Rabu, 14 Februari 2018

Rahasia MOTIVASI yang Perlu diKetahui

"Happy are those who dream dreams and are ready to pay the price to make them come true."
~Leon J. Suene

"Berbahagialah mereka yang memimpikan impiannya dan siap menebusnya agar bisa menjadi kenyataan."~Leon J. Suene.
Menginspirasi, bahwa tatkala hidup kita sulit terkadang timbul pemikiran bahwa hidup kita tak akan pernah berubah. Sangat membebani hingga kita kesulitan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan menuju kearah perubahan. Manakala hidup terasa berat tetaplah fokus pada tujuan, jangan berpaling dari hal-hal yang menjadi impian hati kita. Bagaimanapun kesulitan itu pasti akan berlalu.

“Mungkin saya belum tepat berada persis ditempat yang saya impikan tetapi melihat kembali kebelakang, saya bahagia bisa sampai sejauh ini – sungguh sesuatu yang saya syukuri, tiap saat seiring detak nadi darahku”.

Ungkapan bijak - saya lupa membacanya dimana, tetapi tertanam dalam-dalam dibenak saya. Seolah memberitahu bahwa terkadang kita menutup diri hingga terkesan seolah tak punya pilihan selain menjalani rutinitas hidup, hingga tiba-tiba tersadar kita sudah melangkah menjauh dari himpitan beban yang menggelantung membebani hidup kita. Dan kita mengisi sisa perjalanan hidup kita dengan syukur yang tiada terhingga. Membuat kita terdorong untuk berbagi kepada sesama,

Bahwa:
1. “Keberhasilan Tidak Tergantung Pada Jumlah Modal Yang Kita Punya”:
Punya uang banyak adalah anugrah, menjadikan kita lebih leluasa membuka bisnis menuju sukses. Punya gelar titel tinggi memang benar adalah karunia, bisa membuat kita lebih percaya diri memilih karir yang mencengangkan. Tetapi, walau dengan keterbatasan uang bahkan bertitel seadanya pun, bukan berarti pintu sukses tertutup untuk kita. Kita hanya perlu melipatgandakan kemauan kita dan memenuhinya dengan akal serta kerja keras. Anda boleh tidak percaya, tetapi peradaban dunia telah mencatat sejarahnya bahwa orang yang punya keterbatasan yang malah berhasil menembus batas keberhasilan. Sukses tak terhingga!

Diduga mereka berhasil menerapkan prinsip dasar sederhana, yakni: bahwa daripada membiarkan rasa takut akibat keterbatasan menghentikan langkah dan kemauan, akan lebih baik menjadikannya sebagai tambahan tantangan yang harus ditaklukkan. Kreatifitas menjadi kunci utama!

Bahwa:
2. Jangan pernah berhenti hanya oleh karena: “Selanjutnya Apa?”:
Banyak yang semangat kala memulai, seketika terhenti tatkala diperhadapkan pada situasi “Selanjutnya Apa?”, waduh,,,,!
Memilih berhenti tidak melanjutkan usahanya, hanya karena khawatir didera rasa cemas yang menghantui – Selanjutnya Apa? seolah tak putus tantangan menghadang. Mengganti bisnisnya dengan jenis usaha yang katanya lebih dia kuasai – aturan mainnya.

Yang terus fokus tidak mau berhenti hanya karena harus memahami sesuatu yang baru. Walau takut-takut tetapi siap membuka diri menghadapi tantangan baru hingga akhirnya sukses. Fokus menuju tujuan yang diinginkan.

Banyak yang memilih kesulitan demi terlepas dari derita beban rasa takut akan hal baru – sesuatu yang baru yang sama sekali tidak diketahuinya terasa menyeramkan. Memilih keluar walau rugi sejumlah tertentu (saat ini) karena itu dianggap lebih bisa diterima akal daripada nanti bisa kian semakin merugi - engga jelas. Berhenti tidak mau keluar dari zona nyaman.

Bahwa:
3. Jangan berhenti menciptakan “jaringan lingkaran sehat”:
Ketika rasa takut menghantui salah satu cara terbaik yang disarankan adalah dengan bertanya pada tiap orang disekitar lingkungan kerja kita, lebih positif dan menyehatkan. Terkadang kita tidak perlu jawaban lengkap untuk bisa memutuskan langkah berikutnya, bahkan terkadang rencana yang ada kurang memadai menghadapi situasi ditahapan tertentu. Tetapi lingkungan yang positif akan membantu untuk memutuskan yang terbaik.

