“Don't
be afraid to fail. Don't waste energy trying to cover up failure. Learn from
your failures and go on to the next challenge. It's OK to fail. If you're not
failing, you're not growing."
~H. Stanley Judd
Pebisnis
pemula kerap terlihat mondar-mandir nubruk semua arah menggali berbagai tipikal
informasi usaha untuk diracik, dipresentasikan keharibaan Investor. Penyajiannya
terkadang dianggap berlebihan tak masuk akal - disadari ketika Investor menarik
diri, batal berinvestasi.
Pebisnis paham
pahit getirnya. Sedari proses indentifikasi, evaluasi hingga memperbandingkan informasi
usaha sejenis dan substitusinya, menyusun estimasi perhitungan berdasarkan asumsi.
Cenderung subjektif! Tujuannya hanya agar dilirik Investor – yang juga punya asumsi
sendiri. Tak cocok, revisi lagi.
Ditolak lagi
- revisi lagi! menjadi pengalaman tersendiri. Yang berjibaku memulai usaha kecil-kecilan, tertatih
timbul tenggelam tanpa dukungan Investor. Namun banyak juga yang terlihat mudah
menggaet Investor, bahkan gonta-ganti.
Beberapa Pebisnis
ditinggalkan Investor karena salah paham. Bermula dari bertukar pemikiran
hingga sepakat berbisnis ditafsirkan bagaikan hubungan kekerabatan. Berakhir saat
Investor menarik modal karena Pebisnis masih menganggap Investor sebagai kerabat
bukan sebagai profesional yang punya tanggungjawab legalitas fidusia.
Beberapa Investor
mendanai Pebisnis ber-ekspansi dengan memperjelas batas ruang kekerabatan diantara keduanya. Dalam praktik malah menjadikan Pebisnis bingung, beberapa malah
menghadapi tuntutan hukum karena modal usaha dipakai untuk membangun tugu patung
moyang kakeknya. Kisah sedih jadinya!
Investor memposisikan
Pebisnis sebagai rekanan untuk meraih untung, minimal remis - pulang pokok, sedangkan
Pebisnis masih menganggap Investor sebagai kerabatnya. Seyogianya Pebisnis
menyesuaikan diri mengikutkan dinamika aturan dunia usaha.
Investor memposisikan
diri sebagai penantang sekaligus pendukung agar Pebisnis bertumbuh. Bahkan membimbingnya
saat memutuskan jika harus keluar koridor – delapan enam, demi tuntutan bisnis!
Pebisnis seyogianya tumbuh menjadi professional maupun secara pribadi.
Investor meninggalkan
Pebisnis jika sembrono mengelola modal usaha. Beberapa malah harus mendepaknya keluar
dari bisnis yang dirintisnya, menggantikannya dengan yang dinilai lebih berkompeten.
Pahit!
Gambaran yang
sebegitu pahit menjadikan beberapa Pebisnis memilih untuk tidak melaporkan tiap
situasi sulit ke Investor. Berharap ketiban mukzijat untuk bisa membalikkan keadaan,
gagal dan kian merugi. Harap-harap cemas! Memaksanya menjadi sangat tergantung pada
keputusan Investor. Tiap hal dilaporkan – dirapatkan – mohon petunjuk? Tak berNyali.
Terkesan tak bisa memimpin.
Dalam situasi
sulit umumnya tiap Investor siap membicarakan alternatif jalan keluar. Memberikan
dukungan rekomendasi untuk ditindaklanjuti – atawa ditolak? Sesulit apapun harus
ada keputusan demi menyelamatkan perusahaan.
"The goal is not
always meant to be reached, but to serve as a mark for our aim."
~Joseph Joubert
Prinsip saling
menghormati membawa nilai tersendiri, menjadi kekuatan unik untuk menjembatani kesenjangan
pengalaman serta pemahaman konstektual tentang dunia usaha.
Investor Terbaik
paham itu!
"Talent alone won't make you a success. Neither
will being in the right place at the right time, unless you are ready. The most
important question is: 'Are you ready?'"
~Johnny Carson
~Salam Terbaik
selalu!
