasarkan pendapat orang lain, bukan berdasarkan "fakta" hingga tidak yakin seratus persen kala memutuskan.
Konsep Percaya dan Yakin menjadi dua hal yang berbeda, “percaya” umumnya ditujukan untuk sesuatu hal yang terlihat atau telah terlihat, sedangkan “keyakinan” adalah untuk sesuatu yang sama sekali tidak terlihat atau bahkan tak akan pernah bisa melihatnya.
Jika ditelisik lebih mendalam, “iman” adalah sikap manusiawi tentang sesuatu hal yang dia “yakini” - bahkan walau banyak orang tidak mempercayainya. Sedangkan “percaya” dapat digambarkan secara jelas bagaikan jika kita ingin mencapai puncak Gunung Sinabung dan kita harus melihat puncaknya. Mustahil mencapainya jika kita tidak pernah berada disana.
Dalam bisnis, kerap kita dengar tanggapan lawan bisnis kita “saya tidak yakin dengan apa yang Anda sampaikan”. Dan kita tak perlu emosi menanggapinya! Kita harus ingat bahwa kita berbisnis adalah untuk meraih impian kita mengikutkan keyakinan kita maka, tak mengapa jika hanya kita seorang yang meyakininya.
Ingatlah, selama pilihan kita benar, abaikan apa kata orang-orang tentang diri kita, tentang bagaimana kita akan meraih dan mewujudkannya.
Pada tulisan sebelumnya, telah dijelaskan tentang karakter khas orang yang belum dewasa, refleksinya periksalah, mungkin ada karakteristik yang  cocok. Kemampuan kita untuk mensandingkan perbedaan itu akan membangun tingkat keyakinan akan pola pikir positif yang kita miliki. Tak lama kemudian, kemampuan kita akan bertumbuh, menjadi lebih dewasa lagi dan kita akan mewarnai kehidupan kita mengikutkan pilihan hati kita - tidak oleh tekanan orang lain, tidak oleh pilihan orang lain.
Dan itu yang terutama!
~salam kendali selalu!
Auction!

"There's no feeling quite like the one you get when you get the truth: You're the captain of the ship called you. You're setting the course, the speed and you're out there on the bridge, steering."~Carl Frederick


