“Kendala di jalan lintasan”. Alkisah seorang raja mencuba
mencari tahu tingkat kepedulian rakyatnya, ia meletakkan sebongkah batu besar
di tengah jalan perlintasan yang menghalangi kenyamanan perjalanan warganya. Dari
tempat tertentu ia bersembunyi dan mengamati perilaku tiap pelintas, apakah ada
yang bersedia menyingkirkannya? apakah ada yang sudi berlelah-lelah
menyingkirkan bongkahan batu itu dan memindahkannya dari tengah jalan. Ia haus
akan sesuatu – masih kah ada yang peduli terhadap sesamanya?
Ia mengamati para pedagang – pedagang kaya yang memilih
melintas memutari bongkahan menghindar dari sisi satunya. Menggerutu tak henti,
pungutan pajak kian hari naik dan bertambah tetapi mengurus jalan pun tidak
becus. Tak lama berselang, beberapa pejabat pembesar kerajaan melintas,
terhenti terhalang bongkahan, mengomel panjang lebar tak henti sembari mengamati
bongkahan. Pelan memaki sang Raja yang berkuasa, dinilai tidak becus mengurus
jalan perlintasan dan malah membiarkan bongkahan batu menghalangi jalanan. Baik
pedagang maupun pejabat pembesar istana yang dikenal kaya raya hanya menghindar
dan mengumpat tanpa tindakan.
Menjelang senja, petani desa tertatih-tatih melintas
menggendong bawaan beban sayur mayur kebutuhan untuk dijual ke pusat keramaian,
tiba dibongkahan ia berhenti. Dengan sigap meletakkan bebannya, berupaya keras
selangkah demi selangkah menggoyang dan menyingkirkan bongkahan dari tengah jalan
hingga ke sisi satunya untuk tidak menghalangi perjalanannya. Setelahnya, bergegas
mengangkat beban sayurannya berkemas hendak melanjutkan perjalanan. Ia melihat bungkusan
terletak di tanah di bekas dudukan bongkahan. Bungkusan koin emas dengan
catatan Raja bahwa emas itu adalah hadiah bagi siapa saja yang bersedia menyingkirkan
bongkahan perintang jalan itu. Ungkapan terima kasih karena peduli terhadap
sesamanya. Dengan lugunya petani memungutnya dan melanjutkan perjalanan,
menjual sayurannya dan singgah menghadap punggawa kerajaan untuk menyerahkan kembali
bungkusan berikut catatan yang menyertainya.
Kesediaan si petani mengatasi sendiri bongkahan yang merintangi
perjalanannya berhasil melampaui tujuan awalnya, menegaskan bahwa sesungguhnya kita
tidak mengetahui manfaat tambahan dari rentetan hal baik yang kita lakukan. Sejatinya kita tidak pernah bisa
mengerti akan tiap hal. Tiap rintangan penghalang diyakini menyajikan kesempatan
untuk kita bisa memperbaiki keadaan serta kondisi kita. Dan itu bisa didapat
jika kita dipenuhi pemikiran positif dan menjauhkan dorongan pemikiran negatif.
Apa yang dibutuhkan untuk menghilangkan rintangan?.
Dimulai dengan memelihara pikiran yang terbuka untuk
ide-ide dan proses baru, bertindaklah dengan kemampuan yang ada, bersedia
mempelajari keterampilan baru. Berhenti membuang waktu jika hanya untuk
menyalahkan keadaan, awali dengan bekerja dan lupakan hasil akhir. Langkah kecil
akan menggiring langkah penting lainnya - tidak peduli seberapa kecil. Jangan
berhenti dengan alasan sudah banyak pihak yang melangkah dengan menggunakan
langkah-langkah raksasa. Jangan hentikan kaki Anda sebelum Anda dapat berjalan.
Ulangi tiap langkah, jangan bosan mengulanginya berulang-ulang. Prestasi akan
membayar lelah dan kejenuhan yang mendera.
Memahami itu bukan bagaimana Kita merasa tetapi tentang
apa yang Kita lakukan yang membawa hasil. Kegembiraan akan membangun momentum
pemicu tatakan keberhasilan. Tiap tindakan akan menambah percaya diri, tiap
tindakan akan mengatasi rasa takut. Tiap tindakan menghadirkan peluang
bertumbuh yang sering tak terduga. Tindakan akan menguji kekuatan kita bertahan
dan mempertahankan komitmen.
Yakinlah: "Berpikir tidak akan mengatasi rasa takut,
tetapi tindakan akan."
~Salam sukses selalu