Kamis, 01 Februari 2018

Hidup Menjadi Lebih Berarti!

-->
"As long as you know what it is you desire, then by simply affirming that it is yours - firmly and positively, with no ifs, buts, or maybes - over and over again, from the minute you arise in the morning until the time you go to sleep at night, and as many times during the day as your work or activities permit, you will be drawn to those people, places, and events that will bring your desires to you."
~Scott Reed

Konon katanya tipikal individu perseorangan cenderung terbagi kedalam 3 (tiga) kategori, Yakni:

1) Yang ber-Orientasi pada Tugas:
Yaitu mereka yang kehidupannya monoton terjebak dalam pusaran kegiatan melaksanakan pekerjaan sesuai “daftar kegiatan yang harus dikerjakan (to-do-list)”. Tiap saat melakukan hal yang sama, berulang-ulang secara terus-menerus terhanyut dalam kehidupan - Demi Tugas!

2) Yang ber-Orientasi pada Tujuan:
Disematkan kepada individu yang setiap saat fokus pada “apa target yang harus dicapai”. Kesehariannya dimulai dengan Target, target,,, istirahat tidur bangun keesokan harinya dengan ‘apa target?’ Hidup untuk tujuan tanpa pernah menikmati proses pencapaian saat melakukannya.

3) Yang berOrientasi pada Fungsional-nya:
Yakni perorangan yang tiap saat menyelaraskan aktivitasnya sesuai panggilan talentanya. Semata-mata hanya itu. Tidak ada minat lain! Tidak ada keinginan lain. Tiap hal harus sesuai bakatnya yang dia anggap sebagai panggilan jiwa! Merekalah penikmat hidup yang begitu-begitu saja - hingga tiba waktunya.

Konon ketiga kategori diatas perlu dilengkapi dengan kategori ke-empat, Yakni:

4) Yang ber-Orientasi pada Keseimbangan:
Disebut begitu karena kesehariannya diisi dengan kegiatan lebih pada upaya menjaga keseimbangan alam dan pengisinya. Nyaris tanpa tujuan tanpa tugas, pun tidak bersedia diserahi penugasan, bahkan fungsional-nya sebagai individu perseorangan pun diabaikan.

Dikalangan pencinta damai mereka dielu-elukan sebagai tokoh pengusung cinta pembopong kasih sayang. Tetapi bagi kalangan pejuang mereka diberi stigma sebagai individu mati rasa, tak bernyali - tapi ingin dicinta.

Mengisi kehidupannya dengan prinsip dasar keseimbangan. Memelihara kuat pemahaman bahwa tiap hal yang diambil dari alam seyogianya dikembalikan lagi dalam bentuk yang menurutnya setara mengikutkan konsekwensi logis berdasarkan standar ukuran pribadinya.

Dalam banyak peristiwa kategorial ini disanjung selangit untuk kemudian dicerca kala menerima pendapat bahwa kedamaian pun hanya akan bisa dicapai dengan jalan kekerasan - perang. Realitas! dan itu telah ada sejak manusia mendokumentasikan sejarah peradabannya.

Kita disarankan untuk berupaya mengenal jati diri agar tahu masuk kategori yang keberapa? tujuannya untuk menyelaraskan visi jiwa dengan impian kita. Agar hidup menjadi terbarukan, menjadi lebih bisa menerima keadaan serta menjadi lebih percaya diri dan tidak lagi mencemaskan ketidaksempurnaan. Menjadi lebih leluasa memahami muasal keterjadian sesuatu peristiwa. Perjalanan hidup kita akan dipenuhi intuitif belas kasih berkelimpahan cinta dengan didukung kesadaran bahwa diri kita adalah manifestasi dari Yang Ilahi.

Hidup menjadi lebih berarti!

"Take a second look at what appears to be someone's 'good luck.' You'll find not luck but preparation, planning, and success-producing thinking... "
~David Joseph Schwartz

~Salam Berarti!
FREE