Bagaimana menjadi
pendengar yang baik di bisnis online?
"Become a student of change. It is
the only thing that will remain constant."~Anthony J. D'Angelo
"Menjadi siswa dari perubahan. (karena) Hanya itu
yang (selamanya) akan tetap konstan”, demikian dikutip dari Anthony J. D’Angelo. Saya cenderung
mencap kalimat ini sebagai kalimat yang memuat tantangan sepanjang jaman. Karena
‘belajar dari perubahan’ adalah proses belajar yang tiada akan pernah selesai seiring
perubahan yang konstan terjadi terus-menerus. Senada dengan pepatah tua: ‘diam
itu adalah emas’. Dengan diam, kita banyak mendengar, dengan mendengar kita punya
waktu untuk mengetahui banyak hal, dan dengan mengetahui segala hal itu menjadi
bukti telah tamat belajar. Dulu kita diberikan ‘Surat Tanda Tamat Belajar’
untuk setiap fase yang dilalui. Janggal jika kemudian ada yang nakal menyangkalnya.
Bagian terberat dari proses belajar adalah ‘mendengar’, ia mengambil porsi
terbesar pada proses komunikasi. Dan ‘komunikasi’ adalah bagian terpanjang dari
proses belajar bahkan berlangsung sepanjang jaman, berubah konstan sepanjang hayat
dikandung badan. Itulah yang Aku hendak posting kali ini. Bahwa kita harus bisa
untuk bisa ‘mendengarkan secara efektif agar komunikatif’. Partus kata tanya; ”bagaimana saya bisa menjadi seorang pendengar
yang efektif agar bisa komunikatif - di bisnis Online?".
Jika ‘komunikasi’ ditafsirkan
dalam konteks lisan dan tertulis, maka ‘mendengarkan secara efektif’ - di
bisnis online, hakikinya adalah komunikasi tertulis. Yakni, menulis untuk
mengekspresikan pandangan, menulis untuk memberikan saran dan pendapat, untuk memberi
laporan atau untuk meyakinkan orang lain. Dan kita harus mau belajar demi mengubah
cara pandang karena fakta 'online' ditambahkan. Jadi menulis yang komunikatif diartikan,
jelas ringkas dan harus tidak bertele-tele ambigu menyelubungi maksud dan
tujuan. Pihak yang dituju tidak seyogianya memerlukan pendapat orang lain untuk
memahaminya. Komunikatif menjadi aspek terpenting di bisnis online, menutup dengan
salam menandakan kesopanan. Bagaimana harapan kita saat menerima tulisan orang menjadi
pertimbangan, dasar pendorong terciptanya komunikasi yang efektif. Menghormati
dan akan dihormati. Walau tidak bertatap muka tetapi 'sentuhan nilai-nilai kemanusiaan'
harus dipertahankan. Ketegasan bersikap tercermin pada sudut pandang yang
disampaikan. Hindarkan kecerobohan dalam bersikap, bila perlu sertakan dengan ekspresi
fakta permasalahan – apalagi jika itu untuk meyakinkan orang lain.
Pada komunikasi lisan ada
istilah ‘ekspresi’ yakni, nada bicara, volume suara, rona dan sorot mata serta cara
berkomunikasi. Bahasa tubuh bahkan diberi nilai 85% dan kosakata 15%, ini menekankan
perlu kehati-hatian ketika berbicara. Kita mungkin berniat mengatakan sesuatu tetapi
jika bahasa tubuh kita mengungkapkan hal lain, itu akan dinilai gagal. Cara kita
melihat, cara kita duduk, berdiri, rona dan sorot mata mengungkapkan sikap dan
nilainya. Demikian pula ketika mendengarkan; cara kita melakukannya akan membawa
kita ke alam konteks yang berbeda. Harfiahnya, ketika kita mendengar (dengan hanya
pendengaran) diartikan bahwa, dengan cara ini kita tidak menaruh hati
sedikitpun. Cukup orang lain mengatakan sesuatu dan kita mendengar. Berbeda
ketika orang mengatakan ide atau pendapatnya, jika kita tetap berlaku sama,
penyampainya akan kecewa - merasa diremehkan. Meskipun tidak dipermalukan
tetapi ia akan malu!
Setiap kali berbicara kita
berharap orang mendengarkan, sama halnya dengan orang lain, ia pun memelihara harapan
yang sama. Saat mendengarkan perlu menunjukkan gambaran bahwa kita serius, bisa
dengan sedikit mengangguk, dengan menatap langsung pembicara atau dengan mimik ekspresi
minat, dll. Kesan yang akan mendorong terciptanya dialog - bukan monolog. Untuk
meyakinkan orang lain diperlukan kemampuan tersendiri, tidak setiap orang
memilikinya. Tetapi untuk ‘mendengar secara efektif’ diperlukan perhatian,
konsentrasi dan fokus. Bagian tersulit adalah menulis, karena kita harus berpikir,
dan menuliskan poin-poinnya, kemudian menulis rangkaian uraiannya. Ada yang
berpendapat; menulis lebih sulit dari berbicara
karena diperlukan kemahiran dalam hal mendengarkan, kemahiran dalam hal pemahaman
materi dan kemahiran dalam hal menguasai reaksi ber-reaksi, dan kesemuanya itu harus
dilakukan secara imajiner.
Di bisnis online, itu dilakukan
dengan menganalisa kebutuhan, menaksir selera dan tingkat kepuasan, mengamati
hobby, kesukaan atau alasan membeli. Ada yang membeli karena kualitas, tetapi
lebih banyak karena memiliki uang. Beberapa hal spesifik dinilai akan dapat
menggeser opsi pilihan dan itu dicoba nilai melalui survei; apa yang dibeli
secara online; mengapa berbelanja online; dll. Mendengarkan dengan efektif di
bisnis online, tidak hanya melibatkan hubungan Anda dengan pelanggan tetapi pengetahuan
akan spesifikasi produk, akan kualitas, cara berpromosi dan efektifitas iklan
serta jaringan bisnis turut mempengaruhi. Mengikuti tip pemasaran serta program
pengembangan dan stratejik usaha akan menjadikan Anda menjadi pendengar yang efektif.
Di SFI Anda dididik menjadi entrepreneur bisnis online berbasis rumahan. Menjadi
pengusaha sejati yang bekerja sembari belajar, selamanya begitu. Menjadi siswa
dari perubahan.
~Selamat berkarya!