Orang dilingkungan kerja bisa menjadi sumber ilham, menjadi sumber ide gagasan baru yang diperlukan menghadapi berbagai tantangan, tetapi jangan terlena, jangan sampai kita ragu akan kemampuan diri sendiri hingga melumpuhkan langkah bisnis kita. Hati-hati adalah kunci keberhasilan!

~salam Motivasi!
JoinMySFIteam
 

Rabu, 07 Februari 2018

Menjadi Rentan Sangat Berbahaya!

-->
"Do not wait; the time will never be 'just right.' Start where you stand, and work with whatever tools you may have at your command, and better tools will be found as you go along."
~Napoleon Hill

Email seseorang membuatku tertegun mengalihkan perhatian karena mengusung sesuatu hal penting - untuk disimak!
Katanya, ketika berusia dua puluhan, saya memiliki visi seolah berharap hidup ini hanya akan berjalan mengikutkan lorong lingkar memutar, masuk dan terjebak. Kegagalan demi kegagalan Saya pelajari ulang hingga merasa bahwa saya tidak pernah sukses. Mengingat-ingat kembali mimpi yang dialami. Dicekam rasa takut, Saya bahkan mengurung diri agar jangan sampai pernah bahagia dicinta dan mencinta. Saya menghabiskan waktu dengan merenung tertanya-tanya; ada gerangan apa hingga kehidupan ini begitu menyedihkan?”.

Nelangsa! Didekap keyakinan beracun. Selang beberapa waktu, saya tergerak memunguti kembali ceceran nurani sembari menghindar dari jebak kekosongan jiwa. Menyibukkan diri dan saya berhasil menemukan lagi jati diri. Ini saya sampaikan karena saya tahu Anda  pun tengah berjuang mengusir si iblis yang meracuni nurani Anda. Dan kita semua melakukannya!

Telah banyak peristiwa yang saya telah hadapi hingga tahu bagaimana perihnya dihimpit keyakinan yang beracun. Kini saya ingin berbagi.

#“Masa lalu adalah indikasi saat ini”:
Pikiran cenderung menganggap peristiwa masa lalu kelak akan kembali menimpa dan akan kian banyak peristiwa yang sama menimpa.

Untuk beberapa alasan aneh, hal mengingat-ingat masa kelam seperti itu tidak terjadi jika keadaan berjalan baik. Hilang jika hidup penuh sukacita - menyenangkan. Tetapi disaat kita tengah berjuang, bayang-bayang buruk masa lalu kian mudah menumpuk. Semakin larut terhanyut, pikiran kita sendiri kian ikut membebani bahkan dipenuhi ramalan serba tidak menyenangkan.

Semakin dibiarkan semakin kita tersudut, semakin tenggelam seolah kita sendiri yang berupaya menghidupkan kembali kegetiran peristiwa masa lalu. Itu yang memicu persepsi yang seharusnya tidak perlu ada sejak sedari awal.

#“Sudah terlambat untuk melakukan perubahan”:
Pikiran kerap membuat kita memelihara perilaku buruk. Seolah tidak ada yang tepat. Seolah kehidupan ini adalah garis lurus bersambung tidak putus-putus.

Meski sadar bahwa tiap peristiwa ada waktu masa terjadinya. Dan bahkan peradaban dunia pun ada era terjadinya, tiap sejarah tunduk pada ketentuan waktu saat terjadinya peristiwa – pada jamannya. Tetapi tekanan teman dan dorongan keluarga serta tekanan beban pekerjaan dan image ditengah masyarakat bisa membuat kita merasa hancur.

Jika menganggur tidak punya pekerjaan, hubungan keluarga yang retak, gaya hidup yang tidak senonoh bahkan jika ada perbedaan usia yang tidak sepadan pun, bisa membuat kita merasa bersalah. Dan berpikir, diri kita entah bagaimana telah begitu rusak.

Itu tidak benar - sama sekali salah! Karena kita boleh mundur, kita bahkan diijinkan mencari tahu borok kelakuan yang salah, diberi waktu menata ulang kehidupan. Diberi dispensasi tambahan waktu - jika membutuhkannya.

Meski hidup tak beraturan seolah pasang surut zig-zag berantakan, itu pertanda kita tengah tumbuh - sedang berupaya. Tak ubahnya ketika menyusuri jalanan, terlihat naik turun bergelombang mengikutkan permukaan jalanan hingga disuatu ketika kita putuskan mengubah arah – agar nyaman, dan itulah hidup.

