Minggu, 20 September 2015

Rahasia Terbesar menyangkut "Besok" akan Terkuak 'besok'

Siapa bilang hari esok ada?
“Don’t wait ‘till tomorrow what you can do Today”.~Unknown
Jangan tunggu sampai Besok untuk melakukan apa yang bisa kau kerjakan di hari ini. Demikian petuah para Tetuah.

”’Besok‘ adalah pengingkaran terhadap ‘Kemarin’ untuk mangkir lagi di ‘Lusa’”. ~BingOmBing
Masihkah tertarik mengatakan hari esok itu ada? Dua pepatah tua meninggalkan rekam jejak keraguan tak terhingga, pertanda para pendahulu pun meragukan keberadaannya.

Konon hari ‘Besok’ adalah istilah pengganti hari berikutnya, bak istilah ‘Kemarin’ untuk pengganti hari sebelumnya dan ‘Lusa’ untuk hari setelah keesokan harinya. Makna tujuannya terikat ke nama-nama hari sesuai deretan di kalender. Betulkah?

Begitu itulah, ia tak kunjung jelas kapan rilis. Kehadirannya hanya diilhami seupil pengertian, ia dianggap tiba di tengah gulita malam pas persis jam-‘00’. Betulkah? Seolah ragu tiap orang memilih diam tak sudi membahasnya. Kenapakah? Konon, harus mumpuni menelaahnya. Hanya para pakar peradaban jaman yang lelah menjabarkan nya. Kecut jadinya!

Ia jamak digunakan untuk imbal jawab atas penagihan. Bagi yang menerimanya, ia dianggap bak tanda bukti respon positif. Yang menerimanya dengan syarat, minta tambahan surat pernyataan tandatangan bermaterai. Yang menolaknya, berkata ekstrim, ini upaya mangkir. Pelanggaran!

Besok Adalah Tanda Bukti:
Sekalipun si-“Besok” dinilai tak bermakna atas sesuatu masa, tidak ada larangan penggunaannya. Yang menilainya absurd tak jelas makna memilih menggilasnya, habis lah si-‘Besok’, hak nya muncul di gulita malam disita menjelang fajar. Yang kukuh tegang bersumpah, “Besok” adalah kiasan pengganti hari, mengusung tanda bukti tujuan setara ‘masa depan’. Hanya karena kerap digunakan bak imbal jawab penagihan keluhuran nilainya ternista oleh hal buruk yang dipersangkakan. Wah,,, Pelanggaran!

Peradaban dipenuhi lumuran persangkaan. Tiap tersangka disangka telah melakukan sesuatu yang dipersangkakan, tagih pengakuannya! Tiap orang adalah tersangka tetapi tiap satu daripadanya mengantongi tagihan. Sedari anak menagih janji ke orang tua, hingga warga menagih janji pemimipin Negeri. Bahkan DOA dipanjatkan mengusung sekarung tagihan ke Tuhan YME, teruntai kata: ‘semoga kiranya,,, moga-moga,,, Amin. Walau tanpa lembar perjanjian diyakini ‘DIA’ maha pemurah, pastilah dijabah. Hindarkan si laknat dosa perbanyak ibadah sumbang para tuna, “Besok” pasti lebih indah. Imani saja.

Si-‘Besok’ dinilai setali tiga uang dengan si-‘Kemarin’ dan si-‘Lusa’. Mengusung hak pengingkaran janji si-‘Kemarin’ kehadirannya bak persiapan mengingkari si-‘Lusa’. Taklah layak dipersandingkan dengan keluhuran nama-nama hari yang terpampang di Kalender. Sedemikian itukah?

Besok Adalah Janji:
Kita bebas memaknainya tetapi sungkan mengakui kepastiannya. Hanya si ‘Besok’ yang tahu detil peristiwa rangkaian dasar penggunaannya. Akan kah ia tiba? Harus mumpuni menelaahnya. Bilamana “‘Besok’ adalah suatu rangkaian perjalanan waktu, maka ia akan tiba sesuai janji. Janji apa lagi? Kita lihat ‘besok’!


~Salam sukses untuk Anda