Rabu, 03 Juli 2019

MISKIN CITRA DIRI Bagian (1)

"Tanya Pak! Maaf, bagaimana caranya agar saya bisa mengetahui orang-orang yang miskin citra dirinya? Apakah ada kiat-kiat tertentu yang perlu diterapkan agar saya bisa terhindar dari lingkup pergaulan orang-orang yang miskin citra dirinya? Mohon penjelasannya, sebelumnya diucapkan terima kasih."

Pertanyaan yang menggelegar serasa menghunjam keangkuhan diri orang per orang. Pertanyaan itu mengemuka di sessi interaktif dalam kegiatan pelatihan mentor atau “TOT”, persis disaat giliran saya yang memandu. Harus diakui pertanyaan ini berhasil memaksa saya untuk kembali membuka catatan tentang materi pengembangan diri. Materi yang selalu menarik minat karena menyangkut hal-prihal tentang diri sendiri. Suatu bidang yang sangat luas, dan akan kian semakin meluas jika tanpa pembatasan, hingga akhirnya dipertimbangkan untuk disajikan kedalam lima bagian.

Ini adalah bagian yang pertama.

Mari kembali ke pertanyaan diatas: “apa yang Anda bisa temukan?” Saya setuju jika Anda berpendapat bahwa itu adalah pertanyaan yang bunyinya ekstrim. Pertanyaan yang terkesan menyudutkan, seolah-olah orang yang bertanya berkehendak atau tengah sedang menghakimi sesama satu lainnya.

Namun, jika Anda bisa sedikit saja memberi perhatian, Anda akan bisa maklum dengan berlapang dada. Bahkan mungkin Anda, pastinya akan berterima kasih kepada si penanya itu, karena telah berupaya sedemikian rupa mempertanyakan sesuatu yang mungkin mengganjal di pikirannya.

Bagaimanapun, itu adalah satu kata tanya. Dan itu membutuhkan jawaban, walau jika itu tentang sesuatu hal yang terkesan tidak lazim, bahkan oleh kelompok tertentu dianggap tabu diharamkan, khawatir merusak tatanan pergaulan sosial. Tetapi perlu jujur mengakui, itu bermanfaat mengusung kemanfaatanya untuk sesama lainnya, seperti Anda dan saya.

Karenanya Anda perlu berbesar jiwa. Ini bukan tentang menilai orang per orang yang punya sikap dan prilaku yang mungkin tidak sama dengan Anda. Ini adalah tentang citra diri Anda. Karenanya Anda perlu mengikuti rangkaian penjelasan berikut dan mencernanya dengan cara seksama.

Ini adalah serangkaian pembahasan tentang citra diri Anda dengan harapan bisa mendorong minat Anda untuk mengembangkan bakat kepribadian.
 Hotman's Collection

Mari mulai dengan Albert Einstein, katanya:
“Semua orang jenius. Tetapi jika Anda menilai seekor ikan dengan kemampuannya memanjat pohon, ia akan hidup seumur hidup dengan percaya bahwa itu bodoh. ”

Apa kira-kira maknanya? Pikirkanlah.

Menurut Anda: ”Ada berapa banyak orang-orang di dunia ini yang selama hidupnya bekerja atau mengerjakan banyak hal di bidang yang sama sekali tidak sesuai dengan bakat keahliannya? Bahkan mungkin bertentangan atau tidak selaras dengan bakat kehidupannya? Ada berapa banyak bakat Talenta yang tercecer di luar sana karena tidak tersalurkan dengan layak atau secara tidak semestinya?”

Mustahil Anda bisa tahu jumlahnya. Yang pasti: “Mungkin jutaan!”.

Sekarang bertanyalah ke diri sendiri: “Apakah Anda benar-benar suka dan menyukai pekerjaan Anda?”

Jika Anda benar-benar suka, mungkin sepanjang siang dan malam Anda tidak ingat waktu, tidak bosan menikmatinya sembari bekerja. Mungkin Anda akan marah jika dilarang menghentikannya. Anda benar-benar berbahagia, karena bisa punya pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan keinginan hati Anda. Begitu itulah yang semestinya.

Tetapi, mungkinkah?

Jika Anda benar-benar menyukai pekerjaan Anda, saya tidak heran jika Anda akan kompeten di bidang itu. Karena setiap orang yang menyukai bidang pekerjaannya akan benar-benar menikmati menyalurkan bakatnya. Jika Anda benar-benar menikmati, Anda akan berminat untuk secara terus-menerus menyempurnakan ketrampilan Anda dan, itu yang akan meningkatkan kepercayaan diri serta citra diri Anda.

Mungkin Anda kini bisa menangkap gambaran dari kata-kata bijak Albert Einstein diatas.

Apalagi karena Anda pasti memahami bahwa sejatinya Ikan tidak memanjat. Jika pun berusaha pasti akan gagal. Jika dipaksa malah akan terlihat lucu menggelikan, hingga binasa mati tersia-sia. Namun Ikan tidak akan pernah dihakimi, karena memanjat bukan bakat kehidupannya.

Berbeda dengan Manusia yang dianggap sebagai mahluk paling sempurna, yang memiliki ketrampilan khusus untuk beradaptasi. Klasifikasi itu memaksa harus mampu menempatkan diri atau bertahan hidup di lingkungan yang tidak selaras dengan bakat kehidupannya. Hidupnya mungkin akan susah, tetapi akan terus berjuang memperbaiki, setidaknya bertahan hidup. Bahkan walau jika itu akan membuat dirinya diadili oleh dirinya sendiri.

Karena sifat kesempurnaannya itu, memaksa dirinya untuk menghakimi sendiri, dirinya sendiri. Terkadang bahkan dipaksa mengadilinya berdasarkan pendapat orang-orang.

Karena sudah kodrat bahwa setiap manusia akan dinilai berdasarkan kemampuannya menyelesaikan tugasnya sebagai manusia. Tak soal apakah tugas itu sesuai atau tidak sesuai dengan bakatnya, atau mungkin bertentangan dengan bakat kehidupannya.

Alangkah baik jika Anda percaya bahwa mungkin poin itu yang dimaksudkan oleh Albert Einstein dengan kata-kata bijaknya itu. Atau, apakah Anda punya pendapat yang berbeda? Terserah jika Anda tidak percaya, Anda di persilahkan bertanya langsung kepada yang bersangkutan.

Karenanya Anda perlu berjuang menemukan kebahagiaan diri. Caranya adalah berusaha menemukan bakat Anda, mengasahnya agar terampil. Karena keahlian itu yang bisa membuat Anda tidak lelah mengembangkannya sampai kemudian bisa menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian. Kelak ketika diperadilkan, Anda akan mendapat Nilai Jenius.

Tidak dinilai “bodoh”.

Pastinya kini Anda bisa paham apa yang dimaksudkan.

Pembahasan selanjutnya disajikan pada bagian yang ke-2.

~salam citra selalu!