Kamis, 18 Januari 2018

Yang Diburu Yang Terburuk dari Yang Terbaik?

"Success is getting what you want. Happiness is wanting what you get.”
~Haden

Dimana-mana yang diburu itu adalah Yang Terbaik. Mitologynya mencari yang paling baik dari kumpulan yang Terbaik – normalnya begitu. Kini ini, bertebaran fakta untuk disimak bahwa yang diburu adalah Yang Terburuk. Yakni pelaku yang berkelakuan buruk menyembunyikan borok kelakuan buruknya.

Yang Terbaik diduga - mungkin telah, melibatkan profesional untuk turut mengolah kelakuan buruknya – menjadikannya alot tak mudah diringkus. Bahkan walau telah kuat diduga berbuat buruk pun cuma mesem malenggang - tak terbukti. Malah menjadi pejabat penguasa Nagari.

Yang Terburuk terlihat amatiran, keok terseok-seok digelandang masuk kerangkeng. Didakwa segepok pasal - Pelanggaran!

Yang Terbaik, terkesan profesional. Maka patut diduga bahwa mereka mengerahkan Tukang Olah untuk memoles keburukannya. Dan Yang Terburuk, terkesan remeh anggap enteng akan perlunya layanan jasa profesional mengolah kelakuan buruknya. Lemas dihajar. Dikeruk lagi! Dianggap kurang dermawan berbagi hasil. Slurrrpp,,,malu!

Yang Terbaik, diappresiasi karena menerapkan prinsip kerjasama. Umumnya diperlakukan baik karena libido tinggi gairah berinvestasi. Tak soal muasal dana-nya darimana, apalagi ia tak ngotot mempersoalkan prosentase pembagian keuntungan. Prinsip bagi-bagi, yang penting cucian aman - tak tersentuh! Lima puluh lima puluh pun tak soal. Proyek bersih – bersih!

Yang Terburuk, dicap amatiran bak pesohor kesohor, terbaca sedari awal pertemuan kala Tukang Olah datang mengusung layanan jasanya. Tawaran bersih-bersih direspon curiga berlebihan, terkesan takut-takut tak tau malu. Minta waktu mikir-mikir. Kemudian mengundang lagi untuk dijejali tanya tentang ApaIni-ApaItu. Buruk nian - menjengkelkan!

Yang Terbaik, bersikap hati-hati. Santun minta ijin memaparkan alasan yang mendasari minatnya ber-investasi. Transparan, terkesan dipenuhi sesal tapi tak takut – memalukan! Tak terlalu perduli wangnya akan diinvestasikan ke proyek apa. Hanya minta agar bisa dikembalikan di tiga tahun mendatang! Tolong diatur ya,,,,! Elegan, tak heran jika banyak kalangan siaga menjaga kesehatannya.

Yang Terbaik, mengakui kian semakin banyak kemudahan yang diperoleh. Menjadikannya lebih lincah dan kian bergairah. Keruk lagi dan ber-investasi lagi. Statusnya menjadi repeat-client. Pertanda kerjasama terjalin rapi.

Agar terlihat pilon, enggan berlagak bak investor tokcer – riel player. Kerap minta dibuatkan uraian detil proyek yang dimodali - proyek apa itu?

Yang Terbaik, sigap memayungi kelakuannya dengan alat kelengkapan seperti ‘trouble-shooter’. Satgas yang dikatuai oleh Orang yang paham banyak hal tapi tak terlibat – tiap hal apapun. Itu saja!

Tugas si ‘trouble-shooter’ terkesan mudah. Sederhananya, jika investasi itu dirancang akan berbentuk ‘joint operation’ – akan dia lengkapi dengan satgas yang berperan sebagai ‘joint operation management committe’. Jika berbentuk ‘joint venture’ – maka akan dimasukkan langsung mendanai proyek yang tengah berlangsung. Dikawal satgas ber-Tupoksi sebagai ‘finance controller’. Professional lah - ‘segala bisa’!

Yang Terbaik, tak lelah berburu informasi tentang penyedia layanan jasa pendampingan sebagai ‘business arranger and strategic adviser’.

Waduh! Nyaris lupa jualan! Jadi rendong iseng membeberkan pernak pernik jagad raya permodalan – dan yang melingkarinya.

"Don’t let what you cannot do interfere with what you can do”.
~John Wooden

~Salam Terbaik selalu!
Join-mySFI-team