Jumat, 11 Mei 2018

ANDAI KITA BISA AGAK LEBIH DEWASA

“The difference between a succesful person and other is not a lack of strength, not lack of knowledge, but rather a lack of the will”.~Vince Lombardi
Baru-baru saya dikirimi oleh seseorang ringkasan artikel tentang karakteristik orang yang belum dewasa. Dia ingin agar saya membaca hingga akhir dan berpikir apakah saya setuju dengannya tentang pendapatnya perihal orang-orang dewasa dan perbedaannya dengan orang-orang yang belum dewasa.
Dapat dikatakan tulisan ini adalah merupakan persfektif sudut pandang saya tentang orang-orang dewasa serta hal kedewasaan yang dia pertanyakan hingga tak soal apakah saya setuju atau tidak dengannya.
HASILNYA HARUS SEKARANG - SAAT INI:
Orang belum dewasa kerap berpikir bahwa tiap pekerjaan yang dia lakukan harus segera dibayar - tunai “sekarang”, tak boleh tertunda entah untuk alasan apapun juga. Tak heran jika yang seperti itu adalah sesuatu yang mudah dikerjakan dalam waktu singkat dan langsung menghasilkan. Dia bahkan tak paham jika untuk memanen sesuatu kita harus menanam terlebih dahulu.
Tipikalnya tidak punya visi tentang masa depan, hari ini kerja, hari ini dibayar! Jika hasilnya baru akan dibayar nanti, maka ia akan berdalih mengerjakannya nanti saja!
Kontribusi sedikit, berharap diberi imbalan seketika. Didunia bisnis mungkin trading investasi bisa disebut nyaris seperti itu – selesai, bayar atau ludes! Sangat menjanjikan, menggiurkan, seketika bisa kaya raya atau amblas ludes, hingga tak banyak yang menggelutinya. Yang banyak, berhenti seketika kala hasilnya “tidak seperti yang dijanjikan”. Beberapa mencuba bertahan kemudian berhenti setelah sekian waktu tidak memetik hasil.
Tak mudah menebak kenapa orang-orang mudah keluar dari bisnisnya karena tidak menghasilkan, tetapi karakteristik orang mudah menyerah mudah terlihat sebagai kebiasaan pecundang. Yang bertahan tetap teguh berprinsip bahwa yang menyerah tidak akan pernah berhasil.
Napoleon Hill, seorang ekonom Amerika pernah berkata bahwa orang miskin punya pola pikir yang membuat mereka tetap miskin yakni: (1) selalu berkata “Tidak” untuk sesuatu peluang dan (2) selalu ingin “cepat kaya”. Tak heran jika mereka banyak yang mudah menyerah. Mentalitasnya membuatnya kerap berkata “aku tak bisa melakukannya!”
Dan, itu penghalang utama.
Tipikalnya kerap terdorong oleh ceritera “bisnis gampang, cepat dan hasilnya menggiurkan”. Realitasnya, bisnis seperti itu nyaris tidak ada! Jikapun ada, itu hanya bisnis rekaan atau hanya pemain besar yang berkesempatan untuk itu, karena didukung sumber daya, permodalan dan akses jaringan luas. Pemain biasa perlu berjuang lebih keras memelihara pengharapannya sembari berjuang mengejar impiannya. Yang hilang pengharapan hanya akan memetik kehampaan.
Orang lebih dewasa umumnya lebih paham apa yang dia inginkan dalam hidupnya dan lebih siap mewujudkannya. Mereka lebih mengerti bahwa untuk bisa punya lebih banyak uang, harus terlebih dahulu mengeluarkan uangnya. Orang lebih dewasa lebih bijak memahaminya. Mereka bahkan mengorbankan hobbynya.
Mereka lebih paham akan makna bahwa sesuatu itu jika dirawat, kelak akan menghasilkan berlipat ganda, hingga hanya mereka yang tahu arti benih sama dengan bibit dan menanamnya, menjagainya, menyirami dan memupuknya untuk kelak bisa dipanen.
Orang lebih dewasa lebih berminat untuk belajar bagaimana cara memberi dan tidak terlalu memperlihatkan minatnya akan tawaran bisnis cepat kaya.
MINUS DISIPLIN DIRI:
Sejatinya kemampuan tiap orang bisa dikatakan nyaris sama satu sama lain, yang membedakan hanyalah cara berpikir. Dan cara berpikir diyakini menjadi dasar utama dalam berperilaku, dan itu sangat menentukan cara kita mendisiplinkan diri bahkan akan menggambarkan tingkat optimisme kita.
Yang optimis akan gamblang menggambarkan keberhasilannya adalah hasil dari kerja kerasnya untuk disiplin dalam berjuang, sedangkan yang pesimis santai menyampaikan berbagai alasan atas ketidakberhasilannya. Yang pesimis terlihat nyaman walau tetap stagnan sedangkan yang optimis, berjuang agar keluar dari zona stagnansi.
Yang optimis selalu berlatih meningkatkan pola “berpikir” untuk menelurkan “tindakan”, secara disiplin meningkatkannya dan menjadikannya sebagai sesuatu "kebiasaan" agar bisa memiliki “karakter” orang sukses. Umumnya mereka berhasil menentukan sendiri nasibnya sendiri.
Yang pesimis terlihat puas dalam kegagalannya, menghabiskan waktunya clubbing, menonton televisi seharian untuk menutupi keadaannya yang stagnan. Mereka sadar bahwa itu tidak baik dan perilaku itu tidak akan membawanya kemanapun, dan kelak akan menyesalinya. Sejatinya mereka juga ingin berubah tetapi kerap terganjal oleh pola berpikir bahkan perilaku lingkungannya kerap menahan langkah majunya.
Yang optimis berusaha menghindari pembicaraan buruk tentang orang lain karena sadar itu akan berbalik menyergapnya. Menghindar dari orang-orang yang cenderung mengecilkan arti perjuangan, menghindarkan perilaku negatif dan tak suka mengeluh.
Yang pesimis doyan mengeluh bahkan menikmati sendiri “keluhannya”. Tiap hal dikeluhkan dan itu dilakukan sepanjang hari, tiada hari tanpa keluhan. Mengeluh tentang orang-orang, tentang tiap hal dalam kehidupannya, mereka bahkan beradaptasi dan membangun lingkungannya mengikutkan keluhannya.
Bagaimanapun, hidup akan memperlakukan kita seperti bagaimana kita mengisi kehidupan kita, dan memperlakukan kita seperti layaknya kita memperlakukannya, maka berhentilah mengeluh. Optimislah, pemenang tidak akan mengeluh dan mereka-mereka yang mengeluh tidak akan pernah menang.
Karakter khas orang-orang yang lebih dewasa terlihat jelas pada orang yang optimis sebaliknya pesimisme mudah terbaca pada orang yang belum dewasa.
Andai kita bisa agak lebih dewasa!
~Salam Dewasa selalu!

"The  great man does not think beforehand of his words that they may be  sincere, nor of his actions that they may be resolute -- he simply  speaks and does what is right".
~Mencius, philosopher
Click and find out!
 

Senin, 07 Mei 2018

TONTON TANGGAPAN ANDA!

"The difference between a successful person and others is not a lack of strength, not a lack of knowledge, but rather a lack of will."
~Vince Lombardi

Suka tidak suka kita harus berterima bahwa hidup kita sangat diwarnai oleh pendapat orang lain tentang kita, jika menyenangkan kita akan senang dan betah berlama-lama menikmatinya, tetapi ketika terdengar serasa memojokkan kita terpancing membela diri dan membangun jarak dengan orang itu. Untuk orang yang tidak sependapat kita terdorong untuk bersitegang dengannya. Itu kenyataan dan tidak terbantahkan.

