Selasa, 03 November 2015

Bertanya itu Mudah, Semudah Menjawab dengan kata "Lupa"

“Bertanya ke sesama serumit apapun itu adalah mudah, semudah kita memberi jawaban ‘lupa’, namun bilamana kita ‘lupa’ bertanya ke diri kita sendiri akan kah kita dinilai ‘lalai?’
Sudikah Anda dihukum karenanya? Saya pilih Remis!

Bertanya sembari berpikir mustahil bisa dilakukan serentak di waktu yang bersamaan, bahkan para Ahli pemikir tidak pernah diketahui telah pernah melakukannya. Yang lajim hanyalah berpikir sebelum bertanya atau ditanya - gerangan apa lagi yang perlu dipikirkan untuk ditanya?.

‘Bertanya’ itu mudah, sama mudahnya dengan ‘menjawab’. Bahkan ada cara mudah untuk menjawab misalnya; ‘tidak tahu!’. Jika konotasinya dinilai tidak tepat ada pilihan lain lagi yakni: ‘lupa’. Lupa atau tidak tahu sejatinya sama tidak berbeda tetapi intonasi seakan menjadi plus minus bagi pihak yang menjawab. ‘Lupa’ bahkan dianggap karunia hingga tak perlu dihukum. Jika ‘lupa’ si pelupa harus dihukum ia diberi istilah pengganti misalnya; ‘lalai’. Anda boleh mendebat, kenapa begitu? Namun para Ahli hukum memutuskan bahwa ‘lupa’ bukan tindakan melawan hukum, tetapi ‘lalai’ berakibat hukum. Kadar ‘lupa’ si pelupa oleh si penghukum dinilai berapa karat; jika memenuhi kategori ‘lalai’ akan dikenai hukuman. Wah,,,pelanggaran!

‘Menjawab’ itu susah, sama susahnya dengan ‘Bertanya’ tak heran jika yang bertanya bahkan rela melupakan ‘pertanyaannya’, terutama jika itu membuat nya lelah penat menantikan ‘jawaban’. Dalam banyak peristiwa bahkan si penanya rela untuk turut serta berlelah-lelah ikut ‘mencari jawaban’. Sungguh melelahkan bukan?

Mari berlelah-lelah ‘mencari jawaban’ akan berbagai kemungkinan:

Kesatu:
“Andai ‘rasa lelah’ adalah  ‘mata uang’ yang berlaku dan bisa digunakan untuk sebagai alat tukar, Anda harus bagaimana kah?”
Jika Anda merasa ‘lelah’ maka timbangan penakar bobot ‘lelah’ yang tengah dialami akan menentukan jumlah ‘uang’ yang diperoleh. Dan ‘kelelahan’ yang dirasakan saat membelanjakannya, menjadi tambahan perolehan – demikian seterusnya. Diperlukan ‘kelelahan-senantiasa’ untuk menghasilkan ‘uang’. Sungguh sangat melelahkan bukan – dan Anda menjadi kaya.

Kedua:
“Andai penderitaan adalah ‘mata uang’ yang berlaku dan bisa digunakan untuk sebagai alat tukar, Anda harus bagaimana kah?”
Anda memiliki hak untuk membelanjakan ‘penderitaan’ Anda, nilainya sesuai timbangan penakar karat ‘penderitaan’ yang tengah Anda alami. Jika kemudian Anda menjadi senang mengetahui jumlah ‘uang’ yang diperoleh, maka rasa senang itu akan mengurangi jumlah nya. Anda akan menjadi sedih kecewa karenanya, dan itu akan menghasilkan uang yang berkelimpahan. Hati-hati ‘uang’ Anda bisa tergerus habis kalau senang. Sungguh menderita Anda - tetapi menjadi kaya.

Ketiga:
“Andai kebahagiaan adalah mata uang yang berlaku dan bisa digunakan untuk sebagai alat tukar, Anda harus bagaimana kah?”
Manakala Anda ‘bahagia’ penakar karat ‘kebahagiaan’ akan menghitung jumlah ‘uang’ yang Anda peroleh. Anda akan sangat senang karenanya, dan rasa itu akan menambah perolehan ‘uang’ - demikian seterusnya. Jika saja Anda bahagia bisa membahagiakan orang satu lainnya, Anda akan semakin bertambah kaya. Yang menderita susah tidak pernah bisa membelanjakan kesusahannya. Anda tidak perlu khawatir ‘uang’ Anda tidak akan pernah bisa berkurang, hanya dengan ‘senantiasa-senang’ Anda akan semakin kaya. Sungguh berbahagia Anda – dan kaya raya.

Keempat:
“Andai kekayaan Anda HARUS dipergunakan untuk meniadakan penderitaan sesama, Anda harus bagaimana kah?”
Untuk menjawab ini Anda harus benar-benar memiliki kekayaaan yang dimaksudkan. Walau saya ragu akan kesediaan Anda, namun pertanyaan ini saya tinggalkan untuk Anda seorang saja.

Kelima:
“Andai kekayaan Anda HARUS dipergunakan membahagiakan sesama, Anda harus bagaimana kah?”
Alangkah baiknya Anda, tetapi akan lebih baik lagi jika Anda menemukan jawaban yang tepat atau Anda akan dinilai ‘lalai’. Dan Anda harus terlebih dahulu yakin bahwa Anda benar memiliki kekayaaan yang dimaksudkan atau Anda akan kembali dinilai ‘lalai’ – untuk kedua kalinya. Saya memilih ‘lupa!’.
Demikian disadur dari berbagai sumber.
~Salam hangat selalu!