Hidup adalah tumpukan pengalaman bersambungan dari satu momen ke etape momen berikutnya. Jadi apapun dirimu sekarang ini ketahuilah itu akan berubah jika kita menginginkannya. Malah terkadang hanya perlu memilih sesuatu yang baru.

#“Menjadi rentan sangat berbahaya”
Pikiran cenderung menghantui, takut berkata jujur! Khawatir menyampaikan. Cenderung diam, memilih membiarkan orang lain tahu apa artinya itu bagi kita. Dan ini tidak sehat!

Cinta dan Kebahagiaan mengakibatkan kerentanan. Ini tidak dimaksudkan untuk memoles diri agar tidak terlihat buruk, tetapi tentang kekasaran diri yang kerap kita sembunyikan dari realitas dunia. Kita tak pernah jujur menilai dunia, sulit karena kejujuran beresiko tinggi. Bisa-bisa kita diblokir pergaulan, kehilangan teman atau malah dikucilkan keluarga.

Tetapi, ketahuilah mempertaruhkan sesuatu yang berharga tidak akan aman! Apalagi Cinta dan Kebahagiaan partus dari diri kita sendiri. Sangat berharga tak heran jika kita rentan karenanya. Dan itu terjadi merata menimpa semua. Dan kita perlu berjuang melepaskan diri dari himpitan ini agar bisa hidup lebih baik dan berpikir jernih. Jujur menjalani hidup dan terbebas dari sakit hati.

Kembangkan kapasitas pribadi walau terkadang kita tak tahu apa yang sesungguhnya kita inginkan namun waktu pasti akan menjawabnya!

~salam Berubah!
JoinMySFIteam!
 

Senin, 05 Februari 2018

Kewenangan Hidup!

"A person struggles. You help. A door needs to be opened. You open it. A piece of trash is in your path. You pick it up and throw it away. A child needs some extra attention. You give it. A job needs to be completed. You do it. One more act of kindness a week will add 52 moments of inspiration to your year. Push it to two a week and you add more than 100. Imagine the possibilities."
~Sam Parker and Mac Anderson

Konon tanpa kemajuan hidup akan mandek menjadi depresi. Satu-satunya yang konstan dalam hidup adalah perubahan, jadi jika kita tak berminat mengembangkan bakat keterampilan, hidup akan stagnan.

Baru-baru, ada teman yang memberi wejangan perihal Kunci Istimewa, olehnya disampaikan Kunci ini mampu menghadirkan kebahagian, menjadikan kita lebih percaya diri. Dunia seolah menjadi pemandangan yang menakjubkan. Mengagumkan!

Katanya, kita harus selalu ingat hidup kita sangat unik dan istimewa apalagi kita telah diberkahi benih kebesaran. Punya tujuan masing-masing dan kita telah diberi pekerjaan dan tidak ada orang lain yang bisa melakukannya sebaik kita! Dibekali bakat dan diberikan ukuran iman untuk melakukan apa yang Dia minta untuk kita lakukan. Meski berbeda tetapi itu menjadikan perbedaan yang indah.

Jika pun kita diperhadapkan pada perbantahan hingga penolakan, tetapi kita harus terus yakin melangkah maju.

Daripada fokus membuat alasan mengapa kita tidak bisa melakukan apa yang ingin kita lakukan, akan lebih bermanfaat jika kita fokus mencari satu saja alasan - mengapa kita bisa melakukannya! Lebih mudah melakukan satu hal daripada memelihara alasan untuk menunda-nunda tiap-hal.

Kita harus percaya betapa diri kita ini tidak selemah yang dikhawatirkan. Ketika kita benar-benar percaya, tak akan ada yang bisa menghentikan upaya kita mencapai apa yang diinginkan.

Kemauan menjadi awal pemicu rasa percaya diri, dan itu akan membangun Niat dan Kesempatan. Meski penolakan tak putus berkesinambungan namun dengan keuletan akan menggiring sukses keberhasilan berpihak ke kita.

"You can experience rejection for free or you can do it for money. Nobody likes rejection but it is a fact of life in just about every thing you do. In business, deal with it or stay poor."
~Jack M. Zufelt

Katanya - lagi, kita harus yakin kala satu pintu tertutup akan ada pintu lain yang terbuka menuju keberhasilan. Kita bahkan tidak pernah berpikir untuk bisa mencapainya dengan berbagai cara yang berbeda. Tetapi rasa percaya diri akan mengarahkan semua dukungan. Partus-lah motivasi dan inspirasi!

