Rabu, 09 September 2015

Siapa men-SABOTASE Siapa?

Kenapa dia tidak berhasil? karena ia mensabotase dirinya sendiri.
"Happy are those who dream dreams and are ready to pay the price to make them come true."~Leon J. Suenes
When our lives are difficult, we sometimes feel like life will never change. This, in turn, makes it harder for us to take the steps that might create the change we want. When your life is full of ups and downs, remember to keep your eye on your goal, and the desires of your heart. You will get through it

"Berbahagialah mereka yang mengimpikan impiannya dan bersedia mewujudkannya dengan pengorbanan apapun." demikian Leon J. Suenes. Ketika hidup menjadi sulit, kadang-kadang kita merasa hidup kita tidak akan pernah berubah. Ini membuat kita terbebani dan menyulitkan untuk melangkah maju. Ketika hidup bergejolak pasang surut, tetaplah fokus pada tujuan, hasrat dan keinginan hati. Yakinlah Anda akan melaluinya. 
Hidup selalu diperhadapkan pada rintangan dan sukses hanya akan dicapai bila yakin melampauinya. Tiap orang paham akan itu dan paham akan pentingnya penetapan tujuan tetapi tidak banyak yang mau lelah menetapkan. Membuat semarak bisnis di bidang penetapan tujuan karena orang cenderung membeli. Banyak yang hanya menetapkan tujuan yang mudah dicapai, karena takut gagal.

Tujuan hidup mencakup kekayaan, kesehatan, hubungan dan pemenuhan (pengakuan) diri - umumnya begitu. Pebisnis professional cenderung menetapkan ‘kekayaan dan hubungan (relasi)’ menjadi tujuan. Namun menetapkan seluruhnya secara serempak akan menemukan keseimbangan. Banyak yang berhasil, lebih banyak lagi yang gagal. Halangan terbesar dikenal sebagai ‘PENGGANJAL KEBERHASILAN’ diidentifikasi sbb:

1) TAKUT BERHASIL:
Walau tiap orang berusaha tetapi tidak setiap orang berhasil. Banyak yang dihantui perasaan gagal hingga benar-benar menjadi gagal. Cenderung menghindar bahkan takut karena ‘kuatir gagal’, marah sejadi-jadinya ketika benar-benar gagal. Ada yang bisa menerima kegagalan, lebih banyak yang tidak. Bahkan ada yang tidak bersedia mencuba dengan sekapal alasan, sedari permodalan, kesempatan, keterampilan hingga peralatan, berkilah; segalanya sudah ada ‘Dia’ sang pengatur. Ironis berkata, jika gagal orang akan mencemooh, jika berhasil orang akan iri dan akan lebih berpikiran negatif tentang dirinya. Tiap orang berhadapan dengan sisi ‘ketakutan’ dirinya.

2) PENETAPAN TUJUAN:
Keliru jika percaya bahwa tujuan cukup dengan ditulis di secarik kertas, lengkap dengan tanggal bulan dan tahun. Memberi tanda silang pada kotak ‘berhasil’ kemudian lanjut ke tahap berikutnya. Ia terhalang sukses oleh mentalitas dirinya, itu karena membeli petunjuk sukses dan mematuhi, sukses diatas kertas belaka. Penetapan tujuan adalah melakukan tindakan nyata untuk tujuan nyata sesuai telaah potensi diri di saat kini dan di masa mendatang.

3) KOMITMEN:
Tiap orang bersumpah ingin berhasil tetapi tidak setiap orang berkomitmen ada yang malah mengabaikan - lupa. Ada yang melenceng katanya untuk penyesuaian. Banyak yang menanti hari-baik bulan-baik hingga bertahun-tahun tak kunjung baik. Ada juga yang lucu; “tujuan ini kan jangka panjang, jadi dibutuhkan waktu yang panjang untuk Saya bisa berpikir panjang. Sabarlah, dari selat panjang ke padang panjang banyak gunung dan yang menggunung, tapi tak satu pun yang akan lari bila dikejar”. Tujuan hanya akan dicapai bila ia dijejali komitmen untuk mencapainya.

4) TIDAK AKTIF & LUMPUH:
Ada yang lelah menetapkan tujuan tiba-tiba berhenti dengan alasan dunia sudah berubah, ini tidak lagi relevan. Percaya jika dunia telah berubah tanpa ia pernah memulai. Tanpa tindakan tidak akan ada yang terjadi maka setelah ditetapkan fokuslah memulai jangan malah tidak aktif. Keraguan akan melumpuhkan kepercayaan hingga potensi diri gosong tak karuan. Ada yang percaya tidak akan berhasil sampai ia mendapatkan jawaban atas keraguannya; "Bagaimana jika tidak berjalan?” Lumpuh persiapannya. Pertanyaan itu harusnya timbul seiring tahap pencapaian apalagi ini adalah tujuan masa depan bukan situasi kini. Situasi kini ini akan berubah mengikuti keputusan saat ini dan itu akan menentukan situasi esok hari. Jangan lumpuh karena kita tidak akan pernah memiliki semua jawaban untuk tiap pertanyaan.

5.) GAGAL PERENCANAAN:
Sia-sia memahami rumusan penetapan tujuan jika mengabaikan karunia yang dimiliki. Sejatinya itu langkah awal memulai. Mengenal bakat atau bahkan mengenal seseorang yang berbakat adalah karunia, mulailah dengan itu. Mengetahui seseorang yang kiranya bisa membantu itu juga karunia tetapi kerap diabaikan. Perencanaan harus tidak mengabaikan hal yang demikian, apalagi jika hanya itu yang kini tersedia.

6) TERLALU BANYAK TUJUAN:
Memiliki banyak tujuan menjadikannya simpang-siur tidak fokus. Keinginan menembak sekaligus tiga sasaran dengan satu anak panah - itu bukan mustahil, tetapi kita tidak perlu mempersulit diri. Cukup tentukan satu dan fokuslah. Bila ada tujuan lain yang sekunder jangan biarkan menghalangi, tujuan besar umumnya terhalang oleh hal kecil.

7) MOTIVASI:
Banyak yang tega men-sabotase dirinya sendiri. Mereka layak berhasil, gagal karena memperlakukannya dengan tidak selayaknya, semisal; diminta untuk datang kuatir diperlukan sewaktu-waktu, ketika datang dia tidak disertakan. Merasa dilecehkan tak lagi ia pernah mau datang. Dia men-sabotase sendiri - dirinya sendiri. Keberhasilan tidak akan pernah diketahui kapan datang, ada dengan pemberitahuan, kerap spontan tidak terduga. Kurang termotivasi menghambat eksplorasi potensi kemampuan dirinya. Konon ada riset, hanya ada dua faktor motivasi yang bisa mengguncang orang untuk berubah yakni: rasa sakit dan kesenangan. Orang yang termotivasi bahkan tidak merasakan rasa sakit apa pun, demikian halnya yang senang. Mencapai tujuan hanya jika kita bisa memecahkan 'status-quo' dan benar-benar menginginkan yang terbaik dalam hidup.

Di SFI, Anda dididik bagaimana cara mencapai keberhasilan dengan cara mem-berhasil-kan orang lain, dan menghindari kesalahan yang menghambat keberhasilan orang lain.
~Salam sukses selalu!
 We all here because it is works - Click to register - FREE