Kenapa dia tidak
berhasil? karena ia mensabotase dirinya sendiri.
"Happy are those who dream dreams
and are ready to pay the price to make them come true."~Leon J. Suenes
When our
lives are difficult, we sometimes feel like life will never change. This, in
turn, makes it harder for us to take the steps that might create the change we
want. When your life is full of ups and downs, remember to keep your eye on
your goal, and the desires of your heart. You will get through it
"Berbahagialah mereka yang mengimpikan
impiannya dan bersedia mewujudkannya dengan pengorbanan apapun." demikian Leon
J. Suenes. Ketika hidup menjadi sulit, kadang-kadang kita merasa hidup kita tidak
akan pernah berubah. Ini membuat kita terbebani dan menyulitkan untuk melangkah
maju. Ketika hidup bergejolak pasang surut, tetaplah fokus pada tujuan, hasrat
dan keinginan hati. Yakinlah Anda akan melaluinya.
Hidup selalu diperhadapkan
pada rintangan dan sukses hanya akan dicapai bila yakin melampauinya.
Tiap orang paham akan itu dan paham akan pentingnya penetapan tujuan tetapi
tidak banyak yang mau lelah menetapkan. Membuat semarak bisnis di bidang penetapan
tujuan karena orang cenderung membeli. Banyak yang hanya menetapkan tujuan yang mudah dicapai, karena
takut gagal.
Tujuan hidup mencakup kekayaan, kesehatan, hubungan dan pemenuhan (pengakuan)
diri - umumnya begitu. Pebisnis professional cenderung menetapkan ‘kekayaan dan
hubungan (relasi)’ menjadi tujuan. Namun menetapkan seluruhnya secara serempak akan
menemukan keseimbangan. Banyak yang berhasil, lebih banyak lagi yang gagal. Halangan
terbesar dikenal sebagai ‘PENGGANJAL KEBERHASILAN’ diidentifikasi sbb:
1) TAKUT BERHASIL:
Walau tiap orang berusaha tetapi tidak setiap orang berhasil. Banyak yang dihantui
perasaan gagal hingga benar-benar menjadi gagal. Cenderung menghindar bahkan takut
karena ‘kuatir gagal’, marah sejadi-jadinya ketika benar-benar gagal. Ada yang bisa
menerima kegagalan, lebih banyak yang tidak. Bahkan ada yang tidak bersedia mencuba
dengan sekapal alasan, sedari permodalan, kesempatan, keterampilan hingga peralatan,
berkilah; segalanya sudah ada ‘Dia’ sang pengatur. Ironis berkata, jika gagal
orang akan mencemooh, jika berhasil orang akan iri dan akan lebih berpikiran negatif
tentang dirinya. Tiap orang berhadapan dengan sisi ‘ketakutan’ dirinya.
2) PENETAPAN TUJUAN:
Keliru jika percaya bahwa tujuan cukup dengan ditulis di secarik kertas, lengkap
dengan tanggal bulan dan tahun. Memberi tanda silang pada kotak ‘berhasil’ kemudian lanjut ke tahap berikutnya. Ia terhalang sukses oleh mentalitas dirinya, itu karena membeli petunjuk sukses dan mematuhi, sukses diatas kertas belaka. Penetapan tujuan adalah melakukan tindakan nyata
untuk tujuan nyata sesuai telaah potensi diri di saat kini dan di masa mendatang.
3) KOMITMEN:
Tiap orang bersumpah ingin berhasil tetapi tidak setiap orang berkomitmen ada
yang malah mengabaikan - lupa. Ada yang melenceng katanya untuk penyesuaian. Banyak
yang menanti hari-baik bulan-baik hingga bertahun-tahun tak kunjung baik. Ada juga
yang lucu; “tujuan ini kan jangka
panjang, jadi dibutuhkan waktu yang panjang untuk Saya bisa berpikir panjang. Sabarlah, dari selat panjang ke padang panjang banyak gunung dan yang menggunung, tapi tak satu pun yang akan lari bila dikejar”. Tujuan hanya akan dicapai bila ia dijejali
komitmen untuk mencapainya.
4) TIDAK AKTIF & LUMPUH:
Ada yang lelah menetapkan tujuan tiba-tiba berhenti dengan alasan dunia sudah
berubah, ini tidak lagi relevan. Percaya jika dunia telah berubah tanpa
ia pernah memulai. Tanpa tindakan tidak akan ada yang terjadi maka setelah ditetapkan
fokuslah memulai jangan malah tidak aktif. Keraguan akan melumpuhkan kepercayaan
hingga potensi diri gosong tak karuan. Ada yang percaya tidak akan berhasil sampai
ia mendapatkan jawaban atas keraguannya; "Bagaimana jika tidak berjalan?”
Lumpuh persiapannya. Pertanyaan itu harusnya timbul seiring tahap pencapaian
apalagi ini adalah tujuan masa depan bukan situasi kini. Situasi kini ini akan berubah
mengikuti keputusan saat ini dan itu akan menentukan situasi esok hari. Jangan lumpuh karena kita tidak akan pernah
memiliki semua jawaban untuk tiap pertanyaan.
5.) GAGAL PERENCANAAN:
Sia-sia memahami rumusan penetapan tujuan jika mengabaikan karunia yang dimiliki.
Sejatinya itu langkah awal memulai. Mengenal bakat atau bahkan mengenal
seseorang yang berbakat adalah karunia, mulailah dengan itu. Mengetahui
seseorang yang kiranya bisa membantu itu juga karunia tetapi kerap diabaikan.
Perencanaan harus tidak mengabaikan hal yang demikian, apalagi jika hanya itu
yang kini tersedia.
6) TERLALU BANYAK TUJUAN:
Memiliki banyak tujuan menjadikannya simpang-siur tidak fokus. Keinginan menembak
sekaligus tiga sasaran dengan satu anak panah - itu bukan mustahil, tetapi kita
tidak perlu mempersulit diri. Cukup tentukan satu dan fokuslah. Bila ada tujuan
lain yang sekunder jangan biarkan menghalangi, tujuan besar umumnya terhalang
oleh hal kecil.
7) MOTIVASI:
Banyak yang tega men-sabotase dirinya sendiri. Mereka layak berhasil, gagal karena
memperlakukannya dengan tidak selayaknya, semisal; diminta untuk datang kuatir diperlukan sewaktu-waktu,
ketika datang dia tidak disertakan. Merasa dilecehkan tak lagi ia pernah mau
datang. Dia men-sabotase sendiri - dirinya sendiri. Keberhasilan tidak akan pernah diketahui kapan
datang, ada dengan pemberitahuan, kerap spontan tidak terduga. Kurang termotivasi
menghambat eksplorasi potensi kemampuan dirinya. Konon ada riset, hanya ada dua faktor
motivasi yang bisa mengguncang orang untuk berubah yakni: rasa sakit dan
kesenangan. Orang yang termotivasi bahkan tidak merasakan rasa sakit apa pun, demikian
halnya yang senang. Mencapai tujuan hanya jika kita bisa memecahkan 'status-quo' dan benar-benar menginginkan yang terbaik dalam hidup.
Di SFI, Anda dididik bagaimana cara mencapai keberhasilan dengan cara mem-berhasil-kan
orang lain, dan menghindari kesalahan yang menghambat keberhasilan orang lain.
