"Tanya pak! Maaf, bagaimana caranya agar saya bisa mengetahui orang-orang yang miskin citra dirinya? Apakah ada kiat-kiat tertentu yang perlu diterapkan agar saya bisa terhindar dari lingkup pergaulan orang-orang yang miskin citra dirinya? Mohon penjelasannya, sebelumnya diucapkan terima kasih."
Ciri-ciri Orang
Yang Miskin Citra Dirinya:
Mari jujur memeriksa diri sendiri apakah Anda
termasuk dalam kelompok ini. Orang-orang yang miskin citra dirinya umumnya tidak
sadar jika dirinya telah dibekali “talenta”. Sulit untuknya berlaku jujur terhadap
dirinya sendiri untuk mencari tahu jatidirinya. Dia cenderung mengungkapkan
dirinya dengan cara-cara dan sifat kritis serta dipenuhi rasa cemburu.
Umumnya orang-orang itu tidak antusias akan
keberhasilan orang lain, tetapi malah membenci keberhasilan orang satu lainnya.
Selalu cemburu ketiap orang walau tidak berdasar. Semu dicemburui, suami,
istri, pacar, tetangga bahkan orang yang baru dikenal dicemburui dengan alasan yang
terkesan mengada-ada. Terkesan benar-benar tidak menyukai dirinya sendiri
bahkan mengaku heran jika ada orang lain yang menyukainya. Citra dirinya
benar-benar buruk.
Selalu beralasan bahwa rasa cemburunya yang terkesan
sangat berlebihan didasari karena rasa cinta, atau karena sangat sayang
terhadap orang-orang yang dicemburui. Mereka sejatinya tidak pernah bisa
mencintai bahkan tidak pernah bisa percaya terhadap pasangannya. Dirinya pun
sulit dia percayai.
Orang-orang yang miskin citra dirinya menyukai gosip.
Suka membangun rumor negatif tentang prilaku kehidupan orang lain. Terkesan membiarkan
dirinya mendapat komentar buruk tentang perilakunya yang menyimpang, jauh dari
tatakrama, bertentangan dengan tatanan sosial masyarakat. Mereka akan benci
jika ada seseorang mendapat pujian dari orang satu lainnya.
Kerap menonjolkan rasa ketidakpuasan, tidak senang,
bernada negatif dan berlebihan jika ketika memberikan tanggapan kepada seseorang.
Namun, jika tanggapannya dikritisi, dia akan menganggapnya sebagai penghinaan.
Dan jika si orang yang mengkritisi memberi tanggapannya sembari tertawa kecil atau
terlihat tersenyum, akan dianggapnya sebagai penghinaan yang tidak bisa
dimaafkan. Bahkan kritik membangun dianggap sebagai penghinaan pribadi atau upaya
menjatuhkan nama baik keluarga atau kelompoknya.
Hidupnya dipenuhi rasa curiga atas tiap hal, selalu
menonjolkan sisi negatif. Sulit menerima gagasan bernilai, bereaksi berlebihan
jika ada orang yang menyampaikan ajakan untuk bersama-sama menertawakan diri
sendiri. Ajakan bernada instropeksi diri seperti itu tidak bisa diterima dan dianggap
bertujuan untuk mempermalukannya atau menjatuhkan kelompoknya.
Orang-orang yang bercitra diri miskin, umumnya sulit
menerima suasana hening, situasi tenang tanpa kegiatan, hingga akan melakukan kegiatan
apa saja sebagai selingan, tetapi sedikit pun tidak menghiraukan akibat yang
ditimbulkannya. Misalnya, menghidupkan televisi tetapi tidak menontonnya atau menghidupkan
radio tetapi tidak hirau program acaranya.
Emosi dirinya naik turun hingga motivasinya sering
terganggu. Jika punya usaha sendiri, bisa tiba-tiba dia hentikan jika ada orang
lain yang dikenalnya membuka usaha sejenis. Dia tidak menyukai persaingan usaha,
cenderung tidak lagi memperdulikan usahanya karena telah lebih dahulu memposisikan
dirinya bakal tidak akan pernah menang bersaing. Menjadikannya benci, dendam
terhadap orang yang dianggapnya sengaja menyaingi usahanya.
Orang-orang yang bercitra diri miskin, sering
mengkedepankan tindakan serta prilaku sombong, pongah berlebihan. Misalnya, jika
hidupnya berkecukupan, kemana-mana akan mengagungkan nilai harta kekayaannya.
Jika ada orang lain punya harta yang kurang lebih sama akan dikritisi secara
tidak senonoh, terkadang terkesan berlaku kejam, iri dengki, dipenuhi dendam.
Jika dia atau salah satu anggota keluarganya punya
posisi jabatan tertentu disalah satu instansi, kemana-mana akan
mengagungkannya. Tiap pembicaraan akan dimulai dengan membanding-bandingkan
kedudukannya berikut fungsi dan kewenangannya. Jika semisal ada orang lain
punya jabatan atau posisi yang kurang lebih sama, akan dikritisi secara kejam
dipenuhi rasa iri dan dengki.
