“If you
really want something, and really work hard, and take advantage of
opportunities, and never give up, you will find a way."
~Jane
Goodall, Anthropologist
Tidak banyak
yang berminat mendanai bisnis start-up pemula, umumnya menghindar dengan alasan
“tidak trampil dan minus pengalaman”. Realistis jika sulit untuk Pemula mendapat
sokongan modal.
Satu dua wiraswasta
sukses menyadari diawal-awal pun mereka pernah terhempas pasang surut, sukses
kala ada kesempatan, teruji oleh waktu. Tahu bahwa Pemula pun akan sukses jika diberi
kesempatan apalagi jika bermitra dengan Operator berpengalaman. Realistis jika
mereka berminat mendanai bisnis Pemula dan menjadi Investor realistis.
Layaknya pemandu
sorak disuatu pertandingan mereka tidak sungkan turun langsung memandu. Rela menghadiri
pertemuan reguler dengan bagian produksi marketing distribusi serta penjualan. Turut
menambahkan nilai pada bagian unsur perusahaan, menjembatani kesenjangan pengalaman
dan tak lelah menggali detil informasi bagian mana yang memerlukan perbaikan.
Interaksinya
tidak hanya mencari untung tetapi ikut membentuk sistim kaderisasi kepemimpinan.
Menjadi cerminan bagaimana pemimpin harus aktif menyatu ke tiap unsur bagian.
Mereka berupaya
mengenal Pemula sebagai individu, mencari tahu hal apa yang mengilhaminya berbisnis
dan hal apa yang akan membentuk nilai yang diharapkan. Mereka perlu diyakinkan bahwa
modal yang dia tanamkan akan menghasilkan nilai yang setara.
Investor
realistis menyadari bahwa Pemula akan bekerja keras, akan totalitas untuk bisa mencapai
hal yang tampaknya sulit diraih. Dan itu membuatnya terpanggil untuk membantu menyingkirkan
rintangan, apalagi penanganan tertentu seringkali memerlukan pengalaman tersendiri.
Mereka siap
menjadi sumber inspirasi emosional menghancurkan kekakuan intelektual saat pengambilan
keputusan mengingat bisnis Pemula akan sangat menguras enerji, apalagi kerap
tersandung berkali-kali. Diperlukan dukungan emosional agar Pemula tidak hilang
harapan.
Investor
realistis paham bahwa Visi-Misi adalah tujuan yang diartikulasikan dengan jelas
hingga harus dikomunikasikan secara berulang-ulang dari-waktu-ke-waktu agar karyawan
bahkan mitra pelanggan terinspirasi. Olehnya visi-misi diartikan sebagai nilai-nilai
perusahaan yang harus diikuti secara konsisten.
Mereka tidak
mengharuskan Pemula untuk tiap saat bisa menjawab tiap pertanyaan karena keputusan
bisnis yang terbaik tidak selalu merupakan keputusan yang tercepat. Diperlukan
ragam persfektif serta ketrampilan yang variatif sebagai dasar pertimbangan pengambilan
keputusan.
Investor
realistis juga tahu ceritera tentang Investor yang dicap berkhianat karena meninggalkan
Pebisnis-nya, tetapi baginya itu dianggap mewakili ketidak-paduan antara harapan
Pendiri dengan pendana. Karenanya para pihak perlu komunikatif dan itu hanya
jika keseimbangan yang tepat bisa tercapai.
Ciri khas-nya, mereka sangat menekankan
bahwa bakat saja tidak akan menghantarkan Pemula ke tempat yang tepat diwaktu
yang tepat. Bahkan “Keajaiban” pun memerlukan kerja keras, apalagi harus menjaga
sikap positif, harus bertekun meski tengah dirundung masalah dihimpit kritik
serta penolakan. Harus tetap fokus pada tujuan.
Jika tidak mau belajar takada yang bisa
menolong namun jika bertekad untuk belajar takada yang bisa menghentikan. Dan
itu realistis!
"If you are not willing to learn, no one can
help you! If you are determined to learn, no one can stop you!"
~Zig Ziglar
~Salam realistis!
