Siapa bilang hari esok ada?
“Don’t wait ‘till tomorrow what you can do
Today”.~Unknown
Jangan tunggu sampai Besok untuk melakukan apa yang bisa
kau kerjakan di hari ini. Demikian petuah para Tetuah.
”’Besok‘ adalah pengingkaran
terhadap ‘Kemarin’ untuk mangkir lagi di ‘Lusa’”. ~BingOmBing
Masihkah tertarik
mengatakan hari esok itu ada? Dua pepatah tua meninggalkan rekam jejak keraguan
tak terhingga, pertanda para pendahulu pun meragukan keberadaannya.
Konon hari ‘Besok’ adalah istilah pengganti hari
berikutnya, bak istilah ‘Kemarin’ untuk pengganti hari sebelumnya dan ‘Lusa’
untuk hari setelah keesokan harinya. Makna tujuannya terikat ke nama-nama hari
sesuai deretan di kalender. Betulkah?
Begitu itulah, ia tak
kunjung jelas kapan rilis. Kehadirannya hanya diilhami seupil pengertian, ia dianggap
tiba di tengah gulita malam pas persis jam-‘00’. Betulkah? Seolah ragu tiap
orang memilih diam tak sudi membahasnya. Kenapakah? Konon, harus mumpuni menelaahnya.
Hanya para pakar peradaban jaman yang lelah menjabarkan nya. Kecut jadinya!
Ia jamak digunakan untuk
imbal jawab atas penagihan. Bagi yang menerimanya, ia dianggap bak tanda bukti respon
positif. Yang menerimanya dengan syarat, minta tambahan surat pernyataan tandatangan
bermaterai. Yang menolaknya, berkata ekstrim, ini upaya mangkir. Pelanggaran!
Besok Adalah Tanda Bukti:
Sekalipun si-“Besok”
dinilai tak bermakna atas sesuatu masa, tidak ada larangan penggunaannya. Yang
menilainya absurd tak jelas makna memilih menggilasnya, habis lah si-‘Besok’, hak
nya muncul di gulita malam disita menjelang fajar. Yang kukuh tegang bersumpah,
“Besok” adalah kiasan pengganti hari, mengusung tanda bukti tujuan setara ‘masa
depan’. Hanya karena kerap digunakan bak imbal jawab penagihan keluhuran nilainya
ternista oleh hal buruk yang dipersangkakan. Wah,,, Pelanggaran!
Peradaban dipenuhi lumuran
persangkaan. Tiap tersangka disangka telah melakukan sesuatu yang
dipersangkakan, tagih pengakuannya! Tiap orang adalah tersangka tetapi tiap
satu daripadanya mengantongi tagihan. Sedari anak menagih janji ke orang tua,
hingga warga menagih janji pemimipin Negeri. Bahkan DOA dipanjatkan mengusung sekarung
tagihan ke Tuhan YME, teruntai kata: ‘semoga kiranya,,, moga-moga,,, Amin. Walau
tanpa lembar perjanjian diyakini ‘DIA’ maha pemurah, pastilah dijabah. Hindarkan
si laknat dosa perbanyak ibadah sumbang para tuna, “Besok” pasti lebih indah. Imani
saja.
Si-‘Besok’ dinilai setali
tiga uang dengan si-‘Kemarin’ dan si-‘Lusa’. Mengusung hak pengingkaran janji
si-‘Kemarin’ kehadirannya bak persiapan mengingkari si-‘Lusa’. Taklah layak dipersandingkan
dengan keluhuran nama-nama hari yang terpampang di Kalender. Sedemikian itukah?
Besok Adalah Janji:
Kita bebas memaknainya
tetapi sungkan mengakui kepastiannya. Hanya si ‘Besok’ yang tahu detil peristiwa
rangkaian dasar penggunaannya. Akan kah ia tiba? Harus mumpuni menelaahnya. Bilamana
“‘Besok’ adalah suatu rangkaian perjalanan waktu, maka ia akan tiba sesuai
janji. Janji apa lagi? Kita lihat ‘besok’!
~Salam sukses untuk Anda