Senin, 25 Januari 2016

Kiat Sukses Untuk Bisa Menjadi PeBisnis Dan Sukses

Bisnis apapun jika ditekuni akan menjanjikan keberhasilan karena peluang untuk berhasil terbuka sepanjang waktu. Bagi pebisnis diyakini bahwa kendala bukan penghalang tetapi menjadi pemicu mendapatkan kiat sukses. Dalam bisnis tidak ada cara jitu yang tokcer karena bisnis dipengaruhi oleh berbagai situasi kondisi bahkan budaya serta aturan ketentuan pemerintah turut mempengaruhi.

Berikut ini disajikan secara ringkas Kiat Sukses yang diharapkan bisa membantu Anda mengembangkan bisnis Anda di tahun 2016:

1. Peluang Dibalik Ide Yang Tidak Normal:
Mempertanyakan hal-hal yang sudah berjalan normal terkesan seolah kurang kerjaan tetapi hal itu dapat menghadirkan ide bisnis. Walau terdengar janggal namun ide bisnis kerap muncul secara tak terduga bahkan terkesan menyimpang. Tuntutan gairah inovasi memicu lahirnya kreatifitas tak henti untuk terus menggali peluang demi mengubah cara akan keberlangsungan berbagai hal. Inspirasi terlahir dari semangat melakukan perubahan.

2. Berani Menguji Ide Bisnis:
Oleh karena ide bisnis akan diuji oleh kekuatan pasar maka perencanaan yang baik menjadi kekuatan penentu. Banyak ide bisnis yang layak tetapi tidak menghasilkan uang sebaliknya ide yang dinilai tidak layak malah menjadi mesin penghasil uang. Kreatifitas dari para inovator tangguh memegang peranan penentu. Banyak pebisnis pemula gagal bukan karena ide yang tidak layak tetapi lebih dikarenakan perencanaan yang kurang memadai.

Demi pemahaman yang kuat, Anda disarankan untuk mendiskusikan ide bisnis Anda dengan berbagai pihak, dengan konsultan bisnis atau konsultan hukum sehubungan dengan validitas. Dengan berdiskusi diperoleh pendekatan yang lebih realistis akan cara operasionalnya hingga bahkan komitmen royalti. Berani menguji ide bisnis akan mendapatkan umpan balik yang menyempurnakan ide bisnis Anda.

3. Tidak Mudah Tetapi Tidak Sulit:
Kemampuan memanfaatkan peluang tidak dimiliki tiap orang, dan tidak setiap orang mampu bertahan didera gelombang ketidakpastian iklim usaha. Pengusaha cenderung terlihat seolah terburu-buru menjaring ide bisnis tetapi terkesan lambat memutuskan momentum memulai. Terkesan tidak punya belas kasihan dalam berkompetisi bahkan terkesan apatis menerima kabar buruk dari bisnis yang digulirkan.

Pengusaha sadar jika ide bisnis mudah maka semua orang akan melakukannya. Tidak heran jika pengusaha cenderung memilih jalan yang asing dan tidak umum, termotivasi bersemangat naik turun dalam cuaca gelombang ketidakpastian - dan menikmatinya.

4. Bertahan Sebisanya:
Pengusaha terkesan lupa akan kepentingan pemodal, cenderung menghamburkan uang, terkesan tidak mampu mengantisipasi skala bisnis yang dihadapi. Sejatinya tidak ada orang yang bisa meramalkan masa depan bisnis, tiap orang hanya bertarung menjalankan usaha yang tengah dikerjakan, banyak hal tergantung pada kekuatan unsur faktor waktu. Tidak mudah dan tidak pernah mudah tetapi tetap optimis dan memutuskan langkah logis berikutnya. Permasalahan keuangan kerap menjadi tantangan apalagi ketika diperhadapkan akan kebutuhan keluarga terkesan lupa, lain hal ketika bisnis telah menghasilkan.

5. Mencari Rekan Partner:
Bagaimana menemukan tim kerja yang tepat? selalu menjadi persoalan pokok. Pengusaha tidak akan pernah berhenti mencari partner guna melengkapi keahliannya, mencari penasihat stratejik bisnis yang berpengalaman bahkan yang pernah gagal pun menghasilkan wawasan tersendiri.

Mencari rekan kerja yang memiliki gairah keberhasilan yang bersedia dan sudi berlelah-lelah, yang tidak keberatan keluar dari zona kenyamanannya. Banyak yang trampil dalam teknis tetapi tidak trampil dengan jiwa juangnya, banyak yang berwawasan luas tetapi tidak siap dengan realitas nyata dunia usaha.

6. Mencari Investor Pemodal:
Bagaimana menemukan investor yang mendanai bisnis Anda? menjadi tantangan tersendiri. Bagi pebisnis yang pernah sukses menghasilkan uang untuk investor lebih mudah jika dibandingkan dengan pemula. Menemukan tipikal investor yang diharapkan tidaklah mudah, tingkat kemampuan finansil kerap menjadi pertimbangan. Banyak investor yang malah ikut campur tangan memutuskan arah perjalanan bisnis hingga menimbulkan ketidaknyamanan pebisnis dengan ide bisnisnya.

Fasilitas internet berhasil drastis mengubah cara dan sistim pendekatan untuk mendapatkan modal usaha, bahkan kini ini mendapatkan investor menjadi lahan bisnis, memudahkan pemula mendapatkan pemodal. Dengan kemudahan ini, diharapkan pebisnis akan lebih fokus pada produk dan berupaya meningkatkan kepuasan konsumen.

7. Memiliki Bisnis Sendiri:
Pencarian ide bisnis telah mampu melampaui realitas kebutuhan modal hingga ide bisnis menjadi mahal. Kini banyak investor yang hanya mendanai ‘bisnis pencarian ide gagasan bisnis’ semata untuk kemudian menjual dan mendapat hak royalti. Pada skala bisnis tertentu memanfaatkan tabungan pribadi serta bantuan teman dan keluarga menjadi cara terbaik.