Bahkan keberhasilan orang lain akan menjadikan orang satu lainnya menjadi lebih percaya diri melakukan yang lebih baik untuk mereka. Sejarah peradaban telah mencatatkannya!

Pengalaman pahit seolah pelatihan unik. Kesalahan kegagalan menginspirasi pemanfaatan semua materi, menjadikan tiap hal menjadi sangat berharga. Akumulasi rasa ingin tahu menjadi pengetahuan lebih trampil membangun hal yang lebih berarti. Hidup adalah pengulangan!

Alasan ketiadaan modal yang dinilai kerap menjadi ganjalan terjawab dengan gelora keinginan bekerjasama dengan orang lain. Tiap orang akan memerlukan orang satu lainnya, berkelompok dan membangun aturan sosial. Itulah yang menghadirkan kewenangan hidup! Yakni, tak lelah memberangus penghambat keberhasilan!

Yang berwenang paham akan hal itu!

"Obstacles are like wild animals. They are cowards but they will bluff you if they can. If they see you are afraid of them...they are liable to spring upon you; but...if you look them squarely in they eye, they will slink out of sight."
~Orison Swett Marden

~salam Yang berWenang!
JoinMySFI-It is Free


Kamis, 01 Februari 2018

Hidup Menjadi Lebih Berarti!

-->
"As long as you know what it is you desire, then by simply affirming that it is yours - firmly and positively, with no ifs, buts, or maybes - over and over again, from the minute you arise in the morning until the time you go to sleep at night, and as many times during the day as your work or activities permit, you will be drawn to those people, places, and events that will bring your desires to you."
~Scott Reed

Konon katanya tipikal individu perseorangan cenderung terbagi kedalam 3 (tiga) kategori, Yakni:

1) Yang ber-Orientasi pada Tugas:
Yaitu mereka yang kehidupannya monoton terjebak dalam pusaran kegiatan melaksanakan pekerjaan sesuai “daftar kegiatan yang harus dikerjakan (to-do-list)”. Tiap saat melakukan hal yang sama, berulang-ulang secara terus-menerus terhanyut dalam kehidupan - Demi Tugas!

2) Yang ber-Orientasi pada Tujuan:
Disematkan kepada individu yang setiap saat fokus pada “apa target yang harus dicapai”. Kesehariannya dimulai dengan Target, target,,, istirahat tidur bangun keesokan harinya dengan ‘apa target?’ Hidup untuk tujuan tanpa pernah menikmati proses pencapaian saat melakukannya.

3) Yang berOrientasi pada Fungsional-nya:
Yakni perorangan yang tiap saat menyelaraskan aktivitasnya sesuai panggilan talentanya. Semata-mata hanya itu. Tidak ada minat lain! Tidak ada keinginan lain. Tiap hal harus sesuai bakatnya yang dia anggap sebagai panggilan jiwa! Merekalah penikmat hidup yang begitu-begitu saja - hingga tiba waktunya.

Konon ketiga kategori diatas perlu dilengkapi dengan kategori ke-empat, Yakni:

4) Yang ber-Orientasi pada Keseimbangan:
Disebut begitu karena kesehariannya diisi dengan kegiatan lebih pada upaya menjaga keseimbangan alam dan pengisinya. Nyaris tanpa tujuan tanpa tugas, pun tidak bersedia diserahi penugasan, bahkan fungsional-nya sebagai individu perseorangan pun diabaikan.

Dikalangan pencinta damai mereka dielu-elukan sebagai tokoh pengusung cinta pembopong kasih sayang. Tetapi bagi kalangan pejuang mereka diberi stigma sebagai individu mati rasa, tak bernyali - tapi ingin dicinta.

Mengisi kehidupannya dengan prinsip dasar keseimbangan. Memelihara kuat pemahaman bahwa tiap hal yang diambil dari alam seyogianya dikembalikan lagi dalam bentuk yang menurutnya setara mengikutkan konsekwensi logis berdasarkan standar ukuran pribadinya.

Dalam banyak peristiwa kategorial ini disanjung selangit untuk kemudian dicerca kala menerima pendapat bahwa kedamaian pun hanya akan bisa dicapai dengan jalan kekerasan - perang. Realitas! dan itu telah ada sejak manusia mendokumentasikan sejarah peradabannya.

