Senin, 12 Oktober 2015

Memusnahkan Kepercayaan Diri Atas Keterbatasan Diri

"The best years of your life are the ones in which you decide your problems are your own. You don't blame them on your mother, the ecology, or the President. You realize that you control your own destiny."
~Albert Ellis
“Masa-masa terbaik dalam hidup Anda adalah saat Anda memutuskan bahwa apa pun itu adalah permasalahan Anda sendiri. Anda tidak menyalahkan Ibu Anda, tidak menyalahkan lingkungan bahkan tidak Presiden. Anda mengakui bahwa Anda lah yang mengontrol nasib Anda sendiri”. Demikian dikutip dari Albert Ellis

Kutipan diatas bak mensahkan kesahihan pepatah ‘tiada gading yang tak retak’ artinya tiada sesuatu apa pun yang sempurna. Seakan perintah untuk tiap kita sadar dan mengakui keterbatasan diri. Yang berpendapat setuju, positif menerima kesahihannya, meyakini tujuannya adalah mulia agar bisa melepaskan diri dari rongrongan perasaan seakan paling tahu segala hal.

Pengakuan keterbatasan diri dianggap wajar bahkan terkadang diharuskan. Tidak heran tingkat kerusakan yang terjadi malah terlupakan oleh karena mengakui keterbatasan diri dianggap layak mendapat pujian dan dianugrahi medali. Namun sebagian lain berpendapat, menjadikan nya sebagai alasan dasar pembenaran untuk mengalah berhenti berbuat lebih banyak lagi hal bermanfaat adalah kekeliruan. Itu adalah Tuna penalaran!

Meminta orang lain untuk menghindar dari hal-hal yang dianggap kurang dia pahami seakan membenarkan tindakan pembiaran bahkan dibungkus dengan kata istilah ‘serahkan saja ke ahlinya’. Ahli yang juga memiliki keterbatasan. Korban kecelakaan lalu lintas dapat dijadikan contoh sederhana, menunggu petugas, menunggu ambulance seakan menjadi keharusan dan melupakan perlunya tindakan P3K - segera.

Mempertandingkan keterbatasan semarak dilakukan dibungkus kata: ‘kontes pemahaman’. Berbagai rupa perlombaan menjadi portal pemisah antara yang pintar dengan yang tidak berkemampuan. Visi misi bahkan dipertandingkan secara tidak senonoh. Bahkan jumlah follower dalam akun nya dijadikan bak tolok ukur patokan kelayakan memimpin. Penilaian kompetensi yang keliru, antusias diamini beramai-ramai.

Tuna pemahaman serta pengertian keliru berkembang ke segala penjuru bahkan dinilai memerlukan keahlian baru. Dibutuhkan Ahli yang dinilai mumpuni menilai sesuatu bahkan untuk menilai tingkat kerusakan oleh akibat kekeliruan. Ketidakahlian dipertentangkan dengan keahlian semu, tiap orang diliputi kebanggaan diri dadakan, masing-masing mensertifikasi dirinya sendiri ‘cakap’ serta memiliki kompetensi yang mumpuni. Ahli nya para ahli pun partus populer dikenal sebagai ‘Pakar Ahli’. Kekeliruan penalaran membawa kemerosotan tak terhingga, hingga pengamalan hasil pendidikan kerap diperhadapkan pada peradilan. Diputus vonis final mengikat: ‘keterbatasan adalah akar masalah sumber awal bencana semesta jagad malapetaka’, demikian persidangan para pakar ahli kompetensi. Pakar yang juga memiliki keterbatasan. Wah pelanggaran - tambah keliru saja!

Tujuan hakiki perlunya mengingatkan diri akan ‘keterbatasan diri’ menjadi terlupakan. Misteri kandungan mulia dari pepatah tua menjadi sirna tenggelam oleh hiruk-pikuk keberhasilan keterbatasan melahirkan sesuatu keterbatasan satu lainnya. Tindakan pembiaran berkesinambungan telah berhasil menggiringnya melintasi pembatas tolok ukur keterbatasan.

Adakah cara efektif untuk memusnahkannya? Tidak diperlukan jawaban yang benar, bahkan suatu pertanyaan bisa merupakan jawaban yang benar. Masih kah kita sudi mengakui keterbatasan? Kurang mulia kah kita jika bisa meyakinkan diri kita sebagai orang yang paling memahami segala hal? Salah kah jika kita beranggapan bahwa diri kita lah yang paling pintar? Banyak yang berkeyakinan seyogianya lah kita harus sedemikian itu! Namanya ‘suka tahu’!

Kita tidak perlu mengakui keterbatasan diri jika untuk menjadikannya alasan pembenaran untuk kita tenggelam olehnya. Sepanjang mampu melampaui portal pembatas yang ada maka wajib untuk kita bersabda bahwa kita tahu segalanya, paham akan tiap sesuatu - apa pun itu. Sejatinya kita terlahir tanpa keterbatasan. Memusnahkan kepercayaan diri akan keterbatasan diri adalah bagian dari perjuangan hidup, karena bukan percaya diri yang seperti itu yang diperlukan untuk berhasil.

Kepercayaan diri atas keterbatasan diri adalah sesuatu yang salah, karena mengurangi minat berkembang, bisnis afiliasi bisa memusnahkannya. Kehandalan bisnis Afiliasi yang mengagumkan patut dipertimbangkan untuk digeluti sedari dini. Tetapi hati-hati memilih tawaran bisnis online. Di SFI, kita dididik untuk berhasil denganmemberhasilkan orang satu lainnya. Diajarkan cara menghindari kesalahan yangmenghambat keberhasilan orang lain. Ingatlah akan satu hal, bahwa tidak ada formula tokcer untuk berhasil, tetapi kegagalan adalah tahap awal keberhasilan. Dan yakinlah akan hal itu!
~Selamat berkarya!