Dorongan keinginan memiliki usaha sendiri menjadi sensasi tersendiri, orang-orang sukses lebih memilih menjadi ‘tauke kecil’ daripada ‘karyawan besar’. Tiap orang memiliki pilihan hidup tetapi tidak setiap orang yakin akan pilihannya. Mencari ide bisnis agar bisa memiliki bisnis sendiri dan tidak semata-mata terdorong oleh uang dinilai tidak akan sia-sia. Anda hanya perlu berkomitmen karena gairah mencari “ide” akan menghasilkan uang. Mulailah dengan memelihara pemikiran yang terbuka dan tetap fokus.

“Keep your eyes and your mind open. Stay focused. Stay smart. Enjoy the rush; enjoy the ride.”
~Lomesh Shah, the Founder of Non ProfitEasy
http://www.sfi4.com/15634647/FREE

Selasa, 12 Januari 2016

Suka Atau Tidak Suka 'MENDENGAR' Itu “WAJIB HUKUMNYA”

"When you arise in the morning, give thanks for the food and for the joy of living. If you see no reason for giving thanks, the fault lies only in yourself.
~Chief Tecumseh
 See what others saying about SFI
Hal pertama yang ditunggu dari tiap bayi yang lahir pastilah suara tangis nya – menangis sekeras mungkin. Bila ia enggan menangis maka berbagai cara akan pasti ditempuh untuk agar si bayi menangis. Tiap orang yang menunggui proses kelahirannya hampir pasti akan bertanya dan ditanya hal yang sama – sudahkah ia menangis? Seakan menyempurnakan kelahirannya, seakan menjadi stempel pengesahan kelahirannya. Tak ubahnya ketika seseorang tersadar dari pengaruh bius pasca operasi, ia harus ‘kentut’ agar dianggap normal untuk diijinkan makan atau minum. Konon, tangis si bayi menjadi maklumat ke seantero jagad nyata maupun tak nyata, hingga keberadaannya tak lagi perlu dipertanyakan. Sedemikian itukah halnya?

Ada juga yang berpendapat, bahwa semakin lantang suara tangisnya menjadi seruan ke segenap penghuni semesta untuk agar ia didengar, kelak ia akan sudi mendengarkan sesama lainnya. Memperdengarkan serta mendengar seolah menjadi pertanda bukti sehat dan normal, seolah menjadi titik awal putaran waktu baginya. Manakala satu daripadanya tertinggal ia akan diperlakukan sebagai orang tidak sehat, normalnya ia akan memerlukan perawatan tambahan atau bahkan memerlukan tatanan kehidupan perlakuan khusus di sepanjang hidupnya. Tuli dan bisu atau salah satu daripadanya akan pasti dilekatkan mewarnai identitasnya di muka bumi ini.

Urgensi kemampuan “MENDENGAR” seyogianya sama setara dengan kemampuan “MEMPERDENGARKAN” yang ia telah praktikkan diawal mula pertama kali dilahirkan. Tetapi oleh karena diperlukan proses waktu, kemampuan mendengar dianggap menjadi kewajiban pasca lahir, yang pasti tiap orang diharuskan mendengar – akan berbagai hal. Mendengar bahkan diyakini menjadi awal pembelajaran untuk bisa pintar dan pandai, menjadi tuntutan agar menjadi panutan tauladan bagi sesamanya. Tiap orang sadar akan hal itu dan meyakini kebenarannya namun dalam banyak hal nyaris tiap orang bersitegang sendiri dengan sifat sikap perilaku diri pribadinya. Bagaikan hendak membangkang tiap orang bersikukuh agar untuk didengar tetapi enggan untuk mendengar. Hingga ada idiom yang menyatakan bahwa selain membayar hutang ‘mendengar’ dianggap menjadi pekerjaan terberat dalam hidup.

Konon para tetua telah mewanti-wanti bahwa muasal masaalah bermula dari keengganan mendengar, berawal dari tipisnya niat untuk mendengar pendapat orang lain. Tiap sengketa timbul didorong oleh rasa keberatan ‘mendengar’ tetapi senantiasa menuntut untuk didengar. Tiap orang bersitegang menuntut haknya untuk didengar sembari bersikukuh kenapa ia enggan mendengar pendapat orang lain yang mendengarnya. Tiap orang cenderung menuntut agar pendapatnya diperlakukan seolah fakta yang tak diragukan kesahihannya hingga tak perlu diuji kebenarannya. Seolah hanya ia seorang lah yang benar-benar paling benar dari segala hal yang paling ‘benar’. Yang tidak sependapat dianggap tentangan atasnya, seolah memicu masalah menambah panjang daftar sengketa yang ada.

“Mendengar” menjadi sesuatu yang mahal hingga tiap orang semakin enggan untuk sudi mendengar, bahkan Tuhan pun kerap dituntut untuk kiranya sudi mendengar keluh kesahnya, agar mengabulkan permohonan keinginannya tanpa ia pernah sudi mendengar sabda dan perintahNYA. Wah pelanggaran,,,!!!

Terima kasih telah mendengar. Salam sukses selalu!

