Rabu, 03 Juli 2019

MISKIN CITRA DIRI (5) BAGAIMANA DI DUNIA BISNIS?

"Tanya Pak! Maaf, bagaimana caranya agar saya bisa mengetahui orang-orang yang miskin citra dirinya? Apakah ada kiat-kiat tertentu yang perlu diterapkan agar saya bisa terhindar dari lingkup pergaulan orang-orang yang miskin citra dirinya? Mohon penjelasannya, sebelumnya diucapkan terima kasih."

Ini adalah bagian yang ke-5.
 Hotman's Collections

Ciri-Ciri Orang Yang Citra Dirinya Miskin:
Dunia bisnis juga dipenuhi orang-orang yang miskin citra dirinya. Misalnya di dunia marketing pemasaran atau penjualan.

Mari lihat contoh berikut:

Alkisah. sang pemilik usaha memilih tiga tenaga salesman (si A, si B, si C), ketiganya ditugaskan menjual produk di tiga wilayah yang berbeda.

Si “A” bergerak perlahan ragu-ragu menjual produk kepada setiap orang yang dijumpainya. Merasa yakin bahwa orang-orang itu tidak akan mau membeli darinya karena menurutnya tidak ada orang yang menyukainya. Hingga waktu berakhir, tidak satu pun produk terjual. Sedih menyesali diri kenapa orang-orang tidak menyukai dirinya membuatnya tidak berani menawarkan produknya karena pasti akan ditolak.

Pulang ke rumah dan mengasihani diri dengan secangkir kopi panas, termenung meratapi nasib sembari menjilati luka hatinya.

Hati yang terluka!


Si “B” melangkah pasti, sepanjang jalan menjelaskan ke setiap orang yang dijumpainya tentang detil keunggulan serta kelebihan produknya. Terlihat banyak orang berkumpul mendengarkannya, tetapi si “B” terlalu takut jika mereka diminta membeli, satu demi satu orang-orang itu akan surut pergi meninggalkannya. Dia memutuskan untuk terus berbicara.

Ego keperkasaan dirinya menghalanginya untuk menjual, merasa kagum akan dirinya karena didengarkan banyak orang. Seiring waktu orang-orang perlahan surut berkurang, terbata-bata dia menyampaikan bahwa dia bisa menerima jika mereka tidak mau membelinya.

Dia pulang ke rumah dan menghibur dirinya dengan secangkir kopi panas. Termenung dengan rasa kagum ada banyak orang yang senang mendengarkannya walau tidak satu pun yang membeli.

Hati yang merindukan Bulan!


Si “C” sigap bertindak cekatan. Dia segera pulang ke rumah, dipenuhi rencana akan membentuk tim tenaga penjualan sendiri. Dia merasa rencana itu akan lebih efektif daripada dia menjual langsung, sebab dia sendiri yang akan mengarahkan tim itu. Dia akan melatihnya sendiri cara menjual. Dia memenuhi kepalanya dengan rencana teknik mengarahkan tim salesman tenaga penjualan, perlu bertindak begini-begitu.

Menurutnya tipikal orang seperti dirinya lebih efektif jika memimpin. Lebih baik begitu karena jika  dia menjual secara langsung orang-orang akan menolak sebab tipikal pribadi seperti dirinya adalah tipikal manajer bukan tipikal salesman.

Sampai di rumah wajahnya sumringah tersenyum simpul. Melamunkan keberhasilannya sembari ditemani secangkir kopi panas. Tak satupun produk bisa dia jual.

Kucari Jalan Terbaik!


Alkisah, ceritra pun berakhir.
Sang pemilik usaha sadar akan potensi kerusakan yang ditimbulkan orang-orang yang miskin citra dirinya. Dan dengan berat hati dia memutuskan untuk memecat sekaligus ketiganya, berlaku efektif disaat itu juga. Berusaha mengamankan kelangsungan bisnisnya, setidaknya sebelum investor dengan timnya tiba memeriksa perkembangan usahanya.

Apakah Anda tahu?

Anda ini sangat beruntung, karena Saya menjadi ragu akan pendapat Anda jika Anda merasa tidak masuk kategori orang-orang yang punya citra diri miskin seperti orang-orang dalam contoh-contoh itu.

Kenapa bisa begitu?

Karena dengan Anda membaca hingga ke tahapan deretan baris kalimat ini saja, sesungguhnya itu telah membuktikan bahwa Anda tengah berusaha mencari cara terbaik untuk merubah garis sejarah perjalanan hidup Anda, setidaknya agar tidak menjadi seperti mereka itu.

Bisa jadi Anda kini meragu akan penilaian itu?

Tak salah juga, jika pun Anda meragukannya.

Atau mungkin kini Anda malah berpikir bahwa Anda merasa memiliki salah satu ciri-ciri sebagaimana dijelaskan diatas itu, tetapi Anda ragu-ragu, apakah iya benar begitu itu?

Jika pun Anda meragu, Anda tidak perlu khawatir tentang hal itu karena tiap kita sesungguhnya memerlukan satu titik awal tempat kita berpijak untuk memulai kesempatan melangkah melakukan upaya perbaikan nasib dengan melakukan perubahan tertentu ke arah yang lebih baik di sisa perjalanan hidup kita.

Jika kemudian Anda menganggap tidak juga bisa menemukan kesempatan itu, Anda bisa menciptakannya sendiri.

Karena, sejarah hanya akan mencatatkan bahwa Anda telah turut serta mengubah wajah Dunia dengan tingkah laku serta perilaku Anda, bukan oleh pendapat Anda.

Pastinya kini Anda paham yang dimaksudkan!