"Nothing worthwhile come easily…Work, continuous work and hard work, is the only way to accomplish results that last.”
~Hamilton Holt
Lajimnya saya
diundang ngopi santai untuk kemudian dijejali berbagai rupa macam Tanya - seputar
jagad investasi. Berjam-jam dihajar soal dunia permodalan usaha.
Semisal, Bang
saya ada sekian tolong taruh diproyek yang aman? Bang, tolong modal saya diamankan?
Tolong carikan rekanan yang bisa dipercaya? Bang, tolong carikan modal tanpa bunga,
tanpa proses bertele-tele? Oom, saya perlu daftar asset untuk tambahan jaminan?
Oom, proyekku mandek, sudah habis-habisan, tolong carikan jalan?
Fokus interaktif
mencungkil-cungkil jagad permodalan. Semua senada, berbeda pada cara ber-tanya-nya
saja. Semisal; bagaimana saya bisa yakin kalau proyek ini bakal untung? Ada
lagi; Bang orang ini teman dari teman keluarga - dari pihak istri, bawa proyek butuh
sekian – tolong saya bagaimana agar bisa percaya orang ini benar kerjanya?
Yang spesifik repeat-client umumnya minta dibuatkan
uraian gambaran detil dari sesuatu sistim yang memudahkannya mengawasi modalnya.
Terkadang diundang untuk posisi ‘trouble-shooter’.
Tetapi,,,
yang ini berbeda - jauh berbeda!
Kali ini dijejali
keluh kesah sedari ragam proyek yang susah payah dikerjakan hingga ‘prosentase retensi’ yang bikin gundah.
Bang, itulah
proyekku dan pernak-perniknya. Sebenarnya saya ini tengah nelangsa karena diperlakukan
secara tidak senonoh. Terdiam!
Katanya, baru-baru
saya tolak tawaran modal karena caranya kurang berkenaan -katanya– tidak dikenai
bunga, tidak perlu jaminan. Simpel. Keuntungan dibagi tujuh puluh tiga puluh
untuk saya. Tidak ada penarikan ditahun berjalan. Proyek selesai, diaudit, keuntungan
di ‘deferred’ - untuk tambahan kapasitas.
Saya sudah
serahkan CV, pengalaman kerja proyek dan copy rekening Bank setahun terakhir. Tetapi,
dilongok pun tidak!
Katanya, jika
ada SPMK - seberapa pun, dimodali. Sudah bertemu berkali-kali dengan A-2-nya, tangan
kanan sipemodal.
Ini dari
dia, joint
operation agreement – tinggal tandatangan. Jika memilih joint
venture – yang ini yang diteken. Langsung dimodali, besaran jumlahnya diisi
di ‘formulir permintaan’ – ini suratnya.
Saya disodorkan
bundel file - tanpa nama, hanya kuasa hukum saja. Tolong bantu bang, cari tahu siapa
dibalik ini. Siapa dia? bandar apa? Tidak seyogianya saya dibeginikan - Saya
ini profesional!
Saya diberi nama
A-2-nya, No-Tel dan Email-nya. Saya langsung tahu - itu perusahaan baru kakaknya.
Sekantong tapi dari botol yang berbeda.
Pengusaha sukses juga.
Selang
sehari, si kakak mengundang. Dia akui, itu dia tempuh karena lelah dengan keluhan
si-mama-nya. Si-papa pengganti sudah tiada. Si-mama-nya Ngilu katanya melihat si-Adik
lelah memodali proyeknya. Pulang larut saban waktu tak juga kaya raya. Sebagai si-kakak
dia dianggap minus kasih sayang - takada
empaty!
Hingga akhirnya
dia menugaskan orangnya mengusung tawaran modal dengan berbagai kemudahannya. Kaget
dia ditolak karena aroma ketersinggungan. DNA-nya sama, dominan si-mama.
Saya tertantang
situasional yang sedemikian unik. Bahwa, walaupun tiap pengusaha butuh modal namun
mereka kukuh dengan etikanya sendiri.
Masing-masing berjuang dengan gaya langkahnya
sendiri.
"Nothing can add more power to your life than concentrating all of
your energies on a limited set of targets”.
~Nido Qubein
