Tidak
dinilai “bodoh”.
ANGGAPAN
BODOH:
Sejarah peradaban mencatatkan bahwa permasalahan
utama dalam tatanan sosial kehidupan adalah bahwa orang-orang bodoh sering dianggap
sebagai bagian kelompok mayoritas.
Konon katanya, orang-orang seperti Anda dan saya hanya
sedikit jumlahnya, karena Orang Jenius itu tak banyak jumlahnya.
Anggapan seperti
begini ini, dashyat menghunjam menembus pertahanan diri dari setiap orang yang
mendengar, hingga kian semakin menghancurkan jatidiri. Tertanam dalam-dalam jauh
di dalam alam pikiran, menggerogoti “rasa percaya diri” hingga sampai ke titik yang
paling nadir. Menyerang, meluluhlantakkan kepribadian, dashyat bergetar menaklukkan
kedigdayaan keperkasaan diri. Menimbulkan pikiran Negatif, dan itu yang akan membuat
citra diri menjadi kian semakin terlihat buruk, semakin renta dan menjadi
miskin. Miskin citra diri!
Tolong dibaca lagi dengan cara seksama, perlahan-lahan!
Anda boleh tidak setuju. Atau mungkin Anda berkehendak
akan mendebat dengan mengusung sekapal alasan beserta penjelasan dengan
contoh-contoh, dilengkapi dengan kliping-kliping berita surat kabar yang memuat
bantahan serta sanggahan. Dan saya bisa memahami itu, karena tidak ada orang
yang mau berterima jika dianggap ‘bodoh’.
Nenek bilang itu berbahaya!
Tetapi, saya akan lebih setuju mendukung pengakuan bahwa
jauh di dalam lubuk hati sanubari Anda, pastinya Anda mengakui hakikat kebenarannya,
karena itu kenyataan, dan itu yang benar-benar terjadi.
Bahkan mungkin anggapan itu yang telah memaksa situasi
kehidupan di dunia agar setiap orang diperintahkan untuk belajar sedari sejak lahir
hingga sampai ke liang lahat.
Mungkin juga begitu.
Dan itu bukan kata saya, tetapi tentang itu telah rapi
tertulis pada lembaran-lembaran dari setiap kitab-kitab kuno bukti sejarah
peradaban dunia.
Pastinya kini Anda bisa paham apa yang dimaksudkan.
Pembahasan selanjutnya disajikan pada bagian yang ke-3.
~Salam citra selalu!