Starting the day with a positive thought sets the tone for everything that follows. Instead of focusing on your troubles and worries, you can think about your blessings. Take a few minutes when you first wake up to think about the many good things in your life.”
~Ellis Peters

Rabu, 06 Januari 2016

Orang Bisa Sukses Jika Ia Berhasil Memahami Dirinya

"Nobody succeeds beyond his or her wildest expectations unless he or she begins with some wild expectations."
~Ralph Charell

http://www.sfi4.com/15634647/FREE

Jamak ditemukan pendapat yang menyatakan bahwa pemahaman diri tiap orang akan penalaran kepribadian dirinya umumnya tercermin pada tatacara kebiasaannya bertutur kata, semisal saat ia membahasakan dirinya. Pada lingkungan dengan budaya ketimuran lajim ditemukan penggunaan istilah kata ‘kami’ dan ‘saya’ untuk membahasakan dirinya. Terkadang sebagai ‘saya’ lain waktu ia menyatakan dirinya dengan istilah ‘kami’. Cara ini oleh pihak tertentu dinilai rancu dan membingungkan tetapi sebagian lain berpendapat bahwa pendapat yang sedemikian itu malah dianggap tidak memahami kultur ketimuran.

Kedua istilah itu diyakini mengusung tujuan makna yang berbeda, istilah kata ‘saya’ diartikan untuk membahasakan dirinya seorang saja, sedangkan istilah kata ‘kami’ ditujukan untuk membahasakan dirinya dan satu lainnya.

Pada bahasa Tasaw’uf istilah kata ‘saya’ dianggap untuk menyatakan keyakinan dirinya - seorang saja, terhadap ‘sesuatu’ hal yang nyata – nyata buruk dengan alasan berpotensi buruk. Dalam hal ini, harfiah dari ‘sesuatu’ itu dimaksudkan adalah untuk hal yang lahiriah saja. Sedangkan istilah kata ‘kami’ dimaksudkan untuk menyatakan keyakinannya atas sesuatu yang nyata – nyata buruk dengan alasan berpotensi baik. Dalam hal ini harfiah dari ‘sesuatu’ itu adalah untuk hal yang nyata-nyata buruk (lahiriah) dengan alasan baik (batiniah).
Istilah kata ’kami’ menjadi ungkapan untuk membahasakan dirinya bersama Tuhannya yang diyakini bersemayam di sanubarinya. Kata ‘Tuhan’ sendiri dalam konteks ini semata-mata lebih ditujukan untuk segala sesuatu yang dinilai baik karena didasarkan pada sesuatu keyakinan bahwa hanya yang baiklah yang datang dari Tuhan (prasangka baik dan berpikir positif akan Tuhan). Tiap penghakiman pun diamini terjadi atas dasar prasangka baik, bahkan berbagai peristiwa ketidakmujuran hingga kebangkrutan usaha pun diyakini mengusung tujuan baik. Untuk meningkatkan harkat martabat diri orang itu hingga ia berbeda dari orang satu lainnya. Kondisi ini semakin menegaskan bahwa bahasa keimanan (Tuhan) tidak bisa dijangkau dengan Akal manusia.

Ketika seseorang menggunakan istilah kata ‘kami’ maka ia ketika itu diduga memiliki sesuatu pemahaman bahwa bukan hanya ‘dirinya’ seorang saja yang berpendapat, tetapi ada sesuatu lainnya yang dipastikan berpendapat sama yakni ‘Tuhan’ nya. Hal inilah yang bagi pihak tertentu dianggap sebagai sesuatu yang rancu dan membingungkan.

Tak ubahnya bagaikan ‘kerancuan’ pada kalimat ‘berbohong yang baik’. Apa iya ada kebohongan untuk tujuan baik? Pengakuan akan adanya tindakan ‘berbohong yang baik’ seakan melawan ‘perintah Tuhan’. Ada yang bahkan menilainya sebagai suatu kecenderungan Akal manusia belaka yang lebih memilih durhaka kepada ‘khaliknya’ dengan menginterpretasikan sendiri ‘perintah Tuhan-nya’ untuk tujuan sesaat – semata-mata untuk kebutuhannya seorang saja. Hal ini tercermin pada alasan yang mendasari bahwa: ‘berbohong yang baik’ adalah jika itu dimaksudkan untuk tujuan: 1). untuk kebaikan bersama dan atau sesama; 2). sebagai bagian dari suatu strategi pemenangan; 3). demi keutuhan keluarga suami bohong ke istri atau sebaliknya. Pendapat sedemikian ini hidup berkembang di alam pemikiran orang per orang – terlepas apa pun agama atau keyakinannya. Sejatinya tidak ada yang salah akan hal itu, hanya saja bagi sebagian pihak perlu waktu untuk bisa memahaminya.

Orang-orang yang sukses cenderung membahasakan dirinya dengan menggunakan istilah kata ‘kami’. Pada konteks ini diyakini bahwa kesuksesan yang dicapainya tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, merasa tidak layak untuk mengklaim sukses keberhasilannya adalah oleh hanya karena prestasi dirinya semata. Diperlukan orang lain untuk bisa sukses, bahwa ada banyak pihak yang berkontribusi untuk ia bisa sukses dan berhasil - sekecil apa pun itu, yang pasti ada!.

Di bisnis SFI kita dididik untuk berhasil dengan memberhasilkan orang satu lainnya, menghindari kesalahan yang menghambat keberhasilan orang satu lainnya. Tidak ada formula tokcer untuk berhasil tetapi lebih cerdas memanfaatkan yang lebih baik adalah tahap awal keberhasilan.Demikian disadur dari berbagai sumber.
~Salam sukses selalu!

"Before you are a leader, success is all about growing yourself. When you become a leader, success is all about growing others."

Kamis, 24 Desember 2015

Selamat memerangi perangai NEGATIF!-; Queen - Bohemian Rhapsody (Official Video)


Saya suka aturan di SFI salah satunya adalah: "Don't be a negative Thinker"

Dengan kumpulan kata - kata mutiara sebagai Inspirasi, sbb:
"If you believe you can, you probably can. If you believe you won't, you most assuredly won't. Belief is the ignition switch that gets you off the launching pad."
~Denis Waitley

"Our attitudes control our lives. Attitudes are a secret power working twenty-four hours a day, for good or bad. It is of paramount importance that we know how to harness and control this great force. "
~Tom Blandi

"Take charge of your attitude. Don't let someone else choose it for you."
~Unknown

"The greatest discovery of my generation is that human beings can alter their lives by altering their attitudes of mind."
~William James

"A great attitude does much more than turn on the lights in our worlds; it seems to magically connect us to all sorts of serendipitous opportunities that were somehow absent before the change."
~Earl Nightingale

"There is real magic in enthusiasm. It spells the difference between mediocrity and accomplishment."
~Unknown
Selamat memerangi perangai NEGATIF!

