"As long as you know what
it is you desire, then by simply affirming that it is yours - firmly and
positively, with no ifs, buts, or maybes - over and over again, from the minute
you arise in the morning until the time you go to sleep at night, and as many
times during the day as your work or activities permit, you will be drawn to
those people, places, and events that will bring your desires to you."
~Scott Reed
Konon katanya tipikal individu perseorangan cenderung
terbagi kedalam 3 (tiga) kategori, Yakni:
1) Yang ber-Orientasi
pada Tugas:
Yaitu mereka yang kehidupannya monoton terjebak dalam pusaran
kegiatan melaksanakan pekerjaan sesuai “daftar kegiatan yang harus dikerjakan (to-do-list)”. Tiap saat melakukan hal
yang sama, berulang-ulang secara terus-menerus terhanyut dalam kehidupan - Demi
Tugas!
2) Yang ber-Orientasi
pada Tujuan:
Disematkan kepada individu yang setiap saat fokus pada
“apa target yang harus dicapai”. Kesehariannya dimulai dengan Target, target,,,
istirahat tidur bangun keesokan harinya dengan ‘apa target?’ Hidup untuk tujuan
tanpa pernah menikmati proses pencapaian saat melakukannya.
3) Yang berOrientasi
pada Fungsional-nya:
Yakni perorangan yang tiap saat menyelaraskan aktivitasnya
sesuai panggilan talentanya. Semata-mata hanya itu. Tidak ada minat lain! Tidak
ada keinginan lain. Tiap hal harus sesuai bakatnya yang dia anggap sebagai panggilan
jiwa! Merekalah penikmat hidup yang begitu-begitu saja - hingga tiba waktunya.
Konon ketiga kategori diatas perlu dilengkapi dengan kategori
ke-empat, Yakni:
4) Yang
ber-Orientasi pada Keseimbangan:
Disebut begitu karena kesehariannya diisi dengan kegiatan
lebih pada upaya menjaga keseimbangan alam dan pengisinya. Nyaris tanpa tujuan tanpa
tugas, pun tidak bersedia diserahi penugasan, bahkan fungsional-nya sebagai individu
perseorangan pun diabaikan.
Dikalangan pencinta damai mereka dielu-elukan sebagai
tokoh pengusung cinta pembopong kasih sayang. Tetapi bagi kalangan pejuang mereka
diberi stigma sebagai individu mati rasa, tak bernyali - tapi ingin dicinta.
Mengisi kehidupannya dengan prinsip dasar keseimbangan. Memelihara
kuat pemahaman bahwa tiap hal yang diambil dari alam seyogianya dikembalikan lagi
dalam bentuk yang menurutnya setara mengikutkan konsekwensi logis berdasarkan standar
ukuran pribadinya.
Dalam banyak peristiwa kategorial ini disanjung selangit untuk
kemudian dicerca kala menerima pendapat bahwa kedamaian pun hanya akan bisa dicapai
dengan jalan kekerasan - perang. Realitas! dan itu telah ada sejak manusia
mendokumentasikan sejarah peradabannya.
Kita disarankan untuk berupaya mengenal jati diri agar tahu
masuk kategori yang keberapa? tujuannya untuk menyelaraskan visi jiwa dengan
impian kita. Agar hidup menjadi terbarukan, menjadi lebih bisa menerima keadaan
serta menjadi lebih percaya diri dan tidak lagi mencemaskan ketidaksempurnaan. Menjadi
lebih leluasa memahami muasal keterjadian sesuatu peristiwa. Perjalanan hidup kita
akan dipenuhi intuitif belas kasih berkelimpahan cinta dengan didukung kesadaran
bahwa diri kita adalah manifestasi dari Yang Ilahi.
Hidup menjadi lebih berarti!
"Take a second look at
what appears to be someone's 'good luck.' You'll find not luck but preparation,
planning, and success-producing thinking... "
~David Joseph Schwartz