Kita disarankan untuk berupaya mengenal jati diri agar tahu masuk kategori yang keberapa? tujuannya untuk menyelaraskan visi jiwa dengan impian kita. Agar hidup menjadi terbarukan, menjadi lebih bisa menerima keadaan serta menjadi lebih percaya diri dan tidak lagi mencemaskan ketidaksempurnaan. Menjadi lebih leluasa memahami muasal keterjadian sesuatu peristiwa. Perjalanan hidup kita akan dipenuhi intuitif belas kasih berkelimpahan cinta dengan didukung kesadaran bahwa diri kita adalah manifestasi dari Yang Ilahi.

Hidup menjadi lebih berarti!

"Take a second look at what appears to be someone's 'good luck.' You'll find not luck but preparation, planning, and success-producing thinking... "
~David Joseph Schwartz

~Salam Berarti!
FREE
 

Jumat, 26 Januari 2018

Ciri-Khas INVESTOR Yang Realistis!

-->
“If you really want something, and really work hard, and take advantage of opportunities, and never give up, you will find a way."
~Jane Goodall, Anthropologist

Tidak banyak yang berminat mendanai bisnis start-up pemula, umumnya menghindar dengan alasan “tidak trampil dan minus pengalaman”. Realistis jika sulit untuk Pemula mendapat sokongan modal.

Satu dua wiraswasta sukses menyadari diawal-awal pun mereka pernah terhempas pasang surut, sukses kala ada kesempatan, teruji oleh waktu. Tahu bahwa Pemula pun akan sukses jika diberi kesempatan apalagi jika bermitra dengan Operator berpengalaman. Realistis jika mereka berminat mendanai bisnis Pemula dan menjadi Investor realistis.

Layaknya pemandu sorak disuatu pertandingan mereka tidak sungkan turun langsung memandu. Rela menghadiri pertemuan reguler dengan bagian produksi marketing distribusi serta penjualan. Turut menambahkan nilai pada bagian unsur perusahaan, menjembatani kesenjangan pengalaman dan tak lelah menggali detil informasi bagian mana yang memerlukan perbaikan.

Interaksinya tidak hanya mencari untung tetapi ikut membentuk sistim kaderisasi kepemimpinan. Menjadi cerminan bagaimana pemimpin harus aktif menyatu ke tiap unsur bagian.

Mereka berupaya mengenal Pemula sebagai individu, mencari tahu hal apa yang mengilhaminya berbisnis dan hal apa yang akan membentuk nilai yang diharapkan. Mereka perlu diyakinkan bahwa modal yang dia tanamkan akan menghasilkan nilai yang setara.

Investor realistis menyadari bahwa Pemula akan bekerja keras, akan totalitas untuk bisa mencapai hal yang tampaknya sulit diraih. Dan itu membuatnya terpanggil untuk membantu menyingkirkan rintangan, apalagi penanganan tertentu seringkali memerlukan pengalaman tersendiri.

Mereka siap menjadi sumber inspirasi emosional menghancurkan kekakuan intelektual saat pengambilan keputusan mengingat bisnis Pemula akan sangat menguras enerji, apalagi kerap tersandung berkali-kali. Diperlukan dukungan emosional agar Pemula tidak hilang harapan.

Investor realistis paham bahwa Visi-Misi adalah tujuan yang diartikulasikan dengan jelas hingga harus dikomunikasikan secara berulang-ulang dari-waktu-ke-waktu agar karyawan bahkan mitra pelanggan terinspirasi. Olehnya visi-misi diartikan sebagai nilai-nilai perusahaan yang harus diikuti secara konsisten.

Mereka tidak mengharuskan Pemula untuk tiap saat bisa menjawab tiap pertanyaan karena keputusan bisnis yang terbaik tidak selalu merupakan keputusan yang tercepat. Diperlukan ragam persfektif serta ketrampilan yang variatif sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan.

Investor realistis juga tahu ceritera tentang Investor yang dicap berkhianat karena meninggalkan Pebisnis-nya, tetapi baginya itu dianggap mewakili ketidak-paduan antara harapan Pendiri dengan pendana. Karenanya para pihak perlu komunikatif dan itu hanya jika keseimbangan yang tepat bisa tercapai.