Senin, 21 Desember 2015

Betulkah Tiap Kita Berutang Sukses Ke Orang Lain?

"Look at a day when you are supremely satisfied at the end. It's not a day when you lounge around doing nothing; it's when you had everything to do, and you've done it."
~Margaret Thatcher
Click to see what other say about?

Jika saja pengisi dunia ini diam-diam mendiamkan Anda, apakah Anda bisa tahu siapa diri Anda? Sungguh suatu pertanyaan yang menarik - perlu kecerdasan tersendiri untuk bisa menjawabnya.

Jika saja pengisi dunia ini tidak memberitahukan Anda, apakah Anda tahu kapan waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu yang berharga dalam hidup Anda? Bagaimana dengan masa depan Anda?

Jika saja pengisi dunia ini emoh dan tak sudi menanggapi apa pun ucapan Anda, apakah Anda yakin bahwa Anda masih waras?; Apakah Anda yakin jika yang Anda utarakan itu adalah sesuatu yang wajar? Bagaimana Anda bisa yakin jika tiap saat Anda harus bersitegang demi ucapan atau pendapat Anda; bagaimana Anda yakin jika Anda itu sehat dan tidak memiliki kelainan jiwa?!. Harus sedemikian itu kah nasib perjalanan hidup Anda?

Mungkin sukar untuk Anda bisa memahami ketiga paragrap diatas, ini maksudnya apa? Mungkin Anda berpendapat, bukankah ibu bapak saya telah mengumumkan kelahiran saya ke seisi dunia? Bukankah mereka telah berkordinasi dengan bapak ibu guru di sekolah untuk mendidik saya agar berperilaku baik? agar berlaku sopan dan hormat bahkan diajarkan cara bagaimana untuk mandiri. Lalu salah saya apa kah?

Jika kemudian saya berambisi untuk bisa melampaui keberhasilan yang sudah saya capai bukan kah itu adalah bagian dari kompetisi? Bukan kah itu diajarkan ketika di sekolah? bahkan bapak ibu guru telah lelah mempersiapkan saya sedari dini untuk supaya siap bertarung, untuk supaya siap menghadapi persaingan hidup, untuk supaya siap berkompetisi agar saya bisa berkontribusi mewarnai kehidupan ini. Ada yang salah kah?

Adalah wajar jika orang lain sulit untuk bisa memahami diri Anda, untuk itu Anda dibekali bagaimana cara terbaik memperkenalkan diri serta pendapat Anda. Adalah normal jika orang lain sulit untuk memahami ide gagasan Anda, untuk itu Anda dibekali bagaimana cara menjelaskan saran pandang bahkan cita-cita Anda. Ketahuilah, tiap orang memerlukan waktu untuk bisa memahami orang satu lainnya, dan perlu waktu lebih banyak lagi untuk bisa memahami ide serta gagasan, dan semakin akan lebih banyak tambahan waktu lagi untuk bisa mempercayai. Dan itu telah dinubuatkan sebagai corak perilaku orang per orang di muka bumi ini.

Mari ubah paragrap diatas:

Ketika Anda bermimpi mengimpikan impian indah, apakah Anda pernah bertanya – mimpi siapa ini? Apakah Anda pernah berkehendak untuk mempertanyakannya ke orang lain untuk memastikan bahwa mimpi Anda adalah hanya milik Anda seorang?.
Jika ternyata tidak, apakah Anda pernah merasa bersalah terhadap orang lain karena Anda telah berlaku sewenang-wenang sesuka hati menguasai sendiri mimpi Anda? Keterlaluan Anda!

Jika kemudian Anda mempertanyakannya ke seseorang, ternyata orang itu mengaku memiliki mimpi dan impian yang sama, akan kah Anda sudi berbagi? Apakah Anda akan mempermasalahkan dan mensomasi orang itu karena telah membajak mimpi dan impian Anda itu? Anda tak perlu mengaku waras untuk menjawabnya oleh karena perilaku dan kewarasanlah yang kerap meributkannya.

Sekarang: 
Jika Anda diminta mengambil sikap dan bersikap atas peristiwa itu, akan kah Anda berjuang memperjuangkan kebenaran dan pendapat Anda? Atau Anda akan menerima begitu saja demi ketentraman hidup Anda. Kenapa Anda tidak memilih bersikap apatis saja? Acuh tak acuh, biarlah itu menjadi mimpinya, nanti kapan waktu Anda akan bisa mengimpikan impian yang lebih indah lagi. Dan tidak lagi akan pernah memberitahukannya.

Akankah harus seperti itu?, betul mimpi adalah berharga tetapi apakah itu lebih berharga dibanding pengakuan orang akan eksisistensi keberadaan Anda? Sangat beruntung Anda jika mimpi Anda tidak pernah ditagih oleh sesama satu lainnya. Maka jaga lah dengan baik, karena Sukses bermula dari impian!
~Selamat berjaga-jaga!
-Disadur dari berbagai sumber.-

Rabu, 16 Desember 2015

Tak Usah Takut, Anda Juga Mampu Memecahkan Masalah!

