"Happy are those
who dream dreams and are ready to pay the price to make them come true."
~Leon J. Suene
"Berbahagialah mereka yang memimpikan impiannya dan
siap menebusnya agar bisa menjadi kenyataan."~Leon J. Suene.
Menginspirasi, bahwa tatkala hidup kita sulit terkadang
timbul pemikiran bahwa hidup kita tak akan pernah berubah. Sangat membebani
hingga kita kesulitan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan menuju kearah
perubahan. Manakala hidup terasa berat tetaplah fokus pada tujuan, jangan
berpaling dari hal-hal yang menjadi impian hati kita. Bagaimanapun kesulitan
itu pasti akan berlalu.
“Mungkin saya
belum tepat berada persis ditempat yang saya impikan tetapi melihat kembali
kebelakang, saya bahagia bisa sampai sejauh ini – sungguh sesuatu yang saya
syukuri, tiap saat seiring detak nadi darahku”.
Ungkapan bijak - saya lupa membacanya dimana, tetapi tertanam
dalam-dalam dibenak saya. Seolah memberitahu bahwa terkadang kita menutup diri
hingga terkesan seolah tak punya pilihan selain menjalani rutinitas hidup,
hingga tiba-tiba tersadar kita sudah melangkah menjauh dari himpitan beban yang
menggelantung membebani hidup kita. Dan kita mengisi sisa perjalanan hidup kita
dengan syukur yang tiada terhingga. Membuat kita terdorong untuk berbagi kepada
sesama,
Bahwa:
1. “Keberhasilan
Tidak Tergantung Pada Jumlah Modal Yang Kita Punya”:
Punya uang banyak adalah anugrah, menjadikan kita lebih
leluasa membuka bisnis menuju sukses. Punya gelar titel tinggi memang benar
adalah karunia, bisa membuat kita lebih percaya diri memilih karir yang mencengangkan.
Tetapi, walau dengan keterbatasan uang bahkan bertitel seadanya pun, bukan
berarti pintu sukses tertutup untuk kita. Kita hanya perlu melipatgandakan
kemauan kita dan memenuhinya dengan akal serta kerja keras. Anda boleh tidak
percaya, tetapi peradaban dunia telah mencatat sejarahnya bahwa orang yang punya
keterbatasan yang malah berhasil menembus batas keberhasilan. Sukses tak
terhingga!
Diduga mereka berhasil
menerapkan prinsip dasar sederhana, yakni: bahwa daripada membiarkan rasa takut
akibat keterbatasan menghentikan langkah dan kemauan, akan lebih baik menjadikannya
sebagai tambahan tantangan yang harus ditaklukkan. Kreatifitas menjadi kunci
utama!
Bahwa:
2. Jangan pernah
berhenti hanya oleh karena: “Selanjutnya Apa?”:
Banyak yang semangat kala memulai, seketika terhenti tatkala
diperhadapkan pada situasi “Selanjutnya Apa?”, waduh,,,,!
Memilih berhenti tidak melanjutkan usahanya, hanya karena
khawatir didera rasa cemas yang menghantui – Selanjutnya Apa? seolah tak putus tantangan
menghadang. Mengganti bisnisnya dengan jenis usaha yang katanya lebih dia
kuasai – aturan mainnya.
Yang terus fokus tidak mau berhenti hanya karena harus
memahami sesuatu yang baru. Walau takut-takut tetapi siap membuka diri
menghadapi tantangan baru hingga akhirnya sukses. Fokus menuju tujuan yang
diinginkan.
Banyak yang memilih kesulitan demi terlepas dari derita beban
rasa takut akan hal baru – sesuatu yang baru yang sama sekali tidak
diketahuinya terasa menyeramkan. Memilih keluar walau rugi sejumlah tertentu
(saat ini) karena itu dianggap lebih bisa diterima akal daripada nanti bisa kian
semakin merugi - engga jelas. Berhenti tidak mau keluar dari zona nyaman.
Bahwa:
3. Jangan berhenti
menciptakan “jaringan lingkaran sehat”:
Ketika rasa takut menghantui salah satu cara terbaik yang
disarankan adalah dengan bertanya pada tiap orang disekitar lingkungan kerja
kita, lebih positif dan menyehatkan. Terkadang kita tidak perlu jawaban lengkap
untuk bisa memutuskan langkah berikutnya, bahkan terkadang rencana yang ada
kurang memadai menghadapi situasi ditahapan tertentu. Tetapi lingkungan yang
positif akan membantu untuk memutuskan yang terbaik.
Orang dilingkungan kerja bisa menjadi sumber ilham, menjadi
sumber ide gagasan baru yang diperlukan menghadapi berbagai tantangan, tetapi
jangan terlena, jangan sampai kita ragu akan kemampuan diri sendiri hingga
melumpuhkan langkah bisnis kita. Hati-hati adalah kunci keberhasilan!
