Selasa, 12 Januari 2016

Suka Atau Tidak Suka 'MENDENGAR' Itu “WAJIB HUKUMNYA”

"When you arise in the morning, give thanks for the food and for the joy of living. If you see no reason for giving thanks, the fault lies only in yourself.
~Chief Tecumseh
 See what others saying about SFI
Hal pertama yang ditunggu dari tiap bayi yang lahir pastilah suara tangis nya – menangis sekeras mungkin. Bila ia enggan menangis maka berbagai cara akan pasti ditempuh untuk agar si bayi menangis. Tiap orang yang menunggui proses kelahirannya hampir pasti akan bertanya dan ditanya hal yang sama – sudahkah ia menangis? Seakan menyempurnakan kelahirannya, seakan menjadi stempel pengesahan kelahirannya. Tak ubahnya ketika seseorang tersadar dari pengaruh bius pasca operasi, ia harus ‘kentut’ agar dianggap normal untuk diijinkan makan atau minum. Konon, tangis si bayi menjadi maklumat ke seantero jagad nyata maupun tak nyata, hingga keberadaannya tak lagi perlu dipertanyakan. Sedemikian itukah halnya?

Ada juga yang berpendapat, bahwa semakin lantang suara tangisnya menjadi seruan ke segenap penghuni semesta untuk agar ia didengar, kelak ia akan sudi mendengarkan sesama lainnya. Memperdengarkan serta mendengar seolah menjadi pertanda bukti sehat dan normal, seolah menjadi titik awal putaran waktu baginya. Manakala satu daripadanya tertinggal ia akan diperlakukan sebagai orang tidak sehat, normalnya ia akan memerlukan perawatan tambahan atau bahkan memerlukan tatanan kehidupan perlakuan khusus di sepanjang hidupnya. Tuli dan bisu atau salah satu daripadanya akan pasti dilekatkan mewarnai identitasnya di muka bumi ini.

Urgensi kemampuan “MENDENGAR” seyogianya sama setara dengan kemampuan “MEMPERDENGARKAN” yang ia telah praktikkan diawal mula pertama kali dilahirkan. Tetapi oleh karena diperlukan proses waktu, kemampuan mendengar dianggap menjadi kewajiban pasca lahir, yang pasti tiap orang diharuskan mendengar – akan berbagai hal. Mendengar bahkan diyakini menjadi awal pembelajaran untuk bisa pintar dan pandai, menjadi tuntutan agar menjadi panutan tauladan bagi sesamanya. Tiap orang sadar akan hal itu dan meyakini kebenarannya namun dalam banyak hal nyaris tiap orang bersitegang sendiri dengan sifat sikap perilaku diri pribadinya. Bagaikan hendak membangkang tiap orang bersikukuh agar untuk didengar tetapi enggan untuk mendengar. Hingga ada idiom yang menyatakan bahwa selain membayar hutang ‘mendengar’ dianggap menjadi pekerjaan terberat dalam hidup.

Konon para tetua telah mewanti-wanti bahwa muasal masaalah bermula dari keengganan mendengar, berawal dari tipisnya niat untuk mendengar pendapat orang lain. Tiap sengketa timbul didorong oleh rasa keberatan ‘mendengar’ tetapi senantiasa menuntut untuk didengar. Tiap orang bersitegang menuntut haknya untuk didengar sembari bersikukuh kenapa ia enggan mendengar pendapat orang lain yang mendengarnya. Tiap orang cenderung menuntut agar pendapatnya diperlakukan seolah fakta yang tak diragukan kesahihannya hingga tak perlu diuji kebenarannya. Seolah hanya ia seorang lah yang benar-benar paling benar dari segala hal yang paling ‘benar’. Yang tidak sependapat dianggap tentangan atasnya, seolah memicu masalah menambah panjang daftar sengketa yang ada.

“Mendengar” menjadi sesuatu yang mahal hingga tiap orang semakin enggan untuk sudi mendengar, bahkan Tuhan pun kerap dituntut untuk kiranya sudi mendengar keluh kesahnya, agar mengabulkan permohonan keinginannya tanpa ia pernah sudi mendengar sabda dan perintahNYA. Wah pelanggaran,,,!!!

Terima kasih telah mendengar. Salam sukses selalu!

Starting the day with a positive thought sets the tone for everything that follows. Instead of focusing on your troubles and worries, you can think about your blessings. Take a few minutes when you first wake up to think about the many good things in your life.”
~Ellis Peters