Rabu, 06 Januari 2016

Orang Bisa Sukses Jika Ia Berhasil Memahami Dirinya

"Nobody succeeds beyond his or her wildest expectations unless he or she begins with some wild expectations."
~Ralph Charell

http://www.sfi4.com/15634647/FREE

Jamak ditemukan pendapat yang menyatakan bahwa pemahaman diri tiap orang akan penalaran kepribadian dirinya umumnya tercermin pada tatacara kebiasaannya bertutur kata, semisal saat ia membahasakan dirinya. Pada lingkungan dengan budaya ketimuran lajim ditemukan penggunaan istilah kata ‘kami’ dan ‘saya’ untuk membahasakan dirinya. Terkadang sebagai ‘saya’ lain waktu ia menyatakan dirinya dengan istilah ‘kami’. Cara ini oleh pihak tertentu dinilai rancu dan membingungkan tetapi sebagian lain berpendapat bahwa pendapat yang sedemikian itu malah dianggap tidak memahami kultur ketimuran.

Kedua istilah itu diyakini mengusung tujuan makna yang berbeda, istilah kata ‘saya’ diartikan untuk membahasakan dirinya seorang saja, sedangkan istilah kata ‘kami’ ditujukan untuk membahasakan dirinya dan satu lainnya.

Pada bahasa Tasaw’uf istilah kata ‘saya’ dianggap untuk menyatakan keyakinan dirinya - seorang saja, terhadap ‘sesuatu’ hal yang nyata – nyata buruk dengan alasan berpotensi buruk. Dalam hal ini, harfiah dari ‘sesuatu’ itu dimaksudkan adalah untuk hal yang lahiriah saja. Sedangkan istilah kata ‘kami’ dimaksudkan untuk menyatakan keyakinannya atas sesuatu yang nyata – nyata buruk dengan alasan berpotensi baik. Dalam hal ini harfiah dari ‘sesuatu’ itu adalah untuk hal yang nyata-nyata buruk (lahiriah) dengan alasan baik (batiniah).
Istilah kata ’kami’ menjadi ungkapan untuk membahasakan dirinya bersama Tuhannya yang diyakini bersemayam di sanubarinya. Kata ‘Tuhan’ sendiri dalam konteks ini semata-mata lebih ditujukan untuk segala sesuatu yang dinilai baik karena didasarkan pada sesuatu keyakinan bahwa hanya yang baiklah yang datang dari Tuhan (prasangka baik dan berpikir positif akan Tuhan). Tiap penghakiman pun diamini terjadi atas dasar prasangka baik, bahkan berbagai peristiwa ketidakmujuran hingga kebangkrutan usaha pun diyakini mengusung tujuan baik. Untuk meningkatkan harkat martabat diri orang itu hingga ia berbeda dari orang satu lainnya. Kondisi ini semakin menegaskan bahwa bahasa keimanan (Tuhan) tidak bisa dijangkau dengan Akal manusia.

Ketika seseorang menggunakan istilah kata ‘kami’ maka ia ketika itu diduga memiliki sesuatu pemahaman bahwa bukan hanya ‘dirinya’ seorang saja yang berpendapat, tetapi ada sesuatu lainnya yang dipastikan berpendapat sama yakni ‘Tuhan’ nya. Hal inilah yang bagi pihak tertentu dianggap sebagai sesuatu yang rancu dan membingungkan.

Tak ubahnya bagaikan ‘kerancuan’ pada kalimat ‘berbohong yang baik’. Apa iya ada kebohongan untuk tujuan baik? Pengakuan akan adanya tindakan ‘berbohong yang baik’ seakan melawan ‘perintah Tuhan’. Ada yang bahkan menilainya sebagai suatu kecenderungan Akal manusia belaka yang lebih memilih durhaka kepada ‘khaliknya’ dengan menginterpretasikan sendiri ‘perintah Tuhan-nya’ untuk tujuan sesaat – semata-mata untuk kebutuhannya seorang saja. Hal ini tercermin pada alasan yang mendasari bahwa: ‘berbohong yang baik’ adalah jika itu dimaksudkan untuk tujuan: 1). untuk kebaikan bersama dan atau sesama; 2). sebagai bagian dari suatu strategi pemenangan; 3). demi keutuhan keluarga suami bohong ke istri atau sebaliknya. Pendapat sedemikian ini hidup berkembang di alam pemikiran orang per orang – terlepas apa pun agama atau keyakinannya. Sejatinya tidak ada yang salah akan hal itu, hanya saja bagi sebagian pihak perlu waktu untuk bisa memahaminya.

Orang-orang yang sukses cenderung membahasakan dirinya dengan menggunakan istilah kata ‘kami’. Pada konteks ini diyakini bahwa kesuksesan yang dicapainya tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, merasa tidak layak untuk mengklaim sukses keberhasilannya adalah oleh hanya karena prestasi dirinya semata. Diperlukan orang lain untuk bisa sukses, bahwa ada banyak pihak yang berkontribusi untuk ia bisa sukses dan berhasil - sekecil apa pun itu, yang pasti ada!.

Di bisnis SFI kita dididik untuk berhasil dengan memberhasilkan orang satu lainnya, menghindari kesalahan yang menghambat keberhasilan orang satu lainnya. Tidak ada formula tokcer untuk berhasil tetapi lebih cerdas memanfaatkan yang lebih baik adalah tahap awal keberhasilan.Demikian disadur dari berbagai sumber.
~Salam sukses selalu!

"Before you are a leader, success is all about growing yourself. When you become a leader, success is all about growing others."