~Ralph Charell
Jamak ditemukan pendapat yang
menyatakan bahwa pemahaman diri tiap orang akan penalaran kepribadian dirinya
umumnya tercermin pada tatacara kebiasaannya bertutur kata, semisal saat ia membahasakan
dirinya. Pada lingkungan dengan budaya ketimuran lajim ditemukan penggunaan istilah
kata ‘kami’ dan ‘saya’ untuk membahasakan dirinya. Terkadang sebagai ‘saya’ lain
waktu ia menyatakan dirinya dengan istilah ‘kami’. Cara ini oleh pihak tertentu
dinilai rancu dan membingungkan tetapi sebagian lain berpendapat bahwa pendapat
yang sedemikian itu malah dianggap tidak memahami kultur ketimuran.
Kedua istilah itu diyakini mengusung
tujuan makna yang berbeda, istilah kata ‘saya’ diartikan untuk membahasakan dirinya
seorang saja, sedangkan istilah kata ‘kami’ ditujukan untuk membahasakan
dirinya dan satu lainnya.
Pada bahasa Tasaw’uf istilah kata ‘saya’
dianggap untuk menyatakan keyakinan dirinya - seorang saja, terhadap ‘sesuatu’ hal
yang nyata – nyata buruk dengan alasan berpotensi buruk. Dalam hal ini, harfiah
dari ‘sesuatu’ itu dimaksudkan adalah untuk hal yang lahiriah saja. Sedangkan istilah
kata ‘kami’ dimaksudkan untuk menyatakan keyakinannya atas sesuatu yang nyata –
nyata buruk dengan alasan berpotensi baik. Dalam hal ini harfiah dari ‘sesuatu’
itu adalah untuk hal yang nyata-nyata buruk (lahiriah) dengan alasan baik
(batiniah).
Istilah
kata ’kami’ menjadi ungkapan untuk membahasakan dirinya bersama Tuhannya yang diyakini
bersemayam di sanubarinya. Kata ‘Tuhan’ sendiri dalam konteks ini semata-mata
lebih ditujukan untuk segala sesuatu yang dinilai baik karena didasarkan pada sesuatu
keyakinan bahwa hanya yang baiklah yang datang dari Tuhan (prasangka baik dan berpikir
positif akan Tuhan). Tiap penghakiman pun diamini terjadi atas dasar prasangka
baik, bahkan berbagai peristiwa ketidakmujuran hingga kebangkrutan usaha pun diyakini
mengusung tujuan baik. Untuk meningkatkan harkat martabat diri orang itu hingga
ia berbeda dari orang satu lainnya. Kondisi ini semakin menegaskan bahwa bahasa
keimanan (Tuhan) tidak bisa dijangkau dengan Akal manusia.
Ketika seseorang menggunakan istilah kata ‘kami’ maka ia ketika itu diduga memiliki sesuatu pemahaman bahwa bukan hanya ‘dirinya’
seorang saja yang berpendapat, tetapi ada sesuatu lainnya yang dipastikan berpendapat
sama yakni ‘Tuhan’ nya. Hal inilah yang bagi pihak tertentu dianggap sebagai sesuatu
yang rancu dan membingungkan.
Tak
ubahnya bagaikan ‘kerancuan’ pada kalimat ‘berbohong yang baik’. Apa iya ada
kebohongan untuk tujuan baik? Pengakuan akan adanya tindakan ‘berbohong yang
baik’ seakan melawan ‘perintah Tuhan’. Ada yang bahkan menilainya sebagai suatu
kecenderungan Akal manusia belaka yang lebih memilih durhaka kepada ‘khaliknya’
dengan menginterpretasikan sendiri ‘perintah Tuhan-nya’ untuk tujuan sesaat –
semata-mata untuk kebutuhannya seorang saja. Hal ini tercermin pada alasan yang
mendasari bahwa: ‘berbohong yang baik’ adalah jika itu dimaksudkan untuk
tujuan: 1). untuk kebaikan bersama dan atau sesama; 2). sebagai bagian dari suatu
strategi pemenangan; 3). demi keutuhan keluarga suami bohong ke istri atau
sebaliknya. Pendapat sedemikian ini hidup berkembang di alam pemikiran orang
per orang – terlepas apa pun agama atau keyakinannya. Sejatinya tidak ada yang
salah akan hal itu, hanya saja bagi sebagian pihak perlu waktu untuk bisa
memahaminya.
Orang-orang
yang sukses cenderung membahasakan dirinya dengan menggunakan istilah kata
‘kami’. Pada konteks ini diyakini bahwa kesuksesan yang dicapainya tidak
terlepas dari dukungan berbagai pihak, merasa tidak layak untuk mengklaim sukses
keberhasilannya adalah oleh hanya karena prestasi dirinya semata. Diperlukan orang
lain untuk bisa sukses, bahwa ada banyak pihak yang berkontribusi untuk ia bisa
sukses dan berhasil - sekecil apa pun itu, yang pasti ada!.
Di bisnis SFI kita dididik untuk berhasil dengan memberhasilkan orang satu lainnya, menghindari
kesalahan yang menghambat keberhasilan orang satu lainnya. Tidak ada formula
tokcer untuk berhasil tetapi lebih cerdas memanfaatkan yang
lebih baik adalah tahap awal keberhasilan.Demikian
disadur dari berbagai sumber.
~Salam
sukses selalu!
"Before you are a leader, success
is all about growing yourself. When you become a leader, success is all about
growing others."





