Senin, 14 September 2015

Tak Usah Tanya Janji Siapa Ke Siapa

Masa depan adalah masa sekarang di waktu mendatang”.
~BingOmBing
“diwaktu mendatang akan ada keadaan yang dikenali sebagai ‘waktu sekarang’ yang ketika saat sekarang ia tengah melayang entah dimana tak jelas arah hendak kemana tetapi diyakini akan datang tepat pada waktunya, sebagaimana dijanjikan”.

Siapa yang berjanji? berjanji ke siapa? Membingungkan bukan? Ada apa? Kenapa tiap orang susah karenanya? Wah,,, pelangggaran!. Katanya ‘masa depan’ adalah tujuan tiap orang tetapi tak satu pun yang sampai disana. Walau begitu, tak kunjung ada kejelasan. Absurd,,! terangsang hasrat saya untuk berbagi kocak dengan Anda. Berikut ini ceriteranya.

Tiap seminar sarasehan atau pun pelatihan diadakan untuk membahas berbagai hal, bahkan hal dari tiap hal. Tiap satu daripadanya, berakhir persis di sessi pembahasan ‘masa depan’. Umumnya peserta tak berminat turut serta. Tahukah Anda kenapa?

Ketika kerap menjadi peserta ada pembicara yang gamblang menjelaskan; ”masa depan itu adalah angan-angan bagaimana hari-hari mendatang. Bila ada yang menjelaskannya berbeda ia tegaskan itu sama, hanya ragam padanan kata belaka yang tak sama, maknanya setara setujuan. Itu angan-angan”. Titik.

Pembicara lain lelah mengurainya, dipenuhi detil istilah dan rupa-rupa formulir. Berkedap-kedip berusaha memutar-mutar bola matanya, mengagumkan! Pakar berjuta pemirsa. Perlahan dia membuka: “nanti dulu! jangan gegabah, kita harus optimis untuk berpikir sistematis agar realistis teruji secara klinis philosophis. Masa depan itu bukan masa sekarang, bisa nanti malam, bisa esok petang. Itu terstimulasi berbagai hal sedari batasan arti, asumsi-asumsi, standar deviasi, dll., diperlukan data, survey, analist, dstnya untuk kemudian bisa mengolahnya menjadi angan-angan. Mengagumkan,,,, banyak yang melongo kagum lebih banyak lagi melongo linglung kelimpungan - tadi itu ngomong apa ya?. Sontak tercekat henti uraiannya terinterupsi dengkur peserta yang bertanya: ‘begini ini resiko menjadi pakar’ pelatihan diskors – ishoma. Hingga pelatihan berakhir si ‘masa depan’ tak kunjung jelas dia jelaskan.

Sedari dahulu hingga sekarang bahkan nanti dimasa depan semua disibukkan oleh si ‘masa depan’ – dan akan selalu seperti itu. Terngiang pesan bapak ibu guru semasa sekolah dulu: “ingat masa depanmu, masa depan keluargamu, masa depan bangsa dan negaramu”. Ada ‘jiwa-spirituality’ dikedalamannya, ia mampu menoreh bantalan nurani agar selalu bergegas – demi masa depan. Terbayang lagi kedua orang tua ketika semasa hidupnya kerap saling mempertukarkan pikirannya - demi masa depan. Di dunia usaha nyaris tiap pimpinan menekankan agar tiap tindakan diarahkan untuk memperoleh hasil riil - demi masa depan. Tak heran tiap peserta kenyang akan uraian ‘masa depan’ bergegas memilih pulang - demi ‘masa depan’. Semuanya ‘demi masa depan’. Tiap satu dari lain hal berorientasi ke si ‘masa depan’ hingga partus ‘pakar masa depan’.

“Apa gerangan itu? kenapa tiap sesuatunya terkait dengannya?”. Tak kunjung ada penjelasan yang memuaskan, timbul ‘kekuatiran’ jika segala sesuatunya harus bermuara ke si ‘masa depan’. Sebegitu bernilainya. Bukankah itu yang biasa digadaikan?

Kembali ke kalimat terakhir di paragrap awal: ‘sebagaimana dijanjikan’ titik, seakan tercerabut hak bertanya; ‘janji siapa ke siapa’. Kenapakah?. BingOmBing melanjutkan: “Tak ada kata yang dinilai cukup menjawabnya, tak satu kata pun bisa tepat mengurai detilnya, karena perihal itu terpaut erat pada kadar berbagai hal dari banyak hal. Sedari kemampuan melihat, kejelian mendengar, ketelitian membaca, ketajaman menelaah, kematangan menalar, tingkat kesempurnaan pemahaman hingga kadar intelektualitas perseorangan turut ikut menentukan”. Begitukah?

Maka bila ada yang berkata: ‘masa depannya sudah engga jelas’ biarkan saja. Bahkan jika berkata: ‘habis sudah masa depan saya’ abaikan saja, walau ekstrim tak perlu ditanya: ‘tergadaikah?’. Ingatlah akan satu hal: ‘ia tengah melayang entah dimana tak tentu arah hendak kemana, tapi kelak akan tiba tepat pada waktunya - sebagaimana dijanjikan’. Itulah ia si ‘masa depan’.

Bagi yang berminat akan ‘masa depan’ bergabunglah dengan saya –gratis- cukup Anda meng-Klik banner di kanan atas, daftar menjadi ‘pemilik masa depan’. Dengan memiliki Anda tak lagi perlu bertanya-tanya. Sejatinya, masa depan itu adalah diri Anda sendiri dan SFI adalah sarana mencapainya. Hanya Anda harus yakin tekun bersabar dan tidak takut akan kesalahan, hanya itu cara Anda bisa mengenal kebenaran untuk merangkul keberhasilan.
~Salam sukses selalu.
"Gratitude unlocks the fullness of life. It turns what we have into enough, and more. It turns denial into acceptance, chaos to order, and confusion to clarity. It can turn a meal into a feast, a house into a home, a stranger into a friend. Gratitude makes sense of our past, brings peace for today, and creates a vision for tomorrow."
~Melody Beattie