"Put your goals in writing. If you can't put it on a sheet of paper, you probably can't do what it takes to achieve the goal."
~Unknown
http://www.sfimg.com/start

Pola pikir tidak tergantung seberapa tinggi IQ Anda, pendidikan atau sertifikasi keahlian yang Anda miliki, semua berpulang kepada cara Anda bersikap. Tak ubahnya bak ‘keyakinan’. IQ tinggi tidak menjanjikan kepastian akan sukses karena sukses tergantung pada cara kita bersikap. Lihatlah daftar panjang orang-orang yang gagal, mereka bukan kumpulan orang – orang yang memiliki IQ rendah. Bagaimana cara kita bersikap itulah pola pikir bagaimana kita menghadapi keadaan (mindset).

Orang dengan ‘mindset berkembang’ memiliki pola pikir yang mengharamkan keterbatasan semisal: orang itu tidak akan sukses oleh karena lemah, karena miskin, oleh karena berasal dari keluarga terbelakang, oleh karena tidak memiliki modal yang cukup. Bahkan tidak berterima jika hidup menjadi tersia-sia karena sesuatu masalah, menderita dan putus asa. Mereka yakin jika seseorang bisa maka tiap orang pasti bisa. Sejarah peradaban manusia mencatat bahwa tiap orang adalah cermin abadi dari orang satu lainnya, maka bila ada orang yang bisa maka orang satu lainnya pasti bisa pula.

Tetapi orang dengan ‘mindset berkembang’ juga menerima keterbatasan tetapi tidak menjadikannya sebagai alasan untuk tidak berusaha. Mereka mengungguli kegagalan untuk meraih sukses, berpikir positif, mencintai kehidupan dan antusias akan keberhasilan orang lain. Mereka bahkan menunggangi portal penghalang mendaki puncak keberhasilan. Mereka mencintai waktu melebihi dari apapun tetapi tidak menjadikannya sebagai alasan untuk tergesa-gesa dan mengabaikan peraturan. Mereka hidup dalam keteraturan tetapi tidak menjadikannya sebagai alasan untuk mengkuatirkan tiap hal. Mereka menikmati hidup dan mengubah wajah dunia tanpa menyungsangkan perjalanan peradaban. Kreatifitas dan innovasi tidak menjadikan mereka merusak tata peradaban. Dan Anda adalah salah satu dari mereka, selamat untuk Anda!

Terlepas dari sisi mana Anda memulai, Anda bisa berubah dan mengubah apa pun dengan mengembangkan serta menyempurnakan orientasi pola pikir Anda kearah pertumbuhan.

1. BANGKRUT, KECEWA BUKAN BERARTI TIDAK BERDAYA
Kita kecewa ketika tidak berdaya. Bagaimana kita menghadapinya tergantung telur masing-masing, apakah terus bergerak atau terseret hingga terjerembab tak kuasa bangun.
Banyak yang berhasil bangkit dari getirnya kegagalan: Walt Disney, dipecat dari Kansas City Star karena dinilai "tidak punya imajinasi dan tidak ada ide bagus". Oprah Winfrey, dipecat dari penyiar TV di Baltimore karena dinilai "terlalu hanyut dalam emosional di acaranya". Henry Ford dua kali gagal sebelum sukses dengan Ford. Andai mereka hidup dengan ‘mindset tetap’ mereka pasti menyerah dan tidak akan pernah berhasil. Tetapi mereka yakin bahwa jatuh hanya untuk bangun bangkit, kembali tampil beda dan sukses.

2. BANGKRUT, BANGKIT KEMBALI DAN LEBIH BERGAIRAH
Tidak berhenti akan minat berhasil adalah cermin semangat, tidak lelah akan gairah tak berkesudahan menguntit mimpi keberhasilan. Banyak yang lebih giat bahkan malah lebih berbakat tetapi kadar dorongan mencapai sukses tidak sama. Orang yang dendam akan kemelaratan karena pernah gagal lebih bergairah mengangkangi ketertinggalan maju meraih sukses keberhasilan.

3. BERTINDAK SEMBARI BERPIKIR
Orang dengan ‘mindset berkembang’ langsung bertindak sembari berpikir arah tindakannya dan mengabaikan rasa takut yang mendera. Mereka menyadari sekali rasa takut diberi kesempatan, kecemasan akan melumpuhkan emosi gairah semangat. Mengatasinya hanyalah dengan langsung bertindak dan tidak menunggu-nunggu ‘momentum yang tepat’ untuk memulai. Menunggu hanya akan membiarkan rasa takut tumbuh menghalangi, tetapi langsung bertindak agar tetap fokus dan positif.

4. DALAM KETERBATASAN TIDAK PERLU ADA BATASAN
Orang dengan ‘mindset berkembang’ bertindak dalam keterbatasanya dengan bekerja ekstra, tidak mengenal batas maksimal. Menyadari batas kemampuan adalah baik tetapi tidak baik untuk menjadikannya sebagai alasan membatasi ruang gerak. Dalam keterbatasan tidak perlu ada batasan.

5. MENGHARAPKAN HASIL WALAUPUN TIDAK BERHASIL
Orang dengan ‘mindset berkembang’ menyadari bahwa mereka bisa saja gagal dan gagal tetapi itu bukan alasan untuk malah berhenti. Mengharapkan hasil adalah wajar tetapi menjadi tidak wajar jika berhenti karena tidak berhasil. Hasil adalah pemicu motivasi.

6. KUKUH TETAPI TETAP LENTUR DAN FLEKSIBEL
Orang dengan ‘mindset berkembang’ lebih flesksibel ditengah kesulitan yang tak terduga karena mereka memiliki pola pikir yang berorientasi pada kemajuan. Merangkul kesulitan dengan innovasi serta mengendarai kesulitan secara kreatif, memiliki kelenturan saat dihadang situasi tak terduga tetapi tidak mengeluh kala sesuatunya tidak berjalan seperti yang diinginkan. Orang dengan ’mindset berkembang’ tidak mengenal keluhan, tetapi selalu berusaha menemukan cara memanfaatkan tiap lubang dari tiap kesempatan hingga tidak ada waktu untuk mengeluh.

