"When you arise in the
morning, give thanks for the food and for the joy of living. If you see no
reason for giving thanks, the fault lies only in yourself.”
~Chief
Tecumseh
Hal
pertama yang ditunggu dari tiap bayi yang lahir pastilah suara tangis nya – menangis
sekeras mungkin. Bila ia enggan menangis maka berbagai cara akan pasti ditempuh
untuk agar si bayi menangis. Tiap orang yang menunggui proses kelahirannya
hampir pasti akan bertanya dan ditanya hal yang sama – sudahkah ia menangis? Seakan
menyempurnakan kelahirannya, seakan menjadi stempel pengesahan kelahirannya. Tak
ubahnya ketika seseorang tersadar dari pengaruh bius pasca operasi, ia harus ‘kentut’
agar dianggap normal untuk diijinkan makan atau minum. Konon, tangis si bayi
menjadi maklumat ke seantero jagad nyata maupun tak nyata, hingga keberadaannya
tak lagi perlu dipertanyakan. Sedemikian itukah halnya?
Ada
juga yang berpendapat, bahwa semakin lantang suara tangisnya menjadi seruan ke segenap
penghuni semesta untuk agar ia didengar, kelak ia akan sudi mendengarkan sesama
lainnya. Memperdengarkan serta mendengar seolah menjadi pertanda bukti sehat
dan normal, seolah menjadi titik awal putaran waktu baginya. Manakala satu
daripadanya tertinggal ia akan diperlakukan sebagai orang tidak sehat, normalnya
ia akan memerlukan perawatan tambahan atau bahkan memerlukan tatanan kehidupan perlakuan
khusus di sepanjang hidupnya. Tuli dan bisu atau salah satu daripadanya akan
pasti dilekatkan mewarnai identitasnya di muka bumi ini.
Urgensi
kemampuan “MENDENGAR” seyogianya sama setara dengan kemampuan “MEMPERDENGARKAN”
yang ia telah praktikkan diawal mula pertama kali dilahirkan. Tetapi oleh
karena diperlukan proses waktu, kemampuan mendengar dianggap menjadi kewajiban pasca
lahir, yang pasti tiap orang diharuskan mendengar – akan berbagai hal. Mendengar
bahkan diyakini menjadi awal pembelajaran untuk bisa pintar dan pandai, menjadi
tuntutan agar menjadi panutan tauladan bagi sesamanya. Tiap orang sadar akan
hal itu dan meyakini kebenarannya namun dalam banyak hal nyaris tiap orang bersitegang
sendiri dengan sifat sikap perilaku diri pribadinya. Bagaikan hendak membangkang
tiap orang bersikukuh agar untuk didengar tetapi enggan untuk mendengar. Hingga
ada idiom yang menyatakan bahwa selain membayar hutang ‘mendengar’ dianggap
menjadi pekerjaan terberat dalam hidup.
Konon
para tetua telah mewanti-wanti bahwa muasal masaalah bermula dari keengganan mendengar,
berawal dari tipisnya niat untuk mendengar pendapat orang lain. Tiap sengketa
timbul didorong oleh rasa keberatan ‘mendengar’ tetapi senantiasa menuntut
untuk didengar. Tiap orang bersitegang menuntut haknya untuk didengar sembari bersikukuh
kenapa ia enggan mendengar pendapat orang lain yang mendengarnya. Tiap orang cenderung
menuntut agar pendapatnya diperlakukan seolah fakta yang tak diragukan
kesahihannya hingga tak perlu diuji kebenarannya. Seolah hanya ia seorang lah
yang benar-benar paling benar dari segala hal yang paling ‘benar’. Yang tidak
sependapat dianggap tentangan atasnya, seolah memicu masalah menambah panjang
daftar sengketa yang ada.
“Mendengar”
menjadi sesuatu yang mahal hingga tiap orang semakin enggan untuk sudi mendengar,
bahkan Tuhan pun kerap dituntut untuk kiranya sudi mendengar keluh kesahnya, agar
mengabulkan permohonan keinginannya tanpa ia pernah sudi mendengar sabda dan perintahNYA.
Wah pelanggaran,,,!!!
Terima
kasih telah mendengar. Salam sukses selalu!
“Starting the day with a positive
thought sets the tone for everything that follows. Instead of focusing on your
troubles and worries, you can think about your blessings. Take a few minutes
when you first wake up to think about the many good things in your life.”
~Ellis Peters
