Minggu, 14 Januari 2018

Cara Profesional Mendapatkan Modal usaha?


"Nothing worthwhile come easily…Work, continuous work and hard work, is the only way to accomplish results that last.”
~Hamilton Holt

Lajimnya saya diundang ngopi santai untuk kemudian dijejali berbagai rupa macam Tanya - seputar jagad investasi. Berjam-jam dihajar soal dunia permodalan usaha.

Semisal, Bang saya ada sekian tolong taruh diproyek yang aman? Bang, tolong modal saya diamankan? Tolong carikan rekanan yang bisa dipercaya? Bang, tolong carikan modal tanpa bunga, tanpa proses bertele-tele? Oom, saya perlu daftar asset untuk tambahan jaminan? Oom, proyekku mandek, sudah habis-habisan, tolong carikan jalan?

Fokus interaktif mencungkil-cungkil jagad permodalan. Semua senada, berbeda pada cara ber-tanya-nya saja. Semisal; bagaimana saya bisa yakin kalau proyek ini bakal untung? Ada lagi; Bang orang ini teman dari teman keluarga - dari pihak istri, bawa proyek butuh sekian – tolong saya bagaimana agar bisa percaya orang ini benar kerjanya?

Yang spesifik repeat-client umumnya minta dibuatkan uraian gambaran detil dari sesuatu sistim yang memudahkannya mengawasi modalnya. Terkadang diundang untuk posisi ‘trouble-shooter’.

Tetapi,,, yang ini berbeda - jauh berbeda!

Kali ini dijejali keluh kesah sedari ragam proyek yang susah payah dikerjakan hingga ‘prosentase retensi’ yang bikin gundah.

Bang, itulah proyekku dan pernak-perniknya. Sebenarnya saya ini tengah nelangsa karena diperlakukan secara tidak senonoh. Terdiam!

Katanya, baru-baru saya tolak tawaran modal karena caranya kurang berkenaan -katanya– tidak dikenai bunga, tidak perlu jaminan. Simpel. Keuntungan dibagi tujuh puluh tiga puluh untuk saya. Tidak ada penarikan ditahun berjalan. Proyek selesai, diaudit, keuntungan di ‘deferred’ - untuk tambahan kapasitas.

Saya sudah serahkan CV, pengalaman kerja proyek dan copy rekening Bank setahun terakhir. Tetapi, dilongok pun tidak!

Katanya, jika ada SPMK - seberapa pun, dimodali. Sudah bertemu berkali-kali dengan A-2-nya, tangan kanan sipemodal.

Ini dari dia, joint operation agreement – tinggal tandatangan. Jika memilih joint venture – yang ini yang diteken. Langsung dimodali, besaran jumlahnya diisi di ‘formulir permintaan’ – ini suratnya.

Saya disodorkan bundel file - tanpa nama, hanya kuasa hukum saja. Tolong bantu bang, cari tahu siapa dibalik ini. Siapa dia? bandar apa? Tidak seyogianya saya dibeginikan - Saya ini profesional!

Saya diberi nama A-2-nya, No-Tel dan Email-nya. Saya langsung tahu - itu perusahaan baru kakaknya. Sekantong tapi dari botol yang berbeda. Pengusaha sukses juga.

Selang sehari, si kakak mengundang. Dia akui, itu dia tempuh karena lelah dengan keluhan si-mama-nya. Si-papa pengganti sudah tiada. Si-mama-nya Ngilu katanya melihat si-Adik lelah memodali proyeknya. Pulang larut saban waktu tak juga kaya raya. Sebagai si-kakak dia dianggap minus kasih sayang  - takada empaty!

Hingga akhirnya dia menugaskan orangnya mengusung tawaran modal dengan berbagai kemudahannya. Kaget dia ditolak karena aroma ketersinggungan. DNA-nya sama, dominan si-mama.

Saya tertantang situasional yang sedemikian unik. Bahwa, walaupun tiap pengusaha butuh modal namun mereka kukuh dengan etikanya sendiri. 

Masing-masing berjuang dengan gaya langkahnya sendiri.

"Nothing can add more power to your life than concentrating all of your energies on a limited set of targets”.
~Nido Qubein

~Salam professional!
It is FREE