“Bertanya ke sesama serumit apapun itu adalah mudah, semudah
kita memberi jawaban ‘lupa’, namun bilamana kita ‘lupa’ bertanya ke diri kita sendiri
akan kah kita dinilai ‘lalai?’
Sudikah Anda dihukum karenanya? Saya pilih Remis!
Bertanya sembari
berpikir mustahil bisa dilakukan serentak di waktu yang bersamaan, bahkan para Ahli
pemikir tidak pernah diketahui telah pernah melakukannya. Yang lajim hanyalah
berpikir sebelum bertanya atau ditanya - gerangan apa lagi yang perlu
dipikirkan untuk ditanya?.
‘Bertanya’ itu mudah,
sama mudahnya dengan ‘menjawab’. Bahkan ada cara mudah untuk menjawab misalnya;
‘tidak tahu!’. Jika konotasinya dinilai tidak tepat ada pilihan lain lagi
yakni: ‘lupa’. Lupa atau tidak tahu sejatinya sama tidak berbeda tetapi intonasi
seakan menjadi plus minus bagi pihak yang menjawab. ‘Lupa’ bahkan dianggap karunia
hingga tak perlu dihukum. Jika ‘lupa’ si pelupa harus dihukum ia diberi istilah
pengganti misalnya; ‘lalai’. Anda boleh mendebat, kenapa begitu? Namun para Ahli
hukum memutuskan bahwa ‘lupa’ bukan tindakan melawan hukum, tetapi ‘lalai’ berakibat
hukum. Kadar ‘lupa’ si pelupa oleh si penghukum dinilai berapa karat; jika memenuhi
kategori ‘lalai’ akan dikenai hukuman. Wah,,,pelanggaran!
‘Menjawab’ itu
susah, sama susahnya dengan ‘Bertanya’ tak heran jika yang bertanya bahkan rela
melupakan ‘pertanyaannya’, terutama jika itu membuat nya lelah penat menantikan
‘jawaban’. Dalam banyak peristiwa bahkan si penanya rela untuk turut serta
berlelah-lelah ikut ‘mencari jawaban’. Sungguh melelahkan bukan?
Mari berlelah-lelah
‘mencari jawaban’ akan berbagai kemungkinan:
Kesatu:
“Andai ‘rasa lelah’
adalah ‘mata uang’ yang berlaku dan bisa
digunakan untuk sebagai alat tukar, Anda harus bagaimana kah?”
Jika Anda merasa ‘lelah’
maka timbangan penakar bobot ‘lelah’ yang tengah dialami akan menentukan jumlah
‘uang’ yang diperoleh. Dan ‘kelelahan’ yang dirasakan saat membelanjakannya, menjadi
tambahan perolehan – demikian seterusnya. Diperlukan ‘kelelahan-senantiasa’ untuk
menghasilkan ‘uang’. Sungguh sangat melelahkan bukan – dan Anda menjadi kaya.
Kedua:
“Andai penderitaan
adalah ‘mata uang’ yang berlaku dan bisa digunakan untuk sebagai alat tukar, Anda
harus bagaimana kah?”
Anda memiliki hak
untuk membelanjakan ‘penderitaan’ Anda, nilainya sesuai timbangan penakar karat
‘penderitaan’ yang tengah Anda alami. Jika kemudian Anda menjadi senang mengetahui
jumlah ‘uang’ yang diperoleh, maka rasa senang itu akan mengurangi jumlah nya. Anda
akan menjadi sedih kecewa karenanya, dan itu akan menghasilkan uang yang berkelimpahan.
Hati-hati ‘uang’ Anda bisa tergerus habis kalau senang. Sungguh menderita Anda
- tetapi menjadi kaya.
Ketiga:
“Andai kebahagiaan
adalah mata uang yang berlaku dan bisa digunakan untuk sebagai alat tukar, Anda
harus bagaimana kah?”
Manakala Anda
‘bahagia’ penakar karat ‘kebahagiaan’ akan menghitung jumlah ‘uang’ yang Anda
peroleh. Anda akan sangat senang karenanya, dan rasa itu akan menambah perolehan
‘uang’ - demikian seterusnya. Jika saja Anda bahagia bisa membahagiakan orang
satu lainnya, Anda akan semakin bertambah kaya. Yang menderita susah tidak pernah
bisa membelanjakan kesusahannya. Anda tidak perlu khawatir ‘uang’ Anda tidak
akan pernah bisa berkurang, hanya dengan ‘senantiasa-senang’ Anda akan semakin kaya.
Sungguh berbahagia Anda – dan kaya raya.
Keempat:
“Andai kekayaan
Anda HARUS dipergunakan untuk meniadakan penderitaan sesama, Anda harus
bagaimana kah?”
Untuk menjawab ini Anda
harus benar-benar memiliki kekayaaan yang dimaksudkan. Walau saya ragu akan
kesediaan Anda, namun pertanyaan ini saya tinggalkan untuk Anda seorang saja.
Kelima:
“Andai kekayaan
Anda HARUS dipergunakan membahagiakan sesama, Anda harus bagaimana kah?”
Alangkah baiknya
Anda, tetapi akan lebih baik lagi jika Anda menemukan jawaban yang tepat atau Anda
akan dinilai ‘lalai’. Dan Anda harus terlebih dahulu yakin bahwa Anda benar memiliki
kekayaaan yang dimaksudkan atau Anda akan kembali dinilai ‘lalai’ – untuk kedua
kalinya. Saya memilih ‘lupa!’.
Demikian disadur
dari berbagai sumber.
~Salam hangat
selalu!