Never cut a tree down in the wintertime. Never make a negative decision in the low time. Never make your most important decisions when you are in your worst moods. Wait. Be patient. The storm will pass. The spring will come.
Robert H. Schuller
Demikian disadur dari berbagai sumber.
~Salam sukses untuk Anda!

Selasa, 15 Desember 2015

Untuk Sukses Berhasil Anda Tidak Perlu Pintar

“You never know how strong you are, until being strong is your only choice”
~Bob Marley

Jamak pendapat yang menyatakan bahwa untuk sukses berhasil tergantung pada tingkat kepintaran kepandaian seseorang; bahwa sukses adalah milik orang-orang yang diberkati orang yang memiliki otak cemerlang dengan IQ tinggi. Tidak salah jika Anda setuju dan membenarkan pendapat itu. Namun Anda juga harus menerima pendapat yang menyatakan bahwa seseorang yang tidak memiliki otak cemerlang bisa sukses dan berhasil, bahwa IQ yang tinggi pada dasarnya tidak akan menjanjikan apa-apa dan sukses keberhasilan adalah buah dari sikap Anda.

Carol Dweck psikolog di Universitas Stanford Carol telah berhasil meneliti sikap dan kinerja dan menunjukkan bahwa sikap Anda masih merupakan penentu utama kesuksesan. Bahwa sikap Anda menghadirkan sudut pandang yang dikategorikan sebagai: ‘mindset tetap’ dan ‘mindset berkembang’.

MINDSET TETAP:
Bahwa ‘mindset tetap’: berhasil menanamkan keyakinan kedalam benak Anda bahwa Anda adalah siapa Anda. Anda tidak cukup pintar, tidak terlalu pandai dan Anda tidak akan bisa berubah bahkan tidak berkemampuan mengubahnya. Anda tidak akan bisa menghasilkan karya besar, tidak akan bisa berhasil, tidak bisa memperjuangkan perubahan nasib Anda. Bahwa Anda hanya penuh dengan masalah dan bermasalah, tidak bisa menangani pekerjaan bahkan hidup Anda hanyalah kesia-siaan belaka. Anda menderita dan menjadi putus asa!. Sungguh kasihan Anda!

MINDSET BERKEMBANG:
Namun ‘mindset berkembang’: percaya bahwa jika seseorang bisa maka ia pun pasti bisa, jika ada orang yang berhasil maka ia pun pasti bisa berhasil. Jika ada orang pintar maka ia pun bisa pintar, bahkan jika pemilik matahari tidak memberikan cahayanya ia akan menaklukkan matahari itu. Jika para ahli menyatakan ia hanya memiliki IQ yang rendah, ia akan berpendapat bahwa IQ orang itu jauh lebih rendah darinya. Orang dengan ‘mindset berkembang’ melihat dinding sebagai pintu jalan keluar, melihat suasana kegelapan sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan dengan cahaya penerang, bahkan berhasil membuat sendiri matahari versi miliknya. Orang dengan ‘mindset berkembang’ percaya bahwa mereka dapat meningkatkan kemampuannya, dapat membuat apa saja hanya jika berusaha. Mereka berhasil mengungguli orang-orang yang berkubang dengan ‘mindset tetap’, bahkan walau mereka diketahui memiliki IQ yang lebih rendah.

Merekalah para penemu, para inventor yang mengejek berbagai rupa jenis ketertinggalan dengan semburat teknologi. Merekalah yang mengejek berbagai rupa pembatasan hak asasi manusia dengan teknologi mudah dan murah meriah. Kini mereka tertawa melihat seisi dunia sibuk menikmati ekses dari usaha tiada henti yang mendasari langkah temuan-temuan mereka. Mereka tidak pernah mempersoalkan tingkat pendidikan bahkan titel pun dijadikan gurauan. Mereka mensertifikasi sendiri dirinya dengan sebutan ‘profesor bisnis online’, mendirikan dimana-mana ‘universitas bisnis online’ yang menghasilkan para wirausaha hingga dikenal sebagai ‘Net’s entrepreneurship’ – para pebisnis internet. Mereka tak pernah jenuh oleh hal baru, bahkan temuan baru pun mereka anggap sebagai temuan lama, mereka hidup dari kreatifitas dan hidupnya dipenuhi inovasi berkelanjutan.

Akal sehat mengarahkan kita untuk memiliki kemampuan, untuk itu kita belajar agar pintar untuk bisa menginspirasi kepercayaan, tetapi itu semua temporer sementara saja. Penentu keberhasilan adalah bagaimana kita berhasil menangani kemunduran, menunggangi tantangan penghalang laju kemajuan.

Orang dengan ‘mindset berkembang’ memiliki pola pikir yang wajar, mereka menyambut kegagalan dengan tangan terbuka, wajar dan tidak panik. Mereka memiliki pola pikir bahwa keberhasilan adalah tentang bagaimana mengenali kegagalan dan menghadapinya dengan menghadirkan sesuatu cara yang lain. Mereka terlahir sebagai ‘pemecah masalah’ – Anda salah satunya!
~Selamat memecahkan masalah!
Tak Perlu Pintar Untuk Dapat Dollar

Kamis, 10 Desember 2015

Takut Jatuh Miskin Apa Takut Menjadi Kaya?

http://www.joinmySFIteam.com/15634647
 
“The truth is that our finest moments are most likely to occur when we are feeling deeply uncomfortable, unhappy, or unfulfilled. For it is only in such moments, propelled by our discomfort, that we are likely to step out of our ruts and start searching for different ways or truer answers."
~M. Scott Peck

Tiap orang jika ditanya dipastikan ia akan menjawab bahwa ia ingin menjadi kaya, bahwa ia terlahir tidak untuk hidup miskin, bahwa ia bekerja keras agar kaya, bahwa ia telah mematuhi segenap aturan agar tidak jatuh miskin. Tiap orang mengakui perbedaan Orang Miskin dengan Orang Kaya hanyalah oleh karena ‘uang’. Dan itu adalah normal pada tatanan kehidupan masyarakat, namun diyakini ada banyak hal lain yang dominan. Sejatinya tidak satu pun yang memahami apa arti sesungguhnya dari Miskin dan Kaya.

