“The truth is that our finest moments
are most likely to occur when we are feeling deeply uncomfortable, unhappy, or
unfulfilled. For it is only in such moments, propelled by our discomfort, that
we are likely to step out of our ruts and start searching for different ways or
truer answers."
~M. Scott Peck
Tiap orang jika ditanya dipastikan ia akan menjawab bahwa
ia ingin menjadi kaya, bahwa ia terlahir tidak untuk hidup miskin, bahwa ia bekerja
keras agar kaya, bahwa ia telah mematuhi segenap aturan agar tidak jatuh miskin.
Tiap orang mengakui perbedaan Orang Miskin dengan Orang Kaya hanyalah oleh
karena ‘uang’. Dan itu adalah normal pada tatanan kehidupan masyarakat, namun diyakini
ada banyak hal lain yang dominan. Sejatinya tidak satu pun yang memahami apa arti
sesungguhnya dari Miskin dan Kaya.
Mengetahui beberapa point berikut diakui dapat membantu:
1. SKEPTIS DAN PERCAYA
Orang miskin umumnya skeptis, sebaliknya tipikal orang
kaya adalah memelihara kepercayaan bahwa tiap orang harus diberi kesempatan. Bahwa
untuk menjadi lebih kaya lagi ia harus bekerja lebih keras lagi dan memberi
kesempatan kepada lebih banyak orang lagi. Sebagian besar kekayaannya dikelola oleh
orang lain semisal: karyawan, sekretaris, asisten bahkan mobil berharga
miliaran ia percayakan ke sopirnya.
Sepintas pendapat ini bertentangan dengan apa yang Anda
yakini, seakan tidak layak untuk bisa Anda percayai tetapi akan lucu bila Anda
membantah kebenarannya. Anda ini ingin jatuh miskin atau ingin menjadi kaya?
Jika ingin menjadi kaya, percaya saja lah!
2. MASALAH DAN SOLUSI
Orang miskin cenderung mencari-cari kesalahan orang lain bahkan
terkesan berlebihan hingga menimbulkan masalah dan menjadi bagian dari masalah.
Cenderung menyalahkan rekan, kerabat, keluarga, lingkungan, pekerjaannya,
sistim hukum dan penegakannya serta kebijakan pemerintah. Ia bahkan tega menyalahkan
Tuhan Yang Maha Kuasa – tega nian kau tuhan melihatku menderita, aku yakini kau
yang maha kuasa maka mohon ampunanMU, aku kan umatMU jua?. Daftar panjang perilaku
orang miskin seakan menjelaskan mengapa mereka tidak bisa menjadi orang kaya.
Sebaliknya orang kaya cenderung mencari solusi dan menghindari
masalah, memahami bahwa tiap masalah terjadi oleh karena sesuatu alasan. Dan meyakini
ia bisa menemukan solusi jalan keluar dari tiap permasalahan. Ia sukses
menunggangi masalah berhasil menjadi kaya karena ia dipenuhi pemikiran bagaimana
bertindak agar terlepas dari masalah. Cenderung mengesampingkan tiap alasan dan
tidak terlatih menyalahkan pihak lain. Tindakan dan pemikirannya tercurah untuk
mendapatkan solusi dan langsung menerapkannya.
3. ASUMSI DAN BERTANYA AGAR JELAS
Orang miskin membuat asumsi sendiri sesuai kadar nalar
pemahamannya bahkan jika itu untuk mengetahui hal yang sebenarpun, ia terlatih berasumsi.
Semisal, jika untuk memperjuangkan hak nya ia perlu menghadap pemimpin di daerahnya,
ia berasumsi ‘mana sudi pemimpin menerima orang miskin, Bapak itu tak mungkin punya
waktu mengurus orang kecil seperti saya’. Alih-alih berusaha memperjuangkan
kebenaran fakta malah ia berasumsi dan hidup dengan pemahamannya sendiri. Terkesan
tidak memiliki keinginan, cenderung hanya akan menerima keadaan.