Ciri khas-nya, mereka sangat menekankan bahwa bakat saja tidak akan menghantarkan Pemula ke tempat yang tepat diwaktu yang tepat. Bahkan “Keajaiban” pun memerlukan kerja keras, apalagi harus menjaga sikap positif, harus bertekun meski tengah dirundung masalah dihimpit kritik serta penolakan. Harus tetap fokus pada tujuan.

Jika tidak mau belajar takada yang bisa menolong namun jika bertekad untuk belajar takada yang bisa menghentikan. Dan itu realistis!

"If you are not willing to learn, no one can help you! If you are determined to learn, no one can stop you!"
~Zig Ziglar
JoinMySFIteam

~Salam realistis!

Senin, 22 Januari 2018

Berburu INVESTOR Yang Terbaik?

Don't be afraid to fail. Don't waste energy trying to cover up failure. Learn from your failures and go on to the next challenge. It's OK to fail. If you're not failing, you're not growing."
~H. Stanley Judd

Pebisnis pemula kerap terlihat mondar-mandir nubruk semua arah menggali berbagai tipikal informasi usaha untuk diracik, dipresentasikan keharibaan Investor. Penyajiannya terkadang dianggap berlebihan tak masuk akal - disadari ketika Investor menarik diri, batal berinvestasi.

Pebisnis paham pahit getirnya. Sedari proses indentifikasi, evaluasi hingga memperbandingkan informasi usaha sejenis dan substitusinya, menyusun estimasi perhitungan berdasarkan asumsi. Cenderung subjektif! Tujuannya hanya agar dilirik Investor – yang juga punya asumsi sendiri. Tak cocok, revisi lagi.

Ditolak lagi - revisi lagi! menjadi pengalaman tersendiri. Yang berjibaku memulai usaha kecil-kecilan, tertatih timbul tenggelam tanpa dukungan Investor. Namun banyak juga yang terlihat mudah menggaet Investor, bahkan gonta-ganti.

Beberapa Pebisnis ditinggalkan Investor karena salah paham. Bermula dari bertukar pemikiran hingga sepakat berbisnis ditafsirkan bagaikan hubungan kekerabatan. Berakhir saat Investor menarik modal karena Pebisnis masih menganggap Investor sebagai kerabat bukan sebagai profesional yang punya tanggungjawab legalitas fidusia.

Beberapa Investor mendanai Pebisnis ber-ekspansi dengan memperjelas batas ruang kekerabatan diantara keduanya. Dalam praktik malah menjadikan Pebisnis bingung, beberapa malah menghadapi tuntutan hukum karena modal usaha dipakai untuk membangun tugu patung moyang kakeknya. Kisah sedih jadinya!

Investor memposisikan Pebisnis sebagai rekanan untuk meraih untung, minimal remis - pulang pokok, sedangkan Pebisnis masih menganggap Investor sebagai kerabatnya. Seyogianya Pebisnis menyesuaikan diri mengikutkan dinamika aturan dunia usaha.

Investor memposisikan diri sebagai penantang sekaligus pendukung agar Pebisnis bertumbuh. Bahkan membimbingnya saat memutuskan jika harus keluar koridor – delapan enam, demi tuntutan bisnis! Pebisnis seyogianya tumbuh menjadi professional maupun secara pribadi.

Investor meninggalkan Pebisnis jika sembrono mengelola modal usaha. Beberapa malah harus mendepaknya keluar dari bisnis yang dirintisnya, menggantikannya dengan yang dinilai lebih berkompeten. Pahit!

Gambaran yang sebegitu pahit menjadikan beberapa Pebisnis memilih untuk tidak melaporkan tiap situasi sulit ke Investor. Berharap ketiban mukzijat untuk bisa membalikkan keadaan, gagal dan kian merugi. Harap-harap cemas! Memaksanya menjadi sangat tergantung pada keputusan Investor. Tiap hal dilaporkan – dirapatkan – mohon petunjuk? Tak berNyali. Terkesan tak bisa memimpin.

Dalam situasi sulit umumnya tiap Investor siap membicarakan alternatif jalan keluar. Memberikan dukungan rekomendasi untuk ditindaklanjuti – atawa ditolak? Sesulit apapun harus ada keputusan demi menyelamatkan perusahaan.

"The goal is not always meant to be reached, but to serve as a mark for our aim."
~Joseph Joubert

Prinsip saling menghormati membawa nilai tersendiri, menjadi kekuatan unik untuk menjembatani kesenjangan pengalaman serta pemahaman konstektual tentang dunia usaha.

