Senin, 22 Januari 2018

Berburu INVESTOR Yang Terbaik?

Don't be afraid to fail. Don't waste energy trying to cover up failure. Learn from your failures and go on to the next challenge. It's OK to fail. If you're not failing, you're not growing."
~H. Stanley Judd

Pebisnis pemula kerap terlihat mondar-mandir nubruk semua arah menggali berbagai tipikal informasi usaha untuk diracik, dipresentasikan keharibaan Investor. Penyajiannya terkadang dianggap berlebihan tak masuk akal - disadari ketika Investor menarik diri, batal berinvestasi.

Pebisnis paham pahit getirnya. Sedari proses indentifikasi, evaluasi hingga memperbandingkan informasi usaha sejenis dan substitusinya, menyusun estimasi perhitungan berdasarkan asumsi. Cenderung subjektif! Tujuannya hanya agar dilirik Investor – yang juga punya asumsi sendiri. Tak cocok, revisi lagi.

Ditolak lagi - revisi lagi! menjadi pengalaman tersendiri. Yang berjibaku memulai usaha kecil-kecilan, tertatih timbul tenggelam tanpa dukungan Investor. Namun banyak juga yang terlihat mudah menggaet Investor, bahkan gonta-ganti.

Beberapa Pebisnis ditinggalkan Investor karena salah paham. Bermula dari bertukar pemikiran hingga sepakat berbisnis ditafsirkan bagaikan hubungan kekerabatan. Berakhir saat Investor menarik modal karena Pebisnis masih menganggap Investor sebagai kerabat bukan sebagai profesional yang punya tanggungjawab legalitas fidusia.

Beberapa Investor mendanai Pebisnis ber-ekspansi dengan memperjelas batas ruang kekerabatan diantara keduanya. Dalam praktik malah menjadikan Pebisnis bingung, beberapa malah menghadapi tuntutan hukum karena modal usaha dipakai untuk membangun tugu patung moyang kakeknya. Kisah sedih jadinya!

Investor memposisikan Pebisnis sebagai rekanan untuk meraih untung, minimal remis - pulang pokok, sedangkan Pebisnis masih menganggap Investor sebagai kerabatnya. Seyogianya Pebisnis menyesuaikan diri mengikutkan dinamika aturan dunia usaha.

Investor memposisikan diri sebagai penantang sekaligus pendukung agar Pebisnis bertumbuh. Bahkan membimbingnya saat memutuskan jika harus keluar koridor – delapan enam, demi tuntutan bisnis! Pebisnis seyogianya tumbuh menjadi professional maupun secara pribadi.

Investor meninggalkan Pebisnis jika sembrono mengelola modal usaha. Beberapa malah harus mendepaknya keluar dari bisnis yang dirintisnya, menggantikannya dengan yang dinilai lebih berkompeten. Pahit!

Gambaran yang sebegitu pahit menjadikan beberapa Pebisnis memilih untuk tidak melaporkan tiap situasi sulit ke Investor. Berharap ketiban mukzijat untuk bisa membalikkan keadaan, gagal dan kian merugi. Harap-harap cemas! Memaksanya menjadi sangat tergantung pada keputusan Investor. Tiap hal dilaporkan – dirapatkan – mohon petunjuk? Tak berNyali. Terkesan tak bisa memimpin.

Dalam situasi sulit umumnya tiap Investor siap membicarakan alternatif jalan keluar. Memberikan dukungan rekomendasi untuk ditindaklanjuti – atawa ditolak? Sesulit apapun harus ada keputusan demi menyelamatkan perusahaan.

"The goal is not always meant to be reached, but to serve as a mark for our aim."
~Joseph Joubert

Prinsip saling menghormati membawa nilai tersendiri, menjadi kekuatan unik untuk menjembatani kesenjangan pengalaman serta pemahaman konstektual tentang dunia usaha.

Investor Terbaik paham itu!

"Talent alone won't make you a success. Neither will being in the right place at the right time, unless you are ready. The most important question is: 'Are you ready?'"
~Johnny Carson

~Salam Terbaik selalu!
JoinmySFIteam

Terbaru

Berburu INVESTOR Yang Terbaik?

“ Don't be afraid to fail. Don't waste energy trying to cover up failure. Learn from your failures and go on to the n...