Orang kaya seakan terlatih selalu mencari kejelasan spontan
bertanya; ‘bagaimana jika?’ bahkan jika itu untuk mempertanyakan kebijakan pemimpin
di daerahnya: ‘bagaimana jika saya menulis surat ke presiden dan ia menjawab?’.
Hidupnya dipenuhi pemikiran positif, ia yakin dengan bertanya itu akan bisa meredakan
ketegangan, bahkan jika dapat mengajukan pertanyaan tepat itu bisa mempengaruhi
peta kekuasaan. Ia cenderung tidak menjawab langsung tetapi berminat
mempertanyakan sesuatu sedari pertanyaan hingga bahkan jawaban – agar jelas!.
4. MEREKA DAN KAMI
Orang miskin cenderung membahasakan diri dan kelompoknya
dengan istilah ‘mereka’ dan ‘mereka-mereka itu’. Terkesan seolah menghindar ia
bukan bagian daripadanya. Sebaliknya Orang kaya terlatih dengan penggunaan
istilah ‘kami’. Sepintas perbedaannya terkesan subyektif tetapi nuansa realita peristiwa
yang ditimbulkan acap membuat perbedaan besar.
5. UANG DAN WAKTU
Orang miskin ingin segalanya murah bahkan untuk
mendapatkan yang termurah ia tidak memperdulikan waktu yang tersita. Baginya uang
lebih penting dari waktu, seolah senang menghamburkan waktu - semaunya.
Orang kaya menyukai hal-hal yang terbaik, demi kualitas
harga tak jadi soal tetapi waktu yang tersita untuk mendapatkannya selalu
menjadi patokan utama. Orang kaya sangat menghargai waktu, baginya itu adalah sesuatu
yang tidak dapat tergantikan - berbeda dengan uang.
6. BERSAING DAN BERSINERJI
Orang miskin tidak suka persaingan, saat ada kesempatan cenderung
ia spontan meniru bagaimana orang lain melakukannya?. Ia jarang bersinerji dan
jarang mempertimbangkan penggunaan cara lain, ia kuatir cara lain hanya akan
menyesatkan. Sebaliknya Orang kaya tidak pernah puas akan sesuatu cara lajim, menyukai
innovasi dan kerap bersinerji bahkan jika itu hanya untuk mencari cara terbaik.
Orang miskin suka mengeluh, mengkritik hal yang terkadang
tidak dia ketahui jelas, cenderung mendengar pendapat orang lain, selalu memerlukan
persetujuan kerabat, keluarga ketika akan memutuskan sesuatu. Jika memerlukan advis
nasihat cenderung mendapatkannya dari yang amatir, yang gratis bahkan yang bersifat
magis. Mudah terhasut dan menggunakan pendapat orang lain sebagai fakta tanpa
mempertanyakan otoritas si orang itu dan
bahkan tanpa meneliti kesahihannya.
Orang kaya cenderung bersinerji dan menyadari keistimewaannya,
tidak mudah menerima sesuatu pendapat orang lain secara begitu saja, selalu mencari
masukan para ahli, pendapat independen bahkan rela membayar mahal, hingga ia lebih
mampu menghasilkan.
Orang miskin cenderung hanyut dengan gambaran sporadis
menyenangi televisi layar besar agar bisa jelas melihat penyajian mimpi-mimpi
indah dan senang bergunjing. Sebaliknya Orang kaya menyukai perpustakaan besar senang
membaca memanfaatkan waktu untuk hal-hal
yang menguntungkan. Kerap mengasah melatih pikiran demi memahami dirinya dan orang
lain serta lingkungannya hingga bahkan kehidupan peradaban dunia.
Persfektif yang benar mengenai orang kaya dapat Anda pelajari
dari orang-orang kaya dan menerapkannya agar Anda dapat mencapai impian Anda
dan menjadi kaya.