Sering gagal dan tidak bisa memposisikan dirinya
sebagai pemenang dalam hidupnya hingga merasa selalu kalah, akhirnya tidak henti
berusaha memperburuk situasi untuk membangun alasan buruk pada berbagai situasi.
Ada juga yang kerap berpenampilan norak, jauh dari
kepantasan, tampil menjauhi nilai-nilai kebersihan, menjadi gemuk hingga kemudian
melarikan diri ke alkohol atau menjadi korban Narkotika, membuatnya bertingkah
laku vulgar dalam segala hal dan terkesan tidak sopan. Tidak menghormati orang-orang
yang lebih tua, apatis cenderung cuek terhadap lingkungan sekitar. Tetapi bertingkah
laku superior merasa dirinya jauh melebihi orang-orang sehingga cenderung
merendahkan orang lain.
Bagaimana
pun secara pribadi, kita selamanya akan bertindak menurutkan cara pandang kita terhadap
diri kita sendiri, hingga kita akan terus berusaha menampilkan versi diri kita yang
terbaik. Upaya itu bisa Anda lihat di diri orang-orang karena orang lain adalah
cerminan dari diri kita sendiri. Mungkin Anda akan melihat bagaimana orang-orang
melakukan hal-hal dengan cara memaksakan diri, hingga terlihat konyol. Atau melakukan
hal-hal yang tidak sama sekali tidak berdasar, tidak beralasan, atau melakukan
hal-hal yang ber-resiko membahayakan
karir dan sisa perjalanan hidupnya. Bahkan walau itu sejatinya sama sekali
tidak diperlukan.
Mari lihat
ciri-ciri lainnya:
Orang-orang yang punya citra diri miskin punya prilaku
hidup materialistis, mengutamakan kemewahan, tampil mencolok menghamburkan
uangnya yang berlimpah dengan mengendarai mobil mewah, mengenakan gaun pakaian mode
gaya terkini. Tampil serba mahal, model rambut, cat kuku, perawatan gigi cahaya
mengkilat, mengenakan make-up wajah ber-merek mahal dan terkadang berlebihan. Beranggapan
bahwa jika tampil seadanya, dirinya tidak akan diterima dalam pergaulan sosial hingga
perlu tampil ekstrim agar punya teman.
Orang-orang bercitra diri miskin juga bisa terihat
di arena olah raga, seperti atlet yang berlatih memacu prestasi secara berlebihan
saat menjelang hari pertandingan, memaksakan diri hingga kecelakaan dalam
latihannya, dan hilanglah kesempatannya mengikuti pertandingan. Gagal menjadi
juara. Tak percaya dengan hasil latihan yang sudah dilakukan, memaksa diri
untuk hal-hal yang tidak perlu. Beberapa atlet bahkan terlihat berusaha melukai
dirinya saat latihan, persis menjelang hari H. Walau sejatinya hal seperti itu
tidak lagi diperlukan karena sedari awal sudah cukup berlatih.
Hal senada bisa juga dilihat di lingkungan Kantor. Seorang
staff pekerja yang takut tidak akan dapat promosi jabatan, merusak karirnya
persis di sessi penilaian prestasi sedang berlangsung. Akhirnya gagal tidak
dapat promosi jabatan. Pulang mengusung masalahnya merusak kebahagiaan keluarga
bahkan menjadi gangguan sosial di lingkungan sekitar. Rekan-rekan kerjanya
mungkin bisa memahami tetapi umumnya orang-orang sekitar tidak peduli dengan
masalah kantor orang perorangan. Ini adalah tentang citra diri miskin.
Contoh lainnya kelompok anak sekolah yang akan
mengikuti ujian keesokan harinya tetapi malah bermabuk-mabukan hingga
berkendara kebut-kebutan dimalam sebelumnya. Tindakan seperti itu menggambarkan
ciri orang yang punya citra diri miskin. Mereka merasa dirinya tidak ada
gunanya ikut ujian keesokan harinya karena dipastikan tidak akan bisa berhasil,
hingga akhirnya cenderung melakukan hal-hal yang tidak diperlukan demi mengumpulkan
alasan jika gagal. Dan akhirnyagagal.
Orang-orang yang citra dirinya miskin akan terus-menerus
membangun alasan membenarkan dirinya tanpa menghiraukan akibat yang ditimbulkan.
Misalnya, berjanji akan sembahyang berjamaah tepat waktu tetapi kemudian
menundanya dengan alasan orang-orang munafik juga sembahyang disana. Berjanji
akan ke gereja pada setiap hari Minggu kemudian batal dengan alasan bahwa disana
banyak orang-orang munafik, tidak memungkinkan baginya untuk bisa khusuk berdoa
menyembah Tuhannya.
Orang-orang yang citra dirinya miskin tidak akan paham
bahwa jika pun ada orang munafik berdoa diantara dirinya dengan Tuhannya,
sejatinya si orang munafik itu malah lebih dekat dengan Tuhannya. Tetapi mereka
tidak putus membangun alasan karena telah tertanam di dalam pikirannya tanpa
menghiraukan akibat yang ditimbulkan.
Miskin Citra Diri selanjutnya dibahas lebih mendalam
pada bagian yang ke-5.
~Salam citra diri selalu!