Mengetahui beberapa point berikut diakui dapat membantu:

1. SKEPTIS DAN PERCAYA
Orang miskin umumnya skeptis, sebaliknya tipikal orang kaya adalah memelihara kepercayaan bahwa tiap orang harus diberi kesempatan. Bahwa untuk menjadi lebih kaya lagi ia harus bekerja lebih keras lagi dan memberi kesempatan kepada lebih banyak orang lagi. Sebagian besar kekayaannya dikelola oleh orang lain semisal: karyawan, sekretaris, asisten bahkan mobil berharga miliaran ia percayakan ke sopirnya.
Sepintas pendapat ini bertentangan dengan apa yang Anda yakini, seakan tidak layak untuk bisa Anda percayai tetapi akan lucu bila Anda membantah kebenarannya. Anda ini ingin jatuh miskin atau ingin menjadi kaya? Jika ingin menjadi kaya, percaya saja lah!

2. MASALAH DAN SOLUSI
Orang miskin cenderung mencari-cari kesalahan orang lain bahkan terkesan berlebihan hingga menimbulkan masalah dan menjadi bagian dari masalah. Cenderung menyalahkan rekan, kerabat, keluarga, lingkungan, pekerjaannya, sistim hukum dan penegakannya serta kebijakan pemerintah. Ia bahkan tega menyalahkan Tuhan Yang Maha Kuasa – tega nian kau tuhan melihatku menderita, aku yakini kau yang maha kuasa maka mohon ampunanMU, aku kan umatMU jua?. Daftar panjang perilaku orang miskin seakan menjelaskan mengapa mereka tidak bisa menjadi orang kaya.

Sebaliknya orang kaya cenderung mencari solusi dan menghindari masalah, memahami bahwa tiap masalah terjadi oleh karena sesuatu alasan. Dan meyakini ia bisa menemukan solusi jalan keluar dari tiap permasalahan. Ia sukses menunggangi masalah berhasil menjadi kaya karena ia dipenuhi pemikiran bagaimana bertindak agar terlepas dari masalah. Cenderung mengesampingkan tiap alasan dan tidak terlatih menyalahkan pihak lain. Tindakan dan pemikirannya tercurah untuk mendapatkan solusi dan langsung menerapkannya.

3. ASUMSI DAN BERTANYA AGAR JELAS
Orang miskin membuat asumsi sendiri sesuai kadar nalar pemahamannya bahkan jika itu untuk mengetahui hal yang sebenarpun, ia terlatih berasumsi. Semisal, jika untuk memperjuangkan hak nya ia perlu menghadap pemimpin di daerahnya, ia berasumsi ‘mana sudi pemimpin menerima orang miskin, Bapak itu tak mungkin punya waktu mengurus orang kecil seperti saya’. Alih-alih berusaha memperjuangkan kebenaran fakta malah ia berasumsi dan hidup dengan pemahamannya sendiri. Terkesan tidak memiliki keinginan, cenderung hanya akan menerima keadaan.

Orang kaya seakan terlatih selalu mencari kejelasan spontan bertanya; ‘bagaimana jika?’ bahkan jika itu untuk mempertanyakan kebijakan pemimpin di daerahnya: ‘bagaimana jika saya menulis surat ke presiden dan ia menjawab?’. Hidupnya dipenuhi pemikiran positif, ia yakin dengan bertanya itu akan bisa meredakan ketegangan, bahkan jika dapat mengajukan pertanyaan tepat itu bisa mempengaruhi peta kekuasaan. Ia cenderung tidak menjawab langsung tetapi berminat mempertanyakan sesuatu sedari pertanyaan hingga bahkan jawaban – agar jelas!.

4. MEREKA DAN KAMI
Orang miskin cenderung membahasakan diri dan kelompoknya dengan istilah ‘mereka’ dan ‘mereka-mereka itu’. Terkesan seolah menghindar ia bukan bagian daripadanya. Sebaliknya Orang kaya terlatih dengan penggunaan istilah ‘kami’. Sepintas perbedaannya terkesan subyektif tetapi nuansa realita peristiwa yang ditimbulkan acap membuat perbedaan besar.

5. UANG DAN WAKTU
Orang miskin ingin segalanya murah bahkan untuk mendapatkan yang termurah ia tidak memperdulikan waktu yang tersita. Baginya uang lebih penting dari waktu, seolah senang menghamburkan waktu - semaunya.
Orang kaya menyukai hal-hal yang terbaik, demi kualitas harga tak jadi soal tetapi waktu yang tersita untuk mendapatkannya selalu menjadi patokan utama. Orang kaya sangat menghargai waktu, baginya itu adalah sesuatu yang tidak dapat tergantikan - berbeda dengan uang.

6. BERSAING DAN BERSINERJI
Orang miskin tidak suka persaingan, saat ada kesempatan cenderung ia spontan meniru bagaimana orang lain melakukannya?. Ia jarang bersinerji dan jarang mempertimbangkan penggunaan cara lain, ia kuatir cara lain hanya akan menyesatkan. Sebaliknya Orang kaya tidak pernah puas akan sesuatu cara lajim, menyukai innovasi dan kerap bersinerji bahkan jika itu hanya untuk mencari cara terbaik.

