Rasa takut adalah manusiawi, ia tumbuh berkembang di diri
tiap kita, Anda boleh menafikannya, meragukan kebenarannya tetapi rasa takut
diakui bisa menelan porsi ritme kehidupan. Ia hadir seiring pertumbuhan keinginan,
sejarah peradaban manusia mencatatkan bahkan Nabi utusan Allah pun dihinngapi
juga olehnya, dan rasa takut tidak mengenal gender. Maka bilamana Anda
dihinggapi rasa takut, Anda tak perlu bala bantuan tentara manapun untuk
melawannya, Anda tak perlu dukun untuk membasminya. Yang diperlukan hanyalah menguasai
diri terutama agar rasa takut itu tidak membebani langkah maju Anda, tidak
menguasai alam sadar nurani Anda. Anda bisa mengontrol nya tanpa harus
terbebani mengalahkannya.
Rasa takut bersemayam ditiap benak orang, Anda dan saya serta
kita semua. Ada pemeo yang bahkan mengakuinya, bahwa; bila seseorang masih
memiliki rasa takut itu pertanda bahwa orang itu masih sehat dan normal adanya,
bilamana tidak maka ia harus segera diperhadapkan ke dokter ahli kejiwaan dan
menjadi pasiennya. Ada berjuta ragam rasa takut dengan sejuta pengalaman pahit
yang ditimbulkannya, tetapi inti dari semuanya dapat dikupas dari akibat yang
ditimbulkannya.
Pada posting kali ini disajikan tiga jenis ‘rasa takut’
yang mendasar yakni; (1) takut gagal, (2) takut berhasil dan (3) takut remis.
Diakui ‘penyesalan’ menjadi buah akhir dari rasa takut yang mendera – ketakutan
dalam bentuk apapun buahnya dipastikan hanyalah menyesali rasa sesal yang
terakumulasi akhirnya berkubang menjadi lubang penyesalan.
1. TAKUT GAGAL:
Adalah normal bila tiap orang dihinggapi rasa takut
gagal, bahkan orang yang sudah sukses sekalipun malu-malu mengakuinya. Hanya
ada dua cara mengatasinya yakni menghadapinya dengan menerima kehadirannya
untuk kemudian membiarkannya malu tidak berhasil. Atau menghindarinya dan bersiap
menerima kenyataan ‘gagal dengan lapang dada’. Yang banyak adalah orang
bersikukuh memperjuangkan kepatutan alasannya bahwa apa dan bagaimanapun
usahanya pastilah akan sia-sia belaka; bahwa bila pun diperjuangkan pasti lah
gagal maka sebelum sang gagal tiba menerpa lebih baik memilih lari dari
gelanggang.
2. TAKUT BERHASIL:
Sepintas takut gagal seolah sama dengan takut berhasil,
hingga tiap orang cenderung mempersamakannya satu sama lain, namun bila disimak
lebih jauh rasa takut berhasil jauh lebih menyiksa dari perasaan takut gagal.
Ada yang berpendapat bahwa takut gagal menyiksa saat ketika akan mulai memulai
sesuatu, sedangkan rasa takut berhasil hadir ketika sedang ditengah kondisi
berjuang. Ketika ia diperhadapkan pada situasi dimana ia harus maju selangkah
lagi untuk meningkatkan gemilang keberhasilannya – dan ia terhenti dan
menyesali buah perjuangannya dinikmati oleh pihak lain yang berani meneruskan
langkahnya itu.
3. TAKUT REMIS:
Terdengar lucu memikat jika menggunakan istilah ‘REMIS’,
istilah ini populer pada jenis permainan ‘catur’ maksudnya adalah suatu situasi
dimana tidak seorang pun gagal dikalahkan tetapi tidak seorang pun berhasil
memenangkan permainan. Hasil akhir adalah remis. Dan menjadi semakin menarik
lagi jika ternyata ada rasa ‘takut remis’ menghinggapi perjalanan hidup orang
per orang. Penggunaan ‘takut remis’ adalah sebagai istilah kata pengganti untuk
‘takut berbagi’, dan ini adalah sesuatu yang umum dalam dinamika bisnis. Bahkan
ada yagn berpendapat bahwa ‘berbagi’ menjadi sesuatu keharusan, merupakan
cerminan dari keberhasilan pebisnis membangun jaringan networks usahanya.
Tingkat keuntungan dibagi atas dasar prinsip ‘win-win’, berbagi
secara proporsional yang dihitung berdasarkan kontribusi masing-masing atas
sesuatu proses, sedari tahap produksi, distribusi, marketing hingga penjualan.
Takut ‘Remis’ memaksa orang untuk menangani segenap tahapan, seiring perkembangan
usaha timbul permasalahan rentang pengawasan yang semakin meluas hingga tidak
terkendali. Proses pengawasan menelan habis keuntungan, yang semestinya bisa dihindarkan
jika berbagi dengan pihak satu lainnya dan memfokuskan usahanya pada satu tahapan
proses saja. Pada bisnis moderen situasi ‘takut remis’ dijawab dengan berbagai
bentuk kerjasama usaha semisal join operasi, join venture, join manajemen,
dll.
Perbedaan mencolok dari ketiganya adalah bahwa ‘rasa takut
gagal’ pada dasarnya hinggap lebih awal, dan ‘rasa takut berhasil’ timbul ditengah
situasi berjuang, sedangkan ‘rasa takut remis’ oleh kekuatiran berbagi
kelimpahan potensi hasil yang masih belum nyata. Kesamaannya tiap satu dari
padanya hanya menghasilkan rasa sesal yang menyesak.
We need to increase our knowledge base about how to become successful.
~Salam sukses selalu