Investor Terbaik paham itu!

"Talent alone won't make you a success. Neither will being in the right place at the right time, unless you are ready. The most important question is: 'Are you ready?'"
~Johnny Carson

~Salam Terbaik selalu!
JoinmySFIteam

Kamis, 18 Januari 2018

Yang Diburu Yang Terburuk dari Yang Terbaik?

"Success is getting what you want. Happiness is wanting what you get.”
~Haden

Dimana-mana yang diburu itu adalah Yang Terbaik. Mitologynya mencari yang paling baik dari kumpulan yang Terbaik – normalnya begitu. Kini ini, bertebaran fakta untuk disimak bahwa yang diburu adalah Yang Terburuk. Yakni pelaku yang berkelakuan buruk menyembunyikan borok kelakuan buruknya.

Yang Terbaik diduga - mungkin telah, melibatkan profesional untuk turut mengolah kelakuan buruknya – menjadikannya alot tak mudah diringkus. Bahkan walau telah kuat diduga berbuat buruk pun cuma mesem malenggang - tak terbukti. Malah menjadi pejabat penguasa Nagari.

Yang Terburuk terlihat amatiran, keok terseok-seok digelandang masuk kerangkeng. Didakwa segepok pasal - Pelanggaran!

Yang Terbaik, terkesan profesional. Maka patut diduga bahwa mereka mengerahkan Tukang Olah untuk memoles keburukannya. Dan Yang Terburuk, terkesan remeh anggap enteng akan perlunya layanan jasa profesional mengolah kelakuan buruknya. Lemas dihajar. Dikeruk lagi! Dianggap kurang dermawan berbagi hasil. Slurrrpp,,,malu!

Yang Terbaik, diappresiasi karena menerapkan prinsip kerjasama. Umumnya diperlakukan baik karena libido tinggi gairah berinvestasi. Tak soal muasal dana-nya darimana, apalagi ia tak ngotot mempersoalkan prosentase pembagian keuntungan. Prinsip bagi-bagi, yang penting cucian aman - tak tersentuh! Lima puluh lima puluh pun tak soal. Proyek bersih – bersih!

Yang Terburuk, dicap amatiran bak pesohor kesohor, terbaca sedari awal pertemuan kala Tukang Olah datang mengusung layanan jasanya. Tawaran bersih-bersih direspon curiga berlebihan, terkesan takut-takut tak tau malu. Minta waktu mikir-mikir. Kemudian mengundang lagi untuk dijejali tanya tentang ApaIni-ApaItu. Buruk nian - menjengkelkan!

Yang Terbaik, bersikap hati-hati. Santun minta ijin memaparkan alasan yang mendasari minatnya ber-investasi. Transparan, terkesan dipenuhi sesal tapi tak takut – memalukan! Tak terlalu perduli wangnya akan diinvestasikan ke proyek apa. Hanya minta agar bisa dikembalikan di tiga tahun mendatang! Tolong diatur ya,,,,! Elegan, tak heran jika banyak kalangan siaga menjaga kesehatannya.

Yang Terbaik, mengakui kian semakin banyak kemudahan yang diperoleh. Menjadikannya lebih lincah dan kian bergairah. Keruk lagi dan ber-investasi lagi. Statusnya menjadi repeat-client. Pertanda kerjasama terjalin rapi.

Agar terlihat pilon, enggan berlagak bak investor tokcer – riel player. Kerap minta dibuatkan uraian detil proyek yang dimodali - proyek apa itu?

Yang Terbaik, sigap memayungi kelakuannya dengan alat kelengkapan seperti ‘trouble-shooter’. Satgas yang dikatuai oleh Orang yang paham banyak hal tapi tak terlibat – tiap hal apapun. Itu saja!

Tugas si ‘trouble-shooter’ terkesan mudah. Sederhananya, jika investasi itu dirancang akan berbentuk ‘joint operation’ – akan dia lengkapi dengan satgas yang berperan sebagai ‘joint operation management committe’. Jika berbentuk ‘joint venture’ – maka akan dimasukkan langsung mendanai proyek yang tengah berlangsung. Dikawal satgas ber-Tupoksi sebagai ‘finance controller’. Professional lah - ‘segala bisa’!

Yang Terbaik, tak lelah berburu informasi tentang penyedia layanan jasa pendampingan sebagai ‘business arranger and strategic adviser’.