Orang miskin suka mengeluh, mengkritik hal yang terkadang tidak dia ketahui jelas, cenderung mendengar pendapat orang lain, selalu memerlukan persetujuan kerabat, keluarga ketika akan memutuskan sesuatu. Jika memerlukan advis nasihat cenderung mendapatkannya dari yang amatir, yang gratis bahkan yang bersifat magis. Mudah terhasut dan menggunakan pendapat orang lain sebagai fakta tanpa mempertanyakan otoritas si orang  itu dan bahkan tanpa meneliti kesahihannya.

Orang kaya cenderung bersinerji dan menyadari keistimewaannya, tidak mudah menerima sesuatu pendapat orang lain secara begitu saja, selalu mencari masukan para ahli, pendapat independen bahkan rela membayar mahal, hingga ia lebih mampu menghasilkan.

Orang miskin cenderung hanyut dengan gambaran sporadis menyenangi televisi layar besar agar bisa jelas melihat penyajian mimpi-mimpi indah dan senang bergunjing. Sebaliknya Orang kaya menyukai perpustakaan besar senang membaca memanfaatkan waktu untuk  hal-hal yang menguntungkan. Kerap mengasah melatih pikiran demi memahami dirinya dan orang lain serta lingkungannya hingga bahkan kehidupan peradaban dunia.

Persfektif yang benar mengenai orang kaya dapat Anda pelajari dari orang-orang kaya dan menerapkannya agar Anda dapat mencapai impian Anda dan menjadi kaya.

Selasa, 08 Desember 2015

Berpikir Tidak Akan Mengatasi Rasa Takut Tetapi Tindakan Yang Akan

“Kendala di jalan lintasan”. Alkisah seorang raja mencuba mencari tahu tingkat kepedulian rakyatnya, ia meletakkan sebongkah batu besar di tengah jalan perlintasan yang menghalangi kenyamanan perjalanan warganya. Dari tempat tertentu ia bersembunyi dan mengamati perilaku tiap pelintas, apakah ada yang bersedia menyingkirkannya? apakah ada yang sudi berlelah-lelah menyingkirkan bongkahan batu itu dan memindahkannya dari tengah jalan. Ia haus akan sesuatu – masih kah ada yang peduli terhadap sesamanya?

Ia mengamati para pedagang – pedagang kaya yang memilih melintas memutari bongkahan menghindar dari sisi satunya. Menggerutu tak henti, pungutan pajak kian hari naik dan bertambah tetapi mengurus jalan pun tidak becus. Tak lama berselang, beberapa pejabat pembesar kerajaan melintas, terhenti terhalang bongkahan, mengomel panjang lebar tak henti sembari mengamati bongkahan. Pelan memaki sang Raja yang berkuasa, dinilai tidak becus mengurus jalan perlintasan dan malah membiarkan bongkahan batu menghalangi jalanan. Baik pedagang maupun pejabat pembesar istana yang dikenal kaya raya hanya menghindar dan mengumpat tanpa tindakan.

Menjelang senja, petani desa tertatih-tatih melintas menggendong bawaan beban sayur mayur kebutuhan untuk dijual ke pusat keramaian, tiba dibongkahan ia berhenti. Dengan sigap meletakkan bebannya, berupaya keras selangkah demi selangkah menggoyang dan menyingkirkan bongkahan dari tengah jalan hingga ke sisi satunya untuk tidak menghalangi perjalanannya. Setelahnya, bergegas mengangkat beban sayurannya berkemas hendak melanjutkan perjalanan. Ia melihat bungkusan terletak di tanah di bekas dudukan bongkahan. Bungkusan koin emas dengan catatan Raja bahwa emas itu adalah hadiah bagi siapa saja yang bersedia menyingkirkan bongkahan perintang jalan itu. Ungkapan terima kasih karena peduli terhadap sesamanya. Dengan lugunya petani memungutnya dan melanjutkan perjalanan, menjual sayurannya dan singgah menghadap punggawa kerajaan untuk menyerahkan kembali bungkusan berikut catatan yang menyertainya.

Kesediaan si petani mengatasi sendiri bongkahan yang merintangi perjalanannya berhasil melampaui tujuan awalnya, menegaskan bahwa sesungguhnya kita tidak mengetahui manfaat tambahan dari rentetan hal baik yang kita lakukan. Sejatinya kita tidak pernah bisa mengerti akan tiap hal. Tiap rintangan penghalang diyakini menyajikan kesempatan untuk kita bisa memperbaiki keadaan serta kondisi kita. Dan itu bisa didapat jika kita dipenuhi pemikiran positif dan menjauhkan dorongan pemikiran negatif. Apa yang dibutuhkan untuk menghilangkan rintangan?.

Dimulai dengan memelihara pikiran yang terbuka untuk ide-ide dan proses baru, bertindaklah dengan kemampuan yang ada, bersedia mempelajari keterampilan baru. Berhenti membuang waktu jika hanya untuk menyalahkan keadaan, awali dengan bekerja dan lupakan hasil akhir. Langkah kecil akan menggiring langkah penting lainnya - tidak peduli seberapa kecil. Jangan berhenti dengan alasan sudah banyak pihak yang melangkah dengan menggunakan langkah-langkah raksasa. Jangan hentikan kaki Anda sebelum Anda dapat berjalan. Ulangi tiap langkah, jangan bosan mengulanginya berulang-ulang. Prestasi akan membayar lelah dan kejenuhan yang mendera.

Memahami itu bukan bagaimana Kita merasa tetapi tentang apa yang Kita lakukan yang membawa hasil. Kegembiraan akan membangun momentum pemicu tatakan keberhasilan. Tiap tindakan akan menambah percaya diri, tiap tindakan akan mengatasi rasa takut. Tiap tindakan menghadirkan peluang bertumbuh yang sering tak terduga. Tindakan akan menguji kekuatan kita bertahan dan mempertahankan komitmen.

Yakinlah: "Berpikir tidak akan mengatasi rasa takut, tetapi tindakan akan."
~Salam sukses selalu