Selasa, 08 Desember 2015

Berpikir Tidak Akan Mengatasi Rasa Takut Tetapi Tindakan Yang Akan

“Kendala di jalan lintasan”. Alkisah seorang raja mencuba mencari tahu tingkat kepedulian rakyatnya, ia meletakkan sebongkah batu besar di tengah jalan perlintasan yang menghalangi kenyamanan perjalanan warganya. Dari tempat tertentu ia bersembunyi dan mengamati perilaku tiap pelintas, apakah ada yang bersedia menyingkirkannya? apakah ada yang sudi berlelah-lelah menyingkirkan bongkahan batu itu dan memindahkannya dari tengah jalan. Ia haus akan sesuatu – masih kah ada yang peduli terhadap sesamanya?

Ia mengamati para pedagang – pedagang kaya yang memilih melintas memutari bongkahan menghindar dari sisi satunya. Menggerutu tak henti, pungutan pajak kian hari naik dan bertambah tetapi mengurus jalan pun tidak becus. Tak lama berselang, beberapa pejabat pembesar kerajaan melintas, terhenti terhalang bongkahan, mengomel panjang lebar tak henti sembari mengamati bongkahan. Pelan memaki sang Raja yang berkuasa, dinilai tidak becus mengurus jalan perlintasan dan malah membiarkan bongkahan batu menghalangi jalanan. Baik pedagang maupun pejabat pembesar istana yang dikenal kaya raya hanya menghindar dan mengumpat tanpa tindakan.

Menjelang senja, petani desa tertatih-tatih melintas menggendong bawaan beban sayur mayur kebutuhan untuk dijual ke pusat keramaian, tiba dibongkahan ia berhenti. Dengan sigap meletakkan bebannya, berupaya keras selangkah demi selangkah menggoyang dan menyingkirkan bongkahan dari tengah jalan hingga ke sisi satunya untuk tidak menghalangi perjalanannya. Setelahnya, bergegas mengangkat beban sayurannya berkemas hendak melanjutkan perjalanan. Ia melihat bungkusan terletak di tanah di bekas dudukan bongkahan. Bungkusan koin emas dengan catatan Raja bahwa emas itu adalah hadiah bagi siapa saja yang bersedia menyingkirkan bongkahan perintang jalan itu. Ungkapan terima kasih karena peduli terhadap sesamanya. Dengan lugunya petani memungutnya dan melanjutkan perjalanan, menjual sayurannya dan singgah menghadap punggawa kerajaan untuk menyerahkan kembali bungkusan berikut catatan yang menyertainya.

Kesediaan si petani mengatasi sendiri bongkahan yang merintangi perjalanannya berhasil melampaui tujuan awalnya, menegaskan bahwa sesungguhnya kita tidak mengetahui manfaat tambahan dari rentetan hal baik yang kita lakukan. Sejatinya kita tidak pernah bisa mengerti akan tiap hal. Tiap rintangan penghalang diyakini menyajikan kesempatan untuk kita bisa memperbaiki keadaan serta kondisi kita. Dan itu bisa didapat jika kita dipenuhi pemikiran positif dan menjauhkan dorongan pemikiran negatif. Apa yang dibutuhkan untuk menghilangkan rintangan?.

Dimulai dengan memelihara pikiran yang terbuka untuk ide-ide dan proses baru, bertindaklah dengan kemampuan yang ada, bersedia mempelajari keterampilan baru. Berhenti membuang waktu jika hanya untuk menyalahkan keadaan, awali dengan bekerja dan lupakan hasil akhir. Langkah kecil akan menggiring langkah penting lainnya - tidak peduli seberapa kecil. Jangan berhenti dengan alasan sudah banyak pihak yang melangkah dengan menggunakan langkah-langkah raksasa. Jangan hentikan kaki Anda sebelum Anda dapat berjalan. Ulangi tiap langkah, jangan bosan mengulanginya berulang-ulang. Prestasi akan membayar lelah dan kejenuhan yang mendera.

Memahami itu bukan bagaimana Kita merasa tetapi tentang apa yang Kita lakukan yang membawa hasil. Kegembiraan akan membangun momentum pemicu tatakan keberhasilan. Tiap tindakan akan menambah percaya diri, tiap tindakan akan mengatasi rasa takut. Tiap tindakan menghadirkan peluang bertumbuh yang sering tak terduga. Tindakan akan menguji kekuatan kita bertahan dan mempertahankan komitmen.

Yakinlah: "Berpikir tidak akan mengatasi rasa takut, tetapi tindakan akan."
~Salam sukses selalu