Senin, 07 Desember 2015

Takut Menghadapi Rasa Ketakutan Dalam Bisnis

Rasa takut adalah manusiawi, ia tumbuh berkembang di diri tiap kita, Anda boleh menafikannya, meragukan kebenarannya tetapi rasa takut diakui bisa menelan porsi ritme kehidupan. Ia hadir seiring pertumbuhan keinginan, sejarah peradaban manusia mencatatkan bahkan Nabi utusan Allah pun dihinngapi juga olehnya, dan rasa takut tidak mengenal gender. Maka bilamana Anda dihinggapi rasa takut, Anda tak perlu bala bantuan tentara manapun untuk melawannya, Anda tak perlu dukun untuk membasminya. Yang diperlukan hanyalah menguasai diri terutama agar rasa takut itu tidak membebani langkah maju Anda, tidak menguasai alam sadar nurani Anda. Anda bisa mengontrol nya tanpa harus terbebani mengalahkannya.

Rasa takut bersemayam ditiap benak orang, Anda dan saya serta kita semua. Ada pemeo yang bahkan mengakuinya, bahwa; bila seseorang masih memiliki rasa takut itu pertanda bahwa orang itu masih sehat dan normal adanya, bilamana tidak maka ia harus segera diperhadapkan ke dokter ahli kejiwaan dan menjadi pasiennya. Ada berjuta ragam rasa takut dengan sejuta pengalaman pahit yang ditimbulkannya, tetapi inti dari semuanya dapat dikupas dari akibat yang ditimbulkannya.

Pada posting kali ini disajikan tiga jenis ‘rasa takut’ yang mendasar yakni; (1) takut gagal, (2) takut berhasil dan (3) takut remis. Diakui ‘penyesalan’ menjadi buah akhir dari rasa takut yang mendera – ketakutan dalam bentuk apapun buahnya dipastikan hanyalah menyesali rasa sesal yang terakumulasi akhirnya berkubang menjadi lubang penyesalan.

1. TAKUT GAGAL:
Adalah normal bila tiap orang dihinggapi rasa takut gagal, bahkan orang yang sudah sukses sekalipun malu-malu mengakuinya. Hanya ada dua cara mengatasinya yakni menghadapinya dengan menerima kehadirannya untuk kemudian membiarkannya malu tidak berhasil. Atau menghindarinya dan bersiap menerima kenyataan ‘gagal dengan lapang dada’. Yang banyak adalah orang bersikukuh memperjuangkan kepatutan alasannya bahwa apa dan bagaimanapun usahanya pastilah akan sia-sia belaka; bahwa bila pun diperjuangkan pasti lah gagal maka sebelum sang gagal tiba menerpa lebih baik memilih lari dari gelanggang.

2. TAKUT BERHASIL:
Sepintas takut gagal seolah sama dengan takut berhasil, hingga tiap orang cenderung mempersamakannya satu sama lain, namun bila disimak lebih jauh rasa takut berhasil jauh lebih menyiksa dari perasaan takut gagal. Ada yang berpendapat bahwa takut gagal menyiksa saat ketika akan mulai memulai sesuatu, sedangkan rasa takut berhasil hadir ketika sedang ditengah kondisi berjuang. Ketika ia diperhadapkan pada situasi dimana ia harus maju selangkah lagi untuk meningkatkan gemilang keberhasilannya – dan ia terhenti dan menyesali buah perjuangannya dinikmati oleh pihak lain yang berani meneruskan langkahnya itu.

3. TAKUT REMIS:
Terdengar lucu memikat jika menggunakan istilah ‘REMIS’, istilah ini populer pada jenis permainan ‘catur’ maksudnya adalah suatu situasi dimana tidak seorang pun gagal dikalahkan tetapi tidak seorang pun berhasil memenangkan permainan. Hasil akhir adalah remis. Dan menjadi semakin menarik lagi jika ternyata ada rasa ‘takut remis’ menghinggapi perjalanan hidup orang per orang. Penggunaan ‘takut remis’ adalah sebagai istilah kata pengganti untuk ‘takut berbagi’, dan ini adalah sesuatu yang umum dalam dinamika bisnis. Bahkan ada yagn berpendapat bahwa ‘berbagi’ menjadi sesuatu keharusan, merupakan cerminan dari keberhasilan pebisnis membangun jaringan networks usahanya.
Tingkat keuntungan dibagi atas dasar prinsip ‘win-win’, berbagi secara proporsional yang dihitung berdasarkan kontribusi masing-masing atas sesuatu proses, sedari tahap produksi, distribusi, marketing hingga penjualan. Takut ‘Remis’ memaksa orang untuk menangani segenap tahapan, seiring perkembangan usaha timbul permasalahan rentang pengawasan yang semakin meluas hingga tidak terkendali. Proses pengawasan menelan habis keuntungan, yang semestinya bisa dihindarkan jika berbagi dengan pihak satu lainnya dan memfokuskan usahanya pada satu tahapan proses saja. Pada bisnis moderen situasi ‘takut remis’ dijawab dengan berbagai bentuk kerjasama usaha semisal join operasi, join venture, join manajemen, dll.  

Perbedaan mencolok dari ketiganya adalah bahwa ‘rasa takut gagal’ pada dasarnya hinggap lebih awal, dan ‘rasa takut berhasil’ timbul ditengah situasi berjuang, sedangkan ‘rasa takut remis’ oleh kekuatiran berbagi kelimpahan potensi hasil yang masih belum nyata. Kesamaannya tiap satu dari padanya hanya menghasilkan rasa sesal yang menyesak.
We all here because it is works - a Click to check!
We need to increase our knowledge base about how to become successful.
~Salam sukses selalu