"Do not wait;
the time will never be 'just right.' Start where you stand, and work with
whatever tools you may have at your command, and better tools will be found as
you go along."
~Napoleon Hill
Email seseorang membuatku tertegun mengalihkan perhatian karena
mengusung sesuatu hal penting - untuk disimak!
Katanya, ketika berusia dua puluhan, saya memiliki visi seolah
berharap hidup ini hanya akan berjalan mengikutkan lorong lingkar memutar, masuk
dan terjebak. Kegagalan demi kegagalan Saya pelajari ulang hingga merasa bahwa
saya tidak pernah sukses. Mengingat-ingat kembali mimpi yang dialami. Dicekam rasa
takut, Saya bahkan mengurung diri agar jangan sampai pernah bahagia dicinta dan
mencinta. Saya menghabiskan waktu dengan merenung tertanya-tanya; “ada gerangan apa hingga kehidupan ini begitu menyedihkan?”.
Nelangsa! Didekap keyakinan beracun. Selang beberapa
waktu, saya tergerak memunguti kembali ceceran nurani sembari menghindar dari jebak
kekosongan jiwa. Menyibukkan diri dan saya berhasil menemukan lagi jati diri. Ini
saya sampaikan karena saya tahu Anda pun
tengah berjuang mengusir si iblis yang meracuni nurani Anda. Dan kita semua
melakukannya!
Telah banyak peristiwa yang saya telah hadapi hingga tahu
bagaimana perihnya dihimpit keyakinan yang beracun. Kini saya ingin berbagi.
#“Masa lalu adalah
indikasi saat ini”:
Pikiran cenderung menganggap peristiwa masa lalu kelak akan
kembali menimpa dan akan kian banyak peristiwa yang sama menimpa.
Untuk beberapa alasan aneh, hal mengingat-ingat masa kelam
seperti itu tidak terjadi jika keadaan berjalan baik. Hilang jika hidup penuh
sukacita - menyenangkan. Tetapi disaat kita tengah berjuang, bayang-bayang
buruk masa lalu kian mudah menumpuk. Semakin larut terhanyut, pikiran kita sendiri
kian ikut membebani bahkan dipenuhi ramalan serba tidak menyenangkan.
Semakin dibiarkan semakin kita tersudut, semakin tenggelam
seolah kita sendiri yang berupaya menghidupkan kembali kegetiran peristiwa masa
lalu. Itu yang memicu persepsi yang seharusnya tidak perlu ada sejak sedari awal.
#“Sudah terlambat
untuk melakukan perubahan”:
Pikiran kerap membuat kita memelihara perilaku buruk. Seolah
tidak ada yang tepat. Seolah kehidupan ini adalah garis lurus bersambung tidak
putus-putus.
Meski sadar bahwa tiap peristiwa ada waktu masa
terjadinya. Dan bahkan peradaban dunia pun ada era terjadinya, tiap sejarah
tunduk pada ketentuan waktu saat terjadinya peristiwa – pada jamannya. Tetapi tekanan
teman dan dorongan keluarga serta tekanan beban pekerjaan dan image ditengah masyarakat
bisa membuat kita merasa hancur.
Jika menganggur tidak punya pekerjaan, hubungan keluarga
yang retak, gaya hidup yang tidak senonoh bahkan jika ada perbedaan usia yang tidak
sepadan pun, bisa membuat kita merasa bersalah. Dan berpikir, diri kita entah
bagaimana telah begitu rusak.
Itu tidak benar - sama sekali salah! Karena kita boleh mundur,
kita bahkan diijinkan mencari tahu borok kelakuan yang salah, diberi waktu menata
ulang kehidupan. Diberi dispensasi tambahan waktu - jika membutuhkannya.
Meski hidup tak beraturan seolah pasang surut zig-zag berantakan,
itu pertanda kita tengah tumbuh - sedang berupaya. Tak ubahnya ketika menyusuri
jalanan, terlihat naik turun bergelombang mengikutkan permukaan jalanan hingga
disuatu ketika kita putuskan mengubah arah – agar nyaman, dan itulah hidup.
Hidup adalah tumpukan pengalaman bersambungan dari satu momen
ke etape momen berikutnya. Jadi apapun dirimu sekarang ini ketahuilah itu akan berubah
jika kita menginginkannya. Malah terkadang hanya perlu memilih sesuatu yang
baru.
#“Menjadi rentan
sangat berbahaya”
Pikiran cenderung menghantui, takut berkata jujur! Khawatir
menyampaikan. Cenderung diam, memilih membiarkan orang lain tahu apa artinya itu
bagi kita. Dan ini tidak sehat!
Cinta dan Kebahagiaan mengakibatkan kerentanan. Ini tidak
dimaksudkan untuk memoles diri agar tidak terlihat buruk, tetapi tentang kekasaran
diri yang kerap kita sembunyikan dari realitas dunia. Kita tak pernah jujur
menilai dunia, sulit karena kejujuran beresiko tinggi. Bisa-bisa kita diblokir pergaulan,
kehilangan teman atau malah dikucilkan keluarga.
Tetapi, ketahuilah mempertaruhkan sesuatu yang berharga tidak
akan aman! Apalagi Cinta dan Kebahagiaan partus dari diri kita sendiri. Sangat
berharga tak heran jika kita rentan karenanya. Dan itu terjadi merata menimpa semua.
Dan kita perlu berjuang melepaskan diri dari himpitan ini agar bisa hidup lebih
baik dan berpikir jernih. Jujur menjalani hidup dan terbebas dari sakit hati.
Kembangkan kapasitas pribadi walau terkadang kita tak
tahu apa yang sesungguhnya kita inginkan namun waktu pasti akan menjawabnya!
