Pertanyaan yang menggelegar serasa menghunjam
keangkuhan diri orang per orang. Pertanyaan itu mengemuka di sessi interaktif dalam
kegiatan pelatihan mentor atau “TOT”, persis disaat giliran saya yang memandu. Harus
diakui pertanyaan ini berhasil memaksa saya untuk kembali membuka catatan tentang
materi pengembangan diri. Materi yang selalu menarik minat karena menyangkut hal-prihal
tentang diri sendiri. Suatu bidang yang sangat luas, dan akan kian semakin meluas
jika tanpa pembatasan, hingga akhirnya dipertimbangkan untuk disajikan kedalam lima
bagian.
Ini adalah bagian yang pertama.
Mari kembali ke pertanyaan diatas: “apa yang Anda bisa temukan?” Saya
setuju jika Anda berpendapat bahwa itu adalah pertanyaan yang bunyinya ekstrim.
Pertanyaan yang terkesan menyudutkan, seolah-olah orang yang bertanya berkehendak
atau tengah sedang menghakimi sesama satu lainnya.
Namun, jika Anda bisa sedikit saja memberi perhatian,
Anda akan bisa maklum dengan berlapang dada. Bahkan mungkin Anda, pastinya akan
berterima kasih kepada si penanya itu, karena telah berupaya sedemikian rupa mempertanyakan
sesuatu yang mungkin mengganjal di pikirannya.
Bagaimanapun, itu adalah satu kata tanya. Dan itu membutuhkan
jawaban, walau jika itu tentang sesuatu hal yang terkesan tidak lazim, bahkan oleh
kelompok tertentu dianggap tabu diharamkan, khawatir merusak tatanan pergaulan
sosial. Tetapi perlu jujur mengakui, itu bermanfaat mengusung kemanfaatanya untuk
sesama lainnya, seperti Anda dan saya.
Karenanya Anda perlu berbesar jiwa. Ini bukan
tentang menilai orang per orang yang punya sikap dan prilaku yang mungkin tidak
sama dengan Anda. Ini adalah tentang citra diri Anda. Karenanya Anda perlu mengikuti
rangkaian penjelasan berikut dan mencernanya dengan cara seksama.
Ini adalah serangkaian pembahasan tentang citra diri
Anda dengan harapan bisa mendorong minat Anda untuk mengembangkan bakat kepribadian.
Mari mulai dengan Albert Einstein, katanya:
“Semua orang jenius. Tetapi jika Anda menilai
seekor ikan dengan kemampuannya memanjat pohon, ia akan hidup seumur hidup
dengan percaya bahwa itu bodoh. ”
Apa kira-kira maknanya? Pikirkanlah.
Menurut Anda: ”Ada
berapa banyak orang-orang di dunia ini yang selama hidupnya bekerja atau mengerjakan
banyak hal di bidang yang sama sekali tidak sesuai dengan bakat keahliannya? Bahkan
mungkin bertentangan atau tidak selaras dengan bakat kehidupannya? Ada berapa
banyak bakat Talenta yang tercecer di luar sana karena tidak tersalurkan dengan
layak atau secara tidak semestinya?”
Mustahil Anda bisa tahu jumlahnya. Yang pasti: “Mungkin jutaan!”.
Sekarang bertanyalah ke diri sendiri: “Apakah Anda benar-benar suka dan menyukai
pekerjaan Anda?”
Jika Anda benar-benar suka, mungkin sepanjang siang dan
malam Anda tidak ingat waktu, tidak bosan menikmatinya sembari bekerja. Mungkin
Anda akan marah jika dilarang menghentikannya. Anda benar-benar berbahagia, karena
bisa punya pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan keinginan hati Anda. Begitu
itulah yang semestinya.
Tetapi, mungkinkah?
Jika Anda benar-benar menyukai pekerjaan Anda, saya
tidak heran jika Anda akan kompeten di bidang itu. Karena setiap orang yang
menyukai bidang pekerjaannya akan benar-benar menikmati menyalurkan bakatnya. Jika
Anda benar-benar menikmati, Anda akan berminat untuk secara terus-menerus menyempurnakan
ketrampilan Anda dan, itu yang akan meningkatkan kepercayaan diri serta citra
diri Anda.
Mungkin Anda kini bisa menangkap gambaran dari kata-kata
bijak Albert Einstein diatas.
Apalagi karena Anda pasti memahami bahwa sejatinya Ikan
tidak memanjat. Jika pun berusaha pasti akan gagal. Jika dipaksa malah akan
terlihat lucu menggelikan, hingga binasa mati tersia-sia. Namun Ikan tidak akan
pernah dihakimi, karena memanjat bukan bakat kehidupannya.
Berbeda dengan Manusia yang dianggap sebagai mahluk
paling sempurna, yang memiliki ketrampilan khusus untuk beradaptasi.
Klasifikasi itu memaksa harus mampu menempatkan diri atau bertahan hidup di
lingkungan yang tidak selaras dengan bakat kehidupannya. Hidupnya mungkin akan susah,
tetapi akan terus berjuang memperbaiki, setidaknya bertahan hidup. Bahkan walau
jika itu akan membuat dirinya diadili oleh dirinya sendiri.
Karena sifat kesempurnaannya itu, memaksa dirinya untuk
menghakimi sendiri, dirinya sendiri. Terkadang bahkan dipaksa mengadilinya
berdasarkan pendapat orang-orang.
Karena sudah kodrat bahwa setiap manusia akan dinilai
berdasarkan kemampuannya menyelesaikan tugasnya sebagai manusia. Tak soal
apakah tugas itu sesuai atau tidak sesuai dengan bakatnya, atau mungkin
bertentangan dengan bakat kehidupannya.
Alangkah baik jika Anda percaya bahwa mungkin poin itu
yang dimaksudkan oleh Albert Einstein dengan kata-kata bijaknya itu. Atau, apakah
Anda punya pendapat yang berbeda? Terserah jika Anda tidak percaya, Anda di persilahkan
bertanya langsung kepada yang bersangkutan.
Karenanya Anda perlu berjuang menemukan kebahagiaan diri.
Caranya adalah berusaha menemukan bakat Anda, mengasahnya agar terampil. Karena
keahlian itu yang bisa membuat Anda tidak lelah mengembangkannya sampai kemudian
bisa menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian. Kelak ketika diperadilkan,
Anda akan mendapat Nilai Jenius.
Tidak dinilai “bodoh”.
Pastinya kini Anda bisa paham apa yang dimaksudkan.
Pembahasan selanjutnya disajikan pada bagian yang
ke-2.
~salam citra selalu!