Kita terkadang berubah menjadi seseorang yang bisa meracuni lingkungan dunia sekitar kita terutama ketika kita percaya bahwa ada sesuatu yang terjadi dan itu akan merugikan kita. Apakah akan merugikan secara materil keuangan maupun moralitas - menganggap ada peristiwa tertentu yang merugikan nama baik atau bahkan merugikan secara mentalitas.

Sesuatu peristiwa yang membangkitkan reaksi hebat terkadang bahkan kita kaget akan rentetan peristiwa akibat yang ditimbulkannya. Dalam situasional tertentu rentetan peristiwa yang terjadi bahkan bisa kian membuat kita terpojok dan semakin merugikan. Namun kita berharap reaksi yang timbul dan rentetannya akan menggiring pendapat yang menguntungkan, jika semula memojokkan akan berbalik menjadi mendukung. Kita bahkan terkadang harus membayar sesuatu biaya demi mendapat dukungan yang diharapkan. Dan itu tidak terbantahkan.
Dalam banyak hal kita kerap gagal tidak mampu membedakan perkataan dengan perlakuan. Cenderung menganggap bahwa bagaimana perkataan orang lain tentang kita, akan menjadikan orang itu memperlakukan kita secara sedemikian pula. Seolah perkataan negatif akan menjadikan orang lain memperlakukan diri kita secara negatif juga.
Kita lupa bahwa reaksi orang lain terhadap kita didasarkan pada perkataan serta perlakuan kita terhadap orang itu, dan reaksinya umumnya akan didasarkan pada persfektif orang itu terhadap kita.
Kita kerap gagal paham ketika seseorang menyampaikan pendapatnya tentang kita. Memaparkan persfektifnya tentang diri kita. Menerangkan kekecewaan hatinya terhadap kita atau bahkan sakit hatinya. Kita gagal membangun pemahaman bagaimana memaknai arti tujuan mendalam hingga membuat orang itu menjelaskan pengalamannya tentang kita. Kita cenderung tidak memberinya ruang waktu yang cukup untuk secara rinci menjabarkan alasan pemaparannya - dari sudut persfektif pribadinya.
Reaksi kita kerap cenderung tidak menyelesaikan masalah. Seyogianya ditanggapi dengan persfektif juga bukan malah menimbulkan permasalahan baru. Kita harus tanggalkan pemikiran bahwa kita lebih hebat dari orang itu. Kita harus tanggalkan pemikiran bahwa orang itu berperilaku buruk atau tidak berniat baik terhadap kita dengan penjelasannya. Perlu berpikir sebelum kita menanggapi pendapat seseorang tentang diri kita. Perlu berperilaku dewasa ketika kita memaparkan persfektif sudut pandang kita.
Tidak gampang untuk mengabaikan pendapat seseorang tentang kita. Walau Pakar menyarankan untuk tidak mendengarkan tiap pendapat orang-orang terutama karena cenderung subyektif dan tidak obyektif serta sangat pribadi. Tetapi bahkan sang Pakar tak akan bisa mengabaikan jika itu ditujukan tentang dirinya. Sejatinya, perlu paham diri sendiri untuk bisa paham orang lain.
“Learning is the beginning of wealth. Searching and learning is where the miracle process all begins. The great breakthrough in your life comes when you realize it that you can learn anything you need to learn to accomplish any goal that you set for yourself. This means there are no limits on what you can be, have or do”.~Albert Einstein

Sulit untuk membedakan mana pendapat negatif dan yang mana perlakuan negatif, keduanya terkadang sumir, apalagi terjadi bersamaan. Tetapi terkadang itu hanya persfektif kita yang cenderung reaktif akan persfektif orang itu. Terkadang untuk tujuan menegur agar lebih baik ditanggapi secara salah, kecewa menjadi sakit hati, terpojok tidak mendapat dukungan, sulit untuk memahami secara jernih. Cenderung reaktif berlebihan. Hingga kita kehilangan orang yang benar-benar sayang, yang menginginkan kita bisa lebih baik lagi. Kehilangan sahabat, sanak keluarga hanya karena reaktif dan berlebihan.
Tiap kita terkadang membuat kesalahan, jika seseorang melakukan sesuatu yang tidak kita setujui kita cenderung menafsirkan itu sebagai serangan pribadi, seolah menentang, seolah menjadi ancaman. Andai kita belajar mendengarkan dan berupaya memahaminya itu akan lebih produktif.
Terkadang pendapat itu baik walau terdengar buruk. Perlu bijak memahaminya. Ketika kita berpikir lebih baik, hidup kita akan menjadi lebih baik. Dan itulah yang perlu kita ingat dan kita ulang-ulangi untuk diri sendiri!
~salam belajar selalu!
Tripleclicks.com

"There's no feeling quite like the one you get when you get the truth: You're the captain of the ship called you. You're setting the course, the speed and you're out there on the bridge, steering."
~Carl Frederick