Waduh! Nyaris lupa jualan! Jadi rendong iseng membeberkan pernak pernik jagad raya permodalan – dan yang melingkarinya.

"Don’t let what you cannot do interfere with what you can do”.
~John Wooden

~Salam Terbaik selalu!
Join-mySFI-team

Minggu, 14 Januari 2018

Cara Profesional Mendapatkan Modal usaha?


"Nothing worthwhile come easily…Work, continuous work and hard work, is the only way to accomplish results that last.”
~Hamilton Holt

Lajimnya saya diundang ngopi santai untuk kemudian dijejali berbagai rupa macam Tanya - seputar jagad investasi. Berjam-jam dihajar soal dunia permodalan usaha.

Semisal, Bang saya ada sekian tolong taruh diproyek yang aman? Bang, tolong modal saya diamankan? Tolong carikan rekanan yang bisa dipercaya? Bang, tolong carikan modal tanpa bunga, tanpa proses bertele-tele? Oom, saya perlu daftar asset untuk tambahan jaminan? Oom, proyekku mandek, sudah habis-habisan, tolong carikan jalan?

Fokus interaktif mencungkil-cungkil jagad permodalan. Semua senada, berbeda pada cara ber-tanya-nya saja. Semisal; bagaimana saya bisa yakin kalau proyek ini bakal untung? Ada lagi; Bang orang ini teman dari teman keluarga - dari pihak istri, bawa proyek butuh sekian – tolong saya bagaimana agar bisa percaya orang ini benar kerjanya?

Yang spesifik repeat-client umumnya minta dibuatkan uraian gambaran detil dari sesuatu sistim yang memudahkannya mengawasi modalnya. Terkadang diundang untuk posisi ‘trouble-shooter’.

Tetapi,,, yang ini berbeda - jauh berbeda!

Kali ini dijejali keluh kesah sedari ragam proyek yang susah payah dikerjakan hingga ‘prosentase retensi’ yang bikin gundah.

Bang, itulah proyekku dan pernak-perniknya. Sebenarnya saya ini tengah nelangsa karena diperlakukan secara tidak senonoh. Terdiam!

Katanya, baru-baru saya tolak tawaran modal karena caranya kurang berkenaan -katanya– tidak dikenai bunga, tidak perlu jaminan. Simpel. Keuntungan dibagi tujuh puluh tiga puluh untuk saya. Tidak ada penarikan ditahun berjalan. Proyek selesai, diaudit, keuntungan di ‘deferred’ - untuk tambahan kapasitas.

Saya sudah serahkan CV, pengalaman kerja proyek dan copy rekening Bank setahun terakhir. Tetapi, dilongok pun tidak!

Katanya, jika ada SPMK - seberapa pun, dimodali. Sudah bertemu berkali-kali dengan A-2-nya, tangan kanan sipemodal.

Ini dari dia, joint operation agreement – tinggal tandatangan. Jika memilih joint venture – yang ini yang diteken. Langsung dimodali, besaran jumlahnya diisi di ‘formulir permintaan’ – ini suratnya.

Saya disodorkan bundel file - tanpa nama, hanya kuasa hukum saja. Tolong bantu bang, cari tahu siapa dibalik ini. Siapa dia? bandar apa? Tidak seyogianya saya dibeginikan - Saya ini profesional!

Saya diberi nama A-2-nya, No-Tel dan Email-nya. Saya langsung tahu - itu perusahaan baru kakaknya. Sekantong tapi dari botol yang berbeda. Pengusaha sukses juga.

Selang sehari, si kakak mengundang. Dia akui, itu dia tempuh karena lelah dengan keluhan si-mama-nya. Si-papa pengganti sudah tiada. Si-mama-nya Ngilu katanya melihat si-Adik lelah memodali proyeknya. Pulang larut saban waktu tak juga kaya raya. Sebagai si-kakak dia dianggap minus kasih sayang  - takada empaty!

Hingga akhirnya dia menugaskan orangnya mengusung tawaran modal dengan berbagai kemudahannya. Kaget dia ditolak karena aroma ketersinggungan. DNA-nya sama, dominan si-mama.

Saya tertantang situasional yang sedemikian unik. Bahwa, walaupun tiap pengusaha butuh modal namun mereka kukuh dengan etikanya sendiri. 

Masing-masing berjuang dengan gaya langkahnya sendiri.

"Nothing can add more power to your life than concentrating all of your energies on a limited set of targets”.
~Nido Qubein

~Salam professional!
It is FREE