Kamis, 10 Desember 2015

Takut Jatuh Miskin Apa Takut Menjadi Kaya?

http://www.joinmySFIteam.com/15634647
 
“The truth is that our finest moments are most likely to occur when we are feeling deeply uncomfortable, unhappy, or unfulfilled. For it is only in such moments, propelled by our discomfort, that we are likely to step out of our ruts and start searching for different ways or truer answers."
~M. Scott Peck

Tiap orang jika ditanya dipastikan ia akan menjawab bahwa ia ingin menjadi kaya, bahwa ia terlahir tidak untuk hidup miskin, bahwa ia bekerja keras agar kaya, bahwa ia telah mematuhi segenap aturan agar tidak jatuh miskin. Tiap orang mengakui perbedaan Orang Miskin dengan Orang Kaya hanyalah oleh karena ‘uang’. Dan itu adalah normal pada tatanan kehidupan masyarakat, namun diyakini ada banyak hal lain yang dominan. Sejatinya tidak satu pun yang memahami apa arti sesungguhnya dari Miskin dan Kaya.

Mengetahui beberapa point berikut diakui dapat membantu:

1. SKEPTIS DAN PERCAYA
Orang miskin umumnya skeptis, sebaliknya tipikal orang kaya adalah memelihara kepercayaan bahwa tiap orang harus diberi kesempatan. Bahwa untuk menjadi lebih kaya lagi ia harus bekerja lebih keras lagi dan memberi kesempatan kepada lebih banyak orang lagi. Sebagian besar kekayaannya dikelola oleh orang lain semisal: karyawan, sekretaris, asisten bahkan mobil berharga miliaran ia percayakan ke sopirnya.
Sepintas pendapat ini bertentangan dengan apa yang Anda yakini, seakan tidak layak untuk bisa Anda percayai tetapi akan lucu bila Anda membantah kebenarannya. Anda ini ingin jatuh miskin atau ingin menjadi kaya? Jika ingin menjadi kaya, percaya saja lah!

2. MASALAH DAN SOLUSI
Orang miskin cenderung mencari-cari kesalahan orang lain bahkan terkesan berlebihan hingga menimbulkan masalah dan menjadi bagian dari masalah. Cenderung menyalahkan rekan, kerabat, keluarga, lingkungan, pekerjaannya, sistim hukum dan penegakannya serta kebijakan pemerintah. Ia bahkan tega menyalahkan Tuhan Yang Maha Kuasa – tega nian kau tuhan melihatku menderita, aku yakini kau yang maha kuasa maka mohon ampunanMU, aku kan umatMU jua?. Daftar panjang perilaku orang miskin seakan menjelaskan mengapa mereka tidak bisa menjadi orang kaya.

Sebaliknya orang kaya cenderung mencari solusi dan menghindari masalah, memahami bahwa tiap masalah terjadi oleh karena sesuatu alasan. Dan meyakini ia bisa menemukan solusi jalan keluar dari tiap permasalahan. Ia sukses menunggangi masalah berhasil menjadi kaya karena ia dipenuhi pemikiran bagaimana bertindak agar terlepas dari masalah. Cenderung mengesampingkan tiap alasan dan tidak terlatih menyalahkan pihak lain. Tindakan dan pemikirannya tercurah untuk mendapatkan solusi dan langsung menerapkannya.

3. ASUMSI DAN BERTANYA AGAR JELAS
Orang miskin membuat asumsi sendiri sesuai kadar nalar pemahamannya bahkan jika itu untuk mengetahui hal yang sebenarpun, ia terlatih berasumsi. Semisal, jika untuk memperjuangkan hak nya ia perlu menghadap pemimpin di daerahnya, ia berasumsi ‘mana sudi pemimpin menerima orang miskin, Bapak itu tak mungkin punya waktu mengurus orang kecil seperti saya’. Alih-alih berusaha memperjuangkan kebenaran fakta malah ia berasumsi dan hidup dengan pemahamannya sendiri. Terkesan tidak memiliki keinginan, cenderung hanya akan menerima keadaan.

Orang kaya seakan terlatih selalu mencari kejelasan spontan bertanya; ‘bagaimana jika?’ bahkan jika itu untuk mempertanyakan kebijakan pemimpin di daerahnya: ‘bagaimana jika saya menulis surat ke presiden dan ia menjawab?’. Hidupnya dipenuhi pemikiran positif, ia yakin dengan bertanya itu akan bisa meredakan ketegangan, bahkan jika dapat mengajukan pertanyaan tepat itu bisa mempengaruhi peta kekuasaan. Ia cenderung tidak menjawab langsung tetapi berminat mempertanyakan sesuatu sedari pertanyaan hingga bahkan jawaban – agar jelas!.

4. MEREKA DAN KAMI
Orang miskin cenderung membahasakan diri dan kelompoknya dengan istilah ‘mereka’ dan ‘mereka-mereka itu’. Terkesan seolah menghindar ia bukan bagian daripadanya. Sebaliknya Orang kaya terlatih dengan penggunaan istilah ‘kami’. Sepintas perbedaannya terkesan subyektif tetapi nuansa realita peristiwa yang ditimbulkan acap membuat perbedaan besar.

5. UANG DAN WAKTU
Orang miskin ingin segalanya murah bahkan untuk mendapatkan yang termurah ia tidak memperdulikan waktu yang tersita. Baginya uang lebih penting dari waktu, seolah senang menghamburkan waktu - semaunya.
Orang kaya menyukai hal-hal yang terbaik, demi kualitas harga tak jadi soal tetapi waktu yang tersita untuk mendapatkannya selalu menjadi patokan utama. Orang kaya sangat menghargai waktu, baginya itu adalah sesuatu yang tidak dapat tergantikan - berbeda dengan uang.

6. BERSAING DAN BERSINERJI
Orang miskin tidak suka persaingan, saat ada kesempatan cenderung ia spontan meniru bagaimana orang lain melakukannya?. Ia jarang bersinerji dan jarang mempertimbangkan penggunaan cara lain, ia kuatir cara lain hanya akan menyesatkan. Sebaliknya Orang kaya tidak pernah puas akan sesuatu cara lajim, menyukai innovasi dan kerap bersinerji bahkan jika itu hanya untuk mencari cara terbaik.

Orang miskin suka mengeluh, mengkritik hal yang terkadang tidak dia ketahui jelas, cenderung mendengar pendapat orang lain, selalu memerlukan persetujuan kerabat, keluarga ketika akan memutuskan sesuatu. Jika memerlukan advis nasihat cenderung mendapatkannya dari yang amatir, yang gratis bahkan yang bersifat magis. Mudah terhasut dan menggunakan pendapat orang lain sebagai fakta tanpa mempertanyakan otoritas si orang  itu dan bahkan tanpa meneliti kesahihannya.

Orang kaya cenderung bersinerji dan menyadari keistimewaannya, tidak mudah menerima sesuatu pendapat orang lain secara begitu saja, selalu mencari masukan para ahli, pendapat independen bahkan rela membayar mahal, hingga ia lebih mampu menghasilkan.

Orang miskin cenderung hanyut dengan gambaran sporadis menyenangi televisi layar besar agar bisa jelas melihat penyajian mimpi-mimpi indah dan senang bergunjing. Sebaliknya Orang kaya menyukai perpustakaan besar senang membaca memanfaatkan waktu untuk  hal-hal yang menguntungkan. Kerap mengasah melatih pikiran demi memahami dirinya dan orang lain serta lingkungannya hingga bahkan kehidupan peradaban dunia.

Persfektif yang benar mengenai orang kaya dapat Anda pelajari dari orang-orang kaya dan menerapkannya agar Anda dapat mencapai impian Anda